Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Denok Vaiffin Purbaningtyas

Kepercayaan Berbuah Prestasi

Denok tak hanya cantik tapi juga feminin. Melalui jemari lentik, bidikan pistolnya ‘berbicara’. Nama Dhenok pun kian berkibar di lapangan tembak.

Baru 3 tahun Denok berlatih menembak. Ia direkrut khusus orang-orang yang melihat talentanya. Bakat yang selama ini masih terpendam dan baru muncul ketika kepercayaan datang.

Tahun 2005, Denok yang berpangkat Sersan Dua (Serda), dipindah tugaskan ke Brigif I PIK/JS. Ia diangkat menjadi spri Komandan Brigif 1 Pengaman Ibukota/ Jaya Sakti.

“Tentu saja senang. Berarti saya diberi tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan baik,” katanya.

Perjalanan Denok masih panjang. Karirnya baru saja dirintis. Namun, prestasinya di bidang  lain, justru kian bersinar. Wanita kelahiran 26 Mei 1985 ini, kian mantap menjadi penembak ulung di jajaran Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat).

Banyak Ketertarikan

Menjadi tentara, adalah cita-cita Denok sejak remaja. Tidak ada pilihan yang lain. “Tapi dulu, pernah juga ingin jadi pramugari,” katanya Denok, tersenyum. Namun, keinginan itu kalah kuatnya dengan keinginan yang lain, menjadi prajurit militer.

“Kenapa bisa?” sesaat Denok tertawa kecil, “karena, dari awal saya sangat kagum dengan kedisiplinan dan kepatriotisme seorang prajurit. Dan kalau dilihat kemampuan, saya merasa mampu menjadi tentara wanita.”

Di usia 18 tahun, Denok yang akan menyelesaikan sekolahnya di SMAN 1 Pakem, Yogyakarta, mendaftarkan diri menjadi Kowad. “Sebelum ujian, ada pendaftaran, saya coba. Setelah ujian, saya lulus dari militer. Daftar dan tesnya di Jakarta, jadi bolak balik ke Jogya,” terang Denok.

Semangatnya tinggi, apalagi ia telah mengumpulkan brosur-brosur dan mendapat banyak masukan dari saudaranya yang bertugas di Mabes (Markas Bersar) AD.

“Saudara saya tanya, ‘kamu tertarik nggak untuk jadi Kowad?’ Saya jawab, ‘tentu saja saya tertarik.’ Terus dia beritahu kalau mau jadi Kowad, harus begini-begini-begini. Termasuk harus lari sekitar 2600 meter perhari, pagi dan sore, harus bisa push up segala. Tapi, saya melihat diri sendiri, saya mampu,” kata Denok.

Meski berat, Denok mengaku sudah terlanjur suka. Ia tertarik dengan kegiatan menembak, tertarik melihat kegagahan pasukannya saat berbaris ataupun upacara, dan ingin terlibat dalam bela diri militer (BDM).

Orientasi di Dalam Hutan

Diterima menjadi anggota Kowad, membuat Denok bangga. Ia menjelaskan, saat penyaringan, ia harus bersaing dengan 2000 orang lebih dari seluruh Indonesia. “Dari Jakarta saja, yang ikut tes 249 orang, tapi yang diambil 19 orang. Hasil seleksi ini kemudian dikumpulkan di Bandung. Ada sekitar 200 orang lebih. Jumlah ini disaring lagi jadi 100 orang,” jelas Denok, senang.

Denok resmi menjadi Kowad tahun 2003. Ia menjalani masa pendidikan dan orientasi di Pusdikkowad Kodiklat TNI AD di daerah Lembang yang berada di ketinggian 1.293 m diatas permukaan air laut.

“Awalnya stres juga. Pendidikannya begitu keras. Kita diharuskan disiplin bukan ala wanita, tapi disiplin tentara. Di situ sering kali kegiatan dilakukan dalam hutan. Malam-malam menembus hutan gunung. Kita harus punya keberanian, seandainya kalau kita perang ada musuh. Harus penyamaran. Sudah begitu, kita jalan bawa beban 8 kilogram dengan senjata. Semuanya sangat-sangat diatur dan disiplin. Alhamdulillah bisa juga,” kenang Denok.

Lulus pendidikan, “teman-teman disebar di seluruh indonesia. Ada yang sama-sama jadi sekertaris pribadi, ada yang di staf seperti staf pers, staf operasional, staf intel, atau operator komputer. Awalnya saya di operator komputer.”

Disuruh Menembak

Tahun 2005, Denok menjadi Spri Komandan Brigif 1 PIK/Jaya Sakti, Kol. (Inf) Dedi.

“Waktu itu, kata komandan, dilihat dari bentuk fisiknya, yang tinggi, saya ditanya, ‘kamu kuat lari?’, saya bilang, ‘kuat’. Terus langsung saja saya disuruh belajar nembak.” Denok pun tertawa kecil.

Denok mengaku, tidak punya keahlian menembak sama sekali. Di Brigif, ia melihat ada fasilitas yang disediakan untuk berlatih menembak. “Kebetulan dapat perintah dari komandan untuk belajar menembak, ya saya jadi semangat, berarti ada orang yang percaya saya. Berarti, saya harus bisa, bagaimanapun juga. Harus belatih. Mulai dari menembak tanpa isi sampai berlatih angkat beban,” ungkap Denok, senang.

Denok kian bersemangat berlatih menggunakan pistol. Katanya, jadi satu pengalaman yang sangat berkesan. Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, ia sudah mahir menggunakan pistol.

Baru satu bulan ‘menguasai’ pistol, Denok sudah diajak mengikuti kejuaraan menembak KASAU CUP. Ia mendapat rangking 4 dari 30 peserta. Saat itu, Denok menggunakan pistol jenis Sig Sauer.

Tahun 2005, Denok yang memperkuat Tim Putri Kodam Jaya, mengikuti KASAD CUP. Kali ini, ia meraih Juara 1 Umum. “Sejak itu saya termotivasi,” kata Denok, mantap.

Denok mulai terlibat di banyak kejuaraan menembak. Ia pernah ikut di Asean Army Rifle Meet, dan terakhir tanggal 1 Agustus 2008, Denok menjadi juara 1 Umum menembak di KAPOLRI CUP, untuk perorangan.

“Saya seperti mulai menemukan dunia saya. Apalagi, sekarang, di Brigif, Komandan saya bapak Kolonel (Inf) Ali Sanjaya, memberikan waktu sekian longgarnya untuk latihan. Saya terserah membagi waktu saya untuk latihan pagi, siang, sore. Jadi, sejak itu saya usahakan seminggu 3 sampai 4 kali latihan,” ujar Denok, senang. Selama 3 tahun bertugas di Brigif 1 PIK/JS, Denok 3 kali berganti komandan.  

Bukan Sekedar Mawar

Denok tetaplah wanita muda yang punya banyak keinginan.

“Yah, mungkin salah satunya keinginan untuk main,” sesaat Denok tertawa kecil. Ia menyadari, saat ini ia memiliki dunia yang berbeda dengan dunia wanita muda pada umumnya. Yang penuh aturan dan kedisiplinan tinggi.

“Jadinya, kalau hari libur dan betul-betul lepas dari dinas, saya baru bisa main ke mal, jalan-jalan atau lihat yang hijau-hijau di gunung. Main dengan teman-teman sipil. Saya tidak ingin kehilangan diluar kotak ini. Supaya hidup ini balance,” lanjut Denok.  Ia mengaku senang berdandan dan berpakaian feminin.

Denok begitu menikmati hidupnya. Ia tidak merasa dunianya sempit, walaupun sampai sekarang, Denok belum punya kekasih.

Seperti moto Kowad; Kami bukan sekadar mawar penghias taman, tetapi melati pagar bangsa, “saya ingin menunjukkan prestasi saya dulu,” katanya.

Denok ingin meraih cita-citanya hingga setinggi mungkin.

“Komandan kemarin bilang, ‘ukirlah prestasimu setinggi mungkin. Dan, gali bakat kamu di bidangnya.’ Kebetulan di Brigif saya aktif di kegiatan prokoler. Saya diminta terus menggali kegiatan saya di prokoler. Juga di komputer. Kata Komandan, sekolah lagi, kalau ada keahlian, InsyaAllah akan gampang,” ujar Denok.

Seperti impian para kowad lainnya, Denok ingin sekolah lagi meraih cita-citanya.

“Sekarang saya Bintara. InsyaAllah kalau sudah Serka, saya ingin sekolah lagi di Secapa ke jenjang perwira. Kalau sudah perwira, mungkin bisa ke atas lagi, sekolah di Selapa, jadi Mayor. Selanjutnya Sesko TNI ke tingkat Kolonel, atau Seskoad ke tingkat Letnan Kolonel. Setelah kolenel baru Bintang. Pinginnya sampai ke situ,” suara Denok terdengar mantap.

Menembak Itu Bukan Bidikan

Menembak yang Benar…

Ada tekniknya. Mulai dari cara-cara pembayangan pistol, kekuatan tangan yang harus stabil, pernafasan dan bidikan. Semuanya harus benar-benar konstan dari butir pertama sampai butir kesepuluh. Harus sama. Menembak itu bukan membidik, tetapi menembak itu teknik. Dari awal harus menggunakan teknik yang benar.

Menjadi Sekertaris Pribadi Komandan…

Adalah membantu segala keperluan komandan. Misalnya menyortir setiap surat yang masuk dan surat keluar. Kalau ada yang salah, kita kirim balik ke staf, kalau sudah benar baru kita kirim ke satuan-satuan. Komandan Brigade Infantri berarti pimpinan tertinggi di Brigif ini. Spri harus tahu, apa benar ada ini-ini-ini. Minimal saya harus datang jam 6 ke kantor. Walaupun komandan tidak ada di kantor, ya saya tetap di kantor.

Tugas Seorang Tentara…

Tentu saja mengamankan. Dari awal, tugas itu yang membuat saya tertarik masuk Kowad. Kita jadi merasa dibutuhkan orang. Dan saya, orang yang suka sekali tantangan. Dulu waktu saya ikut kowad, dalam bayangan saya, saya akan ikut berperang. Pengaman di sana-sini. Jadi saya tidak punya gambaran sama sekali dinas di kantor. Awal-awal menjalani tugas Kowad, sempat berpikir, kok seperti ini dunia kowad. Beda dari bayangan.

Rutinas Untuk Berolah Raga…

Sudah menjadi kegiatan rutin yang harus dijalani. Seminggu, 2 kali lari di Brigif. Dari ratusan anggota, perempuannya hanya berempat, termasuk saya. Jadi, kami harus mengikuti irama cowok. Paling jauh, lari 8 kilometer. Yang rutin antara 5 sampai 6 kilometer. Kegiatan rutin lainnya yaitu Semapta, atau kesegaran jasmani setiap 3 bulan sekali. Kami harus lari 12 menit keliling lapangan, push up 28 kali, Shit-up 42 kali, angkat badan, 61 kali, dan lari angka 8 hitungan detik.

Aien Hisyam

Advertisements

November 24, 2009 Posted by | Profil Olahragawati, Profil Wanita | 9 Comments

Keke Soeryo

Ketika Insting Datang

Dunia model tak pernah lepas dari hidup Keke. Namun, ia juga  pemilik sekolah akting, sekaligus pemilik restoran. Apa keinginan Keke selanjutnya?


Wajah Keke masih terlihat cantik. Tahun ini, ia genap berusia 40 tahun. “Karena hidup saya enjoyed,” kata Keke, senang.

Ia pernah melewati era, menjadi top model Indonesia. Sebelas tahun silam, ia mendirikan Look Model Inc. Tanpa diprediksi muluk-muluk, modelling agency-nya berkembang sangat pesat.

Tampaknya, Keke tak ingin sukses di satu bidang saja. Dunia lain mulai ia rambah. Kini, ia juga dikenal sebagai artis dan pemain film, pemilik Performing Art School, bekerjasama dengan Didi Petet, juga pemilik Soeryo Café.

“Selain enjoyed, saya juga hidup seperti air mengalir. Tidak pernah dibawa susah apalagi stres,” tegasnya.

Berawal dari Model

Sudah 11 tahun Keke membawa Look Model Agency menjadi salah satu agensi khusus model papan atas.

“Selanjutnya, berkembang menjadi event organizer. Lulu (Lulu Dewayanti) yang pegang EO. Bahkan, sekarang punya sekolah sendiri. Ada sekolah modeling, performing art school, acting, public speaking,” ungkap Keke, bangga.

Khusus untuk sekolah akting, lanjut Keke, ia bekerjasama dengan Didi Petet. “Mas Didi kan pakar akting. Memang akan kelihatan hasilnya orang yang sekolah dengan yang enggak. Jadi, kalau ditanya gimana Look sekarang? Look sih terus berkembang.”

Keke merasa, akting sudah menjadi kebutuhan. Menjadi model saja tidak cukup. “Di modeling, orang hanya model saja. Kalau talent yang dilihat bakatnya. Nah sekarang alangkah baiknya kalau orang punya dua-duanya. Dan, sekolah saya ini diperuntukkan siapa saja yang mau terjun ke entertainment. Tidak harus model, karena akting, fisik bukan nomor satu. Beda sama model,” jelas Keke berpromosi.

Performing Art School baru 3 tahun berdiri. “Membikin sekolah akting ini, saya harus riset 2 tahun. Karena, sekolah ini buat orang lain, sifatnya sekunder. Tapi saya pikir, ilmu akting sudah diperlukan dimana-mana. Dalam keseharian saja kita butuh akting,” lanjut wanita yang pernah bermain sinetron berjudul ‘Turu Ranjang’, ‘Inikah Cinta’, Anak-Anak Surga’, dan ‘Gadis.

Tahun pertama, Keke mengaku agak berat. Tapi di tahun kedua dan ketiga ia mulai menjalankan dengan mudah. Sekolah akting ini bahkan sudah mencapai 15 angkatan. Tiap angkatan ada 10 orang.

Antara Palsu Dan Jujur

“Orang suka tanya, akting itu artinya apa sih? Palsu, bohong, atau jujur,” ujar Keke, tiba-tiba.

Wanita bernama lengkap Sri Nurhandayani Harun antusias bila bercerita tentang dunianya, akting -ia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul ‘Ten’.

“Saya sering dipanggil di berbagai lomba. Saya kasih pembekalan. Saya selalu sarankan mereka untuk belajar akting. Jadi akting yang tidak hanya untuk main film saja. Karena, kalau kita berbicara, meyakinkan orang, itu harus jelas dan mudah dimengerti. Nah, itu perlu belajar akting. Jadi akting itu kejujuran. Inilah edukasi yang saya tanam dari awal,” jelas Keke, bersemangat.

Keke sedih melihat kulitas sinetron Indonesia. Padahal, katanya, 75 persen masyarakat Indonesia penyuka tayangan televisi. Apalagi anak-anak.

“Bagaimana kita mengedukasi yang benar kalau acaranya kita saja seperti itu. Nah, saya ingin beri kontribusi walaupun hanya sedikit,” ungkap Keke.

Alasan itu pula yang membuat Keke punya visi ke depan, mencetak murid-murid yang berkualitas.

“Tapi kalau, mereka mau begitu, ya sah-sah saja. Itu kan pilihan. Mereka mau main sinteron seperti itu atau mau main film berkualitas, itu terserah mereka. Kan mereka juga butuh uang. Mau bagaimana lagi. Cuma saya arahkan ke mereka, lebih ke kualitas. Kalau kamu mau berkualitas, belajarlah pada tempatnya,” ujar Keke, bijak.

Keliling Daerah

Meski tengah asik di sekolah akting, Keke tak melupakan pekerjaannya di dunia modeling.

Beberapa tahun terakhir, Keke banyak menjalin kerjasama dengan agen-agen modeling di luar negeri. Tujuannya, agar ia bisa menyalurkan bakat anak-anak didiknya.

“Semacam pertukaran. Kalau kita mau masuk era globalisasi, alangkah baiknya kita kerjasama dengan modelling agency luar. Modal kita untuk ke sana. Saya ingin menghidupkan dunia fashion Indonesia, bisa sama dengan di luar,” ujar Keke, mantap.

Ia yakin karena, katanya, orang Indonesia, khusus di wilayah Asia, wajahnya paling bagus, termasuk dalam fashion industry. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan desain, orang Indonesia tidak kalah.

“Tapi untuk model, orang Indonesia tidak seperti orang asing. Orang asing hidungnya mancung, matanya biru, tulang pipinya tinggi. Kita memang kalah dalam gen. Tapi setelah saya keliling Indonesia, orang kita ternyata unik. Banyak yang tinggi juga. Cuma, diamond-diamond ini belum ditemukan,” ujar Keke.

Keke sudah 2 tahun menjalin kerjasama dengan Depdiknas, dan 1 tahun bekerjasama dengan Telkomsel, untuk mencari anak-anak remaja berbakat di daerah-daerah di Indonesia.

“Saya mencari anak-anak normal dan anak-anak tuna rungu. Saya hanya melihat, dunia yang saya punya ini ada sisi sosialnya juga. Saya ingin anak-anak tuna rungu ini bisa bersaing dengan anak-anak normal, dan saya juga ingin melihat bibit-bibit di daerah ini. Kadang mereka tidak mampu,” ungkap Keke.

Ia membina para remaja berbakat ini. Ada yang di bina di daerah, tapi ada juga yang dibawa ke Jakarta. Katanya, belum 100 persen berhasil, tapi paling tidak, Keke telah melakukan kegiatan 75 persen.

Insting Melihat Model

Keke bersyukur diberi insting tajam. Ia bisa melihat bakat seseorang, di pertemuan pertama.

“Saya suka bisa lihat. Memang tidak banyak. Walaupun dia lugu, padahal mereka keren. Karena mereka pada dasarnya fisiknya keren, tapi nggak bisa dandan. Nah untuk melihat itu, perlu dipoles dulu. Kalau saya tidak. Walaupun tanpa polesan, saya sudah bisa lihat bakat itu. Mungkin ini sebagai anugerah,” ujar Keke.

Ia mencontohkan, saat ke Medan, ia menemukan gadis manis berkulit hitam. Tingginya 178. Sekali bertemu, Keke langsung suka. Namanya Kimi. “Sekarang sudah jadi top model Indonesia,” katanya.

Beberapa kali Keke bertemu model asal daerah yang siap ‘dipoles’. Kini, ia makin rajin berkunjung di Medan, Menado, Semarang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, dan Bali. Ia berencana mencari ‘diamond’ asal Papua, Padang dan Palembang.

“Orang Indonesia kan macam-macam. Saya yakin ‘diamond’ ini ada di daerah, tapi belum ditemukan. Nanti mereka bisa ke Jakarta, dilatih, ditingkatkan percaya dirinya, bahasa Inggris, dan akhirnya mereka siap bersaing di dunia internasional,” ujar Keke, bersemangat. Aien Riyadi

“Kalau Saya Tahu, Saya Tegur!”

Menjadi Model Terkenal Berarti Siap…

Terima resiko. Itu masalah pilihan hidup. Yang memilih hidup ya kita sendiri. Kalau sudah jadi somebody, itu pilihan. Kalau kita mau digosipin, itu juga bisa. Hal-hal itu memang bisa menambah mereka jadi famous dan diketahui orang. Tapi ada artis yang tidak perlu begitu tapi tetap eksis. Dan itu juga banyak. Kalau sudah jadi public figure, kita harus siap dilihat orang. Karena pekerjaan memang begitu. Seperti model yang juga dilihat orang. Badanpun, dilihat dari angle manapun harus terlihat bagus. Kalau mental nggak tahan, kita terlindas dengan yang lain. Yang perlu diingat, model juga menyangkut usia. Kalau kita sudah tua, pasti mulai banyak keriput-keripout. Makanya saya menuntut mereka bisa acting dan bisa ngomong, supaya nanti bisa kemana-mana.

Kalau Ada ‘Anggapan’ Miring…

Itu juga pilihan, mereka mau begitu. Kita dikenal itu dari kehidupan kita seperti apa. Kita mau pacaran dengan suami orang, mau jadi lesbian, jadi gay, itu pilihan. Saya juga bukan ibunya (ibu para model yang ia didik). Tapi kalau saya kasih tahu, itu saya lakukan. Saya selalu bilang, kalau mau jadi model profesional, kamu harus lakukan ini-ini-ini. Dan kalau saya tahu itu, saya tegur. Tapi itu diluar pantauan saya. Saya orangnya terbuka saja. Dengan mereka saya tempatkan sebagai couching. Karena kalau saya tempatkan jadi orang tua juga susah. Saya juga tidak bisa tempatkan diri sebagai teman. Memang harus seperti itu, karena kalau nggak, mereka tidak disiplin. Tapi kalau lagi pergi keluar, fun, kita bisa seperti temen. Tapi dalam bekerja yah sabagai couching.

Problem Buat Saya…

Hal yang harus segera diatasi. Saya sudah terbiasa untuk selesaikan problem itu sendiri. Tidak panik. Begitupun setiap ada kerjaan, saya kerjakan dengan senang hati, dan itu bisa. Dan tidak terbeban. Kerjaan dibikin hobi. Saya juga tidak takut gendut. Kalau kita takut gendut kita justru malah bisa gendut. Yang terpenting buat saya, agar hidup enjoyed adalah olah raga 45 menit, seminggu paling tidak 2 kali. Saya tidak diet. Makan apa saja. Makan lemak, nggak pantang. Paling porsinya yang diatur. Saya selalu mengerjakan sesuatu yang saya sukai. Saya enjoyed sekali dalam hdup saya. Kalau kita bekerja, kita mencintai pekerjaan itu.

Anak, Impian Keke Selanjutnya

Belum lama, Keke bercerai dengan Benno Harun. Namun, impiannya untuk memiliki anak tak pernah padam.

Ketika bercerita tentang bahtera rumah tangganya yang kandas, Keke terlihat lebih rileks. Ia mengatakan tak ada trauma lagi.

“Sedih, pasti. Hidup kan up and down. Sedih dalam arti gagal dalam rumah tangga, ada juga kesedihan itu. Tapi saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi dalam perkawinan saya. Saya tidak mau trauma. Kalau saya trauma, nanti saya tidak menikah lagi,” sesaat Keke tersenyum.

“Target, dalam pribadi, kalau saya menikah lagi, saya ingin punya anak. Orang kan kalau sudah tua pasti pengin punya teman  Hal yang sederhana saja. Saya bisa pensiun dari pekerjaan saya. Saya bisa punya banyak waktu dengan anak saya,” lanjut Keke.

Tentang hidupnya yang sekarang, Keke langsung menjawab, “enak juga sendiri.” Ia kemudian tertawa lepas. “Kalaupun tiba-tiba sedih, saya share dengan teman. Itulah gunanya teman yang bisa dipercayai, saya bisa share dengan dia. Alhamdulillah saya berteman sudah 20 tahun. Dia bisa simpan semua rahasia-rahasia saya. Kita berdiskusi dan ngomong apa saja. Sudah seperti soulmate.”

Keke mengatur rutinitasnya dengan detail. Jumat ia gunakan waktunya bersama teman-teman, Sabtu dengan anak Benno, Primansyah –Keke sudah menganggap seperti anak sendiri, dan Minggu waktu untuk dirinya sendiri. Ia manfaatkan untuk pergi ke salon, spa atau kemana saja yang ia suka. Senin hingga kamis, ia bekerja.

Adakah pria yang saat ini singgah dihatinya? Keke tersenyum, manis. “Ada sih, cuma dia tidak tinggal disini. Kita tidak sering ketemu.”

“Tapi kalau ditanya keinginan saya yang lainnya, saya ingin punya yayasan di bidang modeling, talenta, dan akting untuk anak-anak yang tidak mampu,” ucap Keke, penuh makna.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Seniman | 1 Comment

Arleta Darusalam

Anak Buah Harus Pintar

Kerja keras Arleta berbuah manis. Kini ia menjadi orang nomor satu di English First (EF) Indonesia, juga Malaysia dan Thailand.

Tidak mudah bertemu dengan Arleta. Kesibukannya sangat padat. Apalagi, EF telah menyebar di 33 provinsi di Indonesia dengan lebih dari 70 sekolah, juga beberapa sekolah di Malaysia dan Thailand.

“Sudah 2 tahun terakhir, kita up grade seluruh EF ini. Mulai dari brand hingga teknologinya,” kata Arleta, yang kini menjabat sebagai Country Director EF, bangga.

Siang itu, di kantornya yang berinterior ‘baru’, Arleta bercerita tentang perjuangannya membesarkan English First Indonesia.

Pengalaman Lebih Dulu

Jauh sebelum EF masuk ke Indonesia, Arleta sudah mengenalnya terlebih dahulu. Saat itu, EF sedang gencar-gencaranya mengadakan homestay di Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Dan Arleta ambil bagian di dalamnya.

“Tahun 1987, saya jadi salah satu peserta yang ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Kita tinggal di sana selama setahun sampai lulus SMA. Setelah balik ke Indonesia saya ambil lagi kursus sekertaris di New Zealand,” kisah Arleta.

Dengan senyum mengembang, Arleta mengaku tidak berkeinginan mendaftar kuliah di Perguruan Tinggi.

“Saya tidak percaya pendidikan yang panjang. Pada intinya saya pemalas,” Arleta tertawa lepas, sesaat, “karena, balik ke sekolah bagi saya bisa kapan saja. Tapi pengalaman yang harus didapat lebih dulu. Nah, setelah balik ke Indonesia dari New Zealand, barulah saya kerja. Itu tahun 90an.”

Beruntung, tahun 1994, ia bertemu bos EF Indonesia. Arleta langsung mendapat tawaran memegang posisi penting di EF Indonesia.

“Tahun 1995 EF Indonesia berdiri, khusus untuk sekolah bahasa Inggris. Sama halnya seperti waktu kita sekolah di luar negeri, itu kita bersekolah di sekolahnya EF. Jadi, boleh dibilang, EF itu lembaga bahasa swasta terbesar di dunia. Yang punya satu orang dan itu orang Swedia,” ucap Arleta bangga.

EF Indonesia ternyata berkembang sangat pesat. Bahkan, EF Internasional mengakui bahwa Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial.

Apalagi 2 tahun terakhir. EF melakukan banyak perubahan.

“Sekolah terbaru EF English First saat ini, memiliki fasilitas-fasilitas yang memudahkan siswa untuk belajar Bahasa Inggris,” kata Arleta. Ia mencontohkan, saat ini EF memiliki Ilab, “yaitu Lab Computer yang terhubung dengan internet connection dan server kita, sehingga para siswa EF English first nantinya setelah mendaftar akan diberikan password sehingga bisa belajar secara online, dimanapun dan kapanpun.”

Juga, lanjut Arleta, EF memakai teknologi terkini dan bentuk interior yang Uptodate yang sudah disesuaikan dengan standard dari global. “Tentunya menjadikan EF English First lebih maju selangkah untuk sekolah bahasa Inggris,” katanya bangga.

Tiga Negara

Selain Indonesia, Arleta juga memegang EF Malaysia dan EF Thailand.

“Tapi kalau ditanya saya senang tinggal dimana, saya akan menjawab di Asia khususnya di Indonesia. Saya tidak mau tinggal dimanapun kecuali Asia. Bagaimana enaknya tinggal di negeri luar tapi jadi warga negara kelas tiga atau kelas empat. Karena dengan uang segitu, kita bisa hidup di Indonesia bisa punya pembantu, supir, hang out, dan sebagainya. Nah, kalau di luar negeri, sudah hidupnya susah, apa-apa dikerjakan sendiri,” ujar Arleta sambil tertawa lepas.

Khusus menjalankan tugas-tugasnya, Arleta memanfaatkan kecanggihan teknologi.

“EF juga punya tim yang kuat, termasuk tim akademik sendiri. Kita punya sekolah seluruh dunia. Tim akademik khusus buat buku sendiri. Bikin sekolah bahasa Inggris memang gampang. Tapi habis itu apa. Pendidikan kan harus maju, itu yang sulit dilakukan. Nah, EF punya tim akademik sendiri. Kita bisa selalu berkembang, Interaktif, video selalu berubah, buku juga berubah sesuai zaman,” jelas Arleta.

“Dan yang terpenting, kita harus berani memilih orang yang lebih pintar dari kita. Supaya kita tidak kerja keras. Kelemahan kita kan ego. Kita tidak berani memilih orang yang lebih pintar dari kita, karena takut tersaingi. Padahal itu salah besar. Kalau kita ingin maju, kita harus punya tim yang terdiri dari orang-orang pintar. Tidak ada satu hari pun yang sama. Jadi, perubahan bisa terjadi kapan saja,” kata Arleta.

Ikut Meditasi

Sibuk bekerja, tidak berarti bagi Arleta melupakan kesehatannya. Saat ini, ibu satu anak ini tengah mengikuti kegiatan meditasi Bali Usada yang didirikan Merta Ada.

“Saya ikut meditasi ini semata untuk kesehatan badan dan pikiran. Kesehatan secara menyeluruh. Dengan meditasi ini, kita bisa membantu banyak orang.

Teknik yang diajarkan di Perkumpulan ini, kata Arleta, adalah suatu teknik untuk menyembuhkan penyakit di badan kasar, meridian, chakra, mental, pikiran, dan memori dengan menggabungkan antara: Olah Raga Usada dan Meditasi yang sangat efisien dan mudah yang dapat diikuti oleh semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, antar golongan dan kepercayaan.

“Teknik Bali Usada Meditasi ini berdasarkan atas pengetahuan, penelitian dan latihan di lontar-lontar kuno di Bali, ajaran dari guru meditasi, penyembuh tradisional, para dokter, buku-buku pengetahuan lain serta pengalamannya sebagai penyembuh,” jelas Arleta, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Evita Handayani

‘Ini ‘kan Ilmu Emak-emak’

Tak tahan melihat orang lain susah, Evi  memilih berbuat lebih jauh. Ia mendirikan koperasi yang dikhususnya untuk para wanita.


Tinggal di kota Malang, Evi punya ikatan batin yang kuat. Ia ingin berbuat, demi membuat hidup orang lain jadi bahagia.

‘Tapi, waktu itu belum terpikirkan membuat koperasi,’ kata Evita.

Sampai suatu hari, Evita mendengar curhat teman-teman dekatnya. ‘Sebagian besar, mereka mengalami masalah keuangan. Satu masalah yang sangat umum dan hampir semua keluarga pernah mengalamai masalah ini,” ujar Evita.

Munculah ide membuat koperasi, lembaga yang dalam bayangan Evi, bisa menjadi solusi masalah teman-temannya. Saat itu, Evi ingin mendirikan koperasi dalam bentuk berbeda. Tak hanya sebagai tempat pinjam uang saja, tapi sekaligus mensejahterahkan anggota dalam bentuk yang terukur.

Tawaran untuk Berubah

Berawal dari arisan Ikatan Persewaan Mobil Malang, Evi mengenal dunia perkoperasian. Di tahun 1998, perkumpulan ini berubah bentuk menjadi koperasi simpan pinjam. Dan di tahun 1999, keluar Badan Hukumnya.

“Baik koperasi maupun arisan, akhirnya tidak berjalan lancar,” cerita Evi. Ia mengeluh karena Bapak-bapak, peserta arisan, makin susah diajak berkumpul. Tapi, ia bersyukur, saat berubah bentuk menjadi koperasi, anggota bertambah. Dari 38 anggota, menjadi 58 anggota.

Di tahun 2006, Evi bertemu dengan Almarhum Bu Harto, Ketua Kartika Candra, Andakan, Pasuruan. “Kebetulan beliau ketua Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur). Beliau mengusulkan koperasi dipindah menjadi wanita semua. Dia mau mengajarkan,” kata Evi.

Evi langsung menyambut baik tawaran Bu Harto. Ia belajar di sejumlah koperasi yang telah lama berdiri. Barulah tanggal 30 Maret 2006, Koperasi Wanita ‘Bhakti Asta Makmur’ (BAM) menjadi salah satu koperasi primer di bawah Puskowanjati.

“Kita jalankan sistem, dan sampailah seperti sekarang ini,” ujar Evi. Ia bangga, karena di awal berdirinya, BAM sudah mampu menggaet 121 anggota.

Evi cukup jeli melihat peluang. Ia kembangkan koperasi ala multilevel marketing.

“Kita akhirnya membuat sistem sponsorship. Satu anggota wajib membawa 1 anggota baru. Anggotanya wanita semua. Dan dalam 3 bulan mereka sudah bawa satu-satu semua. Jadi  total menjadi 240an. Di awal 2007 kemarin, malah sudah lebih dari 350an anggota. Dan sekarang, sudah 1300 anggota,” kata Evi, bangga.

Kini, BAM sudah tidak terlalu aktif mencari anggota. Kata Evi, paling tidak satu tahun mereka membawa 1 teman baru. “Kalau tahun depan masing-masing bawa satu teman jadi 2600 anggota,” tambahnya, mantap.

Harus Punya Kegiatan

Saat BAM berdiri, di Malang, sudah berdiri 4 koperasi khusus wanita. Sekarang sudah menjadi 6 koperasi khusus wanita. Namun, dibandingkan koperasi kebanyakan, BAM terlihat berbeda.

“BAM memang khusus wanita. Kalau saya pribadi terus terang, saya kasihan dengan wanita. Nggak semua wanita bisa berjaya. Kadang mereka hanya mengandalkan dari suami. Padahal, ketika ditanya, mereka semua ingin berkumpul di dalam koperasi. Sayangnya orang masih menganggap koperasi sebagai tempat untuk meminjam uang. Itu yang membuat saya tidak sreg. Mau saya, semua wanita punya kegiatan yang menghasilkan. Bukannya dapat pinjaman, trus duit suami buat bayar,” tegas Evita.

Evita menganjurkan, setiap anggota BAM harus memiliki kegiatan. Kalau tidak punya kegiatan, lanjut Evi, “kita buatkan kegiatan. Kita ada diklat, dari yang dasar, pengembangan, dan mandiri. Kalau dasar, itu dia tidak punya kegiatan sama sekali, atau murni ibu rumah tangga. Kita kumpulkan untuk pelatihan. Dia ahlinya dimana, kalau masak, kita kupulkan di kelompok masak, ketrampilan di ketrampilan, konfeksi di konfeksi. Ada ibu-ibu yang tidak sabar dan tidak telaten, kita cari pemecahannya. Kita ada pembinaan. Ada ibu-ibu yang suka menulis, ya dia bisa menulis di website kita,’ jelas Evita, semangat.

Agar hasil yang dicapai maksimal, Evita sengaja tidak mentargetkan anggota BAM terlalu banyak.

‘Karena ada koperasi yang anggotanya banyak sekali, tapi yang jadi pertanyaannya, apakah dengan begitu dapat terukur kesejahteraannya,” tanya Evita.

Di BAM, ibu dua anak ini lantas mengkombinasi sistem. Ia gabungkan sitem tersebut dengan pengalaman-pengalaman yang kerap terjadi masyarakat.

‘Ada yang masalah duitnya di pakai ketuanya, ada yang lari meninggalkan hutang. Nah, itu jadi pemikiran kita. Ternyata faktor ekonomi. Saya tidak mau anggota jadi obyek, saya mau ini di gabungkan dengan usaha saya dan usaha suami saya, dengan MLM yang ada, harus ada diklat, retreat merubah wawasan.

Akhirnya, disimpulkan bahwa ekonomi hanya sebagai media, bukan iming-iming. Saya mau koperasi itu untuk mensejahterakan anggota, tapi yang bisa diukur. Anggota punya kegiatan yang menghasilkan dan benar-benar mensejahterakan. Bunga bukan untuk operasional, tapi laba dari produk itu yang untuk mensejahterakan anggota,” jelas Evita.

Kini, dana yang dimiliki KWSU BAM sudah mencapai Rp. 8 miliar.

‘Saya gambar koperasi itu bejana. Ekonomi adalah apinya. Jangan sampai ekonomi di dalam bejana, nanti panas dong. Ini kan ilmu mak-mak. Kalau masak di kuali, anggota iniyang punya bumbu, punya rasa, duit hanya untuk api.

Jadinya, dampak kemacetan tanpa jaminan, 0 persen. Makanya, kalau ada anggota yang mau pinjam, dia tidak boleh datang, daftar, pinjam. Harus 2 bulan dilatih dan difahamkan sistem kita yang tanggung renteng, gotong royong, musyawarah, dan terbuka. Setelah itu 2 bulan baru boleh pinjam,” tegas Evita.


Koperasi Gaul

Evita sadar, waktunya banyak tercurah pada KWSU BAM. Ia punya mimpi, kelak koperasi yang ia bangun dari cinta ini, bisa berkembang dengan baik.

“Mimpi saya BAM punya home industri, atau pabrik yang menjual, punya kualitas. Tapi karyawannya adalah anggota, untung untuk anggota, dan semuanya dikelola oleh anggota,” jelas Evi.

Hasil KWSU BAM saat ini adalah jus buah, seperti; anggur, jambu, dan apel. Hanya saja, karena tanpa pengawet, masa berlaku jus-jsu ini hanya sampai satu minggu.

Keunikan yang dilakukan Evita, juga terlihat dari sistem operasional BAM. Mereka menggunakan istilah-istilah perbankan.

“Tujuannya agar koperasi tidak dipandang sebelah mata. Mereka, anak-anak lulusan Brawijaya itu tidak malu melamar ke kita, karena KWSU BAM lebih menyerupai Bank dibanding KUD.

Evi juga harus mau menerima telpon setiap saat. Setiap hari, ia pasti mendengar keluhan sampai curhat anggota-anggotanya. “Mereka memanggil saya, Mama. Curhatnya aneh-aneh. Ada yang bertengkar dengan suami, ada yang masakan, sampai yang pemasaran yang mentok,” ujar Evi.

Kalaupun Evi mulai merasa terbebani, ia akan mencari hiburan dengan berkaraoke, atau membuka situs-situs pertemanan. Evi bahkan menganjurkan anggota-anggotanya untuk bisa bermain internet, dan paham teknologi.

‘Makanya, koperasi kita ini sering disebut koperas gaul. Karena di tempat kami semua online. Meeting bisa online,” ujar Evi senang.

Tampaknya, Evi tidak pernah merasa puas. Ia masih bermimpi, kelak KWSU BAM bisa mengangkat derajat hidup wanita kota Malang, seutuhnya. “Semoga berhasil,” katanya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 1 Comment

Eileen Rachman

Hidup Pun Kian Terasa Penuh

 

Eileen memiliki passion besar terhadap manajemen dan pengembangan sumberdaya manusia.


Dari sebuah biro konsultasi kecil, EXPERD kini makin memantapkan posisinya sebagai reputable business partner bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berhasrat melakukan perbaikan dan berkomitmen untuk mengambangkan SDM-nya.

Nama Eileen, memang tak lepas dari EXPERD yang ia rintis sejak tahun 1985. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1988 ini memulai karir konsutasinya, pada usia 33 tahun.

Di usianya sekarang, semangat Eillen tak pernah kempis. Ia masih giat belajar dan mencoba hal-hal baru. Aktif berwisata kuliner, manari salsa, olahraga wall climbing, hingga membuat face book di internet.

Frutasi Saat Terapi

“Aku tadinya belajar arsitektur,” kata Eileen.

Eileen mengaku menyukai dunia arsitektur dan interior. Keasikannnya itu, ia tuangkan pada perusahaannya yang lain, Decorous.

“Setelah itu, aku kecemplung di fakultas psikologi UI. Ini tidak berjalan bersama. Setelah menikah, baru ambil psikologi. Dan, ternyata tidak mudah,” jelas Eileen.

Meski mengaku kepayahan mendalami ilmu psikologi, Eileen akhirnya  termotivasi untuk komit pada disiplin ilmu ini. “Dalam artian, bagaimana ilmu ini diterapkan di masyarakat, melalui tulisan. Sebagaimana kita lihat, ilmu ini tidak terlalu disosialisasikan oleh penulis. Tidak sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat ilmu ini tidak umum,” lanjut Eileen.

Barulah, kata Eileen, 10 tahun terakhir, orang bangga menjadi seorang psikolog. “Dulu seolah tidak menarik dan tidak ilmiah.”

Lulus kuliah tahun 1983, di usia 33 tahun, Eileen menjadi dosen di Fakultas Psikologi. Barulah di tahun 1985, Eileen benar-benar bekerja di dunia komersial.

‘Karena aku berpikir kalau aku jadi dosen, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku lebih tertarik pada penerapan. Sebenarnya, aku sempat praktek, sekitar tahun 1983 hingga 1986. Nah, orang kan datang ke praktekku, selalu mencari solusi. Sometimes itu membuatku sangat frustasi,” ungkap Eileen.

Ia frustasi karena selama menuntut ilmu psikologi, Eileen tidak pernah terapi dengan tuntas. Kalau mau mahir memberikan terapi, “aku harus sekolah lagi. Dengan kondisi aku yang sudah punya anak 2, aku tidak punya waktu. Akhirnya yang aku lakukan, terapi-terapi yang bisa aku lakukan sendiri. Misalnya family therapy.”

Diajari Staf

Merasa tidak puas, Eileen memilih kerja di dunia komersial. Menjadi HRD manager.

Terus terang, aku langsung menduduki jabatan manager, dan aku diajari para stafku. Mulai dari cara ngitung orang, cara ngitung gaji, cara bikin surat oleh sekertarisku. Saya sih nekat saja. Ternyata saya perlu belajar. Sampai  3 tahun. Barulah kemudian saya mendirikan Experd,” cerita Eileen.

Eileen sempat bekerja menjadi HRD Manager di Bank Umum Asia. Bank ini kemudian merger dengan Bank Lippo. “Andai aku terus berkarir disini, aku akan di Lippo. Karena aku memang diminta bergabung di Lippo.”

Eileen merasa perlu mendirikan perusahaan jasa. “Saat itu belum banyak perusahaan jasa yang seperti saya dirikan ini. Masih malu-malu. Makanya pemasarannya tersendat-sendat. Aku juga mungkin belum terkenal. Dan kita belum tahu bagaimana memasarkan dengan baik. Biro-biro konsultasi psikologi itu memang juga tidak memasarkan. Ada juga teman-teman yang sudah ekspan. Saya memang pendatang baru,” jelas Eileen.

Eileen bergairah, manakala 10 tahun terakhir, ia menemukan warna baru dalam bisnis jasanya. Ketika Ketika banyak anak-anak muda yang sangat kreatif, yang bergabung di perusahaannya. Yang tidak membawa hawa yang dulu-dulu. “Justru yang baru-baru ini, mereka kuat di komunikasi, kuat marketing, kuat di IT, kuat baca, internet. Karena itulah kemudian aku sendiri juga berubah,”

“Saya konsentrasi di training dan assignment. Kita sadar pada saat itu kita sebagai konsultan, hanya tukang training dan tukang assignment. Kita bukan membimbing company menjadi lebih baik,” kenang Eilleen.

Namun sejalan dengan waktu, Eileen kian mantap memposisikan dirinya sebagai tenaga konsultan yang handal.

“Akhir-akhir ini saya berani meng-claim bahwa aku bisa menjadi partner para owner untuk membuat barisan man power-nya,” ujar Eileen, mantap.

Tidak Tahu Penyakitnya

“Kadang-kadang ada perusahaan yang tahu masalahnya, ada yang tidak. Seperti ke dokter saja. Ada yang bilang, ‘dok ini saya sakit’. Tapi ada yang bilang, ‘dok, seluruh badan saya sakit.’ Klien macam-macam. Ada yang mengerti apa yang diperlukan, ada yang tidak,” ujar Eileen tentang kondisi kliennya.

Beruntung, Eileen jago di bidangnya. Ia punya tenaga riset yang siap meriset kondisi perusahaan klien-kliennya. Untuk mengetahui ‘penyakit’ perusahaan kliennya.

“Bisa saja seorang direktur tidak melakukan suksesi. Kita tidak bilang, kamu tidak pantas disitu. Kita cuma bilang, ayo bikin program suksesi secepat mungkin. Jadi kita lebih detail dan profesional, tidak hanya penempatan orang saja,” ujar Eileen.

Eileen selalu bertanya, apa yang dibutuhkan kliennya. Apakah sekedar sukses, ataukan membutuhkan lebih banyak ekspertis, atau membutuhkan orang-orang yang sekolah formal, membutuhkan orang-orang yang bisa bekerja, dan lain sebagainya.

Menjadi SDM Ideal

Eileen sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang baik itu harus kompeten, komit, kontribusi. Kompeten itu mampu, komit itu mau, kalau iya-iya kalau nggak ya enggak. Sementara kontribusi berarti menyumbang. Kalau dia di perusahaan hanya sebagai pengembira saja tidak ada sumbangannya, ya percuma saja,” tegas Eileen.

Tentu saja, lanjut Eileen, harus sejalan dengan apa yang diinginkan perusahaan, apa yang diharapkan perusahaan, dan apa yang jadi filosofi perusahaan.

“Kita profesional, jadi kita punya alat dan teknik untuk menilai para SDM ini. Pada dasarnya saya sudah tidak lakukan itu sejak lama. Sekarang, sudah ada anak buah yang lakukan,” ujar Eileen.

Hidup Seimbang

Dua perusahaan Eileen, Decorous dan EXPERD, berdiri dalam jangka waktu hampir bersamaan. Perusahaan ini, kata Eileen, dibesarkan dengan rasa.

“Aku suka banget sama penerapan ilmu psikologi, tapi aku juga suka banget sama interior. Jadi ya buat aku tidak susah. Kalau beli interior terus dipakai sendiri, kan nggak bisa selamanya begitu. Akhirnya kita beli dan kemudian dijual. Tapi di perusahaan anakku ini beda, apa yang dilakukan teman-teman disini tidak hanya jual saja. Mereka juga menciptakan barang, bahkan mereka juga melakukan service yang baik, dari segi waktu, kesulitan dan problem,” ujar Eileen bangga.

Eileen senang. Karena, kata ibu dua putra ini, segala hal uang di lakukan di perusahaannya, adalah hal yang akan dikembangan. “Selama mereka mau berkembang, dan mereka tidak bosan. Terus belajar dan belajar. Saya bersyukur dengan apa yang dikasih Allah pada aku, yaitu kemampuan belajar dan mengajar,” kata ibunda DJ Riri ini dengan rona wajah bahagia.

Karenanya, Eileen merasa hidupnya selalu seimbang.

“Adalah kalau kita achieved segala hal. Relijius dengan hal emosi dan kehidupan kerja yang memuaskan. Ya dapat duitnya, untungnya. Fisikal, ya kita sehat. Semua itu, kalau kita rasanya puas dan berkembang, ya kita puas. Kesibukanku di luar kerja, ya bergaul atau mengakses internet, misalnya face book-an. Juga panjat tebing, main sama anak, cucu, dan tim wisata kuliner. Aku merasa hidupku penuh.

“Aku tidak pernah malas sama sekali,” tegas Eileen.

Ia senang berteman dan membaca buku. Dalam satu waktu, ia bisa membaca 3 buku sekaligus. “Aku senang sekali berkembang. Karena sangat mengasikkan dan menguntungkan. Aku cuma takut sakit.” Eileen pun tersenyum lepas.

Begitupun dengan hubungan antar karyawan. Eileen sangat kompeten. Ia mempunyai aturan yang ketat, mesiskipun diluar itu, Eileen mengaku selalu membuka diri pada tiap karyawannya.

“Aku mengharuskan semua karyawanku punya Yahoo Messenger. Tidak boleh invisible di hadapanku. Kalau dia pasang invisible, aku akan marah. Karena buat aku. Mereka harus bisa aku kontak. Handphone pun juga. Tapi aku tentunya tidak bisa melarang mereka. Tapi aku selalu bilang, tidak ada gunanya kalian matikan handphone dan tidak bisa dihubungi. Aku saja yang sudah tua begini masih bisa dihubungi. Nanti kalian tidak bisa berkembang. Aku kalau ngajarin orang sangat keras. Kalau kalian sedang belajar, aku teriak-teriak, itu bukan berarti aku marah. Tapi kalian harus tahu mana yang benar,” tegasnya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment