Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Dewi Lestari

Inilah Proyek Cinta

 


Karya Rectoverso, menjadi karya cinta Dee pertama. Seperti judulnya, Dee tampaknya tengah menyatukan dua bagian yang terpisah dalam satu cinta yang utuh.


Saya merasa sebagai seniman. Banyak aspek dalam hidup saya. Aspek spiritual, sains, humor dan sebagainya. Saya juga senang drama dan serial. Aspek-aspek ini selalu jadi tema dalam karya-karya saya,” ujar Dewi Lestari.

“Namun, di karya terbarunya yang berjudul Rectoverso, Dee –sapa wanita ini-, seolah ‘melahirkan bayi sepasang ‘bayi kembar’. Karya yang penuh cinta, dan dikemas dalam bentuk musik dan fiksi. “Karena, saya pun punya aspek romantis. Saya senang baca puisi cinta, melamun, dan berandai-andai. Nah baru kali ini aspek ini saya pakai. Ini hanya aspek cinta, romantis, personal, hati, perasaan. Ini karya paling romantis,” katanya.

Pengalaman Baru

Dewi memperkenalkan karya barunya yang ia sebut karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan dua dunia dalam satu karya yang utuh, meski terpisah wujud. Ia sebut : Rectoverso.

“Ini karya jenis baru. Ini bukan sekedar buku dan bukan sekedar musik. saya ingin menawarkan sebuah pengalaman baru. Pengalaman menghayati yang baru,” ujar Dee.

Rectoverso memang dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Novel setebal 150 halaman yang di dalamnya ada 11 cerita, dan CD musik dengan 11 lagu. Uniknya, 11 judul lagu dan cerita yang ada di dalam Rectoverso; sama. Inilah, kata Dee, satu pengalaman yang berbeda.

Fiksi Rectoverso, kata Dee, bisa dinikmati utuh sebagai suatu buku. “Jadi, seperti definisinya, dua citra yang seolah terpisah tapi satu kesatuan. Ketika dia menjadi satu individu, dia bisa dinikmati tanpa terganggu dan tanpa tergantung yang lain. CD musiknya juga begitu. Tapi ketika mengalami keduanya, inilah pengalaman Rectoverso.”

Dua pengalaman yang dijadikan satu dalam satu pengalaman. Oleh karenanya, lanjut Dee, Rectoverso itu bukan produk tapi pengalaman. “Orang mau nggak mengalami ini? Ini lah yang membuat dia berbeda. Baik dari teman-teman bukunya dan dengan teman-teman CD-nya yang lain.”

Termasuk saat mendapatkan Rectoverso. Dee sengaja menjual dua karyanya ini di tempat yang berbeda. Fiksi di toko buku, CD  musik di toko musik. Untuk mendapatkan keduanya sekaligus, Dee membuka online melalui internet.

”Saya ingin orang memiliki petualangannya sendiri. Kalau saya jual satu paket, dia akan dapat kedua-duanya dengan mudah. Bagi saya, pengalaman Rectoverso, yaitu bagaimana orang itu menemukannya. Orang menemukan bukunya dulu, kemudian menemukan CD-nya. Atau sebaliknya. Inilah proses menemukan,” kata Dee, semangat.

Ada 36 Hati

Ada banyak orang yang mendukung proyek Rectoverso ini. Proses pengerjaannya pun tidak main-main. Dee merencanakannya dengan sangat matang.

Dee menggandeng banyak musisi di album Rectoverso-nya. Khusus para musisi ini, Dee bahkan mewajibkan mereka untuk membaca bukunya. “Saya kasih ceritanya, ini loh ceritanya supaya mereka tahu apa yang dibutuhkan lagu itu.”

Satu gebrakan Dee adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan rekaman secara live. Proses ini melibatkan 36 pemain musik. Sulitkah itu? Dee pun tersenyum.  “Kalau mereka pemain profesional, mereka sudah seharusnya ready untuk berikan yang terbaik. saya juga menjelaskan pada mereka, proyeknya untuk ini-ini-ini. Secara otomatis, terangkat untuk jadi semangat. Makanya, kalau dibilang, ini proyek cinta, itu memang benar, ” ujar Dee.

Rekaman secara live memang jarang dilakukan di industri rekaman. Lantas, apa yang membuat Dee tertarik melibatkan banyak pemain musik di rekaman musiknya?

”Kita ingin, Rectoverso ini dibikin personal dan punya nyawa. 36 orang main bareng. Ada 36 orang kasih hatinya untuk si lagu,” kata Dee.

Dee ingin juga, di rekaman ini setiap soul dari para pemainnya,  mampu tertampung secara otimal. “Kalau rekamannya satu-satu, itu bisa berbulan-bulan. Dampak tidak positifnya, saya gampang jenuh. Yang terjadi di industri rekaman yaitu gampang jenuh karena rekaman bisa setahun. Nah, kalau yang ini sekali langsung jadi,” ujar Dee.

Proyek Cinta

Berkali-kali, Dee menyebutkan, proyeknya kali ini sebagai proyek cinta.

“Ketika mereka membaca bukunya dan mendengar musiknya, yang pada saat itu masih sangat sederhana, mereka jatuh cinta pada konsepnya. Walaupun ini lahir dari saya, tapi ini jadi milik ramai-ramai,“ ucap Dee.

Proses yang singkat. Hanya dalam 4 hari saja, album musikknya selesai. Proyek ini, kata Dee, berjalan dengan sistem paralel. Musik jalan, grafis jalan, melibatkan banyak orang. Dee merasa, bukan hanya produknya yang berharga, “tapi pengalaman kami semua yang berharga dalam menyelesaikan produk ini.”

Begitupun Dee dan pasangan duetnya. “Kalau kita duet, yang kasih nyawa bukan hanya aku sendiri, tapi ada orang lain juga yang kasih nyawa. Ada kolaborasi nyawa di lagu itu,” ujarnya, mantap.


Malas Tapi Produktif

Dee baru saja mengambil keputusan besar. Pindah ke Jakarta, setelah belasan tahun berkarir. Demi satu tujuan, keseimbangan hidup.

“Saat ini, saya baru menyadari betul hidup seimbang. Karena penyakit orang kota, selalu berat pada satu aspek saja. Kerja melulu. Sekarang saya lagi menyeimbangkan porsi antara kerja, berkarya, rileks dan malas-malasan,“ kata Dee, tersenyum.

Ibu satu anak, Keenan Avalokita Kirana, merasa aktifitas malas, juga penting buatnya. Misalnya, satu hari tidak madi dan tidak keluar rumah. Rileks pun perlu dilakuan, seperti meditasi, atau spa. Aktifitas ini khusus untuk memanjakan dirinya.

“Nah, berkarya itu seperti sekarang ini. Ada Rectoverso. Dan bekerja, ya misalnya dengan mempromosikan Rectoverso. Kalau dulu saya tidak peduli (pada keseimbangan hidup). Kalau kerja, kerja terus. Kalau sekarang, dalam seminggu saya harus membagi hidup saya ini,” kata Dee.

Dee justru merasa produktif di saat hidupnya mulai balance. ”Ketika saya jalankan itu, saya merasa optimal. Sebenarnya tahun 2007 kemarin saya berkarya 2, Rectoverso dan Perahu Kertas, novel digital saya. Dulu waktu saya ngoyo bekerja, saya malah hanya menghasilkan satu karya. Tapi setelah saya mengapresiasikan kemalasan saya, saya jadi lebih produktif. Saya lagi mencoba menerapkan paradigma,  malas tapi produktif,“ Dee pun tertawa.

Kalaupun Dewi memutuskan pindah rumah ke Jakarta, katanya, semata-mata demi anaknya.

“Anak saya mulai beranjak besar, sekarang 4 tahun, saya merasa saya kehilangan quality time sama dia, karena, saat itu saya begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakan di Jakarta. Dan saya akhirnya membuat keputusan yang sangat besar, karena saya berpikir kalau ini diteruskan saya akan kehilangan banyak waktu saya dengan anak saya. Karena, waktu saya pasti akan habis di jalan. Bagi saya ini tranformasi besar,“ ujar Dee yang selama ini tinggal di Bandung.


Cinta Itu Energi

Arti Cinta Sesungguhnya…

Menurut saya, Cinta itu energi. Kalau energi, berarti segala sesuatu di bumi ini adalah cinta. Saya merasa bumi berputar karena cinta. Matahari bersinar karena cinta. Bagi saya, cinta yang hanya sekedar relationship, itu hanya sesuatu wajah kecil dari cinta. Hidup ini juga cinta.

Hidup Berkaitan dengan Tulisan…

Sebetulnya kalau dibilang langsung, enggak. Tapi setelah selesai dan saya baca ulang (Rectoverso), ada beberapa lagu, bicara tentang kehidupan dan kematian. Entah kenapa saya juga tertarik, bergerak untuk menulis tema itu. Mungkin saya merasa keberadaan Tuhan pencipta, itu bisa dirasakan seperti kita merasakan Rectoverso. Dia terasa begitu dekat. Seperti Nabi, dia begitu dekat dari pada urat lehermu sendiri. Itu saya rasakan saat menulis Rectoverso. Semacam ada guide ketika menulis.

Kalaupun Ide Ditiru…

Sebetulnya aku tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun kita punya hak paten untuk ide itu, tapi ide nggak ada tuannya. Kalau ada orang bikin sama, ya nggak masalah. Tapi, salah satu syarat kalau kita bikin Rectoverso, harus  penyanyi, pencipta lagu dan penulis. Aku sih senang-senang saja. tapi memang Rectoverso ini sangat spesifik. Kalau ingin persis sama konsepnya, harus dibuat dengan sangat spesifik. Minimal creator-nya harus menguasai bidang-bidang itu.

Inspirasi Karyaku…

Inspirasi banyak banget. Saya kalau nulis lagu atau bikin lagu, rumusnya 4, yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, mengamati lingkungan sekitar, dan imajinasi. Dalam Rectoverso ini, yang lebih ditekankan, kepada apa yang tokohnya rasakan. Bukan kata-kata, ketokohan atau mengedepankan alur. Tapi lebih mengedepankan emosi apa yang dirasakan si tokohnya.

Tentang Rencana Heksalogi…

Supernova, Akar, dan Petir itu bukan trilogi. Saya masih menyisakan tiga konsep lagi untuk dibentuk. Artinya, akan ada heksalogi. Saya suka enam karena bermakna heksagonal yang maksudnya kesempurnaan. Maka, saya pilih untuk menggenapkan Supernova menjadi enam seri. Inspirasinya, ya kehidupan sehari-hari. Rencananya, saya akan mengeksplorasi ide dengan konsep yang lebih fresh dibandingkan buku-buku sebelumnya.

Aien Hisyam

Advertisements

November 23, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Penulis, Profil Seniman | 1 Comment

Lenny Dwinijanti

Untuk Tujuan Mulia, Pasti Ada Jalan

Dibalik sukses Tabloid Pulsa merajai bisnis media, ada satu nama yang tak pernah terdengar. Dialah Lenny, wanita yang diam-diam bermain di bidang yang justru bukan keahliannya, dan menuai sukses.

 

Hingga saat ini, Tabloid Pulsa masih berada di peringkat pertama sebagai tabloid dengan jumlah oplah terbesar, hingga 1 juta eksemplar dalam 1 bulan. Tabloid yang menyajikan informasi ponsel terbaru dan ponsel-ponsel pilihan. Siapa sangka, bisnis yang diawali dengan coba-coba ini menuai sukses.

“Untuk memikirkan (pulsa), kita butuh waktu 2 tahun. Saat itu, kita memprediksi, dengan kemampuan dan kualitas anak-anak yang kita punya, Pulsa balik modal dalam 2 tahun. Ternyata, baru 5 bulan sudah BEP. Itu rejekinya dari anak-anak,“ ungkap Lenny.

Dari tempat yang sempit, kini Pulsa sudah miliki 2 gedung untuk menjalankan bisnis media. Satu gedung untuk kantor menejemen, dan satu kantor lagi yang terpisah jauh, untuk redaksi.

“Idealnya, menejemen dan redaksi harus dipisah. Karena, redaksi tidak boleh diintervensi. Kita harus memberikan kepercayaan 100 persen pada redaksi dalam menyajikan artikel-artikelnya,” ujar Lenny.

Lantas, siapakan Lenny yang kini memiliki 12 media di bawah bendera Indo Media Group?

Syiar Lewat Media

Berawal dari keinginan Lenny dan suaminya mendidik ahli-ahli hafalan Al-Quran. 9 tahun silam, Lenny mendirikan Yayasan Khalifah.

“Yang kita pilih anak laki-laki, lulusan SMA dan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Mulai dari Aceh sampai Papua,” jelas Lenny.

Anak-anak ini, lanjut Lenny, diajarkan tahfidz (hafalan) Al-Quran selama 2 tahun. Mereka belajar dan tinggal di satu pondokan, tanpa diperbolehkan pulang. Lenny bersyukur, yayasannya berjalan lancar, meskipun ia harus mengeluarkan uang yang relatif besar.

“Tapi, lama-lama kita butuh dana. Kami mulai berpikir, kenapa hidup dari sumbangan. Itu mengajarkan orang untuk meminta-minta sementara diajaran agama Islam, lebih baik kita memberi,” ungkap Lenny.

Dari situlah tercetus membuat bisnis untuk menghidupi yayasan ini. Tapi Lenny sadar, ia bukan pebisnis. “Saya akhirnya justru berpikir, bagaimana cara kita bisa syiar. Dan muncullah ide bersyiar lewat media.”

Lenny yang tidak pernah bersentuhan dengan bisnis media, nekat merekrut anak-anak lulusan pondok pesantrennya. Pikiran Lenny sangat sederhana. Membuka lapangan pekerjaan, dan belajar bersama-sama membuat media.

“Dari awal, kita nekat saja. Karena keterbatasan uang untuk membiayai anak-anak ini, tidak ada jalan lagi, kita harus berbisnis. Masak sih tujuannya mulia dipersulit,” ujar Lenny mantap.

Ponsel Mahal Tetap Dibeli

Tahun 2003, Tabloid Pulsa dibuat. Ia menjadi satu-satunya tabloid yang mengulas tentang ponsel, dari kecanggihannya hingga harga-harga ponsel di Indonesia. Khusus untuk mengulas satu ponsel terbaru, tim redaksi khusus membeli ponsel tersebut. Ulasan sangat independen. “Jadi kalau jelek ya ditulis jelek. Kalau bagus, akan dibilang bagus,” kata Lenny.

Bukti independen, kata Lenny, dia tidak mengintervensi redaksi saat mengulas ponsel buatan perusahaannya sendiri, IMO, ataupun ponsel Philips.

“Waktu diulas apa adanya, tim marketing komplain ke saya. Mereka bilang, kok teman-teman di redaksi tidak membuat artikel yang lebih baik untuk membantu penjualan IMO. Saya bilang ke mereka, kalau produk kita dinilai segitu, berarti kita harus bikin produk yang lebih baik lagi. Saya tidak bisa menyalahkan redaksi. Mereka memang fair dalam menilai, walaupun produk itu milik saya,” ujar Lenny, tersenyum.

Redaksi juga tidak mau menerima ponsel pemberian. “Semua ponsel yang diulas, mereka beli sendiri, walaupun harganya sangat mahal. Mereka akan menguji sendiri kecanggihannya,” kata Lenny.

Banyaknya SDM yang dihasilkan dari Yayasan Khalifah, membuat Lenny memutar otak.

”Setelah anak-anak yayasan mulai siap, beberapa bulan kemudian kita syiar lagi dengan membuat beberapa tabloid. Itu juga yang usul anak-anak. Ya kita iyain saja. Coba-coba dan coba. Alhamdulillah, berhasil,” ujar Lenny, bangga.

Selain Tabloid Pulsa, ada majalah Khalifah, majalah Intelijen, Mobile Guide, Mania, Smart Pulsa, Koin, Comunique, Main, dan beberapa lagi.

Harus Jadi Besar

Lenny mengajarkan setiap karyawan untuk berpikir maju, sekalipun itu pesuruh atau office boy.

”Kalau boleh jujur, kita ini benar-benar menampung orang yang belum pernah kerja. Makanya saya bilang ke anak-anak, dengan kemampuan sekian kalian harus bisa jadi besar,” ujar Lenny.

Office boy pun, kata Lenny, bisa berkarir.

“Saya bilang ke semua karyawan, setiap hari mereka harus bikin laporan. Saya tidak mau laporan tulis tangan. Harus pakai komputer. Kalau tidak bisa, ya harus belajar. Itu baru pertama. Semakin canggih, saya bilang ke mereka harus kirim laporan lewat email ke saya. Termasuk pada para office boy. Setiap hari mereka harus email ke saya. Nah, dari situ ada penilaian dan perpindahan bagian. Akhirnya, mereka terpacu,” jelas Lenny, bangga.

Lenny membuka diri pada tiap karyawannya. Tanpa memandang tingkatan dan status, siapapun bisa berkomunikasi langsung dengan Lenny. Prinsipnya, dilandasi rasa kekeluargaan.

“Mereka bisa keluarkan apa kata hati mereka. Kalau diam saja, akan terseleksi dengan sendirinya. Yang penting berani bicara. Dan, sekarang mereka sudah berani berpendapat. Saya juga ingin meeting itu jadi ajang diskusi. Apa yang dibutuhkan, apa yang dikoordinasikan antar bagian, apa yang dikeluhkan, kita dengarkan sama-sama dan kita cari solusi yang terbaik,” ujar Lenny.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pengusaha | Leave a comment

CM Rien Kuntari

Satu Menit Terakhir

 

Rien pernah kesal karena bentuk rambut dan warna kulitnya. Namun setelah ia menjadi wartawan, ia merasa diuntungkan dengan ‘kekurangan’nya itu.


Rien wartawan perang. Ia pernah meliput beberapa daerah konflik di Irak, Rwanda, Kamboja, dan Timor-Timur. Yang negara terakhir inilah ia akhirnya memutuskan membuat buku setebal 483 halaman berjudul; Timor Timur-Satu Menit Terakhir. Ia ungkapkan segala kondisi Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia, termasuk luapan keharuan dan emosi, yang dibalut dalam obyektifitas seorang wartawan.

Seperti yang dituturkan sahabat Rien, “Saya minta maaf, Rien… selama ini informasi tentang kamu simpang siur. Saya sempat yakin pada apa yang dikatakan orang-orang tentag kamu, bahwa kamu sangat pro-kemerdekaan, tidak setia kawan, tidak nasionalis … Tetapi terus terang pandangan saya tentang kamu luntur dan berubah 180 derajat saat melihat kamu menitikkan air mata dan menangis tak henti ketika mendengar Kornelis (wartawan Kompas yang tertembak di Bekora, Dili timur) hilang. Aku juga terharu ketika kamu pun memutuskan mencari sendiri keberadaan Kornelis, dengan menempuh segala resiko. Aku benar-benar terharu…“

Kesal Dengan Rambut

Melihat wajah Rien, sulit meyakini bawah wanita ini benar-benar keturunan Indonesia asli. Ia bahkan sempat tertawa ketika ditanya apakah ada darah Timor dalam tubuhnya ?

Tidak marah, Rien langsung meralat. “Keluarga ibu saya memang ada darah Arab, walaupun sudah keturunan kedua. Bapak saya orang Yogyakarta asli. Dan saya tinggal di Panembahan (satu wilayah di kota Yogya),” terang wanita bernama asli Cordula Maria Rien Kuntari.

“Waktu dulu,” kata Rien, “saya sempat marah dengan rambut keriting saya. Saya berusaha meluruskan. Tapi, begitu saya jadi wartawan, ternyata yang menguntungkan dari semua yang saya miliki adalah bentuk rambut saya. Di Afrika, saya diterima baik karena wajah saya. Waktu di Rwanda, saya mulus saja. mereka tidak pernah tahu Indonesia apa. Mereka hanya tahu Eropa, dan sya bukan orang Eropa,” ujar Rien, senang.

Diakui bungsu 10 bersaudara ini, ia merasa diuntungkan dengan bentuk rambut dan warna kulitnya.

“Ditanya saya orang mana? nggak jelas,” ungkap Rien tertawa lepas. “Kalau di Arab, wajah dan kulit saya ini termasuk Arab tengah. Waktu saya ke Irak, orang lain tidak bisa masuk, saya bisa. Ya lagi-lagi karena warna kulit dan bentuk wajah saya,” kata Rien.

“Di Indonesia, saya pasti diterima. Di Arab, mereka menerima saya sebagai orang Arab, di Filipina saya diterima sebagai Filipino, di Eropa dengan kulit coklat saya, mereka sangat terpesona. Di Amerika, saya Americanos. Saya tidak pernah di kasih entry form, karena mereka selalu pikir saya Americanos. Malah tidak ada yang percaya kalau tanya asal saya, saya bilang dari indonesia. Jadi saya senyum-senyum saja,” kata Rien.

Bahkan, nama pun bisa berubah. “Kalau di Papua, saya selalu dibilang orang Serui. Mereka lebih percaya nama saya Maria Dacosta Gutere, dibanding nama Rien Kuntari. Saya sih oke-oke saja.” Senyum Rien mengembang. Sekarang, Rien mentah-mentah menolak kalau rambutnya di luruskan.

Tugas Berat Di Awal Kerja

Tahun 1991, Rien ditugaskan meliput konflik Irak dan Kuwait. Padahal, Rien baru 2 bulan menjadi karyawan di koran harian Kompas. Ketika diterima di Kompas tahun 1990, Rien masih harus mengikuti training.

“Inilah penugasan pertama saya ke luar. Waktu itu, saya belum pernah ke luar negeri, belum pernah naik pesawat. Dan saya harus masuk Irak, 15 hari setelah perang darat,” kenang Rien.

Rien justru merasa senang. Katanya, itulah hebatnya Kompas. Dia tidak  tahu apa yang menjadi pertimbangan kantornya mengirimnya pergi ke daerah konflik. Yang juga membuat Rien heran, Saddam justru hanya mau menerima namanya untuk datang dan masuk ke Irak, dari sekian banyak nama wartawan yang disodorkan Kompas, saat itu.

Di Irak, Rien didampingi guide dan supir, yang orang lokal. “Supir saya, kulitnya hampir sama dengan saya. Dimana-mana saya dibilang keponakannya,” sesaat Rien tertawa kecil, “jadi, saya bisa masuk Karbala tenang saja. Saya disuruh tidur di jok belakang, meringkuk saja, terus supir saya bilang ini keponakannya. Saya tidak pernah diminta paspor.”

Kebetulan lagi, Rien menguasai bahasa Arab yang biasa digunakan warga Irak. Ia merasa, bahasa bukan kendala. Justru, makananlah yang jadi kendala Rien saat di Irak. Saat itu, ia hanya bisa makan appel dan anggur. Sesekali roti, kalau kebetulan ia menemukan. Setelah 4 kali bolak-balik ke Irak, Rien sudah mulai terbiasa.

Sampai di Irak, tentu saja Rien ingin mendapatkan berita ekslusif. Hanya saja untuk bertemu Saddam Husein (Presiden yang berkuasa saat itu), tidaklah mudah. Pada kunjungan berikutnya, Rien akhirnya bisa bertemu.

”Syaratnya luar biasa sulit. Syarat awal, kita para media ini harus bayar mobil pribadi, supir dan guide. Ternyata semua wartawan disitu tidak jadi soal. Pada saat ke Irak untuk ketiga kalinya, saat referendum pertama, saya apply, ternyata syaratnya kita harus punya heli. Ternyata dijabani (dilakukan –red) wartawan dunia. Mungkin ini cara mereka untuk menolak. Akhirnya, digelar jumpa pers,” ujar Rien.

Beginilah Wartawan Perang

Hanya ada dua nama yang dikenal publik dan kalangan pers, sebagai wartawan perempuan yang biasa bertugas di daerah konflik. Salah satunya Rien Kuntari.

”Namanya juga perang. Kondisinya ya seperti itu, » ungkap Rien, melukiskan medan yang pernah disinggahi.

Beberapa kali Rien ke Irak, serta masuk daerah konflik seperti Rwanda, Kamboja, dan Timor Timur.

”Memang sulit berada di wilaah yang sedang berperang. Tapi, saya bukan wartawan yang asal masuk. Semua saya perhitungkan dengan baik. Mentally kita harus siap. Saya sedih, kalau ada yang berangkat asal berani, tanpa persiapan mental. Kita harus hitung secara cermat dan tepat, apa yang ada di depan kita. Saya selalu prepair dalam kondisi apapun walaupun hanya 2 hari,” tegas Rien.

Tapi, Rien tetap manusia biasa. Ia juga punya rasa takut. ”Nah, bagaimana kita mengelola rasa takut ini. Saya takutnya tertembak, nah tertembaknya darimana. Takut diperkosa, oke diperkosa karena apa. Ternyata saya lebih takut diperkosa daripada ditembak. Kalau ditembak langsug mati, diperkosa bisa seumur hidup. Saya pelajari pemerkosaan, mulai dari culture atau karakter masyarakat di sana. saya harus jaga diri sebaik-baiknya. Protek baju yang khusus untuk perang. Pada akhirnya, bisa saja tidak mandi sampai 2 minggu,” ujar Rien.

Di Irak, Rien pernah ‘diculik’ Garda Republik selama 3 hari untuk bertemu opisisi. Proses penculikan adalah bagian dari sistem, dan ia ‘dipulang’kan di negara Yordania.

Di Rwanda -negara yang puluhan tahun mengalami perang saudara- ia menjadi satu-satunya wartawan di dunia yang dibawa langsung menemui Jendral Paul Kagame. Rien hampir gagal. Akses masuk ke Rwanda ditutup sama sekali. Ia berusaha mencari link dengan cara nongkrong di kafe, duduk di pinggir jalan. Pihak Hutu menolak, di Neirobi ia masuk melalui link Tutsi. Rien memang dikenal jago bernegosiasi.

Di Kamboja, Rien harus menempuh jalan darat selama 6 jam dari Battambang untuk bisa masuk ke Pailin, wilayah konflik paling berbahaya. Dari sekian banyak kejadian, Rien justru mengaku, Timor-Timur adalah daerah konflik yang peling berat.

“Di Rwanda dan Irak, saya bilang dari Indonesia, tidak jadi soal. Karena negara kita berteman baik dengan mereka. Begitu juga di kamboja. Tapi begitu di Timor Timur saya bilang Indonesia, jadi persoalan. Inilah liputan terbarat yang pernah saya jalani,” ujar Rien.


Tangis Untuk Timor Timur

Rien juga seorang  wanita. Betapapun bengis dan kejam medan konflik yang dihadapinya, ia selalu bisa melihat dan menangkapnya dengan mata hati seorang perempuan yang penuh kelembutan, kejujuran dan cinta kasih.

Inilah yang membuat tulisan jurnalistiknya tentang peristiwa dramatis di sekitar jajak pendapat di Timor Timur 1999, menjadi begitu indah dan mengharukan tapi juga menegangkan.

“Saya terlibat dengan Timor Timur sejak tahun 1992, setelah insiden Santa Cruz. Hampir setiap tahun saya ke Timtim, dan Timtim sudah jadi bagian dari saya. Itu juga karena saya 14 tahun di Kompas di bagian Hubungan Internasional. Timtim waktu itu bagian internasional,” jelas Rien.

Ketika terjadi referendum, kata Rien, pihak kantor merasa ia  cocok ditugaskan ke Timor-Timur. Lagi-lagi karena wajah timor-nya. Awal penugasan Rien ‘tinggal’ di Timtim sejak 15 Juli 1999 sampai 4 November. Kemudian pulang, dan tahun 2000 kembali lagi.

“Saya ikuti Timtim sampai jadi negara baru. Sebenarnya buku ini baru dari episode Juli sampai November. Belum sampai lahirnya Timor Leste. Rencananya saya akan bikin bikin trilogi,” ujar Rien mantap.

Ketika berada di daerah konflik, lanjut Rien, sebagai wartawan ia tidak bisa mengganti indetitas. Jadi segala resiko harus ia tempuh. “Dan memang yang jadi persoalan. Di sana ada dua fraksi, pro otonomi dan pro kemerdekaan. Saya orang Indonesia, dan kalau Indonesia pasti harus pro otonomi,” suara Rien terdengar bergetar.

“Padahal, sebagai wartawan yang harus kita jaga adalah ketidak berpihakan kita. Saya tidak mau meliput otonomi saja. Problemnya disitu. Untungnya saya dilindungi Falintil, wakilnya Xanana di Timtim. Dan saya juga dekat dengan Xanana. Itulah resiko yang dihadapi karena saya tidak berpihak,” ujar Rien. Dan ketika Timtim lepas dari Indonesia, Rien terdiam, sedih. Ada kekecewaan menggelayut di hatinya. Apa yang tengah dipikirkan wanita ini, semua ditulis dengan lengkap di buku tersebut.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Penulis, Profil Wanita | 2 Comments

Lely Purnama Simatupang

Investasi Untuk Anak

Lely merasa pencapaian hidupnya belum utuh. Masih ada celah yang harus diisi. Inilah alasan mengapa ia akhirnya mendirikan Chezlely.


Usia Chezlely masih sangat belia, baru 3 tahun. Tapi, jangan tanya prestasinya.

“Justru, sekarang Chezlely jadi rujukan di kalangan para chef,” kata Lely, bersemangat.

Lely boleh berbangga hati. Kerja kerasnya memang telah berbuah manis. Chezlely Culinary School menjadi satu-satunya tempat kursus memasak yang diakui di banyak tempat dan negara.

Dua Karakter

Kata Lely, secara umum menurut hasil survey yang dilakukannya, didapati bahwa kursus khusus memasak, terbagi dalam dua karakter. Pertama, kursus untuk penggemar masak. Istilahnya amatir. Kelas amatir ini banyak diminati oleh para ibu rumah tangga, dan para pemula yang ingin membuka usaha restoran, atau mulai menjual aneka kue. Sedangkan untuk kelas profesional, termasuk dalam kategori kedua.

“Itu biasanya ada dalam institusi-institusi pendidikan formal seperti NHI-Bandung, sekolah-sekolah perhotelan di Jakarta, dan lain-lain. Mereka banyak mempelajari ilmu-ilmu perhotelan, tidak terlalu detail membahas mengenai kuliner. Chezlely Culinary School sebenarnya dibuka untuk memenuhi kebutuhan dua kategori kursus tersebut. Semua orang dengan aneka latar belakang pendidikan, bisa ikut belajar di sini,” terang Lely.

Tempat ini, lanjut Lely, menyiapkan konsep yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta kursus. Untuk kategori kelasnya, terbagi dalam dua kelompok besar. Le Cuistot, untuk kelas dewasa.

Kelas ini terdiri dari dua kategori. Amatir dan profesional. Untuk kelas amatir, biasanya diminati para pemula dan penggemar dunia kuliner. Sedangkan untuk kelas profesional, banyak dikuti oleh orang-orang yang ingin lebih serius terlibat di dunia kuliner, sebagai pengusaha, pengelola restoran, dan chef profesional.

Sedangkan kelompok Le Petit Chef, adalah kelas khusus untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 13 tahun. Kelas ini terbagi juga dalam dua kategori, kelas amatir dan kelas intensif. Yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang benar-benar berminat dan serius menekuni bidang kuliner. Baik kelas amatir yang hanya belajar dalam sehari (short course method), maupun kelas intensif yang ditempuh selama 10 kali pertemuan setiap minggunya, dua kelas ini sama-sama banyak peminatnya.

Konsep Edukasi

Mengenai konsep edukatif di sana, Lely menjelaskan panjang lebar, “Untuk kelas amatir pun, kursusnya didesain untuk bisa melihat sesi demo. Sambil melihatnya, peserta didik bisa bertanya sebanyak-banyaknya melalui sesi demo ini. Setelah itu mereka mempraktekkannya sendiri-sendiri.”

Tentu saja, lanjut Lely, tetap dalam bimbingan pengajar yang juga mengawasi dan menemani mereka. Desain untuk kategori dewasa dan kelompok anak-anak, dikonsep hampir sama bentuk. Hanya bobot materi-materinya saja yang dibedakan.

“Misalnya untuk anak-anak, kami berangkat dari konsep “I like to eat”. Karena suka makan, maka mereka juga ingin menyediakannya. Anak-anak bisa lebih paham dan lebih dekat dengan makanan-makanan kesenangannya. Pizza, Apple Pie, Brownies, Little Fairy Cake, dan lain-lain. Mereka bisa belajar dan bermain sambil berkreasi,” kata Lely.

Didukung oleh para pengajar profesional, kelengkapan peralatan dan fasilitas yang dibuat dengan standar internasional, serta suasana kursus yang nyaman, tak sedikit orang memilih tempat ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Walaupun kegiatan ini dilakukan pada saat-saat liburan maupun pada waktu-waktu luang.

Untuk bisa lebih mengenal dunia kuliner, tak hanya perempuan yang punya tempat khusus di dalamnya. Tempat ini terbuka luas untuk siapa saja yang ingin “berkenalan” dengan dunia kuliner. Biaya kursusnya pun relatif murah.

Para peserta didik, akan mengenakan seragam khas chef di tempat ini. Topi chef yang berdiri tinggi, diberikan untuk para peserta yang mengikuti kelas amatir (short course method), sedangkan untuk kelas intensif dan profesional, mengenakan topi yang bentuknya lebih membulat dengan ukuran yang lebih rendah.

Pakaian Khusus

Suasana yang dibangun, menjadi cukup menarik. Bagi anak-anak dan orang-orang dewasa yang belum terbiasa dengan seragam ini, akan membuat mereka semakin merasakan benar-benar sebagai chef professional, dan sesi belajarnya pun menjadi lebih terasa. Benar-benar berada di dapur dengan seluruh peralatan standar internasional dan aman untuk digunakan oleh anak-anak maupun dewasa.

Pelajaran kursus biasanya diawali dengan kelas demo. Berkas-berkas resep dibagikan kepada setiap peserta kursus. Pada sesi ini, peserta akan mendapat banyak paparan dan panduan sekaligus melihat cara memasak berikut dengan tips-tips praktisnya. Selain mencicipi makanan hasil demo dari pengajarnya, peserta pun punya kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Setelah itu, peserta diperkenankan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke kelas praktek. Celemek, lap, dan topi chef, adalah perangkat “belajar” di kelas ini. Sedangkan segala macam peralatan yang dipakai untuk mengolah makanan dari mulai tahap persiapan bahan, mengolah hingga matang, dan disajikan dalam plate menarik, semuanya menjadi tanggung jawab pihak Chezlely Culinary School. Tempat ini juga menyediakan bahan-bahan makanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daftar menu yang akan dibuat.

Jika hidangan telah matang, ada sesi ‘menghias’. Maka, jadilah memasak sebagai kerja kreatif yang sempurna. Menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Untuk sendirian, ataupun dinikmati bersama-sama, tak jadi soal. Tapi liburan kali ini, telah terisi dengan hal baru yang menambah wawasan pengetahuan.

Kepuasan Profesional

Banyak tempat telah disinggahi Lely, sebelum ia sampai di ‘pelabuhan’ terakhirnya.

Lely pernah menjabat sebagai Director Purchasing & Quality Assurance, serta Operation Manager McDonald’s Indonesia. Saat ini, Lely adalah Managing Director pada Chezlely Culinary School.

Pengalaman sebelumnya, ia pernah menjadi New Channel Development Manager, Wall’s Ice Cream pada Unilever Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan beliau antara lain di Strategic Executive Program (Monash Mt Eliza, Melbourne), Basic and Intermediate Cuisine (Le Cordon Bleu, Paris) dan Management Program–Wijawiyata Management, Institut Pendidikan & Pengembangan Manajemen (IPPM). Lely bahkan telah mengikuti Restaurant Operations courses, Supply Chain and Quality Assurance Courses dan Marketing and Development courses di berbagai negara.

Alasan Lely mendirikan Chezlely Culinary School, “saya memang dari awal tujuannya melatih profesionel chef. Awalnya masih yang tua-tua, tapi makin kesini relatif makin banyak yang muda-muda. Mereka seumur itu sudah melihat profesi chef itu merupakan satu alternatif,“ ujar Lely.

Namun, Lely mengakui, ia sangat menyukai dunia memasak.

“Awalnya, ketika saya masuk usia 40 tahun. Saya mereview, saya mau ngapain kedepannya,” kata Lely, menerawang. “Kalau saya mau melakukan sesuatu, saya mereview apa yang saya lakukan dan apa yang akan saya kerjakan ke depan.”

Kalau yang sifatnya ambisi dan bekerja, lanjut Lely, “saya sudah puas. Saya pernah bekerja, naik pangkat, promosi, sudah mencoba dan sudah cukup baik. Lantas apa selanjutnya.”

Akhirnya, Lely memutuskan belajar memasak di Paris, Perancis, tahun 2002. Lely memang bertekad tidak akan bekerja lagi disaat usia 45 tahun yang clock in-clock out.

“Saya ingin berbuat yang tanda petik, tapi ada kepuasan secara profesional,” tegas Lely.

Di Paris, Lely dibukakan mata hatinya. Dia melihat, banyak anak-anak usia 16 dan 17 tahun, sudah dikursuskan orangtuanya belajar memasak.

“Program 30 minggu, 3 kali seminggu, biayanya 7000 euro (sekitar Rp. 112.000.000). Tentu saja ini tidak mungkin uang sendiri, pasti dari orang tuanya. Pasti orang tuanya percaya dan paham kalau itu bukan investasi yang tidak sia-sia. Mereka berani berinvestasi sebesar itu demi anak-anaknya, » kata Lely.

Lantas, Lely menambahkan, “di Indonesia kenapa jalurnya masih setelah tamat SMA, kuliah dan baru kerja. Relatif profesi masih dianggap satu profesi yang tidak butuh keahlian. Padahal, disini semua elemen ada. Masak ada, interaksi sama orang, dan ngajarin orang. Ini bagian-bagian yang saya sukai,” ujar Lely, bersemangat.

Tak mau menunggu terlalu lama, Lely menangkap peluang ini. Dia berharap, bisa membukakan mata hati masyarakat Indonesia. Untuk berpikir, di luar ‘kotak’ yang sudah tersedia.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 1 Comment