Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Lenny Agustin

“Saya Suka Yang Ekstrim”

Hadir dan mencuri perhatian. Itulah gambaran seorang Lenny Agustin, ketika hasil karyanya membuat banyak orang berdecak kagum.


Apa jadinya bila kebaya didesain dengan warna-warna cerah dan bercorak. Memang, sulit dibayangkan. Tapi, di tangan Lenny Agustin, kebaya-kebaya tersebut terlihat indah.

Sebagai disainer muda, Lenny tidak menabrak pakem. Dia hanya berkreasi agar kebaya yang identik dengan kekunoan, makin diminati anak muda, juga anak-anak. Satu terobosan unik, yang juga membuat para ibu muda terpikat.

“Padahal, waktu itu saya sudah siap untuk dikritik. Tapi ternyata, tidak ada yang kritik. Saya tahu, tidak banyak orang yang suka. Namanya juga kreatifitas. Siapa saja bisa berekspresi,” kata Lenny.

Kata Lenny, kalau kebaya ditampilkan secara tradisional, belum tentu disukai anak muda. Jadi, ia berusaha mengangkat unsur-unsur kedaerahan ini dengan gaya remaja. Tidak hanya batik, ia meramunya dengan kain-kain tradisional dari banyak daerah, mulai dari NTT hingga Sumatera.

Bersikukuh Sekolah Fashion

Sejak kecil, Lenny sudah tertarik pada dunia fashion. Bahkan, setiap ditanya tentang cita-citanya, Lenny kecil selalu menjawab ingin jadi disainer. Ia ingin bisa mendisain baju, merancang, menjahit, dan punya butik.

“Dari kecil saya suka bikin baju boneka. Saya jahit pakai tangan. Jahit sendiri. Anak-anak tetangga minta dibikinin juga dan mereka bayarnya pakai kancing. Mereka minta ke orangtuanya kalau ada kancing sisa,” kenang wanita berdarah Kalimantan, Madura, dan Jawa ini bangga.

Lenny kian bergairah manakala ia mendapat tugas dari guru SMP-nya, menjahit baju anak kecil. “Sampai lampu mati aja, saya tetap menjahit,” ungkap Lenny, sambil tertawa lepas.

Lenny sadar, darah seni mengalir di tubuhnya.

“Di keluargaku darah seninya kuat sekali. Kakak saya juga banyak yang larinya ke seniman. Ada yang kuliah di Perbankan, kerjanya ke disain grafis. Atau ada yang ambil kuliah Akuntasi, kerja di perhotelan,” kata anak ketujuh dari 9 bersaudara ini senang.

Sayangnya, tinggal di Surabaya membuat Lenny tidak punya banyak pilihan untuk mengembangkan bakatnya. “Padahal, orangtuaku selalu menekankan anak-anaknya agar bersekolah formal. Sementara di sana hanya ada tempat-tempat kursus,” kata Lenny.

Lulus SMEA jurusan Perdagangan, Lenny sempat vakum selama 2 tahun. Ia bersikukuh ingin mengambil sekolah fashion. Sampai suatu hari Lenny membaca majalah remaja, ada informasi tentang sekolah fashion di Jakarta.

“Akhirnya aku dibolehin juga kuliah D3 bidang fashion di Asride Iswi. Pada saat yang bersamaan, aku juga kuliah di Bunka School of Fashion,” ujar Lenny yang hijrah ke Jakarta tahun 1994.

Hidup Sambil Belajar

Di tengah perjalanan menempuh pendidikan fashion, Lenny menikah dengan Sofian Susantio. Ia mengambil cuti 1 tahun untuk mengurus anak dan keluarga. Lulus kuliah pun molor hingga tahun 1999.

“Itu pun masih dilanjutin ngurus keluarga. Baru tahun 2002 saya buka butik sendiri. Itupun kecil-kecilan. Tempatnya masih ngontrak, hanya 50 meter persegi. Apa saja yang orang jahit aku terima,” kenang wanita kelahiran 1 Agustus 1973.

Pilihan Lenny tidak bekerja pada disainer lain, ia ingin punya waktu lebih banyak pada anak-anaknya. Ia ingin lebih fleksibel mengatur hidupnya. Karena masih butik kecil, Lenny hanya merekrut 4 karyawan.

“Saya belum punya ciri khas. Bagi saya, hidup sambil belajar. Belajar hitung harga, hitung gaji pegawai, dan sebagainya,” ujar ibu tiga anak ini tertawa renyah.

Barulah di tahun 2003, Lenny memberanikan diri mengikuti lomba fashion di Majalah Perkawinan. Baju pengantin Internasional yang ia buat meraih juara 1. Sejak itu Lenny ‘menemukan’ jati dirinya.

”Aku mulai mendisain baju-baju pengantin. Lebih produktif untuk dimuat. Lumayan tuh harganyanya naik, dan banyak yang pesan. Bahkan saya sempat masuk ke tv segala,” ungkap Lenny yang kini memiliki 2 butik dan 3 outlet.

Di tahun 2004, saat Majalah Perkawinan membuat buklet kebaya, Lenny mendapat kesempatan mendisain kebaya. Momen yang pas, karena saat itu dia juga mempekerjakan beberapa tukang batik.

“Pas aja. Saya pikir busana kebaya banyak. Akhirnya saya ambil ciri khas bikin kebaya dari 2 sampai 3 macam bahan, dan pakai kerut-kerut di dada. Biasanya ‘kan kebaya hanya 1 macam bahan,” ujar Lenny, tentang ide segarnya.

Justru keunikan kebaya Lenny inilah yang membuat pihak majalah menampilkan kebaya rancangannya sebagai cover. Nama Lenny pun mulai menjadi perhatian banyak perancang dan pakar mode. “Tapi, saya juga kesal. Ada perancang uang mulai meniru disain saya ini,” ungkap Lenny, sambil menghela nafas.

Fashion Show Tunggal

Langkah Lenny kian terbuka lebar. Di tahun yang sama ia masuk dalam wadah APPMI. Tiga tahun kemudian, di tahun 2007, ia bahkan mulai menggelar  fashion show tunggal di Four Session. Banyak mata yang terbelalak, dan mengaku surprise.

“Itu karena saya mengajarkan hal yang baru pada mereka. Ternyata kebaya bisa juga untuk anak muda. Bisa untuk anak kecil dan bisa untuk siapa saja. Tentu saja dengan gaya yang tidak terlalu tradisional,” kata Lenny, senang.


Yang Utama Adalah Anak

Sebelum Fashion…

Fashion show, itulah saya. Karena semua pemikiran saya lakukan sendiri. Tapi saya juga selalu minta saran dan kritik senior-senor dan pengamat mode pada mode yang saya buat. Itu saya lakukan sebelum fashion show. Mereka akan bilang, ini aku banget, ini bukan.

Gaya Sehari-hari…

Yah seperti ini, sangat casual. Kebetulan sekarang rambut saya sedang pendek. Tapi Saya ini suka yang ekstrim. Seperti kalau habis rambut panjang, biasanya langsung saya potong pendek sekali. Saya suka panjang trus pendek, panjang lagi, dan pendek lagi. Pendek begini sudah 3 tahunan. Anak-anak cukup bangga sama mamanya. Waktu rambut saya cat hitam, anak-anak malah protes, kok di cat hitam. Saya khawatir mereka nanti mau sama teman-temannya. Tapi jawab mereka, “kalau ada anak yang tanya kok mamanya kayak bule, saya bilang saja mama saya kan disainer.”

Pada Anak-anak…

Saya sangat dekat dengan mereka. Setiap Kamis say atidak kerja, agar bisa mengantar anak-anak kursus musik. Bahkan dari kecil saya tidak pernah menggunakan bahasa bayi, dan tidak pernah memperlakukan mereka seperti anak kecil. Saya selalu memperlakukan mereka seperti orang besar. Kalau mereka menangis, saya akan bilang kamu nangis dulu aja, jangan ngomong ke mama. Kalau mereka tanya, akan saya jawab dan saya belikan buku. Melalui buku, sekarang mereka sudah bisa riset. Dan bisa mencari jawaban dari pertanyaannya. Dengan memecahkan masalah sendiri.

Di Depan Karyawan…

Sekarang karyawan saya ada 30an. Di depan mereka, saya tidak pernah marah apalagi teriak-teriak. Jadi mereka nyaman disini. Kalau salah, saya kasih tahu. Tapi kalau sampai 3 kali masih salah juga, dan sudah dikasih tahu nggak tahu, ya potong gaji. Karena kalau kita ngomel-ngomel, nanti malah dendam dan kesal sama kita. Uring-uringan sama siapa saja. Intinya, saya tidak mau bikin orang bete.

Aien Hisyam

Advertisements

November 17, 2009 - Posted by | Profil Disainer, Profil Wanita

1 Comment »

  1. dari awal saya sangat tertarik sm design kak lenny agustin yg sgt brkarakter… ethnic & unique,
    smoga dg ide2 segarny ank2 muda makin mncintai fashion design &style asli indonesia
    kak Lenny agustin menginspirasi saya 🙂

    Comment by Ria Eka S. Meyda | February 6, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: