Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Shinta Dewi DST

“Saya Cuma Pengamat & Pecinta”

Sukses, tak bisa ditebak, tapi bisa dirasakan. Shinta pun yakin, kebesaran House of Jasmine, bagian dari perasaan yang peka, atau istilah Shinta; insting.


Usia House of Jasmine, baru 1 tahun.

“Masih sangat muda, kan?” Shinta mengatakan dengan senyum mengembang.

Namun, Shinta bangga. Ia akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Memiliki usaha sendiri, yang dikelola berdua dengan sahabatnya, Tina. Tugas pun dibagi dua. Shinta lebih memilih menjadi marketing, Tina fokus di bagian produksi.

“Tapi, disain tetap saya yang memikirkan. Supaya visi misi saya tersampaikan dengan baik,” ucap wanita bernama lengkap Shinta Dewi Dhiah Sekar Tanjung.

Jasmine, kini menjadi satu brand busana pengantin muslimah, yang paling dicari sejumlah kalangan.

Saat Wedding Expo

Shinta mengawali karirnya, dari sebuah bisnis fotografi yang dikelola bersama suaminya, Budi Santoso. Diberi nama: Studio 55.

Studio khusus pemotretan ini dibuka di tahun 2004. Konsep Studio 55, kata Shinta, fokus pada foto-foto wedding atau pernikahan.

“Dengan berkembanganya waktu, 2007 saya berfikir adanya studio ini sangat baik kalau ditunjang baju-baju pengantin. Keduanya sangat berhubungan. Apalagi, saya berkerudung. Saya pikir kalau saya punya kontribusi di baju pengantin, akan sangat bermanfaat. Dan lagi, di tahun 2006 dan 2007, saya lihat belum ada perancang yang fokus disitu,” kata wanita kelahiran Tanjung Pinang, 1 Juni 1976.

Shinta bersyukur, dia dipertemukan Tina Wahyudi, disainer baju-baju muslim, oleh guru ngajinya. Dari obrolan panjang, dan masing-masing kasih masukan, Shinta mantap membuat brand baru, Naura, di bawah House of Jasmine. Naura, menjadi brand khusus baju-baju penganti muslimah.

“Mbak Tina selama ini membuat baju-baju harian. Kita sepakat satukan brand, namanya Naura, khusus baju-baju pengantin. Sementara Jasmine lebih ke casual dan baju-baju pesta,” kata Shinta.

Tepat di Perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2007, House of Jasmine, resmi berdiri. Shinta menganggap jadi satu momen yang sangat spesial.

“Pas ada pameran wedding expo dan studio 55 ikut. Saya minta sedikit space untuk perkenalkan Naura. Saat itu, juga ada fashion show, dan kita ikut,” Shinta mengisahkan gebrakan awalnya dengan antusias.

Satu kesempatan, kata Shinta, yang kelak akan jadi momen bersejarah yang tidak pernah ia lupakan.

Hanya 4 Bulan

Shinta mengaku tak punya target berlebihan. Ia hanya melihat, Naura, menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi, Shinta sadar. Ia tidak punya latar belakang seorang disainer mode. Shinta lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, Trisakti.

“Jadi, saya ini memang cuma pengamat dan pecinta,” ujar Shinta.

Sesaat Shinta tertawa lepas. Ia teringat kejadian satu silam. Kali pertama ia turun langsung mempersiapkan pameran wedding expo untuk Naura.

”Jadi, waktu saya ketemu Mbak Tina awal tahun, kita langsung mengerjakan itu semua, dengan cepat. Karena momentumnya bagus banget. Kita bikin 12 baju pengantin. Kita kerjakan dalam waktu hanya 4 bulan. Bahkan ada 3 baju, saya terinspirasi sebulan sebelumnya, itu dikerjakan 2 minggu sebelum tanggal 17. Subhanallah respon sangat bagus dari para pengunjung. Kita surprais juga,” ungkap Shinta, bangga.

House of Jasmine, kata Shinta, menjadi kerja mereka berdua. Shinta pun merasa diuntungkan karena Tina sudah punya SDM-SDM yang mendukung. Khusus model-model busana pengantin, Shinta turun langsung. Tina bertugas mengarahkan.

Inspirasi Berbeda

Naura diambil dari bahasa Arab, artinya burung cantik dari padang pasir bernama burung Naura. Bentuknya seperti burung unta. Sementara Jasmine, adalah bunga yang harum.

Shinta ingin, Naura berbeda dengan busana pengantin muslimah lainnya. Kata ibu tiga anak ini, justru ia ingin ciptakan sesuatu yang berbeda. Jadi inspirasi baru, di dunia fashion baju-baju pengantin.

”Pada dasarnya, orang biasa pakai kebaya adat untuk busana pengantin. Memang bagus untuk melestarikannya. Tapi, sekarang saya tawarkan inspirasi baru dengan abaya-abaya. Dengan disain menarik. Lebih ke timur tengah tapi lebih cantik karena dimodifikasi dengan motif dan bahan lokal, seperti batik,” terang Shinta.

Walaupun abaya, kata Shinta, disainnya tidak meninggalkan budaya Indonesia. Shinta prihatin karena banyak pengantin muslimah, tampil berlebihan.

“Padahal, dengan touch elegan, namun tetap manis, pengantin akan tampil memikat. Tidak perlu berlebihan. Saya memodifikasi saja. Kita juga memperhatikan detail, mulai dari brokat, list, payet dan bordir, sesuai pesanan,” ujar Shinta.

Shinta juga memperhatikan kualitas produk Naura dan Jasmine. Tanggal 20 Agustus lalu, ia membuka outlet yang diberi label House of Jasmine.

“Alhamdulillah, menjelang Ramadhan lalu, untuk baju-baju lebaran, kita iklan di beberapa media, dan dapat respon yang sangat bagus. Kalau untuk pengantin kita iklan di majalah wedding, lengkap dengan paket-paket pernikahan, kerjasama dengan studio 55,” ujar Shinta, bangga.

One Stop Wedding

Konstribusi…

Saya berpikir, dari studio 55 harus ada kontribusi saya sebagai seorang muslimah. Karena sebelum ini saya lihat-lihat di majalah muslimah, terlalu memaksakan. Tidak ada yang fokus urusin busana pengantin muslimah. Misalnya itu baju kebaya secara umum, terus dipaksain untuk berjilbab. Belum satu kesatuan konsep dari atas sampai bawah. Karena, busana muslimah itu tidak hanya bajunya saja yang dipikirkan, tepi keindahan kerudungnya juga dipikirkan. Sampai asesorisnya. Kita dituntut untuk berinovasi.

Target…

Ke depan saya ingin lebih banyak di kenal. Ahamdulillah ada beberapa daerah yang sudah mau kerjasama dengan kita. Respon dari bulan Agustus, sudah banyak telepon dari luar, seperti Banjarmasin, Pekanbaru dan Papua. Kita lagi olah dan coba pelajari, sistem seperti apa yang bisa kita gunakan.

Kerja Berdua…

Saya berpikiran, kalau bisnis dibagi 2 pemikir, itu bagus. Produksi dan Marketing. Saya lebih ke marketing. Walaupun ide awal untuk bikin busana muslimah pengantin tetap saya. Termasuk tetap memberikan kontribusi untuk urusan disain. Mbak Tina yang lebih banyak memikirkan masalah produksi.

Sinergi Bisnis…

Konsep awal studio ini, kita mau bikin sesuatu yang berbeda dengan studio-studio lain.  Yatu pre wedding in door. Boleh dibilang, inilah yang pertama kali, yaitu Studio 55 membuat foto dengan konsep out door tapi pemotretan di studio. Pakai teknik grafis komputer. Sekarang kita ingin menyatukan dua bisnis ini jadi satu. Pemotretan, dengan menggunakan busana produk Naura. Catering dan dekorasi InsyaAllah, akan kita realisasikan tahun depan. Studio 55 akan menjadi one stop wedding. Sebenarnya vendoir-vendor sudah dapat. Cuma kita ingin bikin konsep di studio ini lebih matang lagi.

Aien Hisyam

November 20, 2009 - Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha

3 Comments »

  1. mb aien, ada nomor kontaknya mb shinta g? atau ada wbnya house of jasmine n studio 55? thanks

    Comment by yasminerva | December 16, 2009 | Reply

  2. 4 thumbs up buat shinta..

    Comment by zethra syam | October 7, 2010 | Reply

  3. ass. punya alamat house of jasmien yg dibandung gak ?? ak suka sekali memakai baju jasmien.. pas di badan dan modelny selalu simpel tp terlihat elegan.. wasalam

    Comment by tanti wulan sari | January 29, 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: