Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Claudia Massie

Hidup Tidak Pernah Sia-Sia

Claudia memandang hidup demikian sempurna. Kesempurnaan itu lah yang ia bagi pada orang lain, dengan caranya sendiri.


Berhenti kerja, tak membuat Claudia berkecil hati. Ia justru termotiasi untuk mebuat hal-hal baru yang jauh lebih bermanfaat. Salah satunya yang kini menuai hasil, adalah Majelis Taklim yang ia namai Zakia-Nandjar. Zakia berarti indah.

“Saya ingin, hidup orang lain lebih indah,” Claudia menterjemahkan maksud kata tersebut.

Tak hanya majelis taklim. Sejalan dengan waktu dan kebutuhan, Claudia pun mendirikan family counseling, khusus menangani permasalahan diseputar rumah tangga, anak dan remaja, maslaha pribadi, dan komunikasi.

“Konseling ini sangat terbuka untuk siapapun,” kata Hj. Claudia Massie, S.Sos.

“Mengapa saya membentuk satu wadah ini, semata untuk sharing, dimana seseorang mereka tidak perlu merasa risi atau merasa terikat aturan-aturan yang baku ketika mereka mengungkapkan satu permasalahan.”

Hidup Seimbang

Alasan utama Claudia menjadi counselor, karena sebelumnya, 8 tahun silam, ia sudah mendirikan Majelis Taklim atau pengajian Zakia-Nandjar, berikut Yayasannya.

“Kita bergerak di bidang syiar islam, kemanusiaan, pendidikan anak dan pemberdayaan muslimah. Sebagai pengamalan Hablum minallah & Hablum minannas, secara lintas mazhab dan profesi, untuk kerukunan umat dan kecerdasan sosial. Itu misinya. Visinya jelas untuk persatuan umat islam melalui dakwah bil hal,“ kata Claudia.

Claudia ingin, wadah pengajian ini, menjadi tempat dimana para muslimah bisa menggali ilmu agama, meningkatkan sisi spiritualitas diri.

“Saya meyakini bahwa seorang manusia, muslimah khususnya, harus seimbang dunia dan akhirat. Itu yang akan jadikan dia bisa jalankan hidup dengan sebaiknya. Kalau spiritual, jelas hubungannya dengan Tuhannya. Tapi kalau dunia, dia bertanggung jawab atas dirinya pemikirannya, kelakuannya, sebagai ibu, istri dan diri sendiri,” Claudia memaparkan dnegan sangat ditail.

Ia berharap, melalui majelis taklim yang ia dirikan, niat itu dapat terlaksana. Karena, kata Claudia, peserta majelis taklim tidak hanya menulis dan mendengar materi pengajian, tapi mereka juga berdiskusi dengan guru-gurunya.

“Pada saat yang sama, kita terjun ke masyarakat untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah kita peroleh,” ujar Claudia bangga.

Cantik Tak Hanya Fisik

Banyak kegiatan telah dilakukan Claudia dan teman-temannya melalui Majelis Taklim Zakia-Nandjar. Salah satu program yang baru saja dilaksanakan adalah membantu korban tanah longsor di Cianjur, dan terakhir berbagi kasih dengan anak-anak penyandang Thalassaemia di RS Cipto Mangunkusumo.

“Ibu-ibu akan semakin cantik tidak baik secara fisik, tapi akan makin cantik ketika rohaninya juga berperan. Makanya kita turun langsung, berlumpur-2 dan berbau-bau di tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang. Kita tidak hanya menerima ilmunya saja, tapi juga diaplikasikan ke masyarakat,” ujar Claudia.

Claudia tidak menganggap Majelisnya ini eksklusif. Kini ada 500 lebih anggota yang tergabung di dalamnya. Semua berasal dari banyak kalangan, demi kebersamaan, sharing dan caring.

Masih merasa ‘kurang’ melalui yayasannya, Claudia menyantuni ratusan anak yatim sejak tahun 1996. Dan tiga tahun silam, ia mendirikan family counseling. Khusus untuk bidang ini, Claudia khusus mengambil pendidikan psikolog di satu lembaga pendidikan.

“Alhamdulillah selama ini teman-teman cukup senang ngobrol dengan saya. Artinya, saya tidak hanya duduk menjadi pendengar saja. Tapi mungkin sharing kita bisa bermanfaat buat dia, entah sebagai input atau motivasi. Itu tadi, kepercayaan. Bagaimana seseorang ketika dia menyampaikan segala permasalahannya, curhat, dia nyaman itu semua hanya sampai di saya. Ini sangat aman dijaga,” ujar Claudia.

Dia tersenyum ketika harus menyebut beberpa kliennya. Tak hanya dari kalangan peserta Majelis Taklim, tapi juga ibunya teman anak-anaknya.

Pendekatan Psikologi Islam

Motivasi Saya …

Tentunya dari apa yang saya pelajari, agama, khususnya melalui majelis taklim, mengenai istri mengurus rumah tangga, akhlak dan sebagainya. Saya sebetulnya ingin meperbaiki diri. Wadah konseling ini sebagai wadah dan sarana saya untuk memperbaiki diri saya. Motivasi saya ingin mudah2an dari apa yang saya lakukan ini ada manfaatnya bagi mereka. Alhadulillah ketika mereka datang dengan berbagai macam persoalan. Itulah pengalaman2 mereka yang menempa diri saya. Kebanyakan problem rumah tangga.

Tujuan Konseling …

Saya mengajak mereka bagaimana kita bisa positive thinking. Dengan positive thingking jasmani dan rohani kita akan sehat. Dengan metode sharing yang saya lakukan, salah satunya adalah pendekatan ke psikologi islam. Jadi landasannya memang agama. Agama itu adalah tiang dan fondasi. Kalau kita berpegang pada itu, kita berpegang pada siapa. Jadi setiap persoalan dan permasalahan, itu harus ada keseimbangan. Bagaimana secara logika kita mampu menyelesaikan itu, tapi kita mengacu atau berpegang teguh pada ketentuan yang ada.

Keinginan Pada Mereka …

Paling tidak saya sebagai perempuan dan sebagai muslimah, saya ingin sekali membawa manfaat pada saudara muslimah. Supaya mereka punya motivasi dan tegar saat punya masalah, mereka tidak pantang mundur, tapi juga berakhlak baik. Karena muslimah itu luar biasa diciptakan oleh Allah. Ibu yang seperti apa yang mencetak anak-anaknya jadi seperti apa. Kalau ibunya baik, insyaallah anak-anaknya juga akan kualitasnya baik. Dia cukup punya kasih sayang, dia cukup punya ilmu mendidik anak, tidak hanya punya insting.

Yang Mereka Rasakan …

Rata-rata yang konsultasi dengan saya, adalah mereka yang takut menghadapi hidup kedepan, kalau berpisah dengan suaminya. Jadi, mau saja menerima perlakukan-perlakukan yang tidak adil dan tidak semestinya dari suaminya. Ada yang berani mengambil keputusan, dan itu justru membuatnya jadi lebih konsentrasi pada anak-anaknya, dan anak-anaknya jadi lebih ke urus. Saya jelas tidak ada keberpihakan. Karena toh akhirnya saya, juga meminta suaminya duduk bersama konseling disini. Kalau konseling sudah 3 tahun. Lumayan banyak. Hari ini saja ada 4 klien.

Pelajaran Berharga

Claudia sangat mematuhi suaminya. Katanya, suami adalah segala-galanya.

“Waktu itu saya tidak diijinkan suami ke Aceh, waktu ada tsunami. Saya jelas nurut sama suami saya, karena buat saya, suami adalah segala-galanya. Karena saya bisa eksis, saya yakin itu keikhlasan dia,” kata Claudia.

Ia tidak kecewa meski tidak bisa berbagi pada korban-korban bencana. Sampai akhirnya, ia memutuskan pergi ke korban gempa di Yogyakarta. Ia begitu bersemangat, hingga mengumpulkan banyak sumbangan.

“Baru keluar Indramayu, supir saya sakit. Akhirnya saya yang menyetir sendiri sampai Yogya. Supir saya jelas masih ikut dan tidur saja di belakan,” kenang Claudia, tersenyum.

Claudia tidak merasa ada yang aneh. Justru ia merasa, Allah memberinya kenikmatan dan tanda, “kalau kamu mampu untuk melihat sesuatu itu dalam persepsi agama dan kerohanian, ini belum seberapa. Itu saya nikmati betul. Sampai akhirnya saya sampai bantul jam 2 pagi. Padahal di jalan bekali-kali kita kena macet dan hujan deras.”

Sampai di lokasi bencana, “runtuhlah hati saya. Mereka para korban, ada anak-anak, bayi-bayi, orang tua. Mereka tinggaldi tenda-tenda yang tidak layak. saya menyaksikan semua itu, mengingatkan diri saya. Dalam perenuangan saya, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah makhluk yang sudah selayaknay untuk terus bersyukur,” katanya, haru.

Seolah terbebas dari perenungan yang dalam.

“Ketika saya masak, saya berperan sebagai ibu rumah tangga. Tentunya saya masak untuk suami yang saya cintai. Ternyata segala sesuatu itu harus kita lakukan dengan berkualitas dan ikhlas. Kenapa saya masak? Karena saya cinta dan ikhlas. Saya ingin berikan yang terbaik buat dia,” ujar ibu dua anak ini.

“Ketika saya menjadi seorang ibu, saya memberikan perhatian sepenuhnya pada anak-anak. Saya dengarkan saat mereka bicara. Ada juga ibu-ibu yangkalau anaknya ajak bicara, mereka tidak mau mendengarkan karena sibuk. Dan itu menjadikan kepribadan anak menjadi tidak baik. Dan itu bibitnya dari kita. Makanya disitu saya punya dorongan yang kuat, ingin berbuat sesuatu. Dan saya menikmai karunia ini melalui majelis taklim. Tidak ada yang sia-sia disaat kita melakukan sesuatu diatas kebenaran. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kita bertemu lagi, dan rahasia Allah adalah kematian. Saya berlomba-lomba saja, untuk jadi lebih baik,” ujarnya lagi, penuh makna.

Aien Hisyam

Advertisements

November 17, 2009 Posted by | Profil Psikolog, Profil Wanita | 1 Comment

Zeventina Octaviani

Susahnya Menyatukan Dua Pikiran

IT menjadi dunia Zev sebenarnya. Manakala ia ditawarkan untuk menulis novel fiksi, bukan main senangnya.


Tantangan terbesar Zev saat itu, ia harus menulis fiksi bersama pria yang ia kenal di dunia maya. Berbeda tempat dan berbeda waktu. Satu di Surabaya, satu lagi di Jerman. Inilah novel pertama berjudul ‘Elle Eleanor’ yang dibuat dua orang, yang menuntut homogenitas gaya.

”Benar-benar menguras pikiran. Proses pengerjaannya berbeda dengan membuat cerita estafet. Kita melihat ada tantangan besar disini. Yaitu untuk menyatukan dua gaya yang benar-benar berbeda, digabungkan menjadi novel yang menuntut homogenitas gaya,” ungkap Zeventina Octaviani Bouwmeester.

Zev mengaku lega, sekaligus puas. Kerja keras selama 1 tahun terbayar tuntas.

Menulis Setelah Rumit

Dunia teknologi erat sekali dalam hidup Zev. Ratusan website sudah ia buat, menjadikannya salah satu web designer terkenal. Zev pernah mendapatkan penghargaan sebagai web terbaik Indonesia di bidang pendidikan dari web designer Bali untuk web di Deutsch, Warum Nicht.

“Jadi, kalaupun akhirnya ditawari menulis fiksi, itu satu kesempatan yang luar biasa,” ujar wanita kelahiran Bandung 17 Oktober 1970.

Zev mengaku, sejak kecil ia sudah suka menulis. Dan saat internet mulai popular, ia tuangkan tulisan2 saya ke blog. Saat itu diluar dugaan, banyak penerbit yang tertarik untuk membukukan tulisannya.

“Sayangnya waktu saya memandang blog hanya sebagai sarana penumpahan uneg-uneg saja. Disamping itu kesibukan saya mendesign web sangat padat, jadi hobi saya menulis mulai terabaikan,” ungkap Zev.

Lama-kelamaan Zev mulai jenuh berkutat dengan tag-tag HTML yang rumit. Sebagai selingan, ia mulai serius menulis. “Saya bersyukur bahwa sebelum tulisan itu selesaipun penerbit sudah menunggu dengan sabar. Itu adalah anugrah terbesar yang Tuhan berikan,” ujar Zev, senang.

Menulis bagi Zev, adalah kebebasan berpikir. Ia tak suka dikungkung oleh aturan. Imajinasi di area fiksi adalah tak terbatas. Tulisan yang dikebiri, katanya, tentu akan menghasilkan sebuah karya yang sarat oleh ketakutan dan tanggung.

“Novel bagi saya adalah keabadian, karena tulisan akan selalu hidup bahkan saat kita mati. Dalam novel perdana kolaborasi ini, kekuatan cerita terletak pada komplikasi dan proses kegilaan yang melahirkan kegilaan,” kata Zev, bijak.

Pulang Kampung

Tinggal di Ulm, Jerman, ikut suami yang sedang kuliah, kesibukan Zev tidak juga berkurang. Selain mengurus anak dan suami, ia ikut-ikutan kuliah Sprachen & Philologie di Universitat Ulm Zentrum, Jerman.

“Tahun pertama dan kedua, saya masih sibuk di Universitas. Baru setelah anak naik kelas 4, di babak penentuan, seperti kalau di Indonesia penjurusan di bangku SMA, saya berkorban berhenti kuliah dulu. Saya menemani anak belajar. Sejak itulah saya isi waktu menulis novel dan mendisain web. Syukurlah, anak saya berhasil masuk Gymnasium, sekolah terbagus di Jerman. Sayangnya saat sudah 6 bulan mencicipi Gymnasium, kami harus pulang,” ujar, Zev. Ia mengaku sedih.

Pulang ke Indonesia, Zev menuntaskan novel perdananya ‘Elle Eleonir’ yang dibuat berdua, bersama Ferry Zanzad. Kini, semangat menulis Zev sedang bergelora. Ia sedang menuntaskan novel lainnya.

“Pekerjaan utama sebagai web designer, tetap dijalankan. Menulis kan hanya sebagai selingan.” Senyum Zev merekah.

Beberapa Kali Frustasi

Selain Zev, novel thriller “Elle Eleanor’ ditulis juga olhe Ferry Zanzad. Uniknya, kedua bertemu pertama kali, saat novel ini di launching.

“Saya dan mas Ferry pertama kali kenal di Penulis Indonesia. Saya baca, tulisan dia bagus banget. Selanjutnya kita bertemu lagi di blog Multiply. Justru awal-awal, kita kerja bareng ke design web, sampai kemudian mas Fer mengajak nulis bareng,” kenang Zev.

Dua penulis, dengan dua gaya yang berbeda, bahkan bertolak belakang. “Saya terbiasa dengan gaya pilu, gelap, dan tradisional. Sedang Zev cenderung metro dan ceria. Novel ini beda dengan kumcer, yang mengijinkan penulisnya membuat gaya masing-masing. Inilah tantangannya. Membuat dua gaya menjadi satu dalam homogenitas gaya. Menggabungkan susana muram dengan keceriaan,“ ujar Ferry.

Novel yag dibuat Zev dan Ferry memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Bersetting budaya Jawa dan masa kolonial yang melintas ke masa sekarang. Termasuk perang Eropa yang sedang bergolak. Berkisah tentang seorang noni belanda yang memiliki kelainan jiwa sekaligus kelainan seks.  Kelainan ini berdampak pada trauma masa lalu.

“Kita bergantian menjadi “sutradara” sesuai dengan karakter kita. Misalnya bab 1 menuntut suasana tradisional, pilu, gelap, maka saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Kita berdua bekerja di bab 1, tetapi saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Demikian juga dengan bab lain yg menuntut susanan berbeda, maka Zev yang akan menghandlenya. Nulisnya sih sama-sama, hanya sutradara saja yang menentukan arah cerita berdasar kerangka yg sudah ada,” terang Ferry.

Kata Ferry, proses pembuata novel thriller ini melibatkan pembicaraan yg terus menerus. Makanya Elle lahir dari kelelahan yg teramat sangat. “Belum lagi berantemnya,” Zev menyela, sambil tertawa lepas.

Proyek yang dimulai bulan Juli 2088, barus tuntas bulan Juli 2009.

“Karena kita menulis bersama, kita perlu membuat acuan, referensi bersama. Misal tokoh Johan, kita membuat CV dia lengkap, mulai dari nama lengkap, umur, tinggi badan, berat badan, kegemaran, tanggal lahir. Dari sana kita mempunyai cara pandang yg sama tentang tokoh-tokoh cerita. Kita homogenkan, alias samakan persepsinya. Pada saat membuat CV itulah kita biasanya berantem seru,” ujar Ferry, tersenyum

Zev mengaku, proses penyelesaian novel thrillernya, tak seperti yang ia bayangkan. “Beberapa kali sempat frustasi. Perbedaan waktu waktu saya masih di Jerman dan mas Fer di Surabaya, sangat menyiksa. Juga kompilasi cerita, menyatukan visi dan plot. Yang paling rumit, ya menyatukan semua gaya ini, seolah novel ini dibuat 1 penulis. Pernah nyaris kita tinggalkan, padahal itu sudah selesai 80 persen. Untung penerbit selalu memberikan semangat,” ujar Zev.

Kini, Zev bisa bernafas lega. Wanita yang pernah menjadi 10 besar lomba menulis cerita anak Blogfam dan bukunya telah diterbitkan untuk keperluan pendidikan, serta pernah Masuk MNE Magazine London untuk karya video berjudul The Moon Represent My Heart, tengah menyelesaikan 4 novelnya yang siap dicetak. Selain mengelola studio desain, Zev aktif menulis di majalah BZ online Blogfam (Tutorial Design), menulis di buku 100 Blogger Bicara.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Penulis | Leave a comment

Lenny Agustin

“Saya Suka Yang Ekstrim”

Hadir dan mencuri perhatian. Itulah gambaran seorang Lenny Agustin, ketika hasil karyanya membuat banyak orang berdecak kagum.


Apa jadinya bila kebaya didesain dengan warna-warna cerah dan bercorak. Memang, sulit dibayangkan. Tapi, di tangan Lenny Agustin, kebaya-kebaya tersebut terlihat indah.

Sebagai disainer muda, Lenny tidak menabrak pakem. Dia hanya berkreasi agar kebaya yang identik dengan kekunoan, makin diminati anak muda, juga anak-anak. Satu terobosan unik, yang juga membuat para ibu muda terpikat.

“Padahal, waktu itu saya sudah siap untuk dikritik. Tapi ternyata, tidak ada yang kritik. Saya tahu, tidak banyak orang yang suka. Namanya juga kreatifitas. Siapa saja bisa berekspresi,” kata Lenny.

Kata Lenny, kalau kebaya ditampilkan secara tradisional, belum tentu disukai anak muda. Jadi, ia berusaha mengangkat unsur-unsur kedaerahan ini dengan gaya remaja. Tidak hanya batik, ia meramunya dengan kain-kain tradisional dari banyak daerah, mulai dari NTT hingga Sumatera.

Bersikukuh Sekolah Fashion

Sejak kecil, Lenny sudah tertarik pada dunia fashion. Bahkan, setiap ditanya tentang cita-citanya, Lenny kecil selalu menjawab ingin jadi disainer. Ia ingin bisa mendisain baju, merancang, menjahit, dan punya butik.

“Dari kecil saya suka bikin baju boneka. Saya jahit pakai tangan. Jahit sendiri. Anak-anak tetangga minta dibikinin juga dan mereka bayarnya pakai kancing. Mereka minta ke orangtuanya kalau ada kancing sisa,” kenang wanita berdarah Kalimantan, Madura, dan Jawa ini bangga.

Lenny kian bergairah manakala ia mendapat tugas dari guru SMP-nya, menjahit baju anak kecil. “Sampai lampu mati aja, saya tetap menjahit,” ungkap Lenny, sambil tertawa lepas.

Lenny sadar, darah seni mengalir di tubuhnya.

“Di keluargaku darah seninya kuat sekali. Kakak saya juga banyak yang larinya ke seniman. Ada yang kuliah di Perbankan, kerjanya ke disain grafis. Atau ada yang ambil kuliah Akuntasi, kerja di perhotelan,” kata anak ketujuh dari 9 bersaudara ini senang.

Sayangnya, tinggal di Surabaya membuat Lenny tidak punya banyak pilihan untuk mengembangkan bakatnya. “Padahal, orangtuaku selalu menekankan anak-anaknya agar bersekolah formal. Sementara di sana hanya ada tempat-tempat kursus,” kata Lenny.

Lulus SMEA jurusan Perdagangan, Lenny sempat vakum selama 2 tahun. Ia bersikukuh ingin mengambil sekolah fashion. Sampai suatu hari Lenny membaca majalah remaja, ada informasi tentang sekolah fashion di Jakarta.

“Akhirnya aku dibolehin juga kuliah D3 bidang fashion di Asride Iswi. Pada saat yang bersamaan, aku juga kuliah di Bunka School of Fashion,” ujar Lenny yang hijrah ke Jakarta tahun 1994.

Hidup Sambil Belajar

Di tengah perjalanan menempuh pendidikan fashion, Lenny menikah dengan Sofian Susantio. Ia mengambil cuti 1 tahun untuk mengurus anak dan keluarga. Lulus kuliah pun molor hingga tahun 1999.

“Itu pun masih dilanjutin ngurus keluarga. Baru tahun 2002 saya buka butik sendiri. Itupun kecil-kecilan. Tempatnya masih ngontrak, hanya 50 meter persegi. Apa saja yang orang jahit aku terima,” kenang wanita kelahiran 1 Agustus 1973.

Pilihan Lenny tidak bekerja pada disainer lain, ia ingin punya waktu lebih banyak pada anak-anaknya. Ia ingin lebih fleksibel mengatur hidupnya. Karena masih butik kecil, Lenny hanya merekrut 4 karyawan.

“Saya belum punya ciri khas. Bagi saya, hidup sambil belajar. Belajar hitung harga, hitung gaji pegawai, dan sebagainya,” ujar ibu tiga anak ini tertawa renyah.

Barulah di tahun 2003, Lenny memberanikan diri mengikuti lomba fashion di Majalah Perkawinan. Baju pengantin Internasional yang ia buat meraih juara 1. Sejak itu Lenny ‘menemukan’ jati dirinya.

”Aku mulai mendisain baju-baju pengantin. Lebih produktif untuk dimuat. Lumayan tuh harganyanya naik, dan banyak yang pesan. Bahkan saya sempat masuk ke tv segala,” ungkap Lenny yang kini memiliki 2 butik dan 3 outlet.

Di tahun 2004, saat Majalah Perkawinan membuat buklet kebaya, Lenny mendapat kesempatan mendisain kebaya. Momen yang pas, karena saat itu dia juga mempekerjakan beberapa tukang batik.

“Pas aja. Saya pikir busana kebaya banyak. Akhirnya saya ambil ciri khas bikin kebaya dari 2 sampai 3 macam bahan, dan pakai kerut-kerut di dada. Biasanya ‘kan kebaya hanya 1 macam bahan,” ujar Lenny, tentang ide segarnya.

Justru keunikan kebaya Lenny inilah yang membuat pihak majalah menampilkan kebaya rancangannya sebagai cover. Nama Lenny pun mulai menjadi perhatian banyak perancang dan pakar mode. “Tapi, saya juga kesal. Ada perancang uang mulai meniru disain saya ini,” ungkap Lenny, sambil menghela nafas.

Fashion Show Tunggal

Langkah Lenny kian terbuka lebar. Di tahun yang sama ia masuk dalam wadah APPMI. Tiga tahun kemudian, di tahun 2007, ia bahkan mulai menggelar  fashion show tunggal di Four Session. Banyak mata yang terbelalak, dan mengaku surprise.

“Itu karena saya mengajarkan hal yang baru pada mereka. Ternyata kebaya bisa juga untuk anak muda. Bisa untuk anak kecil dan bisa untuk siapa saja. Tentu saja dengan gaya yang tidak terlalu tradisional,” kata Lenny, senang.


Yang Utama Adalah Anak

Sebelum Fashion…

Fashion show, itulah saya. Karena semua pemikiran saya lakukan sendiri. Tapi saya juga selalu minta saran dan kritik senior-senor dan pengamat mode pada mode yang saya buat. Itu saya lakukan sebelum fashion show. Mereka akan bilang, ini aku banget, ini bukan.

Gaya Sehari-hari…

Yah seperti ini, sangat casual. Kebetulan sekarang rambut saya sedang pendek. Tapi Saya ini suka yang ekstrim. Seperti kalau habis rambut panjang, biasanya langsung saya potong pendek sekali. Saya suka panjang trus pendek, panjang lagi, dan pendek lagi. Pendek begini sudah 3 tahunan. Anak-anak cukup bangga sama mamanya. Waktu rambut saya cat hitam, anak-anak malah protes, kok di cat hitam. Saya khawatir mereka nanti mau sama teman-temannya. Tapi jawab mereka, “kalau ada anak yang tanya kok mamanya kayak bule, saya bilang saja mama saya kan disainer.”

Pada Anak-anak…

Saya sangat dekat dengan mereka. Setiap Kamis say atidak kerja, agar bisa mengantar anak-anak kursus musik. Bahkan dari kecil saya tidak pernah menggunakan bahasa bayi, dan tidak pernah memperlakukan mereka seperti anak kecil. Saya selalu memperlakukan mereka seperti orang besar. Kalau mereka menangis, saya akan bilang kamu nangis dulu aja, jangan ngomong ke mama. Kalau mereka tanya, akan saya jawab dan saya belikan buku. Melalui buku, sekarang mereka sudah bisa riset. Dan bisa mencari jawaban dari pertanyaannya. Dengan memecahkan masalah sendiri.

Di Depan Karyawan…

Sekarang karyawan saya ada 30an. Di depan mereka, saya tidak pernah marah apalagi teriak-teriak. Jadi mereka nyaman disini. Kalau salah, saya kasih tahu. Tapi kalau sampai 3 kali masih salah juga, dan sudah dikasih tahu nggak tahu, ya potong gaji. Karena kalau kita ngomel-ngomel, nanti malah dendam dan kesal sama kita. Uring-uringan sama siapa saja. Intinya, saya tidak mau bikin orang bete.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Wanita | 1 Comment

Wulan Ayodya

Jiwa Pengusaha Sejak Kecil

Banyak aktifitas Wulan yang bersinggungan dengan Usaha Kecil Menengah. Maka, bukannya tanpa alasan ia pun dijuluki ‘ibu UKM Indonesia’.


Di pinggiran selatan kota Jakarta, Wulan membuka kursus pelatihan ketrampilan yang ia beri nama UKMKU. Tempat yang, kata Wulan, sederhana, namun telah mencetak banyak enterpreneurship di dunia wiraswasta.

Wulan Ayodya bukan nama baru di bidang UKM. Terjun di bidang ini pun sudah dilakukan Wulan sejak kecil, walaupun saat itu ia tidak tahu apa yang ia kerjakan disebut UKM.

Sejak Balita

“Kalau ditanya sejak kapan saya memulai usaha, jangan kaget kalau saya jawab sejak balita,“ sesaat senyum Wulan mengembang.

Wanita kelahiran Jakarta, 18 Desember 1973, ini beruntung dikarunai suara indah. Wulan kecil juga diberi talenta bermain dalang. Di tengah keluarga yang berkecukupan, bakat ini yang mendatangkan rejeki tersendiri buatnya. Ia kerap menyanyi dan bermain wayang ala dalang, di depan Eyang Putri dan keluarganya. Imbasnya, ia mendapatkan uang, yang kemudian dimasukkan dalam celengan.

Satu pelajaran berharga di usia yang sangat belia. Wulan jadi memahami transasi jual beli jasa. Ia bahkan merasa perlu menabung di banyak celengan, padahal saat itu Iunya tidak mengajarinya menabung.

Saat usia TK, ia mendapat pelajaran berharga dari Ayahnya, yaitu hidup mandiri. Ia hanya diantar Ayahnya sampai depan sekolah, dan tidak ditemani, layaknya anak-anak TK lainnya.

Pelajaran berharga terus ia dapati. Begitupun saat Wulan mulai bersekolah di SD. Keluarganya pindah rumah ke daerah Cirendu, dan hidup sederhana. Tiba-tiba masalah datang, Wulan pun harus dititipkan tinggal di rumah om-nya. Dua tahun Wulan tinggal bersama om-nya.

“Kelas 6 SD, aku kenal dengan Pak Jon, Tukang Kebun. Beliau pintar melukis dan banyak ketrampilan. Nah, saya cerita ke teman-teman. Kalau mereka minta dibuatkan ketrampilan, saya kasihkan ke Pak Jon. Dari Bapak ini saya dapat uang beberapa ratus,” kenang Wulan, tersenyum.

Wulan semakin bersemangat mencari uang. Meski usia masih belia, Wulan pernah menjadi model saudaranya yang punya salon, pernah juga menjadi model baju sebuah majalah yang dilakukan satu atau dua kali sebulan. “Pernah juga loh jadi juara harapan II Lomba Model Pengantin Asia Pasific,” cerita Wulan, senang.

Di sela-sela kesibukan dan kegiatan sekolah, Wulan masih bisa membantu memasarkan kue hasil buatan ibunya. Ia jusru mengajari ibunya hitung-hitungan untuk meraih keuntungan saat jualan dan berbelanja.

Jualan Berkembang

Saat kelas 1 SMA, naluri bisnis Wulan kian tergugah. Banyaknya pengalaman, membuat Wulan semakin bersemangat membaca peluang. Salah satu usaha yang ia tekuni adalah membuka usaha parsel. Awal tahun 90an, belum banyak yang berbisnis parsel.

Wulan mulai menjalankan bisnis dengan profesional. Dari modal 3 juta yang ia dapat dari parsel, Wulan mulai berdagang pakaian untuk dijual secara kredit pada ibu-ibu.

“Saya mulai belajar memahami selera pasar. Dari seringnya gaul sama ibu-ibu, saya jadi tahu benar selera mode mereka. Kebetulan sekali saya juga punya selera. Misalnya bajunya harga 5 ribu, tapi baju itu berselera tinggi, nah saya bisa jual dengan harga tinggi. Ternyata dugaan saya benar. Ibu-ibu suka dan mau beli,“ cerita Wulan, senang.

Wulan tak hanya berbisnis, ia juga bekerja sebagai stand guide di sejumlah pameran. “Yang penting, ada pemasukan. Dan halal,” tambah wanita ini penuh semangat. Hasil yang ia perolah cukup beragam. Mulai dari Rp.35 ribu hingga Rp.100 ribu per lima jam. Bahkan di masa itu, Wulan pernah mendapatkan honor Rp.300 ribu.

Bisnis Wulan berkembag pesat. Ia mulai bisa menyicil satu toko seluas 3X4 meter secara over kredit. “Ada hikmahnya juga. Saya belajar dari teman saya yang bangkrut ini, kenapa dia bisa merugi. Saya juga bisa merekrut 3 karyawan. Bahkan, saya tidak hanya mengambail barang dari satu tempat. Selain Mangga Dua, saya juga ambil di Pasar Uler hingga Tanjung Priok. Kalau ada kesempatan, saya akan menambah produk dari Singapura dan Hongkong,” terang Wulan.

Kegagalan Beruntun

Tidak melulu Wulan berhasil. Ia juga pernah mengalami kegagalan. Saat berbisnis  seragam sekolah ia dibohongi temannya, hingga ia mengalami  kerugian besar.

Pelan-pelan Wulan merangkak dari bawah lagi untuk berbisnis. Selain mengembangkan tokonya, Wulan membuka usaha sewa motor dan mobil.  Lagi-lagi usaha ini mengalami pasang surut. Di bulan ketiga, ia mulai merugi.Bahkan ia sering mendapat komplain juga tuduhan motor curian. “Kasusnya jadi rumit dan melibatkan kepolisian,“ kenang Wulan, sedih.

Pantang menyerah, Wulan merambah bisnis Rumah Makan. Sambil tersenyum, Wulan mengatakan bahwa dirinya senang melanjutkan usaha teman-temannya yang sedang bangkrut. Ia ambil ahli restoran temannya yang sudah gulung tikar.

Wulan membuat menejemen baru, menyingkirkan karywan yang tidak efektif, dan merubah menu. Kalau awalnya disubsidi, tiga bulan kemudian, rumah makan sudah menuai keuntungan lumayan. Wulan juga mengadakan katering, untung membesarkan usahanya. Sayangnya banjir di kota Jakarta merendam Rumah Makannya hingga 1 meter. Ia pun mengalami kerugian besar.

Wulan mencoba peluang baru, yaitu berbisnis tenda.

“Tenda itu sangat dibutuhkan. Saat hajatan, khitanan, perkawinan sampai launching produk,“ ujar Wulan.

Kini usaha penyewaan tenda berkembang pesat. Wulan juga mulai berani menginvestasikan uangnya untuk membuka Pom Bensin di daerah Temanggung, juga bergabung dengan beberapa saudara menjalankan bisnis bis wisata. Saat ini Bis yang berlabel ‘Ayodya’ sudah berjumlah 9 armada, dengan menempati garasi di Imogiri, Yogyakarta.

“Kalau mau disebutkan diluar semua kisah itu, saya juga pernah bisnis kurir dan kantin. Tapi merugi,“ sesaat Wulan tersenyum. “Semua ini adalah pengalaman yang sangat berharga.“

Di rumahnya yang asri di kawasan Cirendeu, Wulan kita berprofesi sebagai pengajar, untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Ia juga membuat banyak buku tentang berbisnis UKM.

“Aku merasakan, Tuhan memberiku jalan hidup terindah dengan mengenal dunia tulis menuli dan mengajar. Kadang kita merasa kesal pada hal-hal yang terjadi pada hidup kita, ternyata kekesalan tersebut merupakan rencana-Nya yang menjadi indah di kemudian hari,” kata Wulan, bijak.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Pengusaha | 2 Comments