Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Zeventina Octaviani

Susahnya Menyatukan Dua Pikiran

IT menjadi dunia Zev sebenarnya. Manakala ia ditawarkan untuk menulis novel fiksi, bukan main senangnya.


Tantangan terbesar Zev saat itu, ia harus menulis fiksi bersama pria yang ia kenal di dunia maya. Berbeda tempat dan berbeda waktu. Satu di Surabaya, satu lagi di Jerman. Inilah novel pertama berjudul ‘Elle Eleanor’ yang dibuat dua orang, yang menuntut homogenitas gaya.

”Benar-benar menguras pikiran. Proses pengerjaannya berbeda dengan membuat cerita estafet. Kita melihat ada tantangan besar disini. Yaitu untuk menyatukan dua gaya yang benar-benar berbeda, digabungkan menjadi novel yang menuntut homogenitas gaya,” ungkap Zeventina Octaviani Bouwmeester.

Zev mengaku lega, sekaligus puas. Kerja keras selama 1 tahun terbayar tuntas.

Menulis Setelah Rumit

Dunia teknologi erat sekali dalam hidup Zev. Ratusan website sudah ia buat, menjadikannya salah satu web designer terkenal. Zev pernah mendapatkan penghargaan sebagai web terbaik Indonesia di bidang pendidikan dari web designer Bali untuk web di Deutsch, Warum Nicht.

“Jadi, kalaupun akhirnya ditawari menulis fiksi, itu satu kesempatan yang luar biasa,” ujar wanita kelahiran Bandung 17 Oktober 1970.

Zev mengaku, sejak kecil ia sudah suka menulis. Dan saat internet mulai popular, ia tuangkan tulisan2 saya ke blog. Saat itu diluar dugaan, banyak penerbit yang tertarik untuk membukukan tulisannya.

“Sayangnya waktu saya memandang blog hanya sebagai sarana penumpahan uneg-uneg saja. Disamping itu kesibukan saya mendesign web sangat padat, jadi hobi saya menulis mulai terabaikan,” ungkap Zev.

Lama-kelamaan Zev mulai jenuh berkutat dengan tag-tag HTML yang rumit. Sebagai selingan, ia mulai serius menulis. “Saya bersyukur bahwa sebelum tulisan itu selesaipun penerbit sudah menunggu dengan sabar. Itu adalah anugrah terbesar yang Tuhan berikan,” ujar Zev, senang.

Menulis bagi Zev, adalah kebebasan berpikir. Ia tak suka dikungkung oleh aturan. Imajinasi di area fiksi adalah tak terbatas. Tulisan yang dikebiri, katanya, tentu akan menghasilkan sebuah karya yang sarat oleh ketakutan dan tanggung.

“Novel bagi saya adalah keabadian, karena tulisan akan selalu hidup bahkan saat kita mati. Dalam novel perdana kolaborasi ini, kekuatan cerita terletak pada komplikasi dan proses kegilaan yang melahirkan kegilaan,” kata Zev, bijak.

Pulang Kampung

Tinggal di Ulm, Jerman, ikut suami yang sedang kuliah, kesibukan Zev tidak juga berkurang. Selain mengurus anak dan suami, ia ikut-ikutan kuliah Sprachen & Philologie di Universitat Ulm Zentrum, Jerman.

“Tahun pertama dan kedua, saya masih sibuk di Universitas. Baru setelah anak naik kelas 4, di babak penentuan, seperti kalau di Indonesia penjurusan di bangku SMA, saya berkorban berhenti kuliah dulu. Saya menemani anak belajar. Sejak itulah saya isi waktu menulis novel dan mendisain web. Syukurlah, anak saya berhasil masuk Gymnasium, sekolah terbagus di Jerman. Sayangnya saat sudah 6 bulan mencicipi Gymnasium, kami harus pulang,” ujar, Zev. Ia mengaku sedih.

Pulang ke Indonesia, Zev menuntaskan novel perdananya ‘Elle Eleonir’ yang dibuat berdua, bersama Ferry Zanzad. Kini, semangat menulis Zev sedang bergelora. Ia sedang menuntaskan novel lainnya.

“Pekerjaan utama sebagai web designer, tetap dijalankan. Menulis kan hanya sebagai selingan.” Senyum Zev merekah.

Beberapa Kali Frustasi

Selain Zev, novel thriller “Elle Eleanor’ ditulis juga olhe Ferry Zanzad. Uniknya, kedua bertemu pertama kali, saat novel ini di launching.

“Saya dan mas Ferry pertama kali kenal di Penulis Indonesia. Saya baca, tulisan dia bagus banget. Selanjutnya kita bertemu lagi di blog Multiply. Justru awal-awal, kita kerja bareng ke design web, sampai kemudian mas Fer mengajak nulis bareng,” kenang Zev.

Dua penulis, dengan dua gaya yang berbeda, bahkan bertolak belakang. “Saya terbiasa dengan gaya pilu, gelap, dan tradisional. Sedang Zev cenderung metro dan ceria. Novel ini beda dengan kumcer, yang mengijinkan penulisnya membuat gaya masing-masing. Inilah tantangannya. Membuat dua gaya menjadi satu dalam homogenitas gaya. Menggabungkan susana muram dengan keceriaan,“ ujar Ferry.

Novel yag dibuat Zev dan Ferry memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Bersetting budaya Jawa dan masa kolonial yang melintas ke masa sekarang. Termasuk perang Eropa yang sedang bergolak. Berkisah tentang seorang noni belanda yang memiliki kelainan jiwa sekaligus kelainan seks.  Kelainan ini berdampak pada trauma masa lalu.

“Kita bergantian menjadi “sutradara” sesuai dengan karakter kita. Misalnya bab 1 menuntut suasana tradisional, pilu, gelap, maka saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Kita berdua bekerja di bab 1, tetapi saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Demikian juga dengan bab lain yg menuntut susanan berbeda, maka Zev yang akan menghandlenya. Nulisnya sih sama-sama, hanya sutradara saja yang menentukan arah cerita berdasar kerangka yg sudah ada,” terang Ferry.

Kata Ferry, proses pembuata novel thriller ini melibatkan pembicaraan yg terus menerus. Makanya Elle lahir dari kelelahan yg teramat sangat. “Belum lagi berantemnya,” Zev menyela, sambil tertawa lepas.

Proyek yang dimulai bulan Juli 2088, barus tuntas bulan Juli 2009.

“Karena kita menulis bersama, kita perlu membuat acuan, referensi bersama. Misal tokoh Johan, kita membuat CV dia lengkap, mulai dari nama lengkap, umur, tinggi badan, berat badan, kegemaran, tanggal lahir. Dari sana kita mempunyai cara pandang yg sama tentang tokoh-tokoh cerita. Kita homogenkan, alias samakan persepsinya. Pada saat membuat CV itulah kita biasanya berantem seru,” ujar Ferry, tersenyum

Zev mengaku, proses penyelesaian novel thrillernya, tak seperti yang ia bayangkan. “Beberapa kali sempat frustasi. Perbedaan waktu waktu saya masih di Jerman dan mas Fer di Surabaya, sangat menyiksa. Juga kompilasi cerita, menyatukan visi dan plot. Yang paling rumit, ya menyatukan semua gaya ini, seolah novel ini dibuat 1 penulis. Pernah nyaris kita tinggalkan, padahal itu sudah selesai 80 persen. Untung penerbit selalu memberikan semangat,” ujar Zev.

Kini, Zev bisa bernafas lega. Wanita yang pernah menjadi 10 besar lomba menulis cerita anak Blogfam dan bukunya telah diterbitkan untuk keperluan pendidikan, serta pernah Masuk MNE Magazine London untuk karya video berjudul The Moon Represent My Heart, tengah menyelesaikan 4 novelnya yang siap dicetak. Selain mengelola studio desain, Zev aktif menulis di majalah BZ online Blogfam (Tutorial Design), menulis di buku 100 Blogger Bicara.

Aien Hisyam

November 17, 2009 - Posted by | Profil Penulis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: