Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Lely Purnama Simatupang

Investasi Untuk Anak

Lely merasa pencapaian hidupnya belum utuh. Masih ada celah yang harus diisi. Inilah alasan mengapa ia akhirnya mendirikan Chezlely.


Usia Chezlely masih sangat belia, baru 3 tahun. Tapi, jangan tanya prestasinya.

“Justru, sekarang Chezlely jadi rujukan di kalangan para chef,” kata Lely, bersemangat.

Lely boleh berbangga hati. Kerja kerasnya memang telah berbuah manis. Chezlely Culinary School menjadi satu-satunya tempat kursus memasak yang diakui di banyak tempat dan negara.

Dua Karakter

Kata Lely, secara umum menurut hasil survey yang dilakukannya, didapati bahwa kursus khusus memasak, terbagi dalam dua karakter. Pertama, kursus untuk penggemar masak. Istilahnya amatir. Kelas amatir ini banyak diminati oleh para ibu rumah tangga, dan para pemula yang ingin membuka usaha restoran, atau mulai menjual aneka kue. Sedangkan untuk kelas profesional, termasuk dalam kategori kedua.

“Itu biasanya ada dalam institusi-institusi pendidikan formal seperti NHI-Bandung, sekolah-sekolah perhotelan di Jakarta, dan lain-lain. Mereka banyak mempelajari ilmu-ilmu perhotelan, tidak terlalu detail membahas mengenai kuliner. Chezlely Culinary School sebenarnya dibuka untuk memenuhi kebutuhan dua kategori kursus tersebut. Semua orang dengan aneka latar belakang pendidikan, bisa ikut belajar di sini,” terang Lely.

Tempat ini, lanjut Lely, menyiapkan konsep yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta kursus. Untuk kategori kelasnya, terbagi dalam dua kelompok besar. Le Cuistot, untuk kelas dewasa.

Kelas ini terdiri dari dua kategori. Amatir dan profesional. Untuk kelas amatir, biasanya diminati para pemula dan penggemar dunia kuliner. Sedangkan untuk kelas profesional, banyak dikuti oleh orang-orang yang ingin lebih serius terlibat di dunia kuliner, sebagai pengusaha, pengelola restoran, dan chef profesional.

Sedangkan kelompok Le Petit Chef, adalah kelas khusus untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 13 tahun. Kelas ini terbagi juga dalam dua kategori, kelas amatir dan kelas intensif. Yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang benar-benar berminat dan serius menekuni bidang kuliner. Baik kelas amatir yang hanya belajar dalam sehari (short course method), maupun kelas intensif yang ditempuh selama 10 kali pertemuan setiap minggunya, dua kelas ini sama-sama banyak peminatnya.

Konsep Edukasi

Mengenai konsep edukatif di sana, Lely menjelaskan panjang lebar, “Untuk kelas amatir pun, kursusnya didesain untuk bisa melihat sesi demo. Sambil melihatnya, peserta didik bisa bertanya sebanyak-banyaknya melalui sesi demo ini. Setelah itu mereka mempraktekkannya sendiri-sendiri.”

Tentu saja, lanjut Lely, tetap dalam bimbingan pengajar yang juga mengawasi dan menemani mereka. Desain untuk kategori dewasa dan kelompok anak-anak, dikonsep hampir sama bentuk. Hanya bobot materi-materinya saja yang dibedakan.

“Misalnya untuk anak-anak, kami berangkat dari konsep “I like to eat”. Karena suka makan, maka mereka juga ingin menyediakannya. Anak-anak bisa lebih paham dan lebih dekat dengan makanan-makanan kesenangannya. Pizza, Apple Pie, Brownies, Little Fairy Cake, dan lain-lain. Mereka bisa belajar dan bermain sambil berkreasi,” kata Lely.

Didukung oleh para pengajar profesional, kelengkapan peralatan dan fasilitas yang dibuat dengan standar internasional, serta suasana kursus yang nyaman, tak sedikit orang memilih tempat ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Walaupun kegiatan ini dilakukan pada saat-saat liburan maupun pada waktu-waktu luang.

Untuk bisa lebih mengenal dunia kuliner, tak hanya perempuan yang punya tempat khusus di dalamnya. Tempat ini terbuka luas untuk siapa saja yang ingin “berkenalan” dengan dunia kuliner. Biaya kursusnya pun relatif murah.

Para peserta didik, akan mengenakan seragam khas chef di tempat ini. Topi chef yang berdiri tinggi, diberikan untuk para peserta yang mengikuti kelas amatir (short course method), sedangkan untuk kelas intensif dan profesional, mengenakan topi yang bentuknya lebih membulat dengan ukuran yang lebih rendah.

Pakaian Khusus

Suasana yang dibangun, menjadi cukup menarik. Bagi anak-anak dan orang-orang dewasa yang belum terbiasa dengan seragam ini, akan membuat mereka semakin merasakan benar-benar sebagai chef professional, dan sesi belajarnya pun menjadi lebih terasa. Benar-benar berada di dapur dengan seluruh peralatan standar internasional dan aman untuk digunakan oleh anak-anak maupun dewasa.

Pelajaran kursus biasanya diawali dengan kelas demo. Berkas-berkas resep dibagikan kepada setiap peserta kursus. Pada sesi ini, peserta akan mendapat banyak paparan dan panduan sekaligus melihat cara memasak berikut dengan tips-tips praktisnya. Selain mencicipi makanan hasil demo dari pengajarnya, peserta pun punya kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Setelah itu, peserta diperkenankan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke kelas praktek. Celemek, lap, dan topi chef, adalah perangkat “belajar” di kelas ini. Sedangkan segala macam peralatan yang dipakai untuk mengolah makanan dari mulai tahap persiapan bahan, mengolah hingga matang, dan disajikan dalam plate menarik, semuanya menjadi tanggung jawab pihak Chezlely Culinary School. Tempat ini juga menyediakan bahan-bahan makanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daftar menu yang akan dibuat.

Jika hidangan telah matang, ada sesi ‘menghias’. Maka, jadilah memasak sebagai kerja kreatif yang sempurna. Menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Untuk sendirian, ataupun dinikmati bersama-sama, tak jadi soal. Tapi liburan kali ini, telah terisi dengan hal baru yang menambah wawasan pengetahuan.

Kepuasan Profesional

Banyak tempat telah disinggahi Lely, sebelum ia sampai di ‘pelabuhan’ terakhirnya.

Lely pernah menjabat sebagai Director Purchasing & Quality Assurance, serta Operation Manager McDonald’s Indonesia. Saat ini, Lely adalah Managing Director pada Chezlely Culinary School.

Pengalaman sebelumnya, ia pernah menjadi New Channel Development Manager, Wall’s Ice Cream pada Unilever Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan beliau antara lain di Strategic Executive Program (Monash Mt Eliza, Melbourne), Basic and Intermediate Cuisine (Le Cordon Bleu, Paris) dan Management Program–Wijawiyata Management, Institut Pendidikan & Pengembangan Manajemen (IPPM). Lely bahkan telah mengikuti Restaurant Operations courses, Supply Chain and Quality Assurance Courses dan Marketing and Development courses di berbagai negara.

Alasan Lely mendirikan Chezlely Culinary School, “saya memang dari awal tujuannya melatih profesionel chef. Awalnya masih yang tua-tua, tapi makin kesini relatif makin banyak yang muda-muda. Mereka seumur itu sudah melihat profesi chef itu merupakan satu alternatif,“ ujar Lely.

Namun, Lely mengakui, ia sangat menyukai dunia memasak.

“Awalnya, ketika saya masuk usia 40 tahun. Saya mereview, saya mau ngapain kedepannya,” kata Lely, menerawang. “Kalau saya mau melakukan sesuatu, saya mereview apa yang saya lakukan dan apa yang akan saya kerjakan ke depan.”

Kalau yang sifatnya ambisi dan bekerja, lanjut Lely, “saya sudah puas. Saya pernah bekerja, naik pangkat, promosi, sudah mencoba dan sudah cukup baik. Lantas apa selanjutnya.”

Akhirnya, Lely memutuskan belajar memasak di Paris, Perancis, tahun 2002. Lely memang bertekad tidak akan bekerja lagi disaat usia 45 tahun yang clock in-clock out.

“Saya ingin berbuat yang tanda petik, tapi ada kepuasan secara profesional,” tegas Lely.

Di Paris, Lely dibukakan mata hatinya. Dia melihat, banyak anak-anak usia 16 dan 17 tahun, sudah dikursuskan orangtuanya belajar memasak.

“Program 30 minggu, 3 kali seminggu, biayanya 7000 euro (sekitar Rp. 112.000.000). Tentu saja ini tidak mungkin uang sendiri, pasti dari orang tuanya. Pasti orang tuanya percaya dan paham kalau itu bukan investasi yang tidak sia-sia. Mereka berani berinvestasi sebesar itu demi anak-anaknya, » kata Lely.

Lantas, Lely menambahkan, “di Indonesia kenapa jalurnya masih setelah tamat SMA, kuliah dan baru kerja. Relatif profesi masih dianggap satu profesi yang tidak butuh keahlian. Padahal, disini semua elemen ada. Masak ada, interaksi sama orang, dan ngajarin orang. Ini bagian-bagian yang saya sukai,” ujar Lely, bersemangat.

Tak mau menunggu terlalu lama, Lely menangkap peluang ini. Dia berharap, bisa membukakan mata hati masyarakat Indonesia. Untuk berpikir, di luar ‘kotak’ yang sudah tersedia.

Aien Hisyam

November 23, 2009 - Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha

1 Comment »


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: