Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Dewi Lestari

Inilah Proyek Cinta

 


Karya Rectoverso, menjadi karya cinta Dee pertama. Seperti judulnya, Dee tampaknya tengah menyatukan dua bagian yang terpisah dalam satu cinta yang utuh.


Saya merasa sebagai seniman. Banyak aspek dalam hidup saya. Aspek spiritual, sains, humor dan sebagainya. Saya juga senang drama dan serial. Aspek-aspek ini selalu jadi tema dalam karya-karya saya,” ujar Dewi Lestari.

“Namun, di karya terbarunya yang berjudul Rectoverso, Dee –sapa wanita ini-, seolah ‘melahirkan bayi sepasang ‘bayi kembar’. Karya yang penuh cinta, dan dikemas dalam bentuk musik dan fiksi. “Karena, saya pun punya aspek romantis. Saya senang baca puisi cinta, melamun, dan berandai-andai. Nah baru kali ini aspek ini saya pakai. Ini hanya aspek cinta, romantis, personal, hati, perasaan. Ini karya paling romantis,” katanya.

Pengalaman Baru

Dewi memperkenalkan karya barunya yang ia sebut karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan dua dunia dalam satu karya yang utuh, meski terpisah wujud. Ia sebut : Rectoverso.

“Ini karya jenis baru. Ini bukan sekedar buku dan bukan sekedar musik. saya ingin menawarkan sebuah pengalaman baru. Pengalaman menghayati yang baru,” ujar Dee.

Rectoverso memang dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Novel setebal 150 halaman yang di dalamnya ada 11 cerita, dan CD musik dengan 11 lagu. Uniknya, 11 judul lagu dan cerita yang ada di dalam Rectoverso; sama. Inilah, kata Dee, satu pengalaman yang berbeda.

Fiksi Rectoverso, kata Dee, bisa dinikmati utuh sebagai suatu buku. “Jadi, seperti definisinya, dua citra yang seolah terpisah tapi satu kesatuan. Ketika dia menjadi satu individu, dia bisa dinikmati tanpa terganggu dan tanpa tergantung yang lain. CD musiknya juga begitu. Tapi ketika mengalami keduanya, inilah pengalaman Rectoverso.”

Dua pengalaman yang dijadikan satu dalam satu pengalaman. Oleh karenanya, lanjut Dee, Rectoverso itu bukan produk tapi pengalaman. “Orang mau nggak mengalami ini? Ini lah yang membuat dia berbeda. Baik dari teman-teman bukunya dan dengan teman-teman CD-nya yang lain.”

Termasuk saat mendapatkan Rectoverso. Dee sengaja menjual dua karyanya ini di tempat yang berbeda. Fiksi di toko buku, CD  musik di toko musik. Untuk mendapatkan keduanya sekaligus, Dee membuka online melalui internet.

”Saya ingin orang memiliki petualangannya sendiri. Kalau saya jual satu paket, dia akan dapat kedua-duanya dengan mudah. Bagi saya, pengalaman Rectoverso, yaitu bagaimana orang itu menemukannya. Orang menemukan bukunya dulu, kemudian menemukan CD-nya. Atau sebaliknya. Inilah proses menemukan,” kata Dee, semangat.

Ada 36 Hati

Ada banyak orang yang mendukung proyek Rectoverso ini. Proses pengerjaannya pun tidak main-main. Dee merencanakannya dengan sangat matang.

Dee menggandeng banyak musisi di album Rectoverso-nya. Khusus para musisi ini, Dee bahkan mewajibkan mereka untuk membaca bukunya. “Saya kasih ceritanya, ini loh ceritanya supaya mereka tahu apa yang dibutuhkan lagu itu.”

Satu gebrakan Dee adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan rekaman secara live. Proses ini melibatkan 36 pemain musik. Sulitkah itu? Dee pun tersenyum.  “Kalau mereka pemain profesional, mereka sudah seharusnya ready untuk berikan yang terbaik. saya juga menjelaskan pada mereka, proyeknya untuk ini-ini-ini. Secara otomatis, terangkat untuk jadi semangat. Makanya, kalau dibilang, ini proyek cinta, itu memang benar, ” ujar Dee.

Rekaman secara live memang jarang dilakukan di industri rekaman. Lantas, apa yang membuat Dee tertarik melibatkan banyak pemain musik di rekaman musiknya?

”Kita ingin, Rectoverso ini dibikin personal dan punya nyawa. 36 orang main bareng. Ada 36 orang kasih hatinya untuk si lagu,” kata Dee.

Dee ingin juga, di rekaman ini setiap soul dari para pemainnya,  mampu tertampung secara otimal. “Kalau rekamannya satu-satu, itu bisa berbulan-bulan. Dampak tidak positifnya, saya gampang jenuh. Yang terjadi di industri rekaman yaitu gampang jenuh karena rekaman bisa setahun. Nah, kalau yang ini sekali langsung jadi,” ujar Dee.

Proyek Cinta

Berkali-kali, Dee menyebutkan, proyeknya kali ini sebagai proyek cinta.

“Ketika mereka membaca bukunya dan mendengar musiknya, yang pada saat itu masih sangat sederhana, mereka jatuh cinta pada konsepnya. Walaupun ini lahir dari saya, tapi ini jadi milik ramai-ramai,“ ucap Dee.

Proses yang singkat. Hanya dalam 4 hari saja, album musikknya selesai. Proyek ini, kata Dee, berjalan dengan sistem paralel. Musik jalan, grafis jalan, melibatkan banyak orang. Dee merasa, bukan hanya produknya yang berharga, “tapi pengalaman kami semua yang berharga dalam menyelesaikan produk ini.”

Begitupun Dee dan pasangan duetnya. “Kalau kita duet, yang kasih nyawa bukan hanya aku sendiri, tapi ada orang lain juga yang kasih nyawa. Ada kolaborasi nyawa di lagu itu,” ujarnya, mantap.


Malas Tapi Produktif

Dee baru saja mengambil keputusan besar. Pindah ke Jakarta, setelah belasan tahun berkarir. Demi satu tujuan, keseimbangan hidup.

“Saat ini, saya baru menyadari betul hidup seimbang. Karena penyakit orang kota, selalu berat pada satu aspek saja. Kerja melulu. Sekarang saya lagi menyeimbangkan porsi antara kerja, berkarya, rileks dan malas-malasan,“ kata Dee, tersenyum.

Ibu satu anak, Keenan Avalokita Kirana, merasa aktifitas malas, juga penting buatnya. Misalnya, satu hari tidak madi dan tidak keluar rumah. Rileks pun perlu dilakuan, seperti meditasi, atau spa. Aktifitas ini khusus untuk memanjakan dirinya.

“Nah, berkarya itu seperti sekarang ini. Ada Rectoverso. Dan bekerja, ya misalnya dengan mempromosikan Rectoverso. Kalau dulu saya tidak peduli (pada keseimbangan hidup). Kalau kerja, kerja terus. Kalau sekarang, dalam seminggu saya harus membagi hidup saya ini,” kata Dee.

Dee justru merasa produktif di saat hidupnya mulai balance. ”Ketika saya jalankan itu, saya merasa optimal. Sebenarnya tahun 2007 kemarin saya berkarya 2, Rectoverso dan Perahu Kertas, novel digital saya. Dulu waktu saya ngoyo bekerja, saya malah hanya menghasilkan satu karya. Tapi setelah saya mengapresiasikan kemalasan saya, saya jadi lebih produktif. Saya lagi mencoba menerapkan paradigma,  malas tapi produktif,“ Dee pun tertawa.

Kalaupun Dewi memutuskan pindah rumah ke Jakarta, katanya, semata-mata demi anaknya.

“Anak saya mulai beranjak besar, sekarang 4 tahun, saya merasa saya kehilangan quality time sama dia, karena, saat itu saya begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakan di Jakarta. Dan saya akhirnya membuat keputusan yang sangat besar, karena saya berpikir kalau ini diteruskan saya akan kehilangan banyak waktu saya dengan anak saya. Karena, waktu saya pasti akan habis di jalan. Bagi saya ini tranformasi besar,“ ujar Dee yang selama ini tinggal di Bandung.


Cinta Itu Energi

Arti Cinta Sesungguhnya…

Menurut saya, Cinta itu energi. Kalau energi, berarti segala sesuatu di bumi ini adalah cinta. Saya merasa bumi berputar karena cinta. Matahari bersinar karena cinta. Bagi saya, cinta yang hanya sekedar relationship, itu hanya sesuatu wajah kecil dari cinta. Hidup ini juga cinta.

Hidup Berkaitan dengan Tulisan…

Sebetulnya kalau dibilang langsung, enggak. Tapi setelah selesai dan saya baca ulang (Rectoverso), ada beberapa lagu, bicara tentang kehidupan dan kematian. Entah kenapa saya juga tertarik, bergerak untuk menulis tema itu. Mungkin saya merasa keberadaan Tuhan pencipta, itu bisa dirasakan seperti kita merasakan Rectoverso. Dia terasa begitu dekat. Seperti Nabi, dia begitu dekat dari pada urat lehermu sendiri. Itu saya rasakan saat menulis Rectoverso. Semacam ada guide ketika menulis.

Kalaupun Ide Ditiru…

Sebetulnya aku tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun kita punya hak paten untuk ide itu, tapi ide nggak ada tuannya. Kalau ada orang bikin sama, ya nggak masalah. Tapi, salah satu syarat kalau kita bikin Rectoverso, harus  penyanyi, pencipta lagu dan penulis. Aku sih senang-senang saja. tapi memang Rectoverso ini sangat spesifik. Kalau ingin persis sama konsepnya, harus dibuat dengan sangat spesifik. Minimal creator-nya harus menguasai bidang-bidang itu.

Inspirasi Karyaku…

Inspirasi banyak banget. Saya kalau nulis lagu atau bikin lagu, rumusnya 4, yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, mengamati lingkungan sekitar, dan imajinasi. Dalam Rectoverso ini, yang lebih ditekankan, kepada apa yang tokohnya rasakan. Bukan kata-kata, ketokohan atau mengedepankan alur. Tapi lebih mengedepankan emosi apa yang dirasakan si tokohnya.

Tentang Rencana Heksalogi…

Supernova, Akar, dan Petir itu bukan trilogi. Saya masih menyisakan tiga konsep lagi untuk dibentuk. Artinya, akan ada heksalogi. Saya suka enam karena bermakna heksagonal yang maksudnya kesempurnaan. Maka, saya pilih untuk menggenapkan Supernova menjadi enam seri. Inspirasinya, ya kehidupan sehari-hari. Rencananya, saya akan mengeksplorasi ide dengan konsep yang lebih fresh dibandingkan buku-buku sebelumnya.

Aien Hisyam

November 23, 2009 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Penulis, Profil Seniman

1 Comment »

  1. dewi l kapan buat album musik lagi tapi musiknya lebih cepat dan jazz fusion atau lainnya yang mungkin lebih unik lagi , kapan kesemarang, petric mau ketemu kamu, maaf kak,kalau saya sering emosi habis musiknya oke banget ,,

    Comment by petricssetiawan | July 6, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: