Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Amalia Yunita Korua

SMS di Puncak Tertinggi


Yuni melepas zona kenyamanan, demi kualitas hidup yang lebih baik. Ia pun berharap, ketiga anaknya merasakan hal yang sama.


Usia Yuni hampir 42 tahun ketika kakinya menjejakkan gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro. Mereka membawa ‘bendera’ : Kilimanjaro For Lupus. Inilah kedua kalinya ia mendaki gunung demi misi sosial, mensosialisasi dan berkampanye demi penyakit mematikan, Lupus.

Sebelumnya, tahun 2006, Yuni berhasil menaklukkan Kalla Pathar -5.545 m dpl- di Himalaya, Nepal, demi misi sosial yang sama. Saat itu ia melakukan ekspedisi ‘Perempuan Indonesia Menapak Himalaya Untuk Lupus’.

Yuni memang bukan ibu rumah tangga biasa. Sebelumnya saat masih kuliah di Universitas Trisakti, ia aktif berkegiatan adventure. Ia pernah menjadi Ketua Umum Aranyacala Trisakti (Organisasi Pecinta Alam Universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi Trisakti). Kini, ia CEO Lintas Jeram Nusantara (Arus Liar) dan CEO Regulo Lintas Nusantara (Regulo).

“Kuliahnya apa, kerjanya apa,” ucap Yuni, tertawa lepas.

Gemes Saat Ke Luar

Yuni paling senang bicara kegiatan adventure-nya. Kata istri Lody Korua –juga pecinta alam-, karena seringnya ia pergi ke luar untuk kegiatan adventure, ia sempt khawatir di Droup Out dari kuliahnya.

Selama 7 tahun, hampir setiap tahun saya pergi ekspedisi. Memang sih, banyak kegiatannya daripada kuliahnya. Untung nggak sampai di DO,” ungkap Yuni, tersenyum.

Saat keliling-keliling itulah Yuni sering dibuat terkagum-kagum. Apalagi ketika ia ekpedisi ke luar negeri, salah satunya ke Amerika di tahun 1992. Dia melihat kegiatan arung jeram mulai menjadi bisnis komersial yang dikelola sangat baik dan profesional.

“Tahun 94, saya ke Afrika. Termasuk ke Zimbabwe. Nah, Zimbabwe kan negara berkembang seperti Indonesia. Tapi , wisata arung jeramnya sangat maju sehingga bisa menghidupi masyarakat yang tinggal di pinggiran Victoria Falls. Ada restoran yang dibuat oleh persatuan arung jeram dengan menu yang temanya arung jeram. Ada juga tempat jualan sovenirnya,” cerita wanita kelahiran Bandung, 15 Juni 1967.

Yuni gemas karena potensi alam Indonesia justru lebih bagus, tapi belum banyak yang memulai bisnis di bidang arung jeram.

Ditambah lagi, Yuni sering dibilang, “ngapain bisnis di bidang itu, kuliah capek-capek di teknik sipil, eh kerjanya nggak ada hubungannya.” Ada yang lagi yang bilang, “emang bisa hidup, kerja di bidang itu?”

“Omongan seperti itulah yang justru memotivasi saya. Ternyata, saya tidak hanya hidup dari situ, tapi bisnis ini bisa menghidupi masyarakat-masyarakat di situ. Kami benar-benar bisa merintis dari bawah,” kata Yuni, bangga.

‘Nangis Darah’

Awalnya, Yuni membantu bisnis adventure Lody Korua, Tropical, yang sudah mulai lebih dulu, sejak tahun 80an. Mendampingi tamu-tamu dari luar negeri belajar survival di gunung-gunung di Indonesia. Ia juga melakukan survey arung jeram.

Barulah tahun 1995, Arus Liar berdiri, di bawah bendera Lintas Jeram Nusantara. Yuni memilih sungai Citarik di daerah Sukabumi sebagai tempat berarung jeram. Paketnya masih sederhana, hanya arung jeram dan menginap.

“Kita rekrut orang-orang lokal. Karena, misi kita memberdayakan masyarakat lokal untuk pemandu dan sebagainya,” kata Yuni.

18 tahun berkegiatan, Arus Liar kini makin ‘lengkap’. Selain arung jeram sebagai main product, ada pula Nusa Traditional Cottages, Ed-Adventure Programme, camping ground, trekking trip, paint ball, hingga aooroad adventure trip.

“Sekarang kita bahkan sudah punya ‘anak’ di Jawa Timur, Regulo Adventure di sungai Pekalen di Probolinggo. Awalnya, perusahaan ini milik orang lokal. Sekarang sudah kita ambil alih. Pusatnya dan kantor di Surabaya, tapi kita yang pegang menejemennya,” jelas Yuni senang.

Membesarkan Arus Liar, kata Yuni, tidaklah mudah, bahkan ia sampai harus ‘nangis darah’.

“Karena kita memang komit dengan pemberdayaan dan mendidik masyarakat lokal. Ya ampun, pertama kali kita buka, benar-benar belum berkembang. Kita cari lulusan SMP saja sangat susah. Sekolah SMP baru dibangun 5 tahun yang lalu,” kenang Yuni.

Pertama kali melakukan kegiatan arung jeram, “orang-orang masih lari-lari menonton kita. Waktu saya bawa mentega, mereka bingung, ini benda apa? Bahkan listrik baru masuk tahun 1997. Jalan bagus baru 7 tahun lalu. Benar-benar masih jauh dari harapan,” ungkap Yuni.

Tekad Yuni membesarkan Arus Liar, bukan semata-mata untuk hobi. Ia mengaku gemas karena melihat banyak operator arung jeram di Bali, dimiliki warga asing.

“Masak sih kita yang punya sungai, tapi kita nggak bisa. Juga karena menjalankan bisnis ini bukan nggak mudah. Kalau tidak hobi kita tidak punya passion. Ambil beberapa contoh, dulu banyak operator baru arung jeram, tapi ketika krisis ekonomi, tutup. Justru kita beda. Kita merasa, kalau krisis ekonomi, banyak yang stres justru banyak yang arung jeram. Pada saat kita di bawah, tidak kita tinggalin. Itu dunia kita,” ujar Yuni, tersenyum.

Krisis, justru kalau terjadi musibah saat berkegiatan arung jeram. Yuni mencontohkan seperti kejadian Raymond Van Beekum di Sungai Cisadane. Dampaknya, bisa mematikan banyak operator.

Merambah Pulau Lain

Tahun ini, Yuni tengah berkonsentrasi pada pekerjaan barunya.

”Saya ingin ini tidak berhenti di Sukabumi dan Jawa TImur. Kita sudah mulai merambah ke tempat lain tapi masih berupa paket-paket. Seperti di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Inginnya seluruh indonesia. Semuanya arung jeram. Selain perahu karet, di Kalimantan ada yang pakai ketinting. Seperti open kano yang panjang dan tradisional,” jelas Yuni.

Banyak Nggak Enaknya”

Setelah lama absen mendaki gunung, Yuni akhirnya
memutuskan melakukan ekspedisi.

“Tapi, sebenarnya naik gunung itu banyak tidak enaknya,” sesaat Yuni, tersenyum. “Yang enak cuma pemandangannya. Sisanya nggak enak semua. Ya capek, dingin, tidur tidak nyaman. Tetapi, disini ada suatu pembangunan mental. Dari situ pasti ada satu asalan tertentu yang kita dapat. Kita pasti diajak keluar dari comfort zone, dengan iklim yang ekstrim.”

Yuni menggambarkan saat ia mendaki Kilimanjaro kemarin. “Aku sampai ngerasa, ‘duh, nih gunung bukan untuk gue. Beratnya. Bukan waktunya lagi.’ Sepanjang jalan mikirnya begitu. Apalagi waktu ke summit. Udara tipis, dingin banget, capek. Muka sudah kebakar semua. Minuman di botol sudah jadi es. Pakai kaos kaki dua lapis pakai sepatu terbaik, tapi masih beku juga. Tapi dari situ, tanpa disengaja kita dibawa keluar dari zona kenyamanan kita. Kita merasa ada sesuatu yang kita dapat. Ketangguhan mental sepertinya diasah. Kita jadi mensyukuri pada hal sederhana yang kita punya. Disitu kita dibuat sengsara. Ternyata d rumah nikmat banget. Itu yang kita bayangin, begitu kita pulang, kita merasa lebih appreciate pada apa yang kita punya,” kata Yuni.

Kalau dulu saat masih usia 20 tahunan, diakui Yuni, jiwa ingin menaklukkan puncak gunung masih tinggi. Tapi setelah usia diatas 35 tahun, “yang penting kembali dengan selamat.” Yuni pun tertawa lepas.

“Sekarang, naik gunung, harus ada manfaatnya untuk orang lain. Ada anggapan, kok di Indonesia orang-orang berkegiatan adventure hanya waktu kuliah saja. setelah menikah, berhenti. Sedangkan kalau kita pergi ke luar, orang umur 60, masih saja jalan. Usia bukan faktor penghalang,” ujar Yuni.

Akhirnya timbul pemikiran-pemikiran lain. “Kenapa kita tidak sekalian punya satu misi yang bermanfaat untuk orang lain. Akhirnya kita gandeng-gandeng dengan Lupus.”

Tahun depan, tim ekpedisi wanita ini akan menaklukkan puncak Kayambe, salah satu puncak tertinggi di ekuador, selain 2 puncak lainnya, Kilimanjaro dan Cartenz Piramide.

“Orang pikir kita senang-senang, pergi terus. Siapa bilang?” alis Yuni terangkat. Di Kilimanjaro kemarin, GSM sampai di puncak. Jadi tiap hari ibu saya sms. ‘Ini jam 10 anak-anak belum pulang di bawa Lodi.’ Saya terus sms Lodi suruh bawa anak-anak pulang. Itu di ketinggian 4000 loh,” cerita Yuni sambil tertawa. “Belum lagi sms dari ibu, ‘Yun, besok mau ketemu kepala sekolah, apa yang harus diomongin ?’.”

Yuni memang sangat memperhatikan perkembangan tiga anaknya. Sejak kecil, ia dan Lody mengajak anak-anaknya mengenal alam.

“Saya baca, anak-anak yang lahir tahun 95, adalah generasi Z. Yang hidupnya sudah terlalu dikelilingi screen, mulai dari televisi, psp, gameboy, termasuk handphone. Ada plus minunya. Saya ingin mem-balance mereka. Karenanya, kalau weekend saya ajak ke citarik. Mereka bergaul dengan anak-anak kampung. Belajar juga supaya tahu bahwa kehidupannya tidak hanya teman-teman mereka di sekolah. Mainan-mainannya juga beda,” ujar Yuni.

“Mereka kita bawa ke alam, bukan karena ingin mereka seperti kita. Tapi mereka harus belajar juga hal-hal yang tidak nyaman. Bukankah anak-anak sekarang kemana-mana pakai AC. Di sana mereka harus mau tidur di tenda,” ungkap Yuni, senang.

Aien Hisyam

November 12, 2009 Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Wanita | Leave a comment

Natasha Pramudita

“Penyanyi Rock Kok Pakai Kerudung”


Ia penyanyi rock yang kerap pentas di atas panggung, diiringi musik cadas. Namun, Tasha juga pengacara profesional dengan sejumlah kasus-kasus berat yang siap ia tangani.


Beberapa tahun silam, di sebuah kafe, Nathasa duduk di atas bangku terkaki tinggi. Ia menyanyi diiringi 4 musisi ala akusitik. “Terimakasih,” jawabnya membalas applause sejumlah tamu.

Jauh berbeda ketika Thasa –panggilan akrabnya- menyodorkan kartu nama. “Kalau kartu nama sebagai penyanyi, tidak ada. Adanya yang ini,” kata Tasha, sambil tersenyum. Tertulis ‘Law Office Nathasa & Partners’ di kartu namanya. “Jangan kaget. Sebenarnya, kalau pagi sampai sore saya pengacara, tapi sore sampai malam saya penyanyi kafe,” lanjutnya, sambil tertawa kecil.

Kata Tasha, penyanyi adalah selingan dalam hidupnya. Namun ketika ditanya, ia ingin lebih dikenal sebagai pengacara atau penyanyi, Natasha langsung tersenyum. Ia langsung menyebut dua-duanya.

Tasha sudah menjadi pengacara lebih dari 10 tahun lebih. Ia pun sering terlibat dalam kasus-kasus besar, termasuk menangani beberapa kasus di dunia selebriti. Sementara menjadi penyanyi, telah ia jalani sejak usia 3 tahun.

Merasa Dirugikan

Lulusan Universitas Trisakti, Fakultas Hukum ini punya cerita khusus mengenai pilihannya menjadi pengacara.

“Awalnya saya terlibat dalam satu perkara perdata sebagai saksi. Saya masuk ke sidang pengadilan, dan berada di pihak yang benar. Tapi, hasi persidangan, saya dirugikan. Saya berpikir, kok bisa yang salah bisa menjadi benar. Akhirnya saya berjanji akan jadi pengacara. InsyaAllah kalau saya jadi pengacara saya bela orang sesuai dengan porsinya,” kata Tasha.

10 tahun silam, Tasha resmi menjadi pengacara. Ia bekerja di sebuah Firma Hukum. Namun, karena menemukan banyak perbedaan idealisme di tempat ia bekerja, Tasha pun memilih keluar kerja.

Ia pun mendirikan Firma Hukum bersama 3 temannya.

“Kalau klien mengajukan masalahnya, saya lihat masalahnya dulu. Kalau harus membalikkan fakta, saya akan mundur. Nanti malah tidak bisa tidur. rejeki tidak seberapa, tapi tidur tidak nyenyak. Dan itu sering sekali. Pernah juga di dalam sidang saya mundur, karena dari awal tidak jujur,” ungkap Tasha.

Tasha punya idealisme tersendiri. Ia akan berjuang untuk kliennya sesuai porsinya. “Kalau tidak bersalah saya akan bela mati-matian. Misalnya dia dituntut 10 tahun, padahal dia harusnya dihukum 5 tahun. Saya akan membela dia sampai dia mendapatkan porsinya hukuman 5 tahun,” kata Tasha, lagi.

Mulut Dibikin Kelu

Tasha sadar, ia berada di lingkungan minoritas. Biasanya, profesi pengacara ini di dominasi para pria dan dari suku tertentu.

“Saya, sudah perempuan, dari Sunda pula. Teror juga sering sekali terjadi, ya ke telepon atau ke rumah. Sampai dikirimin surat-surat kaleng. Tapi, kalau saya benar, kenapa takut. Memilih menjadi pengacara, sama halnya orang memilih jadi dokter gigi. Kok berani dokter itu mencabut gigi dan melihat darah. Tapi orang harus melakukan itu karena pilihan,” ujar Tasha.

Jumlah pengacara perempuan, kata Tasha, perbandingannya 80-20 persen. “Biasanya perempuan memilih menjadi pengacara coorporate,” ujar Tasha.

Tasha tidak punya strategi khusus saat menyelesaikan kasus-kasus yang ia pegang.

“Saya doa saja. Saya ini kan cerewetnya setengah mati. Pernah waktu itu di persidangan saya sangat kelu dan pusing. Ada yang bilang, saya dan klien di bekukan mulutnya. Akhirnya saya diobati teman saya, Alhamdulillah akhirnya sembuh. MasyaAllah selama 1 bulan saya sakit-sakitan terus, dan yang menyembuhkan hanya doa,” cerita Tasha.

Setelah bekerja di kantor sendiri, Tasha lebih leluasa mengatur hidupnya. Ia bisa memilih kasus-kasus yang akan ia tangani. Termasuk mengurus si buah hati.

Selingan Main Musik

Sejak usia 3 tahun, hidup Tasha sudah bersentuhan dengan musik. Ia bahkan sering tampil disejumlah acara musik di TVRI. Ia juga aktif mengikuti perlombaan menyanyi. Barulah di bangku kuliah, Tasha menderikan rup band dan tampil di kafe-kafe.

“Bahkan saya bayar kuliah dari uang nge-band di kafe ini. Bukannya orang tua saya tidak mampu. Justru orangtua keberatan saya menyanyi, takut nilai IPK jelek. Ternyata saya bisa membuktikan dengan baik,” kata Tasha.

Seminggu, enam kali Tasha menyanyi di 6 kafe yang berbeda, dengan band-band yang berbeda. Ia pernah satu band dengan musisi terkenal seperti almarhum Andi Liyani, almarhum Imanez, juga dengan Once, dan Deni Caplin.

Bersama Deddy Dores, Tasha pernah mengeluarkan album lagu.

“Kemudian saya buat TASS Band. Lagu kami sempat menang di kategori pop alternatif di ajang Video Musik Indonsia. Kita juga pernah bikin lagu dengan Bondan Prakoso sebagai pemain bass, dan Ivan ‘Boomerang’ memegang gitar. Kita tampil di pangung-panggung rock. Kita aktif tampil di panggung-panggung musik rock dari tahun 2004 sampai tahun 2008 kemarin,” cerita Tasha.

Termasuk ketika Tasha memutuskan memakai penutup kepala. “Setelah pakai kerudung, saya tetap tampil di pangung-pangung musik rock. Tentunya dengan tetap pakai kerudung yang dibikin keren. Kemarin, waktu tampil di Makasar, ada yang komentar, penyanyi rock kok pakek kerudung. Waktu itu saya tampil dengan Once membawakan lagu-lagu rock lama yang dikemas ala kita,” kenang Tasha, tersenyum.

Saat ini, Tasha berubah haluan. Ia masih tetap menyanyi lagu-lagu rpck, tapi ia juga menyanyikan lagu-lagu religi. Satu album reliji baru saja ia luncurkan, berjudul ‘Suara Kalbu’.

“Saya sangat senang dengar lagu-lagu reliji. Setiap pemusik yang bikin album reliji, pasti saya beli, dan coba saya nyanyiin. Akhirnya saya memutuskan terjun di lagu ini. Kebetulan saya dapat produser Tohpati. Jadi, album ini tidak seperti lagu reliji bernuansa Arab, karena segala umat bisa mendengarkan lagu-lagu reliji saya,” kata Tasha, senang.

Tasha bahkan berniat memberikan hasil penjualan albumnya dan RBT, pada yayasan yang mengurus anak-anak Yatim Piatu.

Aien Hisyam

November 12, 2009 Posted by | Profil Seniman, Profil Wanita | 1 Comment

Meike Rose

Love Itu Basic



Di acara variety show ‘Take Me Out’, tugas Meike cukup unik. Ia menjadi  komentator yang dijuluki Peramal Cinta. Satu profesi yang ia dapat karena kelihaiannya ‘membaca’ nasib seseorang.


Wajah Meike tak asing lagi, semenjak ia duduk di kursi komentator, di acara berating tinggi; ‘Take Me Out’ dan take Him Out’. Ia harus mengomentari chemistry pasangan yang berhasil terpilih di ajang perjodohan ini.

“Sebagai Peramal Cinta, saya selalu ditanya petuah-petuahnya. Tujuannya agar pasangan bisa jalan dengan baik, sesuai harapan,” kata, Meike Rose, tentang tugasnya.

Peserta, kata Meike, sama-sama berniat mencari pasangan hidup. ”Saya percaya dengan chemistry, dan percaya jodoh di tangan Tuhan. Tapi, semua harus ada perjuangannya. Dari perjuangan inilah kita akan lebih menghargai hidup. Nah, yang penting coba dulu, ” ujar Meike, tersenyum.

Agar, hubungan berjalan sesuai harapan, kuncinya, kata Meike, perlu adanya keseimbangan. “Jadi, memang perlu adanya nasehat dan peringatan. Karena manusia banyak kurangnya. Kadang dari peserta dan masalah-masalah orang, saya bisa belajar sesuatu,” lanjut wanita yang juga pengajar meditasi ini.

Setelah Perpisahan

Melihat hidup Meike saat ini, sulit dipercaya bila wanita ini punya masa lalu yang menyakitkan. Ia bercerai dengan suaminya, dan hidup terpisah dengan anaknya. Di saat hidupnya erat dengan cobaan, Meike nekat ke Jakarta. Kota yang awalnya tidak ia sukai, karena terlalu padat, berisik, dan sangat hiruk pikuk. Meike lebih suka tinggal di kota-kota kecil.

“Itu tahun 2004 akhir. Saya bawa dua koper, turun di Gambir (stasiun Kereta Api), dan bengong di sana. Sempat saya mau pulang lagi ke Semarang. Tapi, feeling kok mengatakan, saya harus putar-putar Jakarta dulu,” kenang Meike.

Ke Jakarta pun, di awali Meike dari mimpi. Wanita yang sejak kecil memiliki bakat meramal dan membaca nasib, beberapa kali di bayang-bayangi gambaran kota Jakarta, dan orang-orangyang mengenal dirinya.

“Padahal saya tidak suka Jakarta. Kebetulan ada satu peristiwa yang mau nggak mau membuat saya harus pindah ke Jakarta,” ungkap Meike.

Tanpa sengaja, taksi melewati Tea Addict, satu lounge berkelas di kawasan Senopati. Meike langsung teringat kejadian lama, ketika ia masih tinggal di Semarang, rumah orangtuanya.

“Waktu itu saya sedang buka-buka majalah, ada artikel Tea Addict Lounge. Saya langsung feeling sama tempat ini, saat itu hanya membatin saja. Ternyata sampai Jakarta, saya memang diarahkan untuk ke Tea Addict,” ujar Meike.

Ia langsung melamar untuk bekerja menjadi peramal memakai teh. Meike bersyukur karena langsung diterima. Sayangnya, ia masih sulit mendapat klien.

Barulah dewi keberuntungan datang, ketika salah satu kliennya  mengajaknya bergabung menjadi konsultan di satu majalah wanita terkemuka. Tak berapa lama, wajah Meike sudah menghiasi acara infotainment KISS di televisi Indosiar.

“Kita harus bisa bedakan antara nafsu dan nurani. Tapi kita juga harus percaya takdir. Nah, yang tengah-tengahnya ini yang susah. Takdir kan tidak bisa dihindari,” ungkap Meike

Sering Hilang

Meike tak hanya bisa meramal dam ‘membaca’ nasib orang lain. Ia pun bisa ‘melihat’ masa depannya sendiri. Satu hal yang unik ketika ia sudah diberi gambaran calon suaminya. “Saya sampai cari di tempat anak-anak band. Ada nggak cowok yang rambutnya begini, tampangnya begini dan namanya ini. Setelah ketemu, saya sama sekali tidak ada perasaan suka. Tapi saya tau cowok itu akan jadi suami saya. Kok lama-lama kita jadi sama-sama suka dan menikah. Ironisnya, jauh hari, saya juga sudah tahu bakal cerai dengan dia,” ungkap Meike, dengan suara pelan.

Semula, Meike merasa terganggu dengan ‘bakat’ alaminya ini. Sejak balita, ia sudah terbiasa berteman dengan mahkluk dari alam ghaib. Meike kecil, bahkan sering ‘hilang’ dan datang tiba-tiba. “Ibu sampai bawa saya ke sejumlah paranormal. Tapi tetap saja bakat ini tidak bisa hilangkan,” katanya.

Karena merasa berbeda, Meike sering menarik diri dari pergaulan. Ia menjadi anak yang tertutup. Barulah di usia dewasa, Meike berani menunjukkan ‘kelebihan’nya ini. Apalagi ia merasa dengan ‘ilmu’nya ini,ia bisa membantu banyak orang. Memberi peringatan bila orang tersebut dalam bahaya, bahkan memberikan gambaran negatif pada orang lain, demi mencapai kebahagiaan.

”Saya lebih senang disebut fortune teller. Saya lebih senang memberitahukan keberuntungan pada orang lain. Kalau kita kasih tahu ada yang buruk buat orang itu, dia akan melakukan tindakan preventif, itu juga termasuk keberuntungan. Termasuk masalah love atau percintaan, kalau kita kasih yang positif buat dia, itu juga namanya keberuntungan,” ujar Meike.

Love Sebagai Basic

Meski lebih suka disebut fortune teller, akhir-akhir ini Meike sering disebut-sebut sebagai Peramal Cinta.

“Love itu basic. Kita lahir juga dari love. Dasar kita ada di dunia juga love. Energi kan basic. Kalau kita bisa kasih tahu seseorang tentang sesuatu yang bisa membangun suatu cinta, otomatis dunia akan menjadi baik. Bagaimana kita sehat kalau percintaan kita tidak sehat. Bagaimana kita mau dapat duit kalau cinta kita tidak sehat,” kata wanita kelahiran 24 Mei 1974 ini.

Kalaupun ada orang yang datang ke Meike untuk meminta pertolongan, “itu disebut amanah. Kita tidak boleh asal-asalan, apalagi hanya sekedar untuk mendapat uang duit. Itu pantang buat saya,” tega Meike.

“Untuk menuju yang baik kadang harus melewati yang tidak baik dulu kan? Tidak ada yang jelek di dunia ini, tergantung darimana melihatnya. Susah sekali orang bisa mengambil hikmahnya, karena kesadaran orang untuk menjadi baik, itu gift. Banyak yang sudah salah, tetap aja ngotok mengaku benar,” kata Meike.

“Kita berbuat untuk hari ini saja. Bagaimana kita mau ngomongin masa depan yang baik kalau hari ini kita tidak berbuat baik. Apa yang kita lakukan hari ini, itu yang menentukan kita masa depan,” lanjut guru meditasi ini bijaksana.

Aien Hisyam

November 12, 2009 Posted by | Profil Wanita | 286 Comments