Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Suzy D. Hutomo

Bukan Wanita yang Senang Publikasi


Banyak hal terjadi, yang membuat Suzy harus berkompromi. Termasuk ketika anak-anaknya memilih bersekolah secara homeschooling, dan ketika global warming menyerang. Apa hubungan keduanya?


Ia bukan wanita yang senang dipublikasi. Ketika, lampu kamera tak henti memotret tubuhnya, Suzy gelisah. “Wah, saya bukan artis loh, kok banyak bener motretnya,” ucapnya.

Usai memberikan mempresentasikan bahaya global warning di depan mahasiswa, Suzy bercerita panjang tentang aktifitasnya di bidang lingkungan. Termasuk, kepergiannya mengikuti training Al Gore, bulan Juli lalu di Melbourne, Australia.

“Dibagi-bagi ‘lah waktunya,” kata Suzy tentang kesibukannya. Wajar saja Suzy berkata demikian. Ia tak hanya ibu dari anak remaja yang menjalankan pendidikan secara homeschooling, tapi juga CEO The Body Shop Indonesia (TBS). Satu toko perlengkapan perawatan tubuh asal Inggris yang didirikan Anita Roddick.

Ada benang merah antara aktifitas Suzy di bidang sosial dan lingkungan. Selama ini, TBS sangat konsen pada lingkungan juga masalah-masalah perempuan.

Peduli Sejak Remaja

Pribadi Suzy terbentuk sejak ia masih kecil. Terus berlanjut ketika ia kuliah di New York, Amerika Serikat.

“Saya konsen di masalah llingkungan dari muda. Dari SMA. Saya dulu sering ikut aktivitas pecinta alam, juga pecinta binatang. Lalu saya sekolah di New York, mulailah saya join gerakan-gerakan lingkungan. Waktu itu masih simpel tidak seperti sekarang,” kenang Suzy.

“Dulu, waktu saya sekolah di luar, di sana ada banyak aktifitas kurikuler. Pecinta alam dan pecinta binatang itu masuknya buat anak-anak muda,” kata Suzy.

Berlanjut hingga Suzy menikah. “Saya dan suami mencari bisnis, dan kebetulan kita sama-sama senang dengan The Body Shop. Dari situlah kita menjadi semakin konsen di lingkungan,” ujar Suzy, bersemangat.

Bersama Hutomo Santosa, suami Suzy, mereka berdua mendirikan TBS di Indonesia, di tahun 1992, di bawah naungan PT Monica Hijau Lestari.  Awalnya, TBS bergerak sebagai Provider Manager. Karena prestasi kinerjanya, iapun  diberi kepercayaan oleh Gordon Roddick untuk menset-up kantor The Body Shop Asia Pasific Regional.  Posisinya saat itu sebagai Regional Marketing dan Values Director Asia Pasifik.

Suzy tidak hanya merasa dekat secara pekerjaan. Dengan si pemilik, mendiang Anita Roddick, Suzy mengaku sangat dekat. Ia juga sangat terpukul dan kehilangan ketika Anita meninggal dunia.

TBS sangat peduli dengan lingkungan. Suzy mencontohkan, saat ini seluruh toko TBS tidak lagi memakai pajangan yang terbuat dari kayu. Semua didesain dari bambu, metal dan kaca. TBS juga menerima kembali botol-botol bekas TBS.

“Awalnya Kita lebih banyak mengurus emisi kita sendiri. Itu komitmen nomor satu,” tegas Suzy. Lambat laun, TBS mulai melakukan aktivitas berupa kampanye dan pemberian informasi melalui liflet. Kegiatan yang pernah dilakukan diantaranya melakukan penanaman 10 ribu pohon.

Setelah Jadi Presenter

Suzy selalu total dalam bekerja. Pilihannya sebagai aktivis lingkungan, ia jalani dengan sangat serius. Pun ketika ada tawaran training Al Gore di Melbourne, Australia belum lama ini, Suzy langsung mengambil kesempatan tersebut.

“Kegiatannya, baru tanggal 12 Juli lalu, selama 3 hari. Ada sekitar 25 negara yang ikut, dan dari  Indonesia ada 50 orang. Ada yang dari pemerintahan sekitar 10 orang, ada juga yang meneliti Badak Jawa, ada aktivis lingkungan, aktvis sosial, sampai wartawan,” cerita Suzy antusias.

Awalnya, kata Suzy, ia ditawari untuk mengisi aplikasi yang ada di di internet, yang dibuat BNPI. ‘Ibu Amanda Tapili, presenter pertama di Amerika. Dia yang menyebarkan berita ada Training Al Gore. Kita harus ikut tes berhalaman-halaman. Dan ternyata, dari Indonesia yang apply lebih dari 250. Setelah disaring, terpilih 50 orang. Itupun, Indonesia sudah dapat jatah banyak, karena Indonesia penting untuk gerakan lingkungan. Indonesia menjadi salah satu Tropical Forest di dunia,” ujar Suzy.

Kini, Suzy semakin percaya diri saat berbicara tentang kondisi lingkungan yang sedang terjadi di dunia, termasuk salah satunya adalah masalah Global Warning.

“Melihat presentasi ini, orang pasti akan sadar. Apalagi masalah ini terjadi secara progresif. Meningkatnya semakin cepat dan semakin tinggi. Kita harus segera sadar dan mengantisipasinya. Liha saja, badai-badai semakin sering. Kecepatan perubahan iklim ini sedang terjadi, dan kita harus peduli,” kata Suzy.

‘Profesi’ baru Suzy sebagai presenter, dijalaninya dengan penuh antusias. Itu berarti, Suzy akan semakin sering mempresentasikan tentang bahaya perubahan iklim ini, termasuk berkampanye di ruang publik.

“Memang susah sih. Itulah kenapa saya ikut jadi presenter. Karena ya itu, sering kali kita ngomong-ngomong begitu, orang hanya berkomentar, “apa sih”. Tapi, sejak saya jadi presenter, jadi lebih mudah. Karena saya sudah di training, jadi saya bisa jawab. Dan yang kedua, saya punya alat ini,” ujar Suzy, senang.

Masalah Trafficking

Selain masalah global warning, perempuan, dan AIDS, saat ini Suzy bersama TBS tengah mempersiapkan isu baru yaitu trafficking pada anak-anak.

“Sekarang kita ada tema lain lagi, trafficking. Nanti bulan November mulai dikampanyekan. Itu urusan sosial, selain urusan lingkungan. Kalau ligkungan itu sudah menjadi dasarnya, dari awal sampai sekarang. Ke depan, kita akan mangangkat masalah perdagangan manusia. Secara global Body Shop lagi mengkampanyekan ini. Semua negara lagi kampanyekan juga. Karena, ada negara penerima, dan ada negara pengirim. Indonesia adalah negara pengirim. Kalau negara penerima seperti Amerika, Jepang dan banyak lagi,” ujar Suzy. Untuk masalah ini, TBS bekerjasama dengan ECTAT, Yayasan yang menyebar di dunia yang bergerak di masalah trafficking.

Trafficking yang dijadikan tema pun, adalah trafficking yang menimpa anak-anak, yaitu yang di bawah usia 18 tahun. “Kasihan sekali kalau mendengarnya,” ungkap Suzy, dengan nada lirih.

Suzy memang sangat respect terhadap masalah anak. Meski kesibukannya sangat padat, Suzy tak pernah meninggalkan waktu-waktu kebersamaan dengan tiga anaknya, Luisa, Leonardo dan Lyria.

“Masak saya bisa respek dengan orang lain, tapi tidak dengan anak saya?” ujar Suzy tentang pilihan anak-anaknya yang memilih homeschooling. “Untungnya, meskipun homeschooling, bukan berarti mereka tidak suka bersosialisasi. Tapi, dia memiliki personaliti yang kuat, seperti ayahnya. I respect my children, dan perubahan terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya menghargai anak saya,” lanjutnya, bangga.

Aien Hisyam

November 3, 2009 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: