Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Perucha Hutagaol

Serunya Memecahkan Misteri

Ala backpacker, Ucha menjelajahi 37 negara. Ia enjoyed karena dengan biaya murah, ratusan tempat bisa ia kunjungi.


Menjadi backpacker, kata Ucha, tidaklah mudah. Kondisi itu digambarkan dalam buku Ucha berjudul ‘The Naked Traveler’ –selanjutnya, Ucha memplesetkan; The Nekad Traveler. Buku yang pengarangnya ditulis dengan nama Trinity. “Saya terisnpirasi dengan tokoh Trinity di film Matrix,” jelas Ucha, singkat.

Banyak yang terkagum-kagum dengan kenekatan wanita single ini. Bayangkan. Ia sendirian ‘berwisata’ ke puluhan negara, berbekal uang yang terbatas, dan cuek saja bila harus menginap di hostel (penginapan murah) yang satu kamar bisa memuat 10 tempat tidur, dan Ucha perempuan satu-satunya.

“Kepuasannya beda. Kalau kita jalan sendiri, kita bisa datang ke tempat-tempat yang benar-benar menarik buat kita. Pengin ke pantai, ya kita ke pantai. Pengin ke gunung, ya kita bisa ke gunung. Tanpa ada ikatan. Beda kalau dengan tour leader, jadi tidak ada pilihan,” katanya.

Proposal di Libur Panjang

Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Ungkapan yang sama di kehidupan Ucha dan keluarga.

“Bapak polisi dan Ibu bekas Menwa (Resimen Mahasiswa). Jadi dari kecil, keluargaku suka pindah-pindah. Ditambah lagi, waktu masih kecil, kita suka liburan bareng ke tempat yang aneh-aneh. Misalnya, kalau banyak keluarga liburan ke Bandung, kita justru ke pantai Pelabuhan Ratu, ke tempat yang asing buat kita. Jadi, sejak kecil kita suka diajak berpetualang,” kenang wanita kelahiran 11 Januari 1973.

Ibunya pun kerap memancing rasa ingin tahu anak-anaknya. Setiap kali tugas ke luar negeri, Ibu Ucha, Liya Djajadisastra, mengirim postcard-postcard cantik.

“Dulu waktu kecil, pengin sekali lihat salju. Suka membayangkan, seperti apa ya gunung es itu? Kayak apa ya rasanya ke negara orang lain? cuma  waktu kecil, saya nggak pernah diajak ke luar negeri,” ujar Ucha sambil tertawa lepas.

Di bangku SMP, Ucha mulai tidak tertarik turut serta di acara piknik keluarga. Orang tuanya, RB. Hutagaol dan Liya, juga tidak bisa mengantar-ngantar anak-anaknya berlibur.

“Akhirnya kalau liburan, ibu bilang, “ya sudah bebas berlibur, tapi kamu bikin proposal. Tulis keinginanmu mau kemana, biayanya berapa, dan sama siapa.”  Dan hebatnya, Ibu selalu meng-acc proposal-proposal kita. Sekarang saya berpikir, ternyata kami sudah dimenej sejak kecil,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini, senang.

Meski usia baru belasan tahun, Ucha pernah berwisata bersama teman-teman sebaya ke Bandung, Sukabumi, dan banyak lagi.

Nekat ke Luar Negeri

Jiwa petualang Ucha, juga terasah di kegiatan Pramuka, PMR dan Pecinta Alam. Meski ia sering berpetualang mendatangi kota-kota di Indonesia, Ucha mengaku tak cukup puas.

“Ingin sekali bisa ke luar negeri,” katanya, singkat.

Hanya saja, lanjut Ucha, untuk ke luar negeri ongkosnya sangat mahal. Mulailah, di tahun 1995, disaat usianya baru 22 tahun, Ucha mencari cara-cara yang murah agar bisa ke luar negeri.

“Terus saya lihat bule-bule yang ada di Jalan Jaksa (tempat mangkal backpacker di daerah Jakarta Pusat). Saya mikir, kok bisa ya mereka sampai ke sini, padahal mereka juga baru saja kerja dan lulus SMA. Uang pun terbatas. Bahkan ada yang tukang pos. Ternyata, mereka selalu cari yang murah. Mereka tidak tinggal di hotel, juga cari tiket selalu yang paling murah,” ujar alumnus Asian Institute of Management, Makati, Philippines bergelar Master in Management..

Saat itu, Ucha belum mengenal istilah backpacker.

Ucha juga masih berstatus karyawan. Ia pernah menjadi part timer di Mac Donalds, pernah menjual kartu-kartu previllege hotel, menjadi LO,  dan mengajar  bahasa Indonesia untuk ekspatriat.

“Nah, barulah, setelah punya uang sedikit, jalan deh,” katanya, senang.

Ucha ingat betul saat pertama kali berpetualang ala backpacker.

“Saya ke agen-agen travel. Ngembatin (mengambil) brosur-brosur. Waktu itu saya juga kenalan sama orang, dan dikasih tahu cara-caranya menjadi backpacker,” kenang Ucha.

Ia ditemani seorang teman yang punya saudara di Belanda. Ia urus sendiri visa di kedutaan besar. Karena belum ada Uni Eropa, khusus untuk mengurus Visa, Ucha mendatangi satu persatu kedutaan. Waktunya, sampai 1 bulan, hanya untuk apply Visa.

“Akhirnya, tahun 95, untuk pertama kalinya saya ke Eropa,  selama 1,5 bulan. Keliling mulai dari Inggris, Belanda, Belgia, Luxemberg, Perancis, Ceko dan Jerman. Dan saya puas bisa berkeliling ke puluhan tempat, karena saya hanya mengeluarkan biaya yang sangat minim,” ujar Ucha.

Trik Ala Backpacker

Pengalaman pertama ke luar negeri, tentu saja sangat berkesan.

“Saya bikin kartu pelajar Internasional. Di sana pelajar masuk museum, nginep, beli tiket kereta, semua dapat diskon. Saya juga beli tiket Eurail Pass, atau tiket terusan naik kereta di Eropa. Di sana ada buku-buku yang dikasih gratis, dan ada petunjuknya dengan jelas. Jadi, saya merasa tertolong,” kenang Ucha yang saat ini bekerja di PT. Excelcomindo Pratama Tbk.

Ditambah lagi, Ucha kerap melakukan perjalanan di kala musim winter, dimana orang-orang enggan melakukan perjalanan jauh. Katanya, saat itu harga-harga banyak yang turun.

Biaya yang dikeluarkan Ucha sangat minim. “Dulu, tiket pesawat masih 600 US Dollar dengan kurs masih 2000 rupiah. Menginap di hostel juga sekitar 10 dolar satu malam,” jelas Ucha.

Orang Eropa memang terbiasa melalukan perjalanan. Ucha punya pengalaman berkesan. Saat ia melakukan perjalanan dari Belanda ke Perancis, “sampai di Paris, ada subway. Kita nggak tahu, seperti apa metro bawah tanah itu. Kita juga bingung baca petanya. Warna ini kemana, warna itu kemana. Dan lagi, tourism information-nya tidak bisa bahasa Inggris. Kita benar-benar seperti memecahkan misteri,” Ucha mengenang pengalamannya.

Menginap pun, Ucha tak berharap lebih.

Backpacker menginapnya di hostel (satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model bertingkat disebut bunk bed). Waktu di Eropa, pernah saya nginep ada 10 tempat tidur, 5 bunk bed. Saya cewek sendiri, dan satu-satunya dari Indonesia. 9 lainnya, cowok. Saya biasa saja. Mandi pun pakai shower yang digabung dengan yang lain. Waktu itu di Scotland. Yah, mau gimana lagi?,” ucap Ucha sambil mengangkat bahu.

Biasanya, lanjut Ucha, di satu tempat, ia berkenalan dengan orang lokal. Selalu saya tanya, “eh, kamu kalau hang out dengan teman-teman dimana?” nah dari situ, diajaklah saya ke satu tempat yang selalu berkesan.”

Seluruh pengalaman Ucha selama 13 tahun berpetualang, ditulis dengan lengkap di dalam buku bersampul biru, ‘The Naked Traveler’. Tak hanya petualangannya di luar negeri, tapi ada juga cerita-cerita menarik Ucha saat ber-traveling di kota-kota Indonesia.


Terpenting, Pakai Feeling!

Menulis Buku…

Itu tidak sengaja. Dari dulu saya memang suka menulis. Awalnya, saya hanya membuat catatan harian setiap kali saya traveling.  Saya ketik, dan saya bagi-bagikan ke teman-teman. Setiap saya pulang, oleh-olehnya begituan. Ada teman  yang bikinkan blog. Saya sih gaptek. Akhirnya saya tinggal posting-posting tulisan saya. Karena yang hit banyak, akhirnya ada penerbit yang tertarik membuat bukunya. Saya bikin blog tahun 2005, dan tahun 2008 bukunya diterbitkan.

Kuncinya Menjadi Backpacker…

Hanya satu. Rajinlah menabung. Ditambah lagi, saya tidak suka belanja, tidak suka dandan, dan tidak suka beli baju-baju bermerek. Punya uang, saya jalan. Yang terpenting adalah bisa memenej diri sendiri. Menghadapi situasi dan orang, kita harus pakai feeling. Misalnya kita bertemu orang yang ngomongnya manis sekali, justru kita harus curiga. Kita juga harus banyak bertanya dan punya toleransi yang tinggi. Misalnya tidur di hostel, dengan banyak orang, ada yang ngorok, ada yang bau, dan sebagainya. Prinsipnya, ada harga ada mutu. Kalau mau gembel ya fasilitas gembel. Ekspektasi jangan terlalu tinggi. Memang tidak mudah, tapi kepuasan disitu sangat besar.

Menjadi Backpacker Selamanya…

Justru baru saja kemarin saya pikirin. Gimana ya kalau saya jadi orang kaya, apakah saya masih tetap jadi backpacker. Mungkin faktor umur berpengaruh, pasti sudah tidak selincah dulu. Atau sistemnya bisa seperti ibu saya. Dia ‘terbang’, terus dia cari tur lokal. Itu jauh lebih murah. Ibu sampai sekarang masih suka jalan. Ibu suka jalan sendiri, kadang sama adik saya. Kadang-kadang kita suka ketemuan di luar. Saya pernah ke Finlandia, Ibu ke Rumania, kita ketemu di Austria. Kalau saya nginepnya di hostel, beliau nginapnya di hotel bintang tiga.


Kisah Unik Backpacker Wanita

Banyak kisah menarik yang terjadi, selama Ucha berkeliling ke luar negeri ala backpacker.

“Di Athena (Yunani), saya yang tukang nyasar memilih untuk mengikuti walking tour ke Acropolis yang terletak di atas bukit dan situs-situs lainnya yang terletak di kota tua dengan jalan-jalan yang ruwet dan sempit. Semalam sebelumnya, saya sudah deg-degan membayangkan harus kejar-kejaran jalan sama bule-bule jangkung. Ternyata, besok paginya, peserta cuma seorang, saya doang. Jadilah saya yang mengatur kecepatan jalan dan ternyata si guide yang gendut napasnya pendek. Lebih sering dia yang minta berhenti karena terengah-engah,” kenang Ucha, seperti yang ia kisahkan di bukunya.

Ketika bercerita tentang alat transportasi, Ucha mengenang kejadian di Puerto Princessa.

“Saya naik Jeepney (angkot di Filipina yang menggunakan Jeep Willis jaman Perang Dunia yang telah dimodifikasi). Dari kota Puerto Proncessa ke Sabang di Pulau Palawan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan offroad. Jeepney yang kecil itu bisa dinaiki 45 orang sampai ke atap, bahkan sopirnya pun pangku-pangkuan dengan penumpang. Di tengah jalan, turunlah hujan deras dan semua orang berdesak-desakan masuk. Jendelanya yang tanpa kaca ditutupi plastik gulung. Duh, pengapnya tidak keruan!” Ucha mengenang.

Ucha senang dugem. Ia kerap mendatangi tempat-tempat hang out anak muda di satu kota.

“Di Amsterdam, yang terkenal dengan kempanye legalize canabis, merupakan salah satu pusat dugem dunia. Apakah karena legal menggunakan ganja, saya tidak tahu. Tapi memang mudah mendapatkan ganja yang ingin Anda pilih di antara jejeran ganja yang berasal dari mancanegara. Ganja Indonesia termasuk yang ngetop dan mahal, lho. Tapi jangan harap Anda dapat membeli bir atau alkohol lainnya di tempat ini. Coffee Shop hanya menjual kopi dan ganja, sedangkan bar hanya menjual alkohol tanpa ganja,” terang Ucha.

Masih banyak kisah Ucha yang menggetarkan. Termasuk cara dan reaksi dia terhadap para pria yang berniat menggoda. “Kalau macam-macam, saya bilang saja kalau saya lesbian,” katanya, santai.

Aien Hisyam

Advertisements

November 25, 2009 Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Penulis | 1 Comment

Denok Vaiffin Purbaningtyas

Kepercayaan Berbuah Prestasi

Denok tak hanya cantik tapi juga feminin. Melalui jemari lentik, bidikan pistolnya ‘berbicara’. Nama Dhenok pun kian berkibar di lapangan tembak.

Baru 3 tahun Denok berlatih menembak. Ia direkrut khusus orang-orang yang melihat talentanya. Bakat yang selama ini masih terpendam dan baru muncul ketika kepercayaan datang.

Tahun 2005, Denok yang berpangkat Sersan Dua (Serda), dipindah tugaskan ke Brigif I PIK/JS. Ia diangkat menjadi spri Komandan Brigif 1 Pengaman Ibukota/ Jaya Sakti.

“Tentu saja senang. Berarti saya diberi tanggung jawab yang harus saya jalankan dengan baik,” katanya.

Perjalanan Denok masih panjang. Karirnya baru saja dirintis. Namun, prestasinya di bidang  lain, justru kian bersinar. Wanita kelahiran 26 Mei 1985 ini, kian mantap menjadi penembak ulung di jajaran Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat).

Banyak Ketertarikan

Menjadi tentara, adalah cita-cita Denok sejak remaja. Tidak ada pilihan yang lain. “Tapi dulu, pernah juga ingin jadi pramugari,” katanya Denok, tersenyum. Namun, keinginan itu kalah kuatnya dengan keinginan yang lain, menjadi prajurit militer.

“Kenapa bisa?” sesaat Denok tertawa kecil, “karena, dari awal saya sangat kagum dengan kedisiplinan dan kepatriotisme seorang prajurit. Dan kalau dilihat kemampuan, saya merasa mampu menjadi tentara wanita.”

Di usia 18 tahun, Denok yang akan menyelesaikan sekolahnya di SMAN 1 Pakem, Yogyakarta, mendaftarkan diri menjadi Kowad. “Sebelum ujian, ada pendaftaran, saya coba. Setelah ujian, saya lulus dari militer. Daftar dan tesnya di Jakarta, jadi bolak balik ke Jogya,” terang Denok.

Semangatnya tinggi, apalagi ia telah mengumpulkan brosur-brosur dan mendapat banyak masukan dari saudaranya yang bertugas di Mabes (Markas Bersar) AD.

“Saudara saya tanya, ‘kamu tertarik nggak untuk jadi Kowad?’ Saya jawab, ‘tentu saja saya tertarik.’ Terus dia beritahu kalau mau jadi Kowad, harus begini-begini-begini. Termasuk harus lari sekitar 2600 meter perhari, pagi dan sore, harus bisa push up segala. Tapi, saya melihat diri sendiri, saya mampu,” kata Denok.

Meski berat, Denok mengaku sudah terlanjur suka. Ia tertarik dengan kegiatan menembak, tertarik melihat kegagahan pasukannya saat berbaris ataupun upacara, dan ingin terlibat dalam bela diri militer (BDM).

Orientasi di Dalam Hutan

Diterima menjadi anggota Kowad, membuat Denok bangga. Ia menjelaskan, saat penyaringan, ia harus bersaing dengan 2000 orang lebih dari seluruh Indonesia. “Dari Jakarta saja, yang ikut tes 249 orang, tapi yang diambil 19 orang. Hasil seleksi ini kemudian dikumpulkan di Bandung. Ada sekitar 200 orang lebih. Jumlah ini disaring lagi jadi 100 orang,” jelas Denok, senang.

Denok resmi menjadi Kowad tahun 2003. Ia menjalani masa pendidikan dan orientasi di Pusdikkowad Kodiklat TNI AD di daerah Lembang yang berada di ketinggian 1.293 m diatas permukaan air laut.

“Awalnya stres juga. Pendidikannya begitu keras. Kita diharuskan disiplin bukan ala wanita, tapi disiplin tentara. Di situ sering kali kegiatan dilakukan dalam hutan. Malam-malam menembus hutan gunung. Kita harus punya keberanian, seandainya kalau kita perang ada musuh. Harus penyamaran. Sudah begitu, kita jalan bawa beban 8 kilogram dengan senjata. Semuanya sangat-sangat diatur dan disiplin. Alhamdulillah bisa juga,” kenang Denok.

Lulus pendidikan, “teman-teman disebar di seluruh indonesia. Ada yang sama-sama jadi sekertaris pribadi, ada yang di staf seperti staf pers, staf operasional, staf intel, atau operator komputer. Awalnya saya di operator komputer.”

Disuruh Menembak

Tahun 2005, Denok menjadi Spri Komandan Brigif 1 PIK/Jaya Sakti, Kol. (Inf) Dedi.

“Waktu itu, kata komandan, dilihat dari bentuk fisiknya, yang tinggi, saya ditanya, ‘kamu kuat lari?’, saya bilang, ‘kuat’. Terus langsung saja saya disuruh belajar nembak.” Denok pun tertawa kecil.

Denok mengaku, tidak punya keahlian menembak sama sekali. Di Brigif, ia melihat ada fasilitas yang disediakan untuk berlatih menembak. “Kebetulan dapat perintah dari komandan untuk belajar menembak, ya saya jadi semangat, berarti ada orang yang percaya saya. Berarti, saya harus bisa, bagaimanapun juga. Harus belatih. Mulai dari menembak tanpa isi sampai berlatih angkat beban,” ungkap Denok, senang.

Denok kian bersemangat berlatih menggunakan pistol. Katanya, jadi satu pengalaman yang sangat berkesan. Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, ia sudah mahir menggunakan pistol.

Baru satu bulan ‘menguasai’ pistol, Denok sudah diajak mengikuti kejuaraan menembak KASAU CUP. Ia mendapat rangking 4 dari 30 peserta. Saat itu, Denok menggunakan pistol jenis Sig Sauer.

Tahun 2005, Denok yang memperkuat Tim Putri Kodam Jaya, mengikuti KASAD CUP. Kali ini, ia meraih Juara 1 Umum. “Sejak itu saya termotivasi,” kata Denok, mantap.

Denok mulai terlibat di banyak kejuaraan menembak. Ia pernah ikut di Asean Army Rifle Meet, dan terakhir tanggal 1 Agustus 2008, Denok menjadi juara 1 Umum menembak di KAPOLRI CUP, untuk perorangan.

“Saya seperti mulai menemukan dunia saya. Apalagi, sekarang, di Brigif, Komandan saya bapak Kolonel (Inf) Ali Sanjaya, memberikan waktu sekian longgarnya untuk latihan. Saya terserah membagi waktu saya untuk latihan pagi, siang, sore. Jadi, sejak itu saya usahakan seminggu 3 sampai 4 kali latihan,” ujar Denok, senang. Selama 3 tahun bertugas di Brigif 1 PIK/JS, Denok 3 kali berganti komandan.  

Bukan Sekedar Mawar

Denok tetaplah wanita muda yang punya banyak keinginan.

“Yah, mungkin salah satunya keinginan untuk main,” sesaat Denok tertawa kecil. Ia menyadari, saat ini ia memiliki dunia yang berbeda dengan dunia wanita muda pada umumnya. Yang penuh aturan dan kedisiplinan tinggi.

“Jadinya, kalau hari libur dan betul-betul lepas dari dinas, saya baru bisa main ke mal, jalan-jalan atau lihat yang hijau-hijau di gunung. Main dengan teman-teman sipil. Saya tidak ingin kehilangan diluar kotak ini. Supaya hidup ini balance,” lanjut Denok.  Ia mengaku senang berdandan dan berpakaian feminin.

Denok begitu menikmati hidupnya. Ia tidak merasa dunianya sempit, walaupun sampai sekarang, Denok belum punya kekasih.

Seperti moto Kowad; Kami bukan sekadar mawar penghias taman, tetapi melati pagar bangsa, “saya ingin menunjukkan prestasi saya dulu,” katanya.

Denok ingin meraih cita-citanya hingga setinggi mungkin.

“Komandan kemarin bilang, ‘ukirlah prestasimu setinggi mungkin. Dan, gali bakat kamu di bidangnya.’ Kebetulan di Brigif saya aktif di kegiatan prokoler. Saya diminta terus menggali kegiatan saya di prokoler. Juga di komputer. Kata Komandan, sekolah lagi, kalau ada keahlian, InsyaAllah akan gampang,” ujar Denok.

Seperti impian para kowad lainnya, Denok ingin sekolah lagi meraih cita-citanya.

“Sekarang saya Bintara. InsyaAllah kalau sudah Serka, saya ingin sekolah lagi di Secapa ke jenjang perwira. Kalau sudah perwira, mungkin bisa ke atas lagi, sekolah di Selapa, jadi Mayor. Selanjutnya Sesko TNI ke tingkat Kolonel, atau Seskoad ke tingkat Letnan Kolonel. Setelah kolenel baru Bintang. Pinginnya sampai ke situ,” suara Denok terdengar mantap.

Menembak Itu Bukan Bidikan

Menembak yang Benar…

Ada tekniknya. Mulai dari cara-cara pembayangan pistol, kekuatan tangan yang harus stabil, pernafasan dan bidikan. Semuanya harus benar-benar konstan dari butir pertama sampai butir kesepuluh. Harus sama. Menembak itu bukan membidik, tetapi menembak itu teknik. Dari awal harus menggunakan teknik yang benar.

Menjadi Sekertaris Pribadi Komandan…

Adalah membantu segala keperluan komandan. Misalnya menyortir setiap surat yang masuk dan surat keluar. Kalau ada yang salah, kita kirim balik ke staf, kalau sudah benar baru kita kirim ke satuan-satuan. Komandan Brigade Infantri berarti pimpinan tertinggi di Brigif ini. Spri harus tahu, apa benar ada ini-ini-ini. Minimal saya harus datang jam 6 ke kantor. Walaupun komandan tidak ada di kantor, ya saya tetap di kantor.

Tugas Seorang Tentara…

Tentu saja mengamankan. Dari awal, tugas itu yang membuat saya tertarik masuk Kowad. Kita jadi merasa dibutuhkan orang. Dan saya, orang yang suka sekali tantangan. Dulu waktu saya ikut kowad, dalam bayangan saya, saya akan ikut berperang. Pengaman di sana-sini. Jadi saya tidak punya gambaran sama sekali dinas di kantor. Awal-awal menjalani tugas Kowad, sempat berpikir, kok seperti ini dunia kowad. Beda dari bayangan.

Rutinas Untuk Berolah Raga…

Sudah menjadi kegiatan rutin yang harus dijalani. Seminggu, 2 kali lari di Brigif. Dari ratusan anggota, perempuannya hanya berempat, termasuk saya. Jadi, kami harus mengikuti irama cowok. Paling jauh, lari 8 kilometer. Yang rutin antara 5 sampai 6 kilometer. Kegiatan rutin lainnya yaitu Semapta, atau kesegaran jasmani setiap 3 bulan sekali. Kami harus lari 12 menit keliling lapangan, push up 28 kali, Shit-up 42 kali, angkat badan, 61 kali, dan lari angka 8 hitungan detik.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Olahragawati, Profil Wanita | 9 Comments

Keke Soeryo

Ketika Insting Datang

Dunia model tak pernah lepas dari hidup Keke. Namun, ia juga  pemilik sekolah akting, sekaligus pemilik restoran. Apa keinginan Keke selanjutnya?


Wajah Keke masih terlihat cantik. Tahun ini, ia genap berusia 40 tahun. “Karena hidup saya enjoyed,” kata Keke, senang.

Ia pernah melewati era, menjadi top model Indonesia. Sebelas tahun silam, ia mendirikan Look Model Inc. Tanpa diprediksi muluk-muluk, modelling agency-nya berkembang sangat pesat.

Tampaknya, Keke tak ingin sukses di satu bidang saja. Dunia lain mulai ia rambah. Kini, ia juga dikenal sebagai artis dan pemain film, pemilik Performing Art School, bekerjasama dengan Didi Petet, juga pemilik Soeryo Café.

“Selain enjoyed, saya juga hidup seperti air mengalir. Tidak pernah dibawa susah apalagi stres,” tegasnya.

Berawal dari Model

Sudah 11 tahun Keke membawa Look Model Agency menjadi salah satu agensi khusus model papan atas.

“Selanjutnya, berkembang menjadi event organizer. Lulu (Lulu Dewayanti) yang pegang EO. Bahkan, sekarang punya sekolah sendiri. Ada sekolah modeling, performing art school, acting, public speaking,” ungkap Keke, bangga.

Khusus untuk sekolah akting, lanjut Keke, ia bekerjasama dengan Didi Petet. “Mas Didi kan pakar akting. Memang akan kelihatan hasilnya orang yang sekolah dengan yang enggak. Jadi, kalau ditanya gimana Look sekarang? Look sih terus berkembang.”

Keke merasa, akting sudah menjadi kebutuhan. Menjadi model saja tidak cukup. “Di modeling, orang hanya model saja. Kalau talent yang dilihat bakatnya. Nah sekarang alangkah baiknya kalau orang punya dua-duanya. Dan, sekolah saya ini diperuntukkan siapa saja yang mau terjun ke entertainment. Tidak harus model, karena akting, fisik bukan nomor satu. Beda sama model,” jelas Keke berpromosi.

Performing Art School baru 3 tahun berdiri. “Membikin sekolah akting ini, saya harus riset 2 tahun. Karena, sekolah ini buat orang lain, sifatnya sekunder. Tapi saya pikir, ilmu akting sudah diperlukan dimana-mana. Dalam keseharian saja kita butuh akting,” lanjut wanita yang pernah bermain sinetron berjudul ‘Turu Ranjang’, ‘Inikah Cinta’, Anak-Anak Surga’, dan ‘Gadis.

Tahun pertama, Keke mengaku agak berat. Tapi di tahun kedua dan ketiga ia mulai menjalankan dengan mudah. Sekolah akting ini bahkan sudah mencapai 15 angkatan. Tiap angkatan ada 10 orang.

Antara Palsu Dan Jujur

“Orang suka tanya, akting itu artinya apa sih? Palsu, bohong, atau jujur,” ujar Keke, tiba-tiba.

Wanita bernama lengkap Sri Nurhandayani Harun antusias bila bercerita tentang dunianya, akting -ia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul ‘Ten’.

“Saya sering dipanggil di berbagai lomba. Saya kasih pembekalan. Saya selalu sarankan mereka untuk belajar akting. Jadi akting yang tidak hanya untuk main film saja. Karena, kalau kita berbicara, meyakinkan orang, itu harus jelas dan mudah dimengerti. Nah, itu perlu belajar akting. Jadi akting itu kejujuran. Inilah edukasi yang saya tanam dari awal,” jelas Keke, bersemangat.

Keke sedih melihat kulitas sinetron Indonesia. Padahal, katanya, 75 persen masyarakat Indonesia penyuka tayangan televisi. Apalagi anak-anak.

“Bagaimana kita mengedukasi yang benar kalau acaranya kita saja seperti itu. Nah, saya ingin beri kontribusi walaupun hanya sedikit,” ungkap Keke.

Alasan itu pula yang membuat Keke punya visi ke depan, mencetak murid-murid yang berkualitas.

“Tapi kalau, mereka mau begitu, ya sah-sah saja. Itu kan pilihan. Mereka mau main sinteron seperti itu atau mau main film berkualitas, itu terserah mereka. Kan mereka juga butuh uang. Mau bagaimana lagi. Cuma saya arahkan ke mereka, lebih ke kualitas. Kalau kamu mau berkualitas, belajarlah pada tempatnya,” ujar Keke, bijak.

Keliling Daerah

Meski tengah asik di sekolah akting, Keke tak melupakan pekerjaannya di dunia modeling.

Beberapa tahun terakhir, Keke banyak menjalin kerjasama dengan agen-agen modeling di luar negeri. Tujuannya, agar ia bisa menyalurkan bakat anak-anak didiknya.

“Semacam pertukaran. Kalau kita mau masuk era globalisasi, alangkah baiknya kita kerjasama dengan modelling agency luar. Modal kita untuk ke sana. Saya ingin menghidupkan dunia fashion Indonesia, bisa sama dengan di luar,” ujar Keke, mantap.

Ia yakin karena, katanya, orang Indonesia, khusus di wilayah Asia, wajahnya paling bagus, termasuk dalam fashion industry. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan desain, orang Indonesia tidak kalah.

“Tapi untuk model, orang Indonesia tidak seperti orang asing. Orang asing hidungnya mancung, matanya biru, tulang pipinya tinggi. Kita memang kalah dalam gen. Tapi setelah saya keliling Indonesia, orang kita ternyata unik. Banyak yang tinggi juga. Cuma, diamond-diamond ini belum ditemukan,” ujar Keke.

Keke sudah 2 tahun menjalin kerjasama dengan Depdiknas, dan 1 tahun bekerjasama dengan Telkomsel, untuk mencari anak-anak remaja berbakat di daerah-daerah di Indonesia.

“Saya mencari anak-anak normal dan anak-anak tuna rungu. Saya hanya melihat, dunia yang saya punya ini ada sisi sosialnya juga. Saya ingin anak-anak tuna rungu ini bisa bersaing dengan anak-anak normal, dan saya juga ingin melihat bibit-bibit di daerah ini. Kadang mereka tidak mampu,” ungkap Keke.

Ia membina para remaja berbakat ini. Ada yang di bina di daerah, tapi ada juga yang dibawa ke Jakarta. Katanya, belum 100 persen berhasil, tapi paling tidak, Keke telah melakukan kegiatan 75 persen.

Insting Melihat Model

Keke bersyukur diberi insting tajam. Ia bisa melihat bakat seseorang, di pertemuan pertama.

“Saya suka bisa lihat. Memang tidak banyak. Walaupun dia lugu, padahal mereka keren. Karena mereka pada dasarnya fisiknya keren, tapi nggak bisa dandan. Nah untuk melihat itu, perlu dipoles dulu. Kalau saya tidak. Walaupun tanpa polesan, saya sudah bisa lihat bakat itu. Mungkin ini sebagai anugerah,” ujar Keke.

Ia mencontohkan, saat ke Medan, ia menemukan gadis manis berkulit hitam. Tingginya 178. Sekali bertemu, Keke langsung suka. Namanya Kimi. “Sekarang sudah jadi top model Indonesia,” katanya.

Beberapa kali Keke bertemu model asal daerah yang siap ‘dipoles’. Kini, ia makin rajin berkunjung di Medan, Menado, Semarang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, dan Bali. Ia berencana mencari ‘diamond’ asal Papua, Padang dan Palembang.

“Orang Indonesia kan macam-macam. Saya yakin ‘diamond’ ini ada di daerah, tapi belum ditemukan. Nanti mereka bisa ke Jakarta, dilatih, ditingkatkan percaya dirinya, bahasa Inggris, dan akhirnya mereka siap bersaing di dunia internasional,” ujar Keke, bersemangat. Aien Riyadi

“Kalau Saya Tahu, Saya Tegur!”

Menjadi Model Terkenal Berarti Siap…

Terima resiko. Itu masalah pilihan hidup. Yang memilih hidup ya kita sendiri. Kalau sudah jadi somebody, itu pilihan. Kalau kita mau digosipin, itu juga bisa. Hal-hal itu memang bisa menambah mereka jadi famous dan diketahui orang. Tapi ada artis yang tidak perlu begitu tapi tetap eksis. Dan itu juga banyak. Kalau sudah jadi public figure, kita harus siap dilihat orang. Karena pekerjaan memang begitu. Seperti model yang juga dilihat orang. Badanpun, dilihat dari angle manapun harus terlihat bagus. Kalau mental nggak tahan, kita terlindas dengan yang lain. Yang perlu diingat, model juga menyangkut usia. Kalau kita sudah tua, pasti mulai banyak keriput-keripout. Makanya saya menuntut mereka bisa acting dan bisa ngomong, supaya nanti bisa kemana-mana.

Kalau Ada ‘Anggapan’ Miring…

Itu juga pilihan, mereka mau begitu. Kita dikenal itu dari kehidupan kita seperti apa. Kita mau pacaran dengan suami orang, mau jadi lesbian, jadi gay, itu pilihan. Saya juga bukan ibunya (ibu para model yang ia didik). Tapi kalau saya kasih tahu, itu saya lakukan. Saya selalu bilang, kalau mau jadi model profesional, kamu harus lakukan ini-ini-ini. Dan kalau saya tahu itu, saya tegur. Tapi itu diluar pantauan saya. Saya orangnya terbuka saja. Dengan mereka saya tempatkan sebagai couching. Karena kalau saya tempatkan jadi orang tua juga susah. Saya juga tidak bisa tempatkan diri sebagai teman. Memang harus seperti itu, karena kalau nggak, mereka tidak disiplin. Tapi kalau lagi pergi keluar, fun, kita bisa seperti temen. Tapi dalam bekerja yah sabagai couching.

Problem Buat Saya…

Hal yang harus segera diatasi. Saya sudah terbiasa untuk selesaikan problem itu sendiri. Tidak panik. Begitupun setiap ada kerjaan, saya kerjakan dengan senang hati, dan itu bisa. Dan tidak terbeban. Kerjaan dibikin hobi. Saya juga tidak takut gendut. Kalau kita takut gendut kita justru malah bisa gendut. Yang terpenting buat saya, agar hidup enjoyed adalah olah raga 45 menit, seminggu paling tidak 2 kali. Saya tidak diet. Makan apa saja. Makan lemak, nggak pantang. Paling porsinya yang diatur. Saya selalu mengerjakan sesuatu yang saya sukai. Saya enjoyed sekali dalam hdup saya. Kalau kita bekerja, kita mencintai pekerjaan itu.

Anak, Impian Keke Selanjutnya

Belum lama, Keke bercerai dengan Benno Harun. Namun, impiannya untuk memiliki anak tak pernah padam.

Ketika bercerita tentang bahtera rumah tangganya yang kandas, Keke terlihat lebih rileks. Ia mengatakan tak ada trauma lagi.

“Sedih, pasti. Hidup kan up and down. Sedih dalam arti gagal dalam rumah tangga, ada juga kesedihan itu. Tapi saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi dalam perkawinan saya. Saya tidak mau trauma. Kalau saya trauma, nanti saya tidak menikah lagi,” sesaat Keke tersenyum.

“Target, dalam pribadi, kalau saya menikah lagi, saya ingin punya anak. Orang kan kalau sudah tua pasti pengin punya teman  Hal yang sederhana saja. Saya bisa pensiun dari pekerjaan saya. Saya bisa punya banyak waktu dengan anak saya,” lanjut Keke.

Tentang hidupnya yang sekarang, Keke langsung menjawab, “enak juga sendiri.” Ia kemudian tertawa lepas. “Kalaupun tiba-tiba sedih, saya share dengan teman. Itulah gunanya teman yang bisa dipercayai, saya bisa share dengan dia. Alhamdulillah saya berteman sudah 20 tahun. Dia bisa simpan semua rahasia-rahasia saya. Kita berdiskusi dan ngomong apa saja. Sudah seperti soulmate.”

Keke mengatur rutinitasnya dengan detail. Jumat ia gunakan waktunya bersama teman-teman, Sabtu dengan anak Benno, Primansyah –Keke sudah menganggap seperti anak sendiri, dan Minggu waktu untuk dirinya sendiri. Ia manfaatkan untuk pergi ke salon, spa atau kemana saja yang ia suka. Senin hingga kamis, ia bekerja.

Adakah pria yang saat ini singgah dihatinya? Keke tersenyum, manis. “Ada sih, cuma dia tidak tinggal disini. Kita tidak sering ketemu.”

“Tapi kalau ditanya keinginan saya yang lainnya, saya ingin punya yayasan di bidang modeling, talenta, dan akting untuk anak-anak yang tidak mampu,” ucap Keke, penuh makna.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Seniman | 1 Comment

Arleta Darusalam

Anak Buah Harus Pintar

Kerja keras Arleta berbuah manis. Kini ia menjadi orang nomor satu di English First (EF) Indonesia, juga Malaysia dan Thailand.

Tidak mudah bertemu dengan Arleta. Kesibukannya sangat padat. Apalagi, EF telah menyebar di 33 provinsi di Indonesia dengan lebih dari 70 sekolah, juga beberapa sekolah di Malaysia dan Thailand.

“Sudah 2 tahun terakhir, kita up grade seluruh EF ini. Mulai dari brand hingga teknologinya,” kata Arleta, yang kini menjabat sebagai Country Director EF, bangga.

Siang itu, di kantornya yang berinterior ‘baru’, Arleta bercerita tentang perjuangannya membesarkan English First Indonesia.

Pengalaman Lebih Dulu

Jauh sebelum EF masuk ke Indonesia, Arleta sudah mengenalnya terlebih dahulu. Saat itu, EF sedang gencar-gencaranya mengadakan homestay di Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Dan Arleta ambil bagian di dalamnya.

“Tahun 1987, saya jadi salah satu peserta yang ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Kita tinggal di sana selama setahun sampai lulus SMA. Setelah balik ke Indonesia saya ambil lagi kursus sekertaris di New Zealand,” kisah Arleta.

Dengan senyum mengembang, Arleta mengaku tidak berkeinginan mendaftar kuliah di Perguruan Tinggi.

“Saya tidak percaya pendidikan yang panjang. Pada intinya saya pemalas,” Arleta tertawa lepas, sesaat, “karena, balik ke sekolah bagi saya bisa kapan saja. Tapi pengalaman yang harus didapat lebih dulu. Nah, setelah balik ke Indonesia dari New Zealand, barulah saya kerja. Itu tahun 90an.”

Beruntung, tahun 1994, ia bertemu bos EF Indonesia. Arleta langsung mendapat tawaran memegang posisi penting di EF Indonesia.

“Tahun 1995 EF Indonesia berdiri, khusus untuk sekolah bahasa Inggris. Sama halnya seperti waktu kita sekolah di luar negeri, itu kita bersekolah di sekolahnya EF. Jadi, boleh dibilang, EF itu lembaga bahasa swasta terbesar di dunia. Yang punya satu orang dan itu orang Swedia,” ucap Arleta bangga.

EF Indonesia ternyata berkembang sangat pesat. Bahkan, EF Internasional mengakui bahwa Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial.

Apalagi 2 tahun terakhir. EF melakukan banyak perubahan.

“Sekolah terbaru EF English First saat ini, memiliki fasilitas-fasilitas yang memudahkan siswa untuk belajar Bahasa Inggris,” kata Arleta. Ia mencontohkan, saat ini EF memiliki Ilab, “yaitu Lab Computer yang terhubung dengan internet connection dan server kita, sehingga para siswa EF English first nantinya setelah mendaftar akan diberikan password sehingga bisa belajar secara online, dimanapun dan kapanpun.”

Juga, lanjut Arleta, EF memakai teknologi terkini dan bentuk interior yang Uptodate yang sudah disesuaikan dengan standard dari global. “Tentunya menjadikan EF English First lebih maju selangkah untuk sekolah bahasa Inggris,” katanya bangga.

Tiga Negara

Selain Indonesia, Arleta juga memegang EF Malaysia dan EF Thailand.

“Tapi kalau ditanya saya senang tinggal dimana, saya akan menjawab di Asia khususnya di Indonesia. Saya tidak mau tinggal dimanapun kecuali Asia. Bagaimana enaknya tinggal di negeri luar tapi jadi warga negara kelas tiga atau kelas empat. Karena dengan uang segitu, kita bisa hidup di Indonesia bisa punya pembantu, supir, hang out, dan sebagainya. Nah, kalau di luar negeri, sudah hidupnya susah, apa-apa dikerjakan sendiri,” ujar Arleta sambil tertawa lepas.

Khusus menjalankan tugas-tugasnya, Arleta memanfaatkan kecanggihan teknologi.

“EF juga punya tim yang kuat, termasuk tim akademik sendiri. Kita punya sekolah seluruh dunia. Tim akademik khusus buat buku sendiri. Bikin sekolah bahasa Inggris memang gampang. Tapi habis itu apa. Pendidikan kan harus maju, itu yang sulit dilakukan. Nah, EF punya tim akademik sendiri. Kita bisa selalu berkembang, Interaktif, video selalu berubah, buku juga berubah sesuai zaman,” jelas Arleta.

“Dan yang terpenting, kita harus berani memilih orang yang lebih pintar dari kita. Supaya kita tidak kerja keras. Kelemahan kita kan ego. Kita tidak berani memilih orang yang lebih pintar dari kita, karena takut tersaingi. Padahal itu salah besar. Kalau kita ingin maju, kita harus punya tim yang terdiri dari orang-orang pintar. Tidak ada satu hari pun yang sama. Jadi, perubahan bisa terjadi kapan saja,” kata Arleta.

Ikut Meditasi

Sibuk bekerja, tidak berarti bagi Arleta melupakan kesehatannya. Saat ini, ibu satu anak ini tengah mengikuti kegiatan meditasi Bali Usada yang didirikan Merta Ada.

“Saya ikut meditasi ini semata untuk kesehatan badan dan pikiran. Kesehatan secara menyeluruh. Dengan meditasi ini, kita bisa membantu banyak orang.

Teknik yang diajarkan di Perkumpulan ini, kata Arleta, adalah suatu teknik untuk menyembuhkan penyakit di badan kasar, meridian, chakra, mental, pikiran, dan memori dengan menggabungkan antara: Olah Raga Usada dan Meditasi yang sangat efisien dan mudah yang dapat diikuti oleh semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, antar golongan dan kepercayaan.

“Teknik Bali Usada Meditasi ini berdasarkan atas pengetahuan, penelitian dan latihan di lontar-lontar kuno di Bali, ajaran dari guru meditasi, penyembuh tradisional, para dokter, buku-buku pengetahuan lain serta pengalamannya sebagai penyembuh,” jelas Arleta, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Evita Handayani

‘Ini ‘kan Ilmu Emak-emak’

Tak tahan melihat orang lain susah, Evi  memilih berbuat lebih jauh. Ia mendirikan koperasi yang dikhususnya untuk para wanita.


Tinggal di kota Malang, Evi punya ikatan batin yang kuat. Ia ingin berbuat, demi membuat hidup orang lain jadi bahagia.

‘Tapi, waktu itu belum terpikirkan membuat koperasi,’ kata Evita.

Sampai suatu hari, Evita mendengar curhat teman-teman dekatnya. ‘Sebagian besar, mereka mengalami masalah keuangan. Satu masalah yang sangat umum dan hampir semua keluarga pernah mengalamai masalah ini,” ujar Evita.

Munculah ide membuat koperasi, lembaga yang dalam bayangan Evi, bisa menjadi solusi masalah teman-temannya. Saat itu, Evi ingin mendirikan koperasi dalam bentuk berbeda. Tak hanya sebagai tempat pinjam uang saja, tapi sekaligus mensejahterahkan anggota dalam bentuk yang terukur.

Tawaran untuk Berubah

Berawal dari arisan Ikatan Persewaan Mobil Malang, Evi mengenal dunia perkoperasian. Di tahun 1998, perkumpulan ini berubah bentuk menjadi koperasi simpan pinjam. Dan di tahun 1999, keluar Badan Hukumnya.

“Baik koperasi maupun arisan, akhirnya tidak berjalan lancar,” cerita Evi. Ia mengeluh karena Bapak-bapak, peserta arisan, makin susah diajak berkumpul. Tapi, ia bersyukur, saat berubah bentuk menjadi koperasi, anggota bertambah. Dari 38 anggota, menjadi 58 anggota.

Di tahun 2006, Evi bertemu dengan Almarhum Bu Harto, Ketua Kartika Candra, Andakan, Pasuruan. “Kebetulan beliau ketua Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur). Beliau mengusulkan koperasi dipindah menjadi wanita semua. Dia mau mengajarkan,” kata Evi.

Evi langsung menyambut baik tawaran Bu Harto. Ia belajar di sejumlah koperasi yang telah lama berdiri. Barulah tanggal 30 Maret 2006, Koperasi Wanita ‘Bhakti Asta Makmur’ (BAM) menjadi salah satu koperasi primer di bawah Puskowanjati.

“Kita jalankan sistem, dan sampailah seperti sekarang ini,” ujar Evi. Ia bangga, karena di awal berdirinya, BAM sudah mampu menggaet 121 anggota.

Evi cukup jeli melihat peluang. Ia kembangkan koperasi ala multilevel marketing.

“Kita akhirnya membuat sistem sponsorship. Satu anggota wajib membawa 1 anggota baru. Anggotanya wanita semua. Dan dalam 3 bulan mereka sudah bawa satu-satu semua. Jadi  total menjadi 240an. Di awal 2007 kemarin, malah sudah lebih dari 350an anggota. Dan sekarang, sudah 1300 anggota,” kata Evi, bangga.

Kini, BAM sudah tidak terlalu aktif mencari anggota. Kata Evi, paling tidak satu tahun mereka membawa 1 teman baru. “Kalau tahun depan masing-masing bawa satu teman jadi 2600 anggota,” tambahnya, mantap.

Harus Punya Kegiatan

Saat BAM berdiri, di Malang, sudah berdiri 4 koperasi khusus wanita. Sekarang sudah menjadi 6 koperasi khusus wanita. Namun, dibandingkan koperasi kebanyakan, BAM terlihat berbeda.

“BAM memang khusus wanita. Kalau saya pribadi terus terang, saya kasihan dengan wanita. Nggak semua wanita bisa berjaya. Kadang mereka hanya mengandalkan dari suami. Padahal, ketika ditanya, mereka semua ingin berkumpul di dalam koperasi. Sayangnya orang masih menganggap koperasi sebagai tempat untuk meminjam uang. Itu yang membuat saya tidak sreg. Mau saya, semua wanita punya kegiatan yang menghasilkan. Bukannya dapat pinjaman, trus duit suami buat bayar,” tegas Evita.

Evita menganjurkan, setiap anggota BAM harus memiliki kegiatan. Kalau tidak punya kegiatan, lanjut Evi, “kita buatkan kegiatan. Kita ada diklat, dari yang dasar, pengembangan, dan mandiri. Kalau dasar, itu dia tidak punya kegiatan sama sekali, atau murni ibu rumah tangga. Kita kumpulkan untuk pelatihan. Dia ahlinya dimana, kalau masak, kita kupulkan di kelompok masak, ketrampilan di ketrampilan, konfeksi di konfeksi. Ada ibu-ibu yang tidak sabar dan tidak telaten, kita cari pemecahannya. Kita ada pembinaan. Ada ibu-ibu yang suka menulis, ya dia bisa menulis di website kita,’ jelas Evita, semangat.

Agar hasil yang dicapai maksimal, Evita sengaja tidak mentargetkan anggota BAM terlalu banyak.

‘Karena ada koperasi yang anggotanya banyak sekali, tapi yang jadi pertanyaannya, apakah dengan begitu dapat terukur kesejahteraannya,” tanya Evita.

Di BAM, ibu dua anak ini lantas mengkombinasi sistem. Ia gabungkan sitem tersebut dengan pengalaman-pengalaman yang kerap terjadi masyarakat.

‘Ada yang masalah duitnya di pakai ketuanya, ada yang lari meninggalkan hutang. Nah, itu jadi pemikiran kita. Ternyata faktor ekonomi. Saya tidak mau anggota jadi obyek, saya mau ini di gabungkan dengan usaha saya dan usaha suami saya, dengan MLM yang ada, harus ada diklat, retreat merubah wawasan.

Akhirnya, disimpulkan bahwa ekonomi hanya sebagai media, bukan iming-iming. Saya mau koperasi itu untuk mensejahterakan anggota, tapi yang bisa diukur. Anggota punya kegiatan yang menghasilkan dan benar-benar mensejahterakan. Bunga bukan untuk operasional, tapi laba dari produk itu yang untuk mensejahterakan anggota,” jelas Evita.

Kini, dana yang dimiliki KWSU BAM sudah mencapai Rp. 8 miliar.

‘Saya gambar koperasi itu bejana. Ekonomi adalah apinya. Jangan sampai ekonomi di dalam bejana, nanti panas dong. Ini kan ilmu mak-mak. Kalau masak di kuali, anggota iniyang punya bumbu, punya rasa, duit hanya untuk api.

Jadinya, dampak kemacetan tanpa jaminan, 0 persen. Makanya, kalau ada anggota yang mau pinjam, dia tidak boleh datang, daftar, pinjam. Harus 2 bulan dilatih dan difahamkan sistem kita yang tanggung renteng, gotong royong, musyawarah, dan terbuka. Setelah itu 2 bulan baru boleh pinjam,” tegas Evita.


Koperasi Gaul

Evita sadar, waktunya banyak tercurah pada KWSU BAM. Ia punya mimpi, kelak koperasi yang ia bangun dari cinta ini, bisa berkembang dengan baik.

“Mimpi saya BAM punya home industri, atau pabrik yang menjual, punya kualitas. Tapi karyawannya adalah anggota, untung untuk anggota, dan semuanya dikelola oleh anggota,” jelas Evi.

Hasil KWSU BAM saat ini adalah jus buah, seperti; anggur, jambu, dan apel. Hanya saja, karena tanpa pengawet, masa berlaku jus-jsu ini hanya sampai satu minggu.

Keunikan yang dilakukan Evita, juga terlihat dari sistem operasional BAM. Mereka menggunakan istilah-istilah perbankan.

“Tujuannya agar koperasi tidak dipandang sebelah mata. Mereka, anak-anak lulusan Brawijaya itu tidak malu melamar ke kita, karena KWSU BAM lebih menyerupai Bank dibanding KUD.

Evi juga harus mau menerima telpon setiap saat. Setiap hari, ia pasti mendengar keluhan sampai curhat anggota-anggotanya. “Mereka memanggil saya, Mama. Curhatnya aneh-aneh. Ada yang bertengkar dengan suami, ada yang masakan, sampai yang pemasaran yang mentok,” ujar Evi.

Kalaupun Evi mulai merasa terbebani, ia akan mencari hiburan dengan berkaraoke, atau membuka situs-situs pertemanan. Evi bahkan menganjurkan anggota-anggotanya untuk bisa bermain internet, dan paham teknologi.

‘Makanya, koperasi kita ini sering disebut koperas gaul. Karena di tempat kami semua online. Meeting bisa online,” ujar Evi senang.

Tampaknya, Evi tidak pernah merasa puas. Ia masih bermimpi, kelak KWSU BAM bisa mengangkat derajat hidup wanita kota Malang, seutuhnya. “Semoga berhasil,” katanya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 1 Comment

Eileen Rachman

Hidup Pun Kian Terasa Penuh

 

Eileen memiliki passion besar terhadap manajemen dan pengembangan sumberdaya manusia.


Dari sebuah biro konsultasi kecil, EXPERD kini makin memantapkan posisinya sebagai reputable business partner bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berhasrat melakukan perbaikan dan berkomitmen untuk mengambangkan SDM-nya.

Nama Eileen, memang tak lepas dari EXPERD yang ia rintis sejak tahun 1985. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1988 ini memulai karir konsutasinya, pada usia 33 tahun.

Di usianya sekarang, semangat Eillen tak pernah kempis. Ia masih giat belajar dan mencoba hal-hal baru. Aktif berwisata kuliner, manari salsa, olahraga wall climbing, hingga membuat face book di internet.

Frutasi Saat Terapi

“Aku tadinya belajar arsitektur,” kata Eileen.

Eileen mengaku menyukai dunia arsitektur dan interior. Keasikannnya itu, ia tuangkan pada perusahaannya yang lain, Decorous.

“Setelah itu, aku kecemplung di fakultas psikologi UI. Ini tidak berjalan bersama. Setelah menikah, baru ambil psikologi. Dan, ternyata tidak mudah,” jelas Eileen.

Meski mengaku kepayahan mendalami ilmu psikologi, Eileen akhirnya  termotivasi untuk komit pada disiplin ilmu ini. “Dalam artian, bagaimana ilmu ini diterapkan di masyarakat, melalui tulisan. Sebagaimana kita lihat, ilmu ini tidak terlalu disosialisasikan oleh penulis. Tidak sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat ilmu ini tidak umum,” lanjut Eileen.

Barulah, kata Eileen, 10 tahun terakhir, orang bangga menjadi seorang psikolog. “Dulu seolah tidak menarik dan tidak ilmiah.”

Lulus kuliah tahun 1983, di usia 33 tahun, Eileen menjadi dosen di Fakultas Psikologi. Barulah di tahun 1985, Eileen benar-benar bekerja di dunia komersial.

‘Karena aku berpikir kalau aku jadi dosen, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku lebih tertarik pada penerapan. Sebenarnya, aku sempat praktek, sekitar tahun 1983 hingga 1986. Nah, orang kan datang ke praktekku, selalu mencari solusi. Sometimes itu membuatku sangat frustasi,” ungkap Eileen.

Ia frustasi karena selama menuntut ilmu psikologi, Eileen tidak pernah terapi dengan tuntas. Kalau mau mahir memberikan terapi, “aku harus sekolah lagi. Dengan kondisi aku yang sudah punya anak 2, aku tidak punya waktu. Akhirnya yang aku lakukan, terapi-terapi yang bisa aku lakukan sendiri. Misalnya family therapy.”

Diajari Staf

Merasa tidak puas, Eileen memilih kerja di dunia komersial. Menjadi HRD manager.

Terus terang, aku langsung menduduki jabatan manager, dan aku diajari para stafku. Mulai dari cara ngitung orang, cara ngitung gaji, cara bikin surat oleh sekertarisku. Saya sih nekat saja. Ternyata saya perlu belajar. Sampai  3 tahun. Barulah kemudian saya mendirikan Experd,” cerita Eileen.

Eileen sempat bekerja menjadi HRD Manager di Bank Umum Asia. Bank ini kemudian merger dengan Bank Lippo. “Andai aku terus berkarir disini, aku akan di Lippo. Karena aku memang diminta bergabung di Lippo.”

Eileen merasa perlu mendirikan perusahaan jasa. “Saat itu belum banyak perusahaan jasa yang seperti saya dirikan ini. Masih malu-malu. Makanya pemasarannya tersendat-sendat. Aku juga mungkin belum terkenal. Dan kita belum tahu bagaimana memasarkan dengan baik. Biro-biro konsultasi psikologi itu memang juga tidak memasarkan. Ada juga teman-teman yang sudah ekspan. Saya memang pendatang baru,” jelas Eileen.

Eileen bergairah, manakala 10 tahun terakhir, ia menemukan warna baru dalam bisnis jasanya. Ketika Ketika banyak anak-anak muda yang sangat kreatif, yang bergabung di perusahaannya. Yang tidak membawa hawa yang dulu-dulu. “Justru yang baru-baru ini, mereka kuat di komunikasi, kuat marketing, kuat di IT, kuat baca, internet. Karena itulah kemudian aku sendiri juga berubah,”

“Saya konsentrasi di training dan assignment. Kita sadar pada saat itu kita sebagai konsultan, hanya tukang training dan tukang assignment. Kita bukan membimbing company menjadi lebih baik,” kenang Eilleen.

Namun sejalan dengan waktu, Eileen kian mantap memposisikan dirinya sebagai tenaga konsultan yang handal.

“Akhir-akhir ini saya berani meng-claim bahwa aku bisa menjadi partner para owner untuk membuat barisan man power-nya,” ujar Eileen, mantap.

Tidak Tahu Penyakitnya

“Kadang-kadang ada perusahaan yang tahu masalahnya, ada yang tidak. Seperti ke dokter saja. Ada yang bilang, ‘dok ini saya sakit’. Tapi ada yang bilang, ‘dok, seluruh badan saya sakit.’ Klien macam-macam. Ada yang mengerti apa yang diperlukan, ada yang tidak,” ujar Eileen tentang kondisi kliennya.

Beruntung, Eileen jago di bidangnya. Ia punya tenaga riset yang siap meriset kondisi perusahaan klien-kliennya. Untuk mengetahui ‘penyakit’ perusahaan kliennya.

“Bisa saja seorang direktur tidak melakukan suksesi. Kita tidak bilang, kamu tidak pantas disitu. Kita cuma bilang, ayo bikin program suksesi secepat mungkin. Jadi kita lebih detail dan profesional, tidak hanya penempatan orang saja,” ujar Eileen.

Eileen selalu bertanya, apa yang dibutuhkan kliennya. Apakah sekedar sukses, ataukan membutuhkan lebih banyak ekspertis, atau membutuhkan orang-orang yang sekolah formal, membutuhkan orang-orang yang bisa bekerja, dan lain sebagainya.

Menjadi SDM Ideal

Eileen sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang baik itu harus kompeten, komit, kontribusi. Kompeten itu mampu, komit itu mau, kalau iya-iya kalau nggak ya enggak. Sementara kontribusi berarti menyumbang. Kalau dia di perusahaan hanya sebagai pengembira saja tidak ada sumbangannya, ya percuma saja,” tegas Eileen.

Tentu saja, lanjut Eileen, harus sejalan dengan apa yang diinginkan perusahaan, apa yang diharapkan perusahaan, dan apa yang jadi filosofi perusahaan.

“Kita profesional, jadi kita punya alat dan teknik untuk menilai para SDM ini. Pada dasarnya saya sudah tidak lakukan itu sejak lama. Sekarang, sudah ada anak buah yang lakukan,” ujar Eileen.

Hidup Seimbang

Dua perusahaan Eileen, Decorous dan EXPERD, berdiri dalam jangka waktu hampir bersamaan. Perusahaan ini, kata Eileen, dibesarkan dengan rasa.

“Aku suka banget sama penerapan ilmu psikologi, tapi aku juga suka banget sama interior. Jadi ya buat aku tidak susah. Kalau beli interior terus dipakai sendiri, kan nggak bisa selamanya begitu. Akhirnya kita beli dan kemudian dijual. Tapi di perusahaan anakku ini beda, apa yang dilakukan teman-teman disini tidak hanya jual saja. Mereka juga menciptakan barang, bahkan mereka juga melakukan service yang baik, dari segi waktu, kesulitan dan problem,” ujar Eileen bangga.

Eileen senang. Karena, kata ibu dua putra ini, segala hal uang di lakukan di perusahaannya, adalah hal yang akan dikembangan. “Selama mereka mau berkembang, dan mereka tidak bosan. Terus belajar dan belajar. Saya bersyukur dengan apa yang dikasih Allah pada aku, yaitu kemampuan belajar dan mengajar,” kata ibunda DJ Riri ini dengan rona wajah bahagia.

Karenanya, Eileen merasa hidupnya selalu seimbang.

“Adalah kalau kita achieved segala hal. Relijius dengan hal emosi dan kehidupan kerja yang memuaskan. Ya dapat duitnya, untungnya. Fisikal, ya kita sehat. Semua itu, kalau kita rasanya puas dan berkembang, ya kita puas. Kesibukanku di luar kerja, ya bergaul atau mengakses internet, misalnya face book-an. Juga panjat tebing, main sama anak, cucu, dan tim wisata kuliner. Aku merasa hidupku penuh.

“Aku tidak pernah malas sama sekali,” tegas Eileen.

Ia senang berteman dan membaca buku. Dalam satu waktu, ia bisa membaca 3 buku sekaligus. “Aku senang sekali berkembang. Karena sangat mengasikkan dan menguntungkan. Aku cuma takut sakit.” Eileen pun tersenyum lepas.

Begitupun dengan hubungan antar karyawan. Eileen sangat kompeten. Ia mempunyai aturan yang ketat, mesiskipun diluar itu, Eileen mengaku selalu membuka diri pada tiap karyawannya.

“Aku mengharuskan semua karyawanku punya Yahoo Messenger. Tidak boleh invisible di hadapanku. Kalau dia pasang invisible, aku akan marah. Karena buat aku. Mereka harus bisa aku kontak. Handphone pun juga. Tapi aku tentunya tidak bisa melarang mereka. Tapi aku selalu bilang, tidak ada gunanya kalian matikan handphone dan tidak bisa dihubungi. Aku saja yang sudah tua begini masih bisa dihubungi. Nanti kalian tidak bisa berkembang. Aku kalau ngajarin orang sangat keras. Kalau kalian sedang belajar, aku teriak-teriak, itu bukan berarti aku marah. Tapi kalian harus tahu mana yang benar,” tegasnya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Dewi Lestari

Inilah Proyek Cinta

 


Karya Rectoverso, menjadi karya cinta Dee pertama. Seperti judulnya, Dee tampaknya tengah menyatukan dua bagian yang terpisah dalam satu cinta yang utuh.


Saya merasa sebagai seniman. Banyak aspek dalam hidup saya. Aspek spiritual, sains, humor dan sebagainya. Saya juga senang drama dan serial. Aspek-aspek ini selalu jadi tema dalam karya-karya saya,” ujar Dewi Lestari.

“Namun, di karya terbarunya yang berjudul Rectoverso, Dee –sapa wanita ini-, seolah ‘melahirkan bayi sepasang ‘bayi kembar’. Karya yang penuh cinta, dan dikemas dalam bentuk musik dan fiksi. “Karena, saya pun punya aspek romantis. Saya senang baca puisi cinta, melamun, dan berandai-andai. Nah baru kali ini aspek ini saya pakai. Ini hanya aspek cinta, romantis, personal, hati, perasaan. Ini karya paling romantis,” katanya.

Pengalaman Baru

Dewi memperkenalkan karya barunya yang ia sebut karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan dua dunia dalam satu karya yang utuh, meski terpisah wujud. Ia sebut : Rectoverso.

“Ini karya jenis baru. Ini bukan sekedar buku dan bukan sekedar musik. saya ingin menawarkan sebuah pengalaman baru. Pengalaman menghayati yang baru,” ujar Dee.

Rectoverso memang dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Novel setebal 150 halaman yang di dalamnya ada 11 cerita, dan CD musik dengan 11 lagu. Uniknya, 11 judul lagu dan cerita yang ada di dalam Rectoverso; sama. Inilah, kata Dee, satu pengalaman yang berbeda.

Fiksi Rectoverso, kata Dee, bisa dinikmati utuh sebagai suatu buku. “Jadi, seperti definisinya, dua citra yang seolah terpisah tapi satu kesatuan. Ketika dia menjadi satu individu, dia bisa dinikmati tanpa terganggu dan tanpa tergantung yang lain. CD musiknya juga begitu. Tapi ketika mengalami keduanya, inilah pengalaman Rectoverso.”

Dua pengalaman yang dijadikan satu dalam satu pengalaman. Oleh karenanya, lanjut Dee, Rectoverso itu bukan produk tapi pengalaman. “Orang mau nggak mengalami ini? Ini lah yang membuat dia berbeda. Baik dari teman-teman bukunya dan dengan teman-teman CD-nya yang lain.”

Termasuk saat mendapatkan Rectoverso. Dee sengaja menjual dua karyanya ini di tempat yang berbeda. Fiksi di toko buku, CD  musik di toko musik. Untuk mendapatkan keduanya sekaligus, Dee membuka online melalui internet.

”Saya ingin orang memiliki petualangannya sendiri. Kalau saya jual satu paket, dia akan dapat kedua-duanya dengan mudah. Bagi saya, pengalaman Rectoverso, yaitu bagaimana orang itu menemukannya. Orang menemukan bukunya dulu, kemudian menemukan CD-nya. Atau sebaliknya. Inilah proses menemukan,” kata Dee, semangat.

Ada 36 Hati

Ada banyak orang yang mendukung proyek Rectoverso ini. Proses pengerjaannya pun tidak main-main. Dee merencanakannya dengan sangat matang.

Dee menggandeng banyak musisi di album Rectoverso-nya. Khusus para musisi ini, Dee bahkan mewajibkan mereka untuk membaca bukunya. “Saya kasih ceritanya, ini loh ceritanya supaya mereka tahu apa yang dibutuhkan lagu itu.”

Satu gebrakan Dee adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan rekaman secara live. Proses ini melibatkan 36 pemain musik. Sulitkah itu? Dee pun tersenyum.  “Kalau mereka pemain profesional, mereka sudah seharusnya ready untuk berikan yang terbaik. saya juga menjelaskan pada mereka, proyeknya untuk ini-ini-ini. Secara otomatis, terangkat untuk jadi semangat. Makanya, kalau dibilang, ini proyek cinta, itu memang benar, ” ujar Dee.

Rekaman secara live memang jarang dilakukan di industri rekaman. Lantas, apa yang membuat Dee tertarik melibatkan banyak pemain musik di rekaman musiknya?

”Kita ingin, Rectoverso ini dibikin personal dan punya nyawa. 36 orang main bareng. Ada 36 orang kasih hatinya untuk si lagu,” kata Dee.

Dee ingin juga, di rekaman ini setiap soul dari para pemainnya,  mampu tertampung secara otimal. “Kalau rekamannya satu-satu, itu bisa berbulan-bulan. Dampak tidak positifnya, saya gampang jenuh. Yang terjadi di industri rekaman yaitu gampang jenuh karena rekaman bisa setahun. Nah, kalau yang ini sekali langsung jadi,” ujar Dee.

Proyek Cinta

Berkali-kali, Dee menyebutkan, proyeknya kali ini sebagai proyek cinta.

“Ketika mereka membaca bukunya dan mendengar musiknya, yang pada saat itu masih sangat sederhana, mereka jatuh cinta pada konsepnya. Walaupun ini lahir dari saya, tapi ini jadi milik ramai-ramai,“ ucap Dee.

Proses yang singkat. Hanya dalam 4 hari saja, album musikknya selesai. Proyek ini, kata Dee, berjalan dengan sistem paralel. Musik jalan, grafis jalan, melibatkan banyak orang. Dee merasa, bukan hanya produknya yang berharga, “tapi pengalaman kami semua yang berharga dalam menyelesaikan produk ini.”

Begitupun Dee dan pasangan duetnya. “Kalau kita duet, yang kasih nyawa bukan hanya aku sendiri, tapi ada orang lain juga yang kasih nyawa. Ada kolaborasi nyawa di lagu itu,” ujarnya, mantap.


Malas Tapi Produktif

Dee baru saja mengambil keputusan besar. Pindah ke Jakarta, setelah belasan tahun berkarir. Demi satu tujuan, keseimbangan hidup.

“Saat ini, saya baru menyadari betul hidup seimbang. Karena penyakit orang kota, selalu berat pada satu aspek saja. Kerja melulu. Sekarang saya lagi menyeimbangkan porsi antara kerja, berkarya, rileks dan malas-malasan,“ kata Dee, tersenyum.

Ibu satu anak, Keenan Avalokita Kirana, merasa aktifitas malas, juga penting buatnya. Misalnya, satu hari tidak madi dan tidak keluar rumah. Rileks pun perlu dilakuan, seperti meditasi, atau spa. Aktifitas ini khusus untuk memanjakan dirinya.

“Nah, berkarya itu seperti sekarang ini. Ada Rectoverso. Dan bekerja, ya misalnya dengan mempromosikan Rectoverso. Kalau dulu saya tidak peduli (pada keseimbangan hidup). Kalau kerja, kerja terus. Kalau sekarang, dalam seminggu saya harus membagi hidup saya ini,” kata Dee.

Dee justru merasa produktif di saat hidupnya mulai balance. ”Ketika saya jalankan itu, saya merasa optimal. Sebenarnya tahun 2007 kemarin saya berkarya 2, Rectoverso dan Perahu Kertas, novel digital saya. Dulu waktu saya ngoyo bekerja, saya malah hanya menghasilkan satu karya. Tapi setelah saya mengapresiasikan kemalasan saya, saya jadi lebih produktif. Saya lagi mencoba menerapkan paradigma,  malas tapi produktif,“ Dee pun tertawa.

Kalaupun Dewi memutuskan pindah rumah ke Jakarta, katanya, semata-mata demi anaknya.

“Anak saya mulai beranjak besar, sekarang 4 tahun, saya merasa saya kehilangan quality time sama dia, karena, saat itu saya begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakan di Jakarta. Dan saya akhirnya membuat keputusan yang sangat besar, karena saya berpikir kalau ini diteruskan saya akan kehilangan banyak waktu saya dengan anak saya. Karena, waktu saya pasti akan habis di jalan. Bagi saya ini tranformasi besar,“ ujar Dee yang selama ini tinggal di Bandung.


Cinta Itu Energi

Arti Cinta Sesungguhnya…

Menurut saya, Cinta itu energi. Kalau energi, berarti segala sesuatu di bumi ini adalah cinta. Saya merasa bumi berputar karena cinta. Matahari bersinar karena cinta. Bagi saya, cinta yang hanya sekedar relationship, itu hanya sesuatu wajah kecil dari cinta. Hidup ini juga cinta.

Hidup Berkaitan dengan Tulisan…

Sebetulnya kalau dibilang langsung, enggak. Tapi setelah selesai dan saya baca ulang (Rectoverso), ada beberapa lagu, bicara tentang kehidupan dan kematian. Entah kenapa saya juga tertarik, bergerak untuk menulis tema itu. Mungkin saya merasa keberadaan Tuhan pencipta, itu bisa dirasakan seperti kita merasakan Rectoverso. Dia terasa begitu dekat. Seperti Nabi, dia begitu dekat dari pada urat lehermu sendiri. Itu saya rasakan saat menulis Rectoverso. Semacam ada guide ketika menulis.

Kalaupun Ide Ditiru…

Sebetulnya aku tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun kita punya hak paten untuk ide itu, tapi ide nggak ada tuannya. Kalau ada orang bikin sama, ya nggak masalah. Tapi, salah satu syarat kalau kita bikin Rectoverso, harus  penyanyi, pencipta lagu dan penulis. Aku sih senang-senang saja. tapi memang Rectoverso ini sangat spesifik. Kalau ingin persis sama konsepnya, harus dibuat dengan sangat spesifik. Minimal creator-nya harus menguasai bidang-bidang itu.

Inspirasi Karyaku…

Inspirasi banyak banget. Saya kalau nulis lagu atau bikin lagu, rumusnya 4, yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, mengamati lingkungan sekitar, dan imajinasi. Dalam Rectoverso ini, yang lebih ditekankan, kepada apa yang tokohnya rasakan. Bukan kata-kata, ketokohan atau mengedepankan alur. Tapi lebih mengedepankan emosi apa yang dirasakan si tokohnya.

Tentang Rencana Heksalogi…

Supernova, Akar, dan Petir itu bukan trilogi. Saya masih menyisakan tiga konsep lagi untuk dibentuk. Artinya, akan ada heksalogi. Saya suka enam karena bermakna heksagonal yang maksudnya kesempurnaan. Maka, saya pilih untuk menggenapkan Supernova menjadi enam seri. Inspirasinya, ya kehidupan sehari-hari. Rencananya, saya akan mengeksplorasi ide dengan konsep yang lebih fresh dibandingkan buku-buku sebelumnya.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Penulis, Profil Seniman | 1 Comment

Lenny Dwinijanti

Untuk Tujuan Mulia, Pasti Ada Jalan

Dibalik sukses Tabloid Pulsa merajai bisnis media, ada satu nama yang tak pernah terdengar. Dialah Lenny, wanita yang diam-diam bermain di bidang yang justru bukan keahliannya, dan menuai sukses.

 

Hingga saat ini, Tabloid Pulsa masih berada di peringkat pertama sebagai tabloid dengan jumlah oplah terbesar, hingga 1 juta eksemplar dalam 1 bulan. Tabloid yang menyajikan informasi ponsel terbaru dan ponsel-ponsel pilihan. Siapa sangka, bisnis yang diawali dengan coba-coba ini menuai sukses.

“Untuk memikirkan (pulsa), kita butuh waktu 2 tahun. Saat itu, kita memprediksi, dengan kemampuan dan kualitas anak-anak yang kita punya, Pulsa balik modal dalam 2 tahun. Ternyata, baru 5 bulan sudah BEP. Itu rejekinya dari anak-anak,“ ungkap Lenny.

Dari tempat yang sempit, kini Pulsa sudah miliki 2 gedung untuk menjalankan bisnis media. Satu gedung untuk kantor menejemen, dan satu kantor lagi yang terpisah jauh, untuk redaksi.

“Idealnya, menejemen dan redaksi harus dipisah. Karena, redaksi tidak boleh diintervensi. Kita harus memberikan kepercayaan 100 persen pada redaksi dalam menyajikan artikel-artikelnya,” ujar Lenny.

Lantas, siapakan Lenny yang kini memiliki 12 media di bawah bendera Indo Media Group?

Syiar Lewat Media

Berawal dari keinginan Lenny dan suaminya mendidik ahli-ahli hafalan Al-Quran. 9 tahun silam, Lenny mendirikan Yayasan Khalifah.

“Yang kita pilih anak laki-laki, lulusan SMA dan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Mulai dari Aceh sampai Papua,” jelas Lenny.

Anak-anak ini, lanjut Lenny, diajarkan tahfidz (hafalan) Al-Quran selama 2 tahun. Mereka belajar dan tinggal di satu pondokan, tanpa diperbolehkan pulang. Lenny bersyukur, yayasannya berjalan lancar, meskipun ia harus mengeluarkan uang yang relatif besar.

“Tapi, lama-lama kita butuh dana. Kami mulai berpikir, kenapa hidup dari sumbangan. Itu mengajarkan orang untuk meminta-minta sementara diajaran agama Islam, lebih baik kita memberi,” ungkap Lenny.

Dari situlah tercetus membuat bisnis untuk menghidupi yayasan ini. Tapi Lenny sadar, ia bukan pebisnis. “Saya akhirnya justru berpikir, bagaimana cara kita bisa syiar. Dan muncullah ide bersyiar lewat media.”

Lenny yang tidak pernah bersentuhan dengan bisnis media, nekat merekrut anak-anak lulusan pondok pesantrennya. Pikiran Lenny sangat sederhana. Membuka lapangan pekerjaan, dan belajar bersama-sama membuat media.

“Dari awal, kita nekat saja. Karena keterbatasan uang untuk membiayai anak-anak ini, tidak ada jalan lagi, kita harus berbisnis. Masak sih tujuannya mulia dipersulit,” ujar Lenny mantap.

Ponsel Mahal Tetap Dibeli

Tahun 2003, Tabloid Pulsa dibuat. Ia menjadi satu-satunya tabloid yang mengulas tentang ponsel, dari kecanggihannya hingga harga-harga ponsel di Indonesia. Khusus untuk mengulas satu ponsel terbaru, tim redaksi khusus membeli ponsel tersebut. Ulasan sangat independen. “Jadi kalau jelek ya ditulis jelek. Kalau bagus, akan dibilang bagus,” kata Lenny.

Bukti independen, kata Lenny, dia tidak mengintervensi redaksi saat mengulas ponsel buatan perusahaannya sendiri, IMO, ataupun ponsel Philips.

“Waktu diulas apa adanya, tim marketing komplain ke saya. Mereka bilang, kok teman-teman di redaksi tidak membuat artikel yang lebih baik untuk membantu penjualan IMO. Saya bilang ke mereka, kalau produk kita dinilai segitu, berarti kita harus bikin produk yang lebih baik lagi. Saya tidak bisa menyalahkan redaksi. Mereka memang fair dalam menilai, walaupun produk itu milik saya,” ujar Lenny, tersenyum.

Redaksi juga tidak mau menerima ponsel pemberian. “Semua ponsel yang diulas, mereka beli sendiri, walaupun harganya sangat mahal. Mereka akan menguji sendiri kecanggihannya,” kata Lenny.

Banyaknya SDM yang dihasilkan dari Yayasan Khalifah, membuat Lenny memutar otak.

”Setelah anak-anak yayasan mulai siap, beberapa bulan kemudian kita syiar lagi dengan membuat beberapa tabloid. Itu juga yang usul anak-anak. Ya kita iyain saja. Coba-coba dan coba. Alhamdulillah, berhasil,” ujar Lenny, bangga.

Selain Tabloid Pulsa, ada majalah Khalifah, majalah Intelijen, Mobile Guide, Mania, Smart Pulsa, Koin, Comunique, Main, dan beberapa lagi.

Harus Jadi Besar

Lenny mengajarkan setiap karyawan untuk berpikir maju, sekalipun itu pesuruh atau office boy.

”Kalau boleh jujur, kita ini benar-benar menampung orang yang belum pernah kerja. Makanya saya bilang ke anak-anak, dengan kemampuan sekian kalian harus bisa jadi besar,” ujar Lenny.

Office boy pun, kata Lenny, bisa berkarir.

“Saya bilang ke semua karyawan, setiap hari mereka harus bikin laporan. Saya tidak mau laporan tulis tangan. Harus pakai komputer. Kalau tidak bisa, ya harus belajar. Itu baru pertama. Semakin canggih, saya bilang ke mereka harus kirim laporan lewat email ke saya. Termasuk pada para office boy. Setiap hari mereka harus email ke saya. Nah, dari situ ada penilaian dan perpindahan bagian. Akhirnya, mereka terpacu,” jelas Lenny, bangga.

Lenny membuka diri pada tiap karyawannya. Tanpa memandang tingkatan dan status, siapapun bisa berkomunikasi langsung dengan Lenny. Prinsipnya, dilandasi rasa kekeluargaan.

“Mereka bisa keluarkan apa kata hati mereka. Kalau diam saja, akan terseleksi dengan sendirinya. Yang penting berani bicara. Dan, sekarang mereka sudah berani berpendapat. Saya juga ingin meeting itu jadi ajang diskusi. Apa yang dibutuhkan, apa yang dikoordinasikan antar bagian, apa yang dikeluhkan, kita dengarkan sama-sama dan kita cari solusi yang terbaik,” ujar Lenny.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pengusaha | Leave a comment

CM Rien Kuntari

Satu Menit Terakhir

 

Rien pernah kesal karena bentuk rambut dan warna kulitnya. Namun setelah ia menjadi wartawan, ia merasa diuntungkan dengan ‘kekurangan’nya itu.


Rien wartawan perang. Ia pernah meliput beberapa daerah konflik di Irak, Rwanda, Kamboja, dan Timor-Timur. Yang negara terakhir inilah ia akhirnya memutuskan membuat buku setebal 483 halaman berjudul; Timor Timur-Satu Menit Terakhir. Ia ungkapkan segala kondisi Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia, termasuk luapan keharuan dan emosi, yang dibalut dalam obyektifitas seorang wartawan.

Seperti yang dituturkan sahabat Rien, “Saya minta maaf, Rien… selama ini informasi tentang kamu simpang siur. Saya sempat yakin pada apa yang dikatakan orang-orang tentag kamu, bahwa kamu sangat pro-kemerdekaan, tidak setia kawan, tidak nasionalis … Tetapi terus terang pandangan saya tentang kamu luntur dan berubah 180 derajat saat melihat kamu menitikkan air mata dan menangis tak henti ketika mendengar Kornelis (wartawan Kompas yang tertembak di Bekora, Dili timur) hilang. Aku juga terharu ketika kamu pun memutuskan mencari sendiri keberadaan Kornelis, dengan menempuh segala resiko. Aku benar-benar terharu…“

Kesal Dengan Rambut

Melihat wajah Rien, sulit meyakini bawah wanita ini benar-benar keturunan Indonesia asli. Ia bahkan sempat tertawa ketika ditanya apakah ada darah Timor dalam tubuhnya ?

Tidak marah, Rien langsung meralat. “Keluarga ibu saya memang ada darah Arab, walaupun sudah keturunan kedua. Bapak saya orang Yogyakarta asli. Dan saya tinggal di Panembahan (satu wilayah di kota Yogya),” terang wanita bernama asli Cordula Maria Rien Kuntari.

“Waktu dulu,” kata Rien, “saya sempat marah dengan rambut keriting saya. Saya berusaha meluruskan. Tapi, begitu saya jadi wartawan, ternyata yang menguntungkan dari semua yang saya miliki adalah bentuk rambut saya. Di Afrika, saya diterima baik karena wajah saya. Waktu di Rwanda, saya mulus saja. mereka tidak pernah tahu Indonesia apa. Mereka hanya tahu Eropa, dan sya bukan orang Eropa,” ujar Rien, senang.

Diakui bungsu 10 bersaudara ini, ia merasa diuntungkan dengan bentuk rambut dan warna kulitnya.

“Ditanya saya orang mana? nggak jelas,” ungkap Rien tertawa lepas. “Kalau di Arab, wajah dan kulit saya ini termasuk Arab tengah. Waktu saya ke Irak, orang lain tidak bisa masuk, saya bisa. Ya lagi-lagi karena warna kulit dan bentuk wajah saya,” kata Rien.

“Di Indonesia, saya pasti diterima. Di Arab, mereka menerima saya sebagai orang Arab, di Filipina saya diterima sebagai Filipino, di Eropa dengan kulit coklat saya, mereka sangat terpesona. Di Amerika, saya Americanos. Saya tidak pernah di kasih entry form, karena mereka selalu pikir saya Americanos. Malah tidak ada yang percaya kalau tanya asal saya, saya bilang dari indonesia. Jadi saya senyum-senyum saja,” kata Rien.

Bahkan, nama pun bisa berubah. “Kalau di Papua, saya selalu dibilang orang Serui. Mereka lebih percaya nama saya Maria Dacosta Gutere, dibanding nama Rien Kuntari. Saya sih oke-oke saja.” Senyum Rien mengembang. Sekarang, Rien mentah-mentah menolak kalau rambutnya di luruskan.

Tugas Berat Di Awal Kerja

Tahun 1991, Rien ditugaskan meliput konflik Irak dan Kuwait. Padahal, Rien baru 2 bulan menjadi karyawan di koran harian Kompas. Ketika diterima di Kompas tahun 1990, Rien masih harus mengikuti training.

“Inilah penugasan pertama saya ke luar. Waktu itu, saya belum pernah ke luar negeri, belum pernah naik pesawat. Dan saya harus masuk Irak, 15 hari setelah perang darat,” kenang Rien.

Rien justru merasa senang. Katanya, itulah hebatnya Kompas. Dia tidak  tahu apa yang menjadi pertimbangan kantornya mengirimnya pergi ke daerah konflik. Yang juga membuat Rien heran, Saddam justru hanya mau menerima namanya untuk datang dan masuk ke Irak, dari sekian banyak nama wartawan yang disodorkan Kompas, saat itu.

Di Irak, Rien didampingi guide dan supir, yang orang lokal. “Supir saya, kulitnya hampir sama dengan saya. Dimana-mana saya dibilang keponakannya,” sesaat Rien tertawa kecil, “jadi, saya bisa masuk Karbala tenang saja. Saya disuruh tidur di jok belakang, meringkuk saja, terus supir saya bilang ini keponakannya. Saya tidak pernah diminta paspor.”

Kebetulan lagi, Rien menguasai bahasa Arab yang biasa digunakan warga Irak. Ia merasa, bahasa bukan kendala. Justru, makananlah yang jadi kendala Rien saat di Irak. Saat itu, ia hanya bisa makan appel dan anggur. Sesekali roti, kalau kebetulan ia menemukan. Setelah 4 kali bolak-balik ke Irak, Rien sudah mulai terbiasa.

Sampai di Irak, tentu saja Rien ingin mendapatkan berita ekslusif. Hanya saja untuk bertemu Saddam Husein (Presiden yang berkuasa saat itu), tidaklah mudah. Pada kunjungan berikutnya, Rien akhirnya bisa bertemu.

”Syaratnya luar biasa sulit. Syarat awal, kita para media ini harus bayar mobil pribadi, supir dan guide. Ternyata semua wartawan disitu tidak jadi soal. Pada saat ke Irak untuk ketiga kalinya, saat referendum pertama, saya apply, ternyata syaratnya kita harus punya heli. Ternyata dijabani (dilakukan –red) wartawan dunia. Mungkin ini cara mereka untuk menolak. Akhirnya, digelar jumpa pers,” ujar Rien.

Beginilah Wartawan Perang

Hanya ada dua nama yang dikenal publik dan kalangan pers, sebagai wartawan perempuan yang biasa bertugas di daerah konflik. Salah satunya Rien Kuntari.

”Namanya juga perang. Kondisinya ya seperti itu, » ungkap Rien, melukiskan medan yang pernah disinggahi.

Beberapa kali Rien ke Irak, serta masuk daerah konflik seperti Rwanda, Kamboja, dan Timor Timur.

”Memang sulit berada di wilaah yang sedang berperang. Tapi, saya bukan wartawan yang asal masuk. Semua saya perhitungkan dengan baik. Mentally kita harus siap. Saya sedih, kalau ada yang berangkat asal berani, tanpa persiapan mental. Kita harus hitung secara cermat dan tepat, apa yang ada di depan kita. Saya selalu prepair dalam kondisi apapun walaupun hanya 2 hari,” tegas Rien.

Tapi, Rien tetap manusia biasa. Ia juga punya rasa takut. ”Nah, bagaimana kita mengelola rasa takut ini. Saya takutnya tertembak, nah tertembaknya darimana. Takut diperkosa, oke diperkosa karena apa. Ternyata saya lebih takut diperkosa daripada ditembak. Kalau ditembak langsug mati, diperkosa bisa seumur hidup. Saya pelajari pemerkosaan, mulai dari culture atau karakter masyarakat di sana. saya harus jaga diri sebaik-baiknya. Protek baju yang khusus untuk perang. Pada akhirnya, bisa saja tidak mandi sampai 2 minggu,” ujar Rien.

Di Irak, Rien pernah ‘diculik’ Garda Republik selama 3 hari untuk bertemu opisisi. Proses penculikan adalah bagian dari sistem, dan ia ‘dipulang’kan di negara Yordania.

Di Rwanda -negara yang puluhan tahun mengalami perang saudara- ia menjadi satu-satunya wartawan di dunia yang dibawa langsung menemui Jendral Paul Kagame. Rien hampir gagal. Akses masuk ke Rwanda ditutup sama sekali. Ia berusaha mencari link dengan cara nongkrong di kafe, duduk di pinggir jalan. Pihak Hutu menolak, di Neirobi ia masuk melalui link Tutsi. Rien memang dikenal jago bernegosiasi.

Di Kamboja, Rien harus menempuh jalan darat selama 6 jam dari Battambang untuk bisa masuk ke Pailin, wilayah konflik paling berbahaya. Dari sekian banyak kejadian, Rien justru mengaku, Timor-Timur adalah daerah konflik yang peling berat.

“Di Rwanda dan Irak, saya bilang dari Indonesia, tidak jadi soal. Karena negara kita berteman baik dengan mereka. Begitu juga di kamboja. Tapi begitu di Timor Timur saya bilang Indonesia, jadi persoalan. Inilah liputan terbarat yang pernah saya jalani,” ujar Rien.


Tangis Untuk Timor Timur

Rien juga seorang  wanita. Betapapun bengis dan kejam medan konflik yang dihadapinya, ia selalu bisa melihat dan menangkapnya dengan mata hati seorang perempuan yang penuh kelembutan, kejujuran dan cinta kasih.

Inilah yang membuat tulisan jurnalistiknya tentang peristiwa dramatis di sekitar jajak pendapat di Timor Timur 1999, menjadi begitu indah dan mengharukan tapi juga menegangkan.

“Saya terlibat dengan Timor Timur sejak tahun 1992, setelah insiden Santa Cruz. Hampir setiap tahun saya ke Timtim, dan Timtim sudah jadi bagian dari saya. Itu juga karena saya 14 tahun di Kompas di bagian Hubungan Internasional. Timtim waktu itu bagian internasional,” jelas Rien.

Ketika terjadi referendum, kata Rien, pihak kantor merasa ia  cocok ditugaskan ke Timor-Timur. Lagi-lagi karena wajah timor-nya. Awal penugasan Rien ‘tinggal’ di Timtim sejak 15 Juli 1999 sampai 4 November. Kemudian pulang, dan tahun 2000 kembali lagi.

“Saya ikuti Timtim sampai jadi negara baru. Sebenarnya buku ini baru dari episode Juli sampai November. Belum sampai lahirnya Timor Leste. Rencananya saya akan bikin bikin trilogi,” ujar Rien mantap.

Ketika berada di daerah konflik, lanjut Rien, sebagai wartawan ia tidak bisa mengganti indetitas. Jadi segala resiko harus ia tempuh. “Dan memang yang jadi persoalan. Di sana ada dua fraksi, pro otonomi dan pro kemerdekaan. Saya orang Indonesia, dan kalau Indonesia pasti harus pro otonomi,” suara Rien terdengar bergetar.

“Padahal, sebagai wartawan yang harus kita jaga adalah ketidak berpihakan kita. Saya tidak mau meliput otonomi saja. Problemnya disitu. Untungnya saya dilindungi Falintil, wakilnya Xanana di Timtim. Dan saya juga dekat dengan Xanana. Itulah resiko yang dihadapi karena saya tidak berpihak,” ujar Rien. Dan ketika Timtim lepas dari Indonesia, Rien terdiam, sedih. Ada kekecewaan menggelayut di hatinya. Apa yang tengah dipikirkan wanita ini, semua ditulis dengan lengkap di buku tersebut.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Penulis, Profil Wanita | 2 Comments

Lely Purnama Simatupang

Investasi Untuk Anak

Lely merasa pencapaian hidupnya belum utuh. Masih ada celah yang harus diisi. Inilah alasan mengapa ia akhirnya mendirikan Chezlely.


Usia Chezlely masih sangat belia, baru 3 tahun. Tapi, jangan tanya prestasinya.

“Justru, sekarang Chezlely jadi rujukan di kalangan para chef,” kata Lely, bersemangat.

Lely boleh berbangga hati. Kerja kerasnya memang telah berbuah manis. Chezlely Culinary School menjadi satu-satunya tempat kursus memasak yang diakui di banyak tempat dan negara.

Dua Karakter

Kata Lely, secara umum menurut hasil survey yang dilakukannya, didapati bahwa kursus khusus memasak, terbagi dalam dua karakter. Pertama, kursus untuk penggemar masak. Istilahnya amatir. Kelas amatir ini banyak diminati oleh para ibu rumah tangga, dan para pemula yang ingin membuka usaha restoran, atau mulai menjual aneka kue. Sedangkan untuk kelas profesional, termasuk dalam kategori kedua.

“Itu biasanya ada dalam institusi-institusi pendidikan formal seperti NHI-Bandung, sekolah-sekolah perhotelan di Jakarta, dan lain-lain. Mereka banyak mempelajari ilmu-ilmu perhotelan, tidak terlalu detail membahas mengenai kuliner. Chezlely Culinary School sebenarnya dibuka untuk memenuhi kebutuhan dua kategori kursus tersebut. Semua orang dengan aneka latar belakang pendidikan, bisa ikut belajar di sini,” terang Lely.

Tempat ini, lanjut Lely, menyiapkan konsep yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta kursus. Untuk kategori kelasnya, terbagi dalam dua kelompok besar. Le Cuistot, untuk kelas dewasa.

Kelas ini terdiri dari dua kategori. Amatir dan profesional. Untuk kelas amatir, biasanya diminati para pemula dan penggemar dunia kuliner. Sedangkan untuk kelas profesional, banyak dikuti oleh orang-orang yang ingin lebih serius terlibat di dunia kuliner, sebagai pengusaha, pengelola restoran, dan chef profesional.

Sedangkan kelompok Le Petit Chef, adalah kelas khusus untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 13 tahun. Kelas ini terbagi juga dalam dua kategori, kelas amatir dan kelas intensif. Yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang benar-benar berminat dan serius menekuni bidang kuliner. Baik kelas amatir yang hanya belajar dalam sehari (short course method), maupun kelas intensif yang ditempuh selama 10 kali pertemuan setiap minggunya, dua kelas ini sama-sama banyak peminatnya.

Konsep Edukasi

Mengenai konsep edukatif di sana, Lely menjelaskan panjang lebar, “Untuk kelas amatir pun, kursusnya didesain untuk bisa melihat sesi demo. Sambil melihatnya, peserta didik bisa bertanya sebanyak-banyaknya melalui sesi demo ini. Setelah itu mereka mempraktekkannya sendiri-sendiri.”

Tentu saja, lanjut Lely, tetap dalam bimbingan pengajar yang juga mengawasi dan menemani mereka. Desain untuk kategori dewasa dan kelompok anak-anak, dikonsep hampir sama bentuk. Hanya bobot materi-materinya saja yang dibedakan.

“Misalnya untuk anak-anak, kami berangkat dari konsep “I like to eat”. Karena suka makan, maka mereka juga ingin menyediakannya. Anak-anak bisa lebih paham dan lebih dekat dengan makanan-makanan kesenangannya. Pizza, Apple Pie, Brownies, Little Fairy Cake, dan lain-lain. Mereka bisa belajar dan bermain sambil berkreasi,” kata Lely.

Didukung oleh para pengajar profesional, kelengkapan peralatan dan fasilitas yang dibuat dengan standar internasional, serta suasana kursus yang nyaman, tak sedikit orang memilih tempat ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Walaupun kegiatan ini dilakukan pada saat-saat liburan maupun pada waktu-waktu luang.

Untuk bisa lebih mengenal dunia kuliner, tak hanya perempuan yang punya tempat khusus di dalamnya. Tempat ini terbuka luas untuk siapa saja yang ingin “berkenalan” dengan dunia kuliner. Biaya kursusnya pun relatif murah.

Para peserta didik, akan mengenakan seragam khas chef di tempat ini. Topi chef yang berdiri tinggi, diberikan untuk para peserta yang mengikuti kelas amatir (short course method), sedangkan untuk kelas intensif dan profesional, mengenakan topi yang bentuknya lebih membulat dengan ukuran yang lebih rendah.

Pakaian Khusus

Suasana yang dibangun, menjadi cukup menarik. Bagi anak-anak dan orang-orang dewasa yang belum terbiasa dengan seragam ini, akan membuat mereka semakin merasakan benar-benar sebagai chef professional, dan sesi belajarnya pun menjadi lebih terasa. Benar-benar berada di dapur dengan seluruh peralatan standar internasional dan aman untuk digunakan oleh anak-anak maupun dewasa.

Pelajaran kursus biasanya diawali dengan kelas demo. Berkas-berkas resep dibagikan kepada setiap peserta kursus. Pada sesi ini, peserta akan mendapat banyak paparan dan panduan sekaligus melihat cara memasak berikut dengan tips-tips praktisnya. Selain mencicipi makanan hasil demo dari pengajarnya, peserta pun punya kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Setelah itu, peserta diperkenankan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke kelas praktek. Celemek, lap, dan topi chef, adalah perangkat “belajar” di kelas ini. Sedangkan segala macam peralatan yang dipakai untuk mengolah makanan dari mulai tahap persiapan bahan, mengolah hingga matang, dan disajikan dalam plate menarik, semuanya menjadi tanggung jawab pihak Chezlely Culinary School. Tempat ini juga menyediakan bahan-bahan makanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daftar menu yang akan dibuat.

Jika hidangan telah matang, ada sesi ‘menghias’. Maka, jadilah memasak sebagai kerja kreatif yang sempurna. Menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Untuk sendirian, ataupun dinikmati bersama-sama, tak jadi soal. Tapi liburan kali ini, telah terisi dengan hal baru yang menambah wawasan pengetahuan.

Kepuasan Profesional

Banyak tempat telah disinggahi Lely, sebelum ia sampai di ‘pelabuhan’ terakhirnya.

Lely pernah menjabat sebagai Director Purchasing & Quality Assurance, serta Operation Manager McDonald’s Indonesia. Saat ini, Lely adalah Managing Director pada Chezlely Culinary School.

Pengalaman sebelumnya, ia pernah menjadi New Channel Development Manager, Wall’s Ice Cream pada Unilever Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan beliau antara lain di Strategic Executive Program (Monash Mt Eliza, Melbourne), Basic and Intermediate Cuisine (Le Cordon Bleu, Paris) dan Management Program–Wijawiyata Management, Institut Pendidikan & Pengembangan Manajemen (IPPM). Lely bahkan telah mengikuti Restaurant Operations courses, Supply Chain and Quality Assurance Courses dan Marketing and Development courses di berbagai negara.

Alasan Lely mendirikan Chezlely Culinary School, “saya memang dari awal tujuannya melatih profesionel chef. Awalnya masih yang tua-tua, tapi makin kesini relatif makin banyak yang muda-muda. Mereka seumur itu sudah melihat profesi chef itu merupakan satu alternatif,“ ujar Lely.

Namun, Lely mengakui, ia sangat menyukai dunia memasak.

“Awalnya, ketika saya masuk usia 40 tahun. Saya mereview, saya mau ngapain kedepannya,” kata Lely, menerawang. “Kalau saya mau melakukan sesuatu, saya mereview apa yang saya lakukan dan apa yang akan saya kerjakan ke depan.”

Kalau yang sifatnya ambisi dan bekerja, lanjut Lely, “saya sudah puas. Saya pernah bekerja, naik pangkat, promosi, sudah mencoba dan sudah cukup baik. Lantas apa selanjutnya.”

Akhirnya, Lely memutuskan belajar memasak di Paris, Perancis, tahun 2002. Lely memang bertekad tidak akan bekerja lagi disaat usia 45 tahun yang clock in-clock out.

“Saya ingin berbuat yang tanda petik, tapi ada kepuasan secara profesional,” tegas Lely.

Di Paris, Lely dibukakan mata hatinya. Dia melihat, banyak anak-anak usia 16 dan 17 tahun, sudah dikursuskan orangtuanya belajar memasak.

“Program 30 minggu, 3 kali seminggu, biayanya 7000 euro (sekitar Rp. 112.000.000). Tentu saja ini tidak mungkin uang sendiri, pasti dari orang tuanya. Pasti orang tuanya percaya dan paham kalau itu bukan investasi yang tidak sia-sia. Mereka berani berinvestasi sebesar itu demi anak-anaknya, » kata Lely.

Lantas, Lely menambahkan, “di Indonesia kenapa jalurnya masih setelah tamat SMA, kuliah dan baru kerja. Relatif profesi masih dianggap satu profesi yang tidak butuh keahlian. Padahal, disini semua elemen ada. Masak ada, interaksi sama orang, dan ngajarin orang. Ini bagian-bagian yang saya sukai,” ujar Lely, bersemangat.

Tak mau menunggu terlalu lama, Lely menangkap peluang ini. Dia berharap, bisa membukakan mata hati masyarakat Indonesia. Untuk berpikir, di luar ‘kotak’ yang sudah tersedia.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 1 Comment