Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Claudia Massie

Hidup Tidak Pernah Sia-Sia

Claudia memandang hidup demikian sempurna. Kesempurnaan itu lah yang ia bagi pada orang lain, dengan caranya sendiri.


Berhenti kerja, tak membuat Claudia berkecil hati. Ia justru termotiasi untuk mebuat hal-hal baru yang jauh lebih bermanfaat. Salah satunya yang kini menuai hasil, adalah Majelis Taklim yang ia namai Zakia-Nandjar. Zakia berarti indah.

“Saya ingin, hidup orang lain lebih indah,” Claudia menterjemahkan maksud kata tersebut.

Tak hanya majelis taklim. Sejalan dengan waktu dan kebutuhan, Claudia pun mendirikan family counseling, khusus menangani permasalahan diseputar rumah tangga, anak dan remaja, maslaha pribadi, dan komunikasi.

“Konseling ini sangat terbuka untuk siapapun,” kata Hj. Claudia Massie, S.Sos.

“Mengapa saya membentuk satu wadah ini, semata untuk sharing, dimana seseorang mereka tidak perlu merasa risi atau merasa terikat aturan-aturan yang baku ketika mereka mengungkapkan satu permasalahan.”

Hidup Seimbang

Alasan utama Claudia menjadi counselor, karena sebelumnya, 8 tahun silam, ia sudah mendirikan Majelis Taklim atau pengajian Zakia-Nandjar, berikut Yayasannya.

“Kita bergerak di bidang syiar islam, kemanusiaan, pendidikan anak dan pemberdayaan muslimah. Sebagai pengamalan Hablum minallah & Hablum minannas, secara lintas mazhab dan profesi, untuk kerukunan umat dan kecerdasan sosial. Itu misinya. Visinya jelas untuk persatuan umat islam melalui dakwah bil hal,“ kata Claudia.

Claudia ingin, wadah pengajian ini, menjadi tempat dimana para muslimah bisa menggali ilmu agama, meningkatkan sisi spiritualitas diri.

“Saya meyakini bahwa seorang manusia, muslimah khususnya, harus seimbang dunia dan akhirat. Itu yang akan jadikan dia bisa jalankan hidup dengan sebaiknya. Kalau spiritual, jelas hubungannya dengan Tuhannya. Tapi kalau dunia, dia bertanggung jawab atas dirinya pemikirannya, kelakuannya, sebagai ibu, istri dan diri sendiri,” Claudia memaparkan dnegan sangat ditail.

Ia berharap, melalui majelis taklim yang ia dirikan, niat itu dapat terlaksana. Karena, kata Claudia, peserta majelis taklim tidak hanya menulis dan mendengar materi pengajian, tapi mereka juga berdiskusi dengan guru-gurunya.

“Pada saat yang sama, kita terjun ke masyarakat untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah kita peroleh,” ujar Claudia bangga.

Cantik Tak Hanya Fisik

Banyak kegiatan telah dilakukan Claudia dan teman-temannya melalui Majelis Taklim Zakia-Nandjar. Salah satu program yang baru saja dilaksanakan adalah membantu korban tanah longsor di Cianjur, dan terakhir berbagi kasih dengan anak-anak penyandang Thalassaemia di RS Cipto Mangunkusumo.

“Ibu-ibu akan semakin cantik tidak baik secara fisik, tapi akan makin cantik ketika rohaninya juga berperan. Makanya kita turun langsung, berlumpur-2 dan berbau-bau di tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang. Kita tidak hanya menerima ilmunya saja, tapi juga diaplikasikan ke masyarakat,” ujar Claudia.

Claudia tidak menganggap Majelisnya ini eksklusif. Kini ada 500 lebih anggota yang tergabung di dalamnya. Semua berasal dari banyak kalangan, demi kebersamaan, sharing dan caring.

Masih merasa ‘kurang’ melalui yayasannya, Claudia menyantuni ratusan anak yatim sejak tahun 1996. Dan tiga tahun silam, ia mendirikan family counseling. Khusus untuk bidang ini, Claudia khusus mengambil pendidikan psikolog di satu lembaga pendidikan.

“Alhamdulillah selama ini teman-teman cukup senang ngobrol dengan saya. Artinya, saya tidak hanya duduk menjadi pendengar saja. Tapi mungkin sharing kita bisa bermanfaat buat dia, entah sebagai input atau motivasi. Itu tadi, kepercayaan. Bagaimana seseorang ketika dia menyampaikan segala permasalahannya, curhat, dia nyaman itu semua hanya sampai di saya. Ini sangat aman dijaga,” ujar Claudia.

Dia tersenyum ketika harus menyebut beberpa kliennya. Tak hanya dari kalangan peserta Majelis Taklim, tapi juga ibunya teman anak-anaknya.

Pendekatan Psikologi Islam

Motivasi Saya …

Tentunya dari apa yang saya pelajari, agama, khususnya melalui majelis taklim, mengenai istri mengurus rumah tangga, akhlak dan sebagainya. Saya sebetulnya ingin meperbaiki diri. Wadah konseling ini sebagai wadah dan sarana saya untuk memperbaiki diri saya. Motivasi saya ingin mudah2an dari apa yang saya lakukan ini ada manfaatnya bagi mereka. Alhadulillah ketika mereka datang dengan berbagai macam persoalan. Itulah pengalaman2 mereka yang menempa diri saya. Kebanyakan problem rumah tangga.

Tujuan Konseling …

Saya mengajak mereka bagaimana kita bisa positive thinking. Dengan positive thingking jasmani dan rohani kita akan sehat. Dengan metode sharing yang saya lakukan, salah satunya adalah pendekatan ke psikologi islam. Jadi landasannya memang agama. Agama itu adalah tiang dan fondasi. Kalau kita berpegang pada itu, kita berpegang pada siapa. Jadi setiap persoalan dan permasalahan, itu harus ada keseimbangan. Bagaimana secara logika kita mampu menyelesaikan itu, tapi kita mengacu atau berpegang teguh pada ketentuan yang ada.

Keinginan Pada Mereka …

Paling tidak saya sebagai perempuan dan sebagai muslimah, saya ingin sekali membawa manfaat pada saudara muslimah. Supaya mereka punya motivasi dan tegar saat punya masalah, mereka tidak pantang mundur, tapi juga berakhlak baik. Karena muslimah itu luar biasa diciptakan oleh Allah. Ibu yang seperti apa yang mencetak anak-anaknya jadi seperti apa. Kalau ibunya baik, insyaallah anak-anaknya juga akan kualitasnya baik. Dia cukup punya kasih sayang, dia cukup punya ilmu mendidik anak, tidak hanya punya insting.

Yang Mereka Rasakan …

Rata-rata yang konsultasi dengan saya, adalah mereka yang takut menghadapi hidup kedepan, kalau berpisah dengan suaminya. Jadi, mau saja menerima perlakukan-perlakukan yang tidak adil dan tidak semestinya dari suaminya. Ada yang berani mengambil keputusan, dan itu justru membuatnya jadi lebih konsentrasi pada anak-anaknya, dan anak-anaknya jadi lebih ke urus. Saya jelas tidak ada keberpihakan. Karena toh akhirnya saya, juga meminta suaminya duduk bersama konseling disini. Kalau konseling sudah 3 tahun. Lumayan banyak. Hari ini saja ada 4 klien.

Pelajaran Berharga

Claudia sangat mematuhi suaminya. Katanya, suami adalah segala-galanya.

“Waktu itu saya tidak diijinkan suami ke Aceh, waktu ada tsunami. Saya jelas nurut sama suami saya, karena buat saya, suami adalah segala-galanya. Karena saya bisa eksis, saya yakin itu keikhlasan dia,” kata Claudia.

Ia tidak kecewa meski tidak bisa berbagi pada korban-korban bencana. Sampai akhirnya, ia memutuskan pergi ke korban gempa di Yogyakarta. Ia begitu bersemangat, hingga mengumpulkan banyak sumbangan.

“Baru keluar Indramayu, supir saya sakit. Akhirnya saya yang menyetir sendiri sampai Yogya. Supir saya jelas masih ikut dan tidur saja di belakan,” kenang Claudia, tersenyum.

Claudia tidak merasa ada yang aneh. Justru ia merasa, Allah memberinya kenikmatan dan tanda, “kalau kamu mampu untuk melihat sesuatu itu dalam persepsi agama dan kerohanian, ini belum seberapa. Itu saya nikmati betul. Sampai akhirnya saya sampai bantul jam 2 pagi. Padahal di jalan bekali-kali kita kena macet dan hujan deras.”

Sampai di lokasi bencana, “runtuhlah hati saya. Mereka para korban, ada anak-anak, bayi-bayi, orang tua. Mereka tinggaldi tenda-tenda yang tidak layak. saya menyaksikan semua itu, mengingatkan diri saya. Dalam perenuangan saya, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah makhluk yang sudah selayaknay untuk terus bersyukur,” katanya, haru.

Seolah terbebas dari perenungan yang dalam.

“Ketika saya masak, saya berperan sebagai ibu rumah tangga. Tentunya saya masak untuk suami yang saya cintai. Ternyata segala sesuatu itu harus kita lakukan dengan berkualitas dan ikhlas. Kenapa saya masak? Karena saya cinta dan ikhlas. Saya ingin berikan yang terbaik buat dia,” ujar ibu dua anak ini.

“Ketika saya menjadi seorang ibu, saya memberikan perhatian sepenuhnya pada anak-anak. Saya dengarkan saat mereka bicara. Ada juga ibu-ibu yangkalau anaknya ajak bicara, mereka tidak mau mendengarkan karena sibuk. Dan itu menjadikan kepribadan anak menjadi tidak baik. Dan itu bibitnya dari kita. Makanya disitu saya punya dorongan yang kuat, ingin berbuat sesuatu. Dan saya menikmai karunia ini melalui majelis taklim. Tidak ada yang sia-sia disaat kita melakukan sesuatu diatas kebenaran. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kita bertemu lagi, dan rahasia Allah adalah kematian. Saya berlomba-lomba saja, untuk jadi lebih baik,” ujarnya lagi, penuh makna.

Aien Hisyam

November 17, 2009 - Posted by | Profil Psikolog, Profil Wanita

1 Comment »

  1. mba aien… bs minta no tlp or emailnya mba Claudia Massie ga?? klo bs tolong krm keemailQu ya.Thanks..

    Comment by mira | April 14, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: