Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Natasha Pramudita

“Penyanyi Rock Kok Pakai Kerudung”


Ia penyanyi rock yang kerap pentas di atas panggung, diiringi musik cadas. Namun, Tasha juga pengacara profesional dengan sejumlah kasus-kasus berat yang siap ia tangani.


Beberapa tahun silam, di sebuah kafe, Nathasa duduk di atas bangku terkaki tinggi. Ia menyanyi diiringi 4 musisi ala akusitik. “Terimakasih,” jawabnya membalas applause sejumlah tamu.

Jauh berbeda ketika Thasa –panggilan akrabnya- menyodorkan kartu nama. “Kalau kartu nama sebagai penyanyi, tidak ada. Adanya yang ini,” kata Tasha, sambil tersenyum. Tertulis ‘Law Office Nathasa & Partners’ di kartu namanya. “Jangan kaget. Sebenarnya, kalau pagi sampai sore saya pengacara, tapi sore sampai malam saya penyanyi kafe,” lanjutnya, sambil tertawa kecil.

Kata Tasha, penyanyi adalah selingan dalam hidupnya. Namun ketika ditanya, ia ingin lebih dikenal sebagai pengacara atau penyanyi, Natasha langsung tersenyum. Ia langsung menyebut dua-duanya.

Tasha sudah menjadi pengacara lebih dari 10 tahun lebih. Ia pun sering terlibat dalam kasus-kasus besar, termasuk menangani beberapa kasus di dunia selebriti. Sementara menjadi penyanyi, telah ia jalani sejak usia 3 tahun.

Merasa Dirugikan

Lulusan Universitas Trisakti, Fakultas Hukum ini punya cerita khusus mengenai pilihannya menjadi pengacara.

“Awalnya saya terlibat dalam satu perkara perdata sebagai saksi. Saya masuk ke sidang pengadilan, dan berada di pihak yang benar. Tapi, hasi persidangan, saya dirugikan. Saya berpikir, kok bisa yang salah bisa menjadi benar. Akhirnya saya berjanji akan jadi pengacara. InsyaAllah kalau saya jadi pengacara saya bela orang sesuai dengan porsinya,” kata Tasha.

10 tahun silam, Tasha resmi menjadi pengacara. Ia bekerja di sebuah Firma Hukum. Namun, karena menemukan banyak perbedaan idealisme di tempat ia bekerja, Tasha pun memilih keluar kerja.

Ia pun mendirikan Firma Hukum bersama 3 temannya.

“Kalau klien mengajukan masalahnya, saya lihat masalahnya dulu. Kalau harus membalikkan fakta, saya akan mundur. Nanti malah tidak bisa tidur. rejeki tidak seberapa, tapi tidur tidak nyenyak. Dan itu sering sekali. Pernah juga di dalam sidang saya mundur, karena dari awal tidak jujur,” ungkap Tasha.

Tasha punya idealisme tersendiri. Ia akan berjuang untuk kliennya sesuai porsinya. “Kalau tidak bersalah saya akan bela mati-matian. Misalnya dia dituntut 10 tahun, padahal dia harusnya dihukum 5 tahun. Saya akan membela dia sampai dia mendapatkan porsinya hukuman 5 tahun,” kata Tasha, lagi.

Mulut Dibikin Kelu

Tasha sadar, ia berada di lingkungan minoritas. Biasanya, profesi pengacara ini di dominasi para pria dan dari suku tertentu.

“Saya, sudah perempuan, dari Sunda pula. Teror juga sering sekali terjadi, ya ke telepon atau ke rumah. Sampai dikirimin surat-surat kaleng. Tapi, kalau saya benar, kenapa takut. Memilih menjadi pengacara, sama halnya orang memilih jadi dokter gigi. Kok berani dokter itu mencabut gigi dan melihat darah. Tapi orang harus melakukan itu karena pilihan,” ujar Tasha.

Jumlah pengacara perempuan, kata Tasha, perbandingannya 80-20 persen. “Biasanya perempuan memilih menjadi pengacara coorporate,” ujar Tasha.

Tasha tidak punya strategi khusus saat menyelesaikan kasus-kasus yang ia pegang.

“Saya doa saja. Saya ini kan cerewetnya setengah mati. Pernah waktu itu di persidangan saya sangat kelu dan pusing. Ada yang bilang, saya dan klien di bekukan mulutnya. Akhirnya saya diobati teman saya, Alhamdulillah akhirnya sembuh. MasyaAllah selama 1 bulan saya sakit-sakitan terus, dan yang menyembuhkan hanya doa,” cerita Tasha.

Setelah bekerja di kantor sendiri, Tasha lebih leluasa mengatur hidupnya. Ia bisa memilih kasus-kasus yang akan ia tangani. Termasuk mengurus si buah hati.

Selingan Main Musik

Sejak usia 3 tahun, hidup Tasha sudah bersentuhan dengan musik. Ia bahkan sering tampil disejumlah acara musik di TVRI. Ia juga aktif mengikuti perlombaan menyanyi. Barulah di bangku kuliah, Tasha menderikan rup band dan tampil di kafe-kafe.

“Bahkan saya bayar kuliah dari uang nge-band di kafe ini. Bukannya orang tua saya tidak mampu. Justru orangtua keberatan saya menyanyi, takut nilai IPK jelek. Ternyata saya bisa membuktikan dengan baik,” kata Tasha.

Seminggu, enam kali Tasha menyanyi di 6 kafe yang berbeda, dengan band-band yang berbeda. Ia pernah satu band dengan musisi terkenal seperti almarhum Andi Liyani, almarhum Imanez, juga dengan Once, dan Deni Caplin.

Bersama Deddy Dores, Tasha pernah mengeluarkan album lagu.

“Kemudian saya buat TASS Band. Lagu kami sempat menang di kategori pop alternatif di ajang Video Musik Indonsia. Kita juga pernah bikin lagu dengan Bondan Prakoso sebagai pemain bass, dan Ivan ‘Boomerang’ memegang gitar. Kita tampil di pangung-panggung rock. Kita aktif tampil di panggung-panggung musik rock dari tahun 2004 sampai tahun 2008 kemarin,” cerita Tasha.

Termasuk ketika Tasha memutuskan memakai penutup kepala. “Setelah pakai kerudung, saya tetap tampil di pangung-pangung musik rock. Tentunya dengan tetap pakai kerudung yang dibikin keren. Kemarin, waktu tampil di Makasar, ada yang komentar, penyanyi rock kok pakek kerudung. Waktu itu saya tampil dengan Once membawakan lagu-lagu rock lama yang dikemas ala kita,” kenang Tasha, tersenyum.

Saat ini, Tasha berubah haluan. Ia masih tetap menyanyi lagu-lagu rpck, tapi ia juga menyanyikan lagu-lagu religi. Satu album reliji baru saja ia luncurkan, berjudul ‘Suara Kalbu’.

“Saya sangat senang dengar lagu-lagu reliji. Setiap pemusik yang bikin album reliji, pasti saya beli, dan coba saya nyanyiin. Akhirnya saya memutuskan terjun di lagu ini. Kebetulan saya dapat produser Tohpati. Jadi, album ini tidak seperti lagu reliji bernuansa Arab, karena segala umat bisa mendengarkan lagu-lagu reliji saya,” kata Tasha, senang.

Tasha bahkan berniat memberikan hasil penjualan albumnya dan RBT, pada yayasan yang mengurus anak-anak Yatim Piatu.

Aien Hisyam

November 12, 2009 - Posted by | Profil Seniman, Profil Wanita

1 Comment »

  1. itu fotonya ya?? bingung yg di jilbab in apanya…

    Comment by mgjakarta | May 9, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: