Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Sarfilianty Anggiani

“Kalau Sudah Memotivasi, Hidupku Ringan”

Efi bukanlah motivator pertama di Indonesia. Tapi, ia si penyemangat hidup yang rela tidak dibayar demi kebahagiaan orang lain.


Suara tinggi Efi memenuhi dinding-dinding ruang. Ia membuat takjub puluhan mata sekaligus kekaguman sebagian besar peserta yang datang mengikuti pelatihan motivasi. Efi memang selalu membuat orang tidak berhenti mendengarkan suaranya. Bahkan sampai acara itu berakhir.

Sebagai motivator, Efi merasa, sudah kewaijbannya membuat orang lain termotivasi, Merasa hidupnya lebih baik dan bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi hidup orang lain dan lingkungan sekitarnya.

“Menjadi motivator buat saya pertama kali, saya bisa memberi manfaat pada orang lain, dan saya paling tidak suka lihat orang tidak punya motivasi. Saya ingin bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Sehingga menjadi orang yang punya motivasi yang tinggi untuk menghasilkan Negara yang besar,” Efi menegaskan. Suaranya terdengar mantap.

Hampir Bunuh Diri

“Faktor saya yang terpenting untuk memotivasi orang karena saya seorang dosen,” kata Efi.

Efi tak pernah melupakan awal kesuksesannya. Ia memulainya dari scope terkecil, di tempatnya mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti. Ia kerap dibuat ‘senewen’ melihat mahasiwanya yang sering datang terlambat saat kuliah sampai yang malas-malasan belajar.

“Kenapa saya tidak bisa memotivasi mahasiswa saya,” katanya datar. “Dan, Alhamdulillah mahasiswa yang dari kelas saya, banyak yang berhasil. Dan sekarang, dengan mantan mahasiswa pun saya tetap berhubungan.”

Efi bercerita tentang satu mahasiswanya, yang hampir bunuh diri di tahun 1997.

“Anak itu kecewa dengan keluarganya. Orang tuanya mau bercerai, dan dia tidak diperhatikan selama 6 bulan. Dia sudah berada di bibir pinggir gedung kampus. Saya peluk dari belakang, dan dia bilang, ‘ibu, kalau bukan karena ibu.’ Sekarang anak itu sudah sukses di Surabaya. Itu berarti, saya sudah sukses memotivasi orang yang sudah putus asa,“ kenang Efi.

Efi tak pernah lupa untuk mengucapkan sebaris kata-kata motivasi, di awal ia memulai kuliahnya. Efi mengajar Menejemen SDM. “Saya lebih mengarahkan pada mereka, dan yang selalu saya ucapkan pada mereka saat memulai mengajar adalah, tidak ada seseorang yang bisa membantu kecuali dirinya sendiri. Makanya di buku saya, ditulis The Power Is Your Self.

Efi antuasias sekali untuk bisa memotivasi orang, “karena orang itu nggak ada yang nggak bisa. Pasti bisa. Asal ada dari dirinya sendiri. Karena powernya dirinya sendiri, bukan orang lain.

Di Mulai dari Palembang

Efi sangat menguasai permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM). Dan dia ingin menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. “Kalau saya kembangkan knowledge, otak kanan emosional dan kreativitas saya jalankan.”

Uniknya, meski telah menjadi motivator sejak sepuluh tahun silam, Efi baru membuka kantornya 3 tahun yang lalu.

“Sebelumnya, saya diajak teman-teman saja. Diajak jalan, ayo. Dibayar, ya saya terima. Enggak, ya sudah, tidak apa-apa. Tapi lama-lama saya mikir, kok saya nih dipakai orang? Kenapa saya nggak buka sendiri? Nah inilah awal saya ingin membuka kantor,” ujar Efi.

Pikiran Efi langsung tertuju pada tanah kelahirannya, Palembang. Disanalah ia membuka kantor pertamanya.

“Saya merasa, grassroad saya orang Palembang. Kalau bukan saya, siapa lagi yang mengembangkan orang Palembang. Saya juga mau merubah paradigma orang Palembang untuk maju. Akhirnya, saya bolak balik Palembang – Jakarta, untuk meningkatkan SDM Palembang,“ katanya, bersemangat.

Hal yang sama, yang dilakukan Efi saat memberikan motivasi-motivasinya. Ia selalu mencoba mengingatkan, “jangan lupakan darimana asalmu. Orang tua itu panutan yang paling berharga. Termasuk pada saya. My role model saya, ya ibu saya. Bukan orang lain. Walaupun pendidikan ibu saya lulusan SMA.”

Efi bersyukur bisa tumbuh menjadi sosok yang matang dan penuh inspiratif. Katanya, proses pendewasaan dan kematangan itu, semata karena banyaknya pengaruh.

“Lingkungan pertama saya, adalah mahasiswa. Yang kedua, keluarga saya. Saya pernah merasakan broken home – Efi menikah untuk kedua kalinya. sampai bertemu suami kedua saya ini. Suami saya ini sangat memotivasi saya. Walaupun beda usia kali 19 tahun. Bahkan dia bilang, bila perlu kalau kamu berada di suatu tempat, jadilah the best. Pengaruh di keluarga saya, sejak kecil jelas ibu saya. Beliau yang membangun citra diri saya,” jelas Efi.

Ternyata, ketiga faktor inilah yang ‘melatih’ Efi menjadi sangat peka pada profesinya. Ditambah lagi, Efi gemar membaca, melihat ‘penampilan’ orang lain, menonton film, dan internet sebagai tambahan.

“Dan jujur, saya tidak pernah secara formal belajar menjadi motivator. Meskipun waktu SMA pernah juga jadi peragawati lokal,” sesaat Efi tertawa kecil. “Tapi tidak begitu memahami. Talenta itu ada, tinggal bagaimana kita memolesnya.”

Selanjutnya, kata Efi, ia lebih terbuka terhadap para kritisi, yaitu keluarga dekatnya. Dari ibunya, suami, hingga anak-anaknya.  “Mereka bisa bilang, Mama kalau ngomong jangan kecepatan dong. Atau, Mama dandannya jangan begiu dong,” ujar Efi, tertawa.


Pelatihan di Rumah Susun

Banyak tempat telah ‘dijelajahi’ Efi. Dari kampung-kampung yang tertinggal, hingga lorong-lorong sempit di rumah susun.

“Pertama kali, sekitar tahun 1996, saya diajak membantu dari Trisakti. Memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru. Itu pertama kali saya keluar. Saya merasa kok bisa,” kenang Efi.

Ia bahkan bangga karena ditempatnya ia mengajar, ia mendapat predikat dosen teladan. Katanya, ia memiliki metode mengajar yang baik. Bahkan, sebagai jawaban rasa penasaran, Efi pernah bertanya pada mahasiswa-mahasiwa, “kata mereka, ibu tidak hanya mengajarkan knowladge-nya saja, tapi juga bisa memotivasi kami.”

Efi hijrah ke Jakarta tahun 1994. setahun kemudian, ia mulai berkeliling menerima ajakan teman-temanya menjadi motivator. Barulah di tahun 1996, ia memberanikan diri menjadi motivator karena dirinya sendiri.

“Yang terpenting mereka happy. Jadi dibayar berapa saja, nggak masalah. Bahkan saya pernah tahun 1997, memberikan fasilitasi di rumah susun Tebet. Selama 6 bulan tanpa dibayar setiap malam jumat. Hanya dikasih ubi rebus dan kopi. Kita ngobrol-ngobrol saja,” kata Efi.

“Rasanya kebahagiaan tersendiri. Aku bisa lihat orang bahagia, itu membuatku sangat bahagia. Daripada aku bisa membahagiakan diriku sendiri,” Efi menambahi dengan mimik wajah senang.

Tak hanya ingin berbagi kata-kata saja, Efi akhirnya menulis buku tentang motivasi berjudul ‘8 Kekuatan Keunggulan Diri’. Ini menjadi buku pertamanya, dan direncanakan akan ada 2 buku selanjutnya.

Aien Hisyam

Advertisements

November 19, 2009 - Posted by | Profil Motivator, Profil Wanita

2 Comments »

  1. Sumpah…
    keren bgt…
    Terus Semangat Bunda Effie…
    We Love You…
    🙂

    Comment by Fadjar Al Alie | April 5, 2010 | Reply

  2. wah ….
    ya ampun bu,…
    alangkah beruntung’y orng2 yg berada d sekitar ibu,….
    semangat trus bu,,,

    Comment by widi | April 5, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: