Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Arleta Darusalam

Anak Buah Harus Pintar

Kerja keras Arleta berbuah manis. Kini ia menjadi orang nomor satu di English First (EF) Indonesia, juga Malaysia dan Thailand.

Tidak mudah bertemu dengan Arleta. Kesibukannya sangat padat. Apalagi, EF telah menyebar di 33 provinsi di Indonesia dengan lebih dari 70 sekolah, juga beberapa sekolah di Malaysia dan Thailand.

“Sudah 2 tahun terakhir, kita up grade seluruh EF ini. Mulai dari brand hingga teknologinya,” kata Arleta, yang kini menjabat sebagai Country Director EF, bangga.

Siang itu, di kantornya yang berinterior ‘baru’, Arleta bercerita tentang perjuangannya membesarkan English First Indonesia.

Pengalaman Lebih Dulu

Jauh sebelum EF masuk ke Indonesia, Arleta sudah mengenalnya terlebih dahulu. Saat itu, EF sedang gencar-gencaranya mengadakan homestay di Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Dan Arleta ambil bagian di dalamnya.

“Tahun 1987, saya jadi salah satu peserta yang ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Kita tinggal di sana selama setahun sampai lulus SMA. Setelah balik ke Indonesia saya ambil lagi kursus sekertaris di New Zealand,” kisah Arleta.

Dengan senyum mengembang, Arleta mengaku tidak berkeinginan mendaftar kuliah di Perguruan Tinggi.

“Saya tidak percaya pendidikan yang panjang. Pada intinya saya pemalas,” Arleta tertawa lepas, sesaat, “karena, balik ke sekolah bagi saya bisa kapan saja. Tapi pengalaman yang harus didapat lebih dulu. Nah, setelah balik ke Indonesia dari New Zealand, barulah saya kerja. Itu tahun 90an.”

Beruntung, tahun 1994, ia bertemu bos EF Indonesia. Arleta langsung mendapat tawaran memegang posisi penting di EF Indonesia.

“Tahun 1995 EF Indonesia berdiri, khusus untuk sekolah bahasa Inggris. Sama halnya seperti waktu kita sekolah di luar negeri, itu kita bersekolah di sekolahnya EF. Jadi, boleh dibilang, EF itu lembaga bahasa swasta terbesar di dunia. Yang punya satu orang dan itu orang Swedia,” ucap Arleta bangga.

EF Indonesia ternyata berkembang sangat pesat. Bahkan, EF Internasional mengakui bahwa Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial.

Apalagi 2 tahun terakhir. EF melakukan banyak perubahan.

“Sekolah terbaru EF English First saat ini, memiliki fasilitas-fasilitas yang memudahkan siswa untuk belajar Bahasa Inggris,” kata Arleta. Ia mencontohkan, saat ini EF memiliki Ilab, “yaitu Lab Computer yang terhubung dengan internet connection dan server kita, sehingga para siswa EF English first nantinya setelah mendaftar akan diberikan password sehingga bisa belajar secara online, dimanapun dan kapanpun.”

Juga, lanjut Arleta, EF memakai teknologi terkini dan bentuk interior yang Uptodate yang sudah disesuaikan dengan standard dari global. “Tentunya menjadikan EF English First lebih maju selangkah untuk sekolah bahasa Inggris,” katanya bangga.

Tiga Negara

Selain Indonesia, Arleta juga memegang EF Malaysia dan EF Thailand.

“Tapi kalau ditanya saya senang tinggal dimana, saya akan menjawab di Asia khususnya di Indonesia. Saya tidak mau tinggal dimanapun kecuali Asia. Bagaimana enaknya tinggal di negeri luar tapi jadi warga negara kelas tiga atau kelas empat. Karena dengan uang segitu, kita bisa hidup di Indonesia bisa punya pembantu, supir, hang out, dan sebagainya. Nah, kalau di luar negeri, sudah hidupnya susah, apa-apa dikerjakan sendiri,” ujar Arleta sambil tertawa lepas.

Khusus menjalankan tugas-tugasnya, Arleta memanfaatkan kecanggihan teknologi.

“EF juga punya tim yang kuat, termasuk tim akademik sendiri. Kita punya sekolah seluruh dunia. Tim akademik khusus buat buku sendiri. Bikin sekolah bahasa Inggris memang gampang. Tapi habis itu apa. Pendidikan kan harus maju, itu yang sulit dilakukan. Nah, EF punya tim akademik sendiri. Kita bisa selalu berkembang, Interaktif, video selalu berubah, buku juga berubah sesuai zaman,” jelas Arleta.

“Dan yang terpenting, kita harus berani memilih orang yang lebih pintar dari kita. Supaya kita tidak kerja keras. Kelemahan kita kan ego. Kita tidak berani memilih orang yang lebih pintar dari kita, karena takut tersaingi. Padahal itu salah besar. Kalau kita ingin maju, kita harus punya tim yang terdiri dari orang-orang pintar. Tidak ada satu hari pun yang sama. Jadi, perubahan bisa terjadi kapan saja,” kata Arleta.

Ikut Meditasi

Sibuk bekerja, tidak berarti bagi Arleta melupakan kesehatannya. Saat ini, ibu satu anak ini tengah mengikuti kegiatan meditasi Bali Usada yang didirikan Merta Ada.

“Saya ikut meditasi ini semata untuk kesehatan badan dan pikiran. Kesehatan secara menyeluruh. Dengan meditasi ini, kita bisa membantu banyak orang.

Teknik yang diajarkan di Perkumpulan ini, kata Arleta, adalah suatu teknik untuk menyembuhkan penyakit di badan kasar, meridian, chakra, mental, pikiran, dan memori dengan menggabungkan antara: Olah Raga Usada dan Meditasi yang sangat efisien dan mudah yang dapat diikuti oleh semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, antar golongan dan kepercayaan.

“Teknik Bali Usada Meditasi ini berdasarkan atas pengetahuan, penelitian dan latihan di lontar-lontar kuno di Bali, ajaran dari guru meditasi, penyembuh tradisional, para dokter, buku-buku pengetahuan lain serta pengalamannya sebagai penyembuh,” jelas Arleta, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

November 24, 2009 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: