Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Lenny Dwinijanti

Untuk Tujuan Mulia, Pasti Ada Jalan

Dibalik sukses Tabloid Pulsa merajai bisnis media, ada satu nama yang tak pernah terdengar. Dialah Lenny, wanita yang diam-diam bermain di bidang yang justru bukan keahliannya, dan menuai sukses.

 

Hingga saat ini, Tabloid Pulsa masih berada di peringkat pertama sebagai tabloid dengan jumlah oplah terbesar, hingga 1 juta eksemplar dalam 1 bulan. Tabloid yang menyajikan informasi ponsel terbaru dan ponsel-ponsel pilihan. Siapa sangka, bisnis yang diawali dengan coba-coba ini menuai sukses.

“Untuk memikirkan (pulsa), kita butuh waktu 2 tahun. Saat itu, kita memprediksi, dengan kemampuan dan kualitas anak-anak yang kita punya, Pulsa balik modal dalam 2 tahun. Ternyata, baru 5 bulan sudah BEP. Itu rejekinya dari anak-anak,“ ungkap Lenny.

Dari tempat yang sempit, kini Pulsa sudah miliki 2 gedung untuk menjalankan bisnis media. Satu gedung untuk kantor menejemen, dan satu kantor lagi yang terpisah jauh, untuk redaksi.

“Idealnya, menejemen dan redaksi harus dipisah. Karena, redaksi tidak boleh diintervensi. Kita harus memberikan kepercayaan 100 persen pada redaksi dalam menyajikan artikel-artikelnya,” ujar Lenny.

Lantas, siapakan Lenny yang kini memiliki 12 media di bawah bendera Indo Media Group?

Syiar Lewat Media

Berawal dari keinginan Lenny dan suaminya mendidik ahli-ahli hafalan Al-Quran. 9 tahun silam, Lenny mendirikan Yayasan Khalifah.

“Yang kita pilih anak laki-laki, lulusan SMA dan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Mulai dari Aceh sampai Papua,” jelas Lenny.

Anak-anak ini, lanjut Lenny, diajarkan tahfidz (hafalan) Al-Quran selama 2 tahun. Mereka belajar dan tinggal di satu pondokan, tanpa diperbolehkan pulang. Lenny bersyukur, yayasannya berjalan lancar, meskipun ia harus mengeluarkan uang yang relatif besar.

“Tapi, lama-lama kita butuh dana. Kami mulai berpikir, kenapa hidup dari sumbangan. Itu mengajarkan orang untuk meminta-minta sementara diajaran agama Islam, lebih baik kita memberi,” ungkap Lenny.

Dari situlah tercetus membuat bisnis untuk menghidupi yayasan ini. Tapi Lenny sadar, ia bukan pebisnis. “Saya akhirnya justru berpikir, bagaimana cara kita bisa syiar. Dan muncullah ide bersyiar lewat media.”

Lenny yang tidak pernah bersentuhan dengan bisnis media, nekat merekrut anak-anak lulusan pondok pesantrennya. Pikiran Lenny sangat sederhana. Membuka lapangan pekerjaan, dan belajar bersama-sama membuat media.

“Dari awal, kita nekat saja. Karena keterbatasan uang untuk membiayai anak-anak ini, tidak ada jalan lagi, kita harus berbisnis. Masak sih tujuannya mulia dipersulit,” ujar Lenny mantap.

Ponsel Mahal Tetap Dibeli

Tahun 2003, Tabloid Pulsa dibuat. Ia menjadi satu-satunya tabloid yang mengulas tentang ponsel, dari kecanggihannya hingga harga-harga ponsel di Indonesia. Khusus untuk mengulas satu ponsel terbaru, tim redaksi khusus membeli ponsel tersebut. Ulasan sangat independen. “Jadi kalau jelek ya ditulis jelek. Kalau bagus, akan dibilang bagus,” kata Lenny.

Bukti independen, kata Lenny, dia tidak mengintervensi redaksi saat mengulas ponsel buatan perusahaannya sendiri, IMO, ataupun ponsel Philips.

“Waktu diulas apa adanya, tim marketing komplain ke saya. Mereka bilang, kok teman-teman di redaksi tidak membuat artikel yang lebih baik untuk membantu penjualan IMO. Saya bilang ke mereka, kalau produk kita dinilai segitu, berarti kita harus bikin produk yang lebih baik lagi. Saya tidak bisa menyalahkan redaksi. Mereka memang fair dalam menilai, walaupun produk itu milik saya,” ujar Lenny, tersenyum.

Redaksi juga tidak mau menerima ponsel pemberian. “Semua ponsel yang diulas, mereka beli sendiri, walaupun harganya sangat mahal. Mereka akan menguji sendiri kecanggihannya,” kata Lenny.

Banyaknya SDM yang dihasilkan dari Yayasan Khalifah, membuat Lenny memutar otak.

”Setelah anak-anak yayasan mulai siap, beberapa bulan kemudian kita syiar lagi dengan membuat beberapa tabloid. Itu juga yang usul anak-anak. Ya kita iyain saja. Coba-coba dan coba. Alhamdulillah, berhasil,” ujar Lenny, bangga.

Selain Tabloid Pulsa, ada majalah Khalifah, majalah Intelijen, Mobile Guide, Mania, Smart Pulsa, Koin, Comunique, Main, dan beberapa lagi.

Harus Jadi Besar

Lenny mengajarkan setiap karyawan untuk berpikir maju, sekalipun itu pesuruh atau office boy.

”Kalau boleh jujur, kita ini benar-benar menampung orang yang belum pernah kerja. Makanya saya bilang ke anak-anak, dengan kemampuan sekian kalian harus bisa jadi besar,” ujar Lenny.

Office boy pun, kata Lenny, bisa berkarir.

“Saya bilang ke semua karyawan, setiap hari mereka harus bikin laporan. Saya tidak mau laporan tulis tangan. Harus pakai komputer. Kalau tidak bisa, ya harus belajar. Itu baru pertama. Semakin canggih, saya bilang ke mereka harus kirim laporan lewat email ke saya. Termasuk pada para office boy. Setiap hari mereka harus email ke saya. Nah, dari situ ada penilaian dan perpindahan bagian. Akhirnya, mereka terpacu,” jelas Lenny, bangga.

Lenny membuka diri pada tiap karyawannya. Tanpa memandang tingkatan dan status, siapapun bisa berkomunikasi langsung dengan Lenny. Prinsipnya, dilandasi rasa kekeluargaan.

“Mereka bisa keluarkan apa kata hati mereka. Kalau diam saja, akan terseleksi dengan sendirinya. Yang penting berani bicara. Dan, sekarang mereka sudah berani berpendapat. Saya juga ingin meeting itu jadi ajang diskusi. Apa yang dibutuhkan, apa yang dikoordinasikan antar bagian, apa yang dikeluhkan, kita dengarkan sama-sama dan kita cari solusi yang terbaik,” ujar Lenny.

Aien Hisyam

Advertisements

November 23, 2009 - Posted by | Profil Pengusaha

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: