Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

CM Rien Kuntari

Satu Menit Terakhir

 

Rien pernah kesal karena bentuk rambut dan warna kulitnya. Namun setelah ia menjadi wartawan, ia merasa diuntungkan dengan ‘kekurangan’nya itu.


Rien wartawan perang. Ia pernah meliput beberapa daerah konflik di Irak, Rwanda, Kamboja, dan Timor-Timur. Yang negara terakhir inilah ia akhirnya memutuskan membuat buku setebal 483 halaman berjudul; Timor Timur-Satu Menit Terakhir. Ia ungkapkan segala kondisi Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia, termasuk luapan keharuan dan emosi, yang dibalut dalam obyektifitas seorang wartawan.

Seperti yang dituturkan sahabat Rien, “Saya minta maaf, Rien… selama ini informasi tentang kamu simpang siur. Saya sempat yakin pada apa yang dikatakan orang-orang tentag kamu, bahwa kamu sangat pro-kemerdekaan, tidak setia kawan, tidak nasionalis … Tetapi terus terang pandangan saya tentang kamu luntur dan berubah 180 derajat saat melihat kamu menitikkan air mata dan menangis tak henti ketika mendengar Kornelis (wartawan Kompas yang tertembak di Bekora, Dili timur) hilang. Aku juga terharu ketika kamu pun memutuskan mencari sendiri keberadaan Kornelis, dengan menempuh segala resiko. Aku benar-benar terharu…“

Kesal Dengan Rambut

Melihat wajah Rien, sulit meyakini bawah wanita ini benar-benar keturunan Indonesia asli. Ia bahkan sempat tertawa ketika ditanya apakah ada darah Timor dalam tubuhnya ?

Tidak marah, Rien langsung meralat. “Keluarga ibu saya memang ada darah Arab, walaupun sudah keturunan kedua. Bapak saya orang Yogyakarta asli. Dan saya tinggal di Panembahan (satu wilayah di kota Yogya),” terang wanita bernama asli Cordula Maria Rien Kuntari.

“Waktu dulu,” kata Rien, “saya sempat marah dengan rambut keriting saya. Saya berusaha meluruskan. Tapi, begitu saya jadi wartawan, ternyata yang menguntungkan dari semua yang saya miliki adalah bentuk rambut saya. Di Afrika, saya diterima baik karena wajah saya. Waktu di Rwanda, saya mulus saja. mereka tidak pernah tahu Indonesia apa. Mereka hanya tahu Eropa, dan sya bukan orang Eropa,” ujar Rien, senang.

Diakui bungsu 10 bersaudara ini, ia merasa diuntungkan dengan bentuk rambut dan warna kulitnya.

“Ditanya saya orang mana? nggak jelas,” ungkap Rien tertawa lepas. “Kalau di Arab, wajah dan kulit saya ini termasuk Arab tengah. Waktu saya ke Irak, orang lain tidak bisa masuk, saya bisa. Ya lagi-lagi karena warna kulit dan bentuk wajah saya,” kata Rien.

“Di Indonesia, saya pasti diterima. Di Arab, mereka menerima saya sebagai orang Arab, di Filipina saya diterima sebagai Filipino, di Eropa dengan kulit coklat saya, mereka sangat terpesona. Di Amerika, saya Americanos. Saya tidak pernah di kasih entry form, karena mereka selalu pikir saya Americanos. Malah tidak ada yang percaya kalau tanya asal saya, saya bilang dari indonesia. Jadi saya senyum-senyum saja,” kata Rien.

Bahkan, nama pun bisa berubah. “Kalau di Papua, saya selalu dibilang orang Serui. Mereka lebih percaya nama saya Maria Dacosta Gutere, dibanding nama Rien Kuntari. Saya sih oke-oke saja.” Senyum Rien mengembang. Sekarang, Rien mentah-mentah menolak kalau rambutnya di luruskan.

Tugas Berat Di Awal Kerja

Tahun 1991, Rien ditugaskan meliput konflik Irak dan Kuwait. Padahal, Rien baru 2 bulan menjadi karyawan di koran harian Kompas. Ketika diterima di Kompas tahun 1990, Rien masih harus mengikuti training.

“Inilah penugasan pertama saya ke luar. Waktu itu, saya belum pernah ke luar negeri, belum pernah naik pesawat. Dan saya harus masuk Irak, 15 hari setelah perang darat,” kenang Rien.

Rien justru merasa senang. Katanya, itulah hebatnya Kompas. Dia tidak  tahu apa yang menjadi pertimbangan kantornya mengirimnya pergi ke daerah konflik. Yang juga membuat Rien heran, Saddam justru hanya mau menerima namanya untuk datang dan masuk ke Irak, dari sekian banyak nama wartawan yang disodorkan Kompas, saat itu.

Di Irak, Rien didampingi guide dan supir, yang orang lokal. “Supir saya, kulitnya hampir sama dengan saya. Dimana-mana saya dibilang keponakannya,” sesaat Rien tertawa kecil, “jadi, saya bisa masuk Karbala tenang saja. Saya disuruh tidur di jok belakang, meringkuk saja, terus supir saya bilang ini keponakannya. Saya tidak pernah diminta paspor.”

Kebetulan lagi, Rien menguasai bahasa Arab yang biasa digunakan warga Irak. Ia merasa, bahasa bukan kendala. Justru, makananlah yang jadi kendala Rien saat di Irak. Saat itu, ia hanya bisa makan appel dan anggur. Sesekali roti, kalau kebetulan ia menemukan. Setelah 4 kali bolak-balik ke Irak, Rien sudah mulai terbiasa.

Sampai di Irak, tentu saja Rien ingin mendapatkan berita ekslusif. Hanya saja untuk bertemu Saddam Husein (Presiden yang berkuasa saat itu), tidaklah mudah. Pada kunjungan berikutnya, Rien akhirnya bisa bertemu.

”Syaratnya luar biasa sulit. Syarat awal, kita para media ini harus bayar mobil pribadi, supir dan guide. Ternyata semua wartawan disitu tidak jadi soal. Pada saat ke Irak untuk ketiga kalinya, saat referendum pertama, saya apply, ternyata syaratnya kita harus punya heli. Ternyata dijabani (dilakukan –red) wartawan dunia. Mungkin ini cara mereka untuk menolak. Akhirnya, digelar jumpa pers,” ujar Rien.

Beginilah Wartawan Perang

Hanya ada dua nama yang dikenal publik dan kalangan pers, sebagai wartawan perempuan yang biasa bertugas di daerah konflik. Salah satunya Rien Kuntari.

”Namanya juga perang. Kondisinya ya seperti itu, » ungkap Rien, melukiskan medan yang pernah disinggahi.

Beberapa kali Rien ke Irak, serta masuk daerah konflik seperti Rwanda, Kamboja, dan Timor Timur.

”Memang sulit berada di wilaah yang sedang berperang. Tapi, saya bukan wartawan yang asal masuk. Semua saya perhitungkan dengan baik. Mentally kita harus siap. Saya sedih, kalau ada yang berangkat asal berani, tanpa persiapan mental. Kita harus hitung secara cermat dan tepat, apa yang ada di depan kita. Saya selalu prepair dalam kondisi apapun walaupun hanya 2 hari,” tegas Rien.

Tapi, Rien tetap manusia biasa. Ia juga punya rasa takut. ”Nah, bagaimana kita mengelola rasa takut ini. Saya takutnya tertembak, nah tertembaknya darimana. Takut diperkosa, oke diperkosa karena apa. Ternyata saya lebih takut diperkosa daripada ditembak. Kalau ditembak langsug mati, diperkosa bisa seumur hidup. Saya pelajari pemerkosaan, mulai dari culture atau karakter masyarakat di sana. saya harus jaga diri sebaik-baiknya. Protek baju yang khusus untuk perang. Pada akhirnya, bisa saja tidak mandi sampai 2 minggu,” ujar Rien.

Di Irak, Rien pernah ‘diculik’ Garda Republik selama 3 hari untuk bertemu opisisi. Proses penculikan adalah bagian dari sistem, dan ia ‘dipulang’kan di negara Yordania.

Di Rwanda -negara yang puluhan tahun mengalami perang saudara- ia menjadi satu-satunya wartawan di dunia yang dibawa langsung menemui Jendral Paul Kagame. Rien hampir gagal. Akses masuk ke Rwanda ditutup sama sekali. Ia berusaha mencari link dengan cara nongkrong di kafe, duduk di pinggir jalan. Pihak Hutu menolak, di Neirobi ia masuk melalui link Tutsi. Rien memang dikenal jago bernegosiasi.

Di Kamboja, Rien harus menempuh jalan darat selama 6 jam dari Battambang untuk bisa masuk ke Pailin, wilayah konflik paling berbahaya. Dari sekian banyak kejadian, Rien justru mengaku, Timor-Timur adalah daerah konflik yang peling berat.

“Di Rwanda dan Irak, saya bilang dari Indonesia, tidak jadi soal. Karena negara kita berteman baik dengan mereka. Begitu juga di kamboja. Tapi begitu di Timor Timur saya bilang Indonesia, jadi persoalan. Inilah liputan terbarat yang pernah saya jalani,” ujar Rien.


Tangis Untuk Timor Timur

Rien juga seorang  wanita. Betapapun bengis dan kejam medan konflik yang dihadapinya, ia selalu bisa melihat dan menangkapnya dengan mata hati seorang perempuan yang penuh kelembutan, kejujuran dan cinta kasih.

Inilah yang membuat tulisan jurnalistiknya tentang peristiwa dramatis di sekitar jajak pendapat di Timor Timur 1999, menjadi begitu indah dan mengharukan tapi juga menegangkan.

“Saya terlibat dengan Timor Timur sejak tahun 1992, setelah insiden Santa Cruz. Hampir setiap tahun saya ke Timtim, dan Timtim sudah jadi bagian dari saya. Itu juga karena saya 14 tahun di Kompas di bagian Hubungan Internasional. Timtim waktu itu bagian internasional,” jelas Rien.

Ketika terjadi referendum, kata Rien, pihak kantor merasa ia  cocok ditugaskan ke Timor-Timur. Lagi-lagi karena wajah timor-nya. Awal penugasan Rien ‘tinggal’ di Timtim sejak 15 Juli 1999 sampai 4 November. Kemudian pulang, dan tahun 2000 kembali lagi.

“Saya ikuti Timtim sampai jadi negara baru. Sebenarnya buku ini baru dari episode Juli sampai November. Belum sampai lahirnya Timor Leste. Rencananya saya akan bikin bikin trilogi,” ujar Rien mantap.

Ketika berada di daerah konflik, lanjut Rien, sebagai wartawan ia tidak bisa mengganti indetitas. Jadi segala resiko harus ia tempuh. “Dan memang yang jadi persoalan. Di sana ada dua fraksi, pro otonomi dan pro kemerdekaan. Saya orang Indonesia, dan kalau Indonesia pasti harus pro otonomi,” suara Rien terdengar bergetar.

“Padahal, sebagai wartawan yang harus kita jaga adalah ketidak berpihakan kita. Saya tidak mau meliput otonomi saja. Problemnya disitu. Untungnya saya dilindungi Falintil, wakilnya Xanana di Timtim. Dan saya juga dekat dengan Xanana. Itulah resiko yang dihadapi karena saya tidak berpihak,” ujar Rien. Dan ketika Timtim lepas dari Indonesia, Rien terdiam, sedih. Ada kekecewaan menggelayut di hatinya. Apa yang tengah dipikirkan wanita ini, semua ditulis dengan lengkap di buku tersebut.

Aien Hisyam

November 23, 2009 - Posted by | Profil Penulis, Profil Wanita

2 Comments »

  1. selamat sore bu, saya anaknya pak putu mau tanya kontak personnya ibu rien kuntari. dulu pak putu dines di kri teluk banten angkatan laut dan pernah bersama ibu rien ke timor tmur pada saat ibu rien menulis timtim satu menit terakhir. minta tolong bu,, minta kontak person dengan bentuk facebook aatau pun lainnya kalo bisa langsung no telp. mohon bantuannya terimakasih.

    Comment by bunga | July 29, 2012 | Reply

  2. kalo berkenan minta tolong kontak person ibu rien dikirim ke alamat email saya bungawidiasworo@yahoo.co.id
    bungahamiseno@gmail.com
    facebook : bangbingbung mbak bunga
    terimksih bu

    Comment by bunga | July 29, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: