Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Dian Syarief

“Meski Penglihatanku Terenggut”


Secara kasat mata, Dian terlihat bugar. Ia wanita ramah yang dengan segudang aktifitas. Namun, beberapa bulan silam, Dian harus menerima kenyataan, ia kehilangan penglihatannya.


Nama Dian memang tak asing lagi di kalangan wartawan ibu kota. Ia pernah menjabat sebagai Corporate Communication Manager PT. Bank Bali Tbk, karir yang ia rintis sejak tahun 1990.

Sayangnya, karir yang sangat cemerlang ini, harus berakhir kala penyakit Lupus menggerogoti tubuhnya. Sejak di vonis Lupus, Dian kehilangan sebagian besar penglihatannya akibat infeksi otak yang merusak saraf penglihatan. Ia membutuhkan asisten untuk menuntunnya berjalan. Jauh berbeda dengan kondisinya ketika masih aktif bekerja, yang selalu sigap memberikan informasi perbankan dan keuangan.

Kini, Dian mencurahkan seluruh waktunya, berkegiatan sosial bersama Yayasan Samsi Dhuha yang ia dirikan tahun….. Di Yayasan inilah, Dian ‘bekerja’ tanpa pamrih. Ia tak mengeluh ketika tubuh terasa lelah dan sakit. “Tapi saya harus kontrol diri. Tidak boleh capek dan tidak boleh kena sinar matahari,” ujar Dian Syarief.

Enam Kali Operasi

Dian teringat kejadian sepuluh tahun silam. Dia baru saja mempersiapkan diri untuk membaca saritilawah Al Quran, di pernikahan adik lelakinya.

“Pagi itu saya mau latihan baca. Tapi waktu saya baca, huruf-hurufnya samar. Saya kucek-kucek mata, tetap saja tidak terbaca,” kenang Dian.

Dian makin heran ketika di mobil –dalam perjalanan ke gedung pernikahan- ia hanya bisa melihat bayang-bayang gedung yang dilewati. Dian pun gusar. Tapi, diluar dugaan, saat suaminya selesai membaca surat An Nisaa, mata Dian tiba-tiba bisa melihat hurus-huruf Al Quran. Ia bisa dengan lancar membaca terjemahan ayat-ayat tersebut sampai selesai.

Ternyata, itulah terakhir kali Dian membaca, Keesokan hari dan selanjutnya, Dian kembali masuk dalam dunia barunya. Hanya bisa melihat siluet-siluet dan bayang-bayang. “Tapi saya bersyukur. Tulisan terakhir yang bisa saya baca itu adalah ayat-ayat suci Al’Quran’,” kata Dian.

Kehidupan Dian yang bersuamikan Eko Pratomo, Direktur Utama PT. Fortis Investments, berubah seratus delapan puluh derajat. Ironisnya, walau kedua orangtuanya dokter, empat orang adiknya juga dokter dan Dian sendiri sarjana farmasi, penyakit Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) terus saja menggerogoti tubuhnya.

Saat penyakit Lupus menyerang di usianya ke-33, diakui Dian, sebenarnya ia termasuk orang yang rajin mengecek kesehatannya.

“Saya langsung dibawa ke Rumah Sakit Mounth Elizabeth, Singapura. Saat itu infeksi di otakku sudah menjalar ke mana-mana. Dalam sebulan, saya menjalani operasi di kepala sampai enam kali. Dan bisa dibayangkan, itu sangat berat,” kata Dian.

Dalam sehari Dian harus mengkonsumsi 20 tablet. “Kulit saya berkeriput, dan flek-flek tumbuh persis nenek-nenek, di mulut tumbuh semacam sariawan tapi sangat parah, kaki mengecil seperti belalang, namun mukaku jadi seperti bakpao, gendut,” ungkap Dian, getir.

Lebih berat lagi, ketika dokter menvonisnya mengalami kerusakan mata permanen, atau buta untuk selamanya. Dian tidak sanggup berkata-kata lagi.

Ladang Amal

Dian mengaku sulit menerima kenyataan.

“Sebulan, dua bulan, tiga bulan, terus terang berlau dengan sangat menyiksa,” ujar Dian. Tapi ia bersyukur, orangtua, suami, keluarga besar, dan sahabt-sahabatnya memberikan dukungan yang sangat berarti.

“Saya mulai di ajak keluar rumah, berjalan-jalan di pekarangan, bahkan sekali-kali minta diajak keliling kota dengan naik mobil. Walaupun hanya melihat bayangan-bayangan, hiruk pikuk, dan sliweran angin. Saya mulai merasa ‘melihat’ dan mengetahui apa yang ada dan terjadi di sekeliling. Saya bersemangat lagi dan mulai melatih kepekaan indera-indera lain untuk mengganti fungsi mataku,“ kata Dian.

Tak ingin hidupnya sia-sia, tahun 2003, saat Eko dan Dian pindah ke Bandung, mereka sepakat mendirikan Yayasan Syamsi Dhuha, yang berarti Mentari Pagi. Dian ingin memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada masyarakat tentang penyakit Lupus.

“SDF menjadi wadah bagi para sahabat Odapus atau orang dengan Lupus, sahabat Lovi yang artinya low vision atau penglihatan terbatas, dokter pemerhati lupus dan low vision, relawan, donatur dan mitra untuk saling berinteraksi dan berladang amal bersama,” jelas Dian.

Di tengah kondisi kesehatan yang pasang surut, Dian aktif mengomandani pasukan sukarelawan yang terdiri atas para sahabat Odapus. Ia juga giat tampil sebagai pembicara di banyak kegiatan seminar, termasuk berbagai kegiatan yang diselenggarakan Care For Lupus Syamsi Dhuha Foundation.

Kegiatan tulis menulis juga masih dilakukan Dian meski ia harus dibantu rekan dan perawatnya ketika harus menuangkan buah pikirannya. Hidup, kata Dian, tidak pernah berhenti. Meski kini, Hidup Dian dilalui dari rumah sakit ke rumah sakit.

“Yayasan ini jadi pengembalian dari investasi biaya berobat yang diberikan Allah pada saya yang tak ternilai jumlahnya. Karena kalau dihitung- hitung, biaya operasi dan berobat saya sangat mahal, tapi selalu saja ada rejeki untuk menutupinya,” kata Dian, tersenyum.

Pengalaman paling berkesan…

Banyak sekali pengalaman yg berkesan mulai dari jaman sekolah, kuliah, bekerja dan berumah tangga. Juga saat perjuangan hidup mati menghadapi Lupus dan memulai hidup baru dengan keterbatasan penglihatan. Yang paling disyukuri adalah saat bisa bangun kembali setelah menjalani rangkaian bedah otak selama 6 kali berturut-turut dalam waktu satu bulan.

Kesan yang membekas di Syamsi Dhuha…

Saya ingin bisa bermanfaat bagi Tuhan & bagi sesama. Tahun 2004 ketika untuk pertama kalinya SDF mengadakan World Lupus Day di aula barat ITB, karena itu adalah saat yg pertama bisa berkegiatan kembali dgn mengadakan satu event besar setelah sekitar 5 tahun harus berjuang menghadapi penyakit Lupus, komplikasi & efek samping terapi-nya.

Prestasi yang membanggakan…

Tahun 2007 saat SDF beroleh kesempatan untuk mengikuti  International Lupus Congress di Shanghai utk mempresentasikan ‘Challenge For  Lupus Peer Group In Indonesia’ & ‘Spiritual Healing For Lupus Patient’. Dimana makalah yg terakhir juga beroleh penghargaan di forum ilmiah Clinical Reumatology Updated-Bandung.

Membagi waktu…

Tahun 2004 saat kondisi fisik membaik dan relatif stabil, saya memilih untuk total menjadi relawan Lupus & Low Vision dan tidak kembali untuk menjadi seorang profesional di bidang Perbankkan/Public Relation. Kesempatan hidup yang kedua ini dirasakan terlalu berharga jika hanya digunakan utk bekerja bagi perusahaan. Yang ingin dilakukan adalah bekerja bagi banyak orang.

Aien Hisyam

October 27, 2009 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: