Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ester Indahyani

Kalau Helai Rambut Belum Jatuh

 

 

Ia baru tiga bulan menikah ketika kerusuhan Mei 1998 membara. Seperti lintah, peristiwa itu jadi kenangan buruk dalam ingatan.

 

Seorang teman datang padanya sambil menangis. Adiknya diperkosa beramai-ramai di jalan tol. Ia etnis Tionghoa, seperti Ester yang duduk tertegun di depannya.

Di lain hari, wanita ayu berkulit kuning langsat ini mendengar penuturan jujur dokter ginekologi. Lebih dari 5 pasiennya dirawat dalam kondisi menyedihkan, alat kelaminnya (maaf) rusak berat dan ada yang rahimnya ‘berantakan’. Semua keturunan Cinta, dan mengalami saat bumi Indonesia dihantam tragedi Mei 1998.

Ester jadi sulit tidur. Dia marah dan menangis. Belum lagi memikirkan saudara-saudaranya se-etnis yang mati hangus terbakar di dalam rumah dan toko. Spontan didirikannya LSM Solidaritas Nusa Bangsa (SNB).

“LSM itu alat perjuangan. Kalau SNB itu alat untuk penghapusan diskriminasi rasial. Jadi kenapa di SNB, aku dan teman-teman lain berjalan untuk tujuan itu,” kata wanita yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling.

Sempat Menolak

Hampir 9 tahun Ester berjuang. “tapi ‘berhenti’ dimana-mana,” ucapnya, mengeluh.

“Secara hukum pemerkosaan itu sulit (dibuktikan). Tetapi secara umum, kasusnya ini pelanggaran berat HAM, itu jelas bisa dibuktikan. Terbukti rentetan kejadian lain jelas sekali mengarah ke satu gerakan kejahatan yang sistematis yang luas. Waktu di Komnas (Komisi Nasional) kita mendata ledakannya di lebih 50 titik lokasi. SNB dan YPHI (Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia)  mendata lagi di 80 titik ledakan sosial. Jadi ada pola yang jelas kerusuhannya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ester staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia gadis peranakan Tionghoa yang berpikiran maju. Seperti orangtuanya, Immanuel Jusuf yang guru, dan Maria Tjandra yang bekas guru.

Lulus Fakultas Hukum UI, Ester masuk ke dunia korps jubah hitam.

“Awalnya ingin jadi Hakim, dengan pemikiran naif-ku saat itu. Hakim yang memberikan keadilan. Dia bisa memutuskan perkara. Orang benar dibebaskan, orang salah dihukum. Tapi waktu aku mempelajari kehidupan Hakim baik secara hukum, politik dan ekonomi, ternyata jauh dari harapan,” kata Ester.

Ia tidak suka ketidakadilan. Sering melawan hukum apabila hukum berjalan diluar sistem.

Kegigihan Ester menjadi ‘pengacara rakyat’ membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Mulai dari Forum of Human Rights (1999), Yap Thiam Hien (2001) hingga Ashoka World Foundation (2003) yang bertaraf Internasional.

“Dulu sempat mau menolak Yap. Kan yang berjuang bukan hanya aku. Kalaupun muncul, itu karena gerakan. Semua membicarakan. Aku hanya satu unsur disana. Tapi teman-teman yang memaksa. Apabila wacana HAM yang diangkat, itu akan sangat menguntungkan perjuangan anti diskriminasi. Dan buat aku sendiri ke depan juga sangat baik. Orang akan menghargai saat aku membicarakan diskrimasi rasial atau masalah-masalah lain,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah kerusuhan Mei 1998, masalah etnis Tionghoa ramai dibicarakan.

“Bahkan jadi komoditas. Kalaupun aku dianggap tokoh itu peran media. Padahal peranku hanya kecil sekali. Yang bicara pada tanggal yang sama ada beberapa. Tapi mungkin karena aku perempuan, jelas Tionghoa dan muda, masih 27 tahun. Aku juga dari LBH dan dianggap baru,” jelasnya lagi.

Ditembak Peluru Karet

Pernikahan Ester dengan Arnorld Fransiskus Purba, aktivis ‘garis keras’ membuat perjuangan wanita kelahiran 15 Januari 1971 ini kian runcing. Meski suaminya bukan etnis Cina, keduanya gigih membongkar dan membela para korban kerusuhan Mei. Purba meninggal tahun 2001 akibat livernya rusak.

“Bang Ucok (panggilan untuk suaminya) mengajar aku berani melawan struktur. Menghadapi tentara dan belajar melawan sistem dan hal-hal feodal,” kenang Ester.

Ia kembali menikah tahun 2005 dengan pria Jawa yang juga bukan etnis Tionghoa, Albertus Suryo WIcaksono. Pria ini justru mengajarkan Ester untuk  ‘mengakar ke bawah’.

“Memahami pikiran masyarakat bawah. Memahami kultur bangsa Indonesia. Jadi keduanya bertolak belakang, Satu ke atas, yang satu ke bawah. Membuatku jadi lebih lengkap,” katanya, bangga.

Bekerja melawan arus pastilah beresiko dengan nyawa.

“Orangtua sempat kuatir. Apalagi aku tidak pernah cerita apa yang aku alami,” ujar Ester.

Seperti ketika Ester jalan sendirian menuju LBH Jakarta dekat Megaria. Hari sudah gelap, sudah jam 7 malam. Tiba-tiba bahu kanannya perih. Ia terjatuh. Sepintas ia melihat dua pria berboncengan motor menenteng pistol sambil tersenyum.

“Sakit sekali seperti mau mati. Ternyata ada lebam dan luka di tengah. Aku menduga ditembak peluru karet. Teman-temanku banyak yang mengalami seperti itu, karena kebetulan waktu itu aku sedang menangani kasus orang-orang hilang. Aku biasa lembur. Suamiku masih di LBH,” kenang Ester.

Teman-teman memaksa Ester siaran pers. Esoknya, semua media cetak dan elektronik menulis kisahnya. Orang tuanya membaca.

“Mereka kaget dan bilang kalau sudah taruhan nyawa kenapa juga masih diteruskan. Tapi kemudian mereka berdoa dan telepon lagi, Papa bilang, rambut di kepalamu tidak akan jatuh kalau tanpa Tuhan mau. Kalau Tuhan mau, di rumah pun kita bisa meninggal. Aku bersyukur sekali,” ujar Ester, matanya berbinar bahagia.

Ester jadi kebal dengan terror. “Capek kalau dipikirin!”

Buku Yang Dilarang

Ester kesal. Bulan lalu satu bukunya dilarang terbit Komnas HAM.

“Padahal, buku itu murni dari hasil investigasi selama 1 tahun. Data dari Komnas yang saya ambil adalah hanya data TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Kemudian mereka mengkaim bahwa data itu semua milik mereka. Padahal data saya ada tambahan dari hasil investigasi selama 1 tahun. Lebih detail, lebih lengkap dan lebih luas,” ujar Ester tentang buku berjudul ‘Analisa Data dan Fakta Kasus Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei

Imbasnya, ia diprotes korban-korban kerusuhan Mei. “Karena mereka juga ikut dalam investigasi. Kesal kenapa bukunya kok dilarang.”

Dua buku lainnya berjudul ‘Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998’ dan ‘Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kesusuhan Mei 1998

“Buku Menatap Wajah Korban, isinya sketsa para korban yang tidak punya foto. Miskin kota yang mati di bunuh di Plaza-plaza, kebanyakan tidak punya foto,” terang Ester.

Para pelukis, lanjut Ester, berbicara dengan keluarga korban. Mereka menggambarkan wajah korban, dan dilukis. Ada puluhan wajah yang muncul.

“Dan itu ternyata jadi trauma healing pada keluarganya. Jadi begitu mereka lihat sketsa wajah itu, muncul lagi kejadian itu. Mereka pada menangis. Tapi setelah itu mereka jadi kuat. Ini seperti terapi. Mereka merasa perjuangan masih panjang. Korban tidak hilang begitu saja,” lanjut Ester.

Buku Reka Ulang juga berupa sketsa kejadian. Misalnya di Glodok, di Pondok Indah dan puluhan titik lokasi. Minimal ada dua saksi dalam satu tempat. Masing-masing bercerita tentang kejadiannya, dan dibuat sketsa. Seperti rekonstruksi kejadian saat itu.

“Bukunya jadi penuh sketsa. Masyarakat Indonesia kan susah kalau membaca. Bahasa gambar lebih bisa diterima. Harapannya bisa rekonstruksi kejadian dan wajah pelaku. Kebanyakan korban tidak mengenali pelakunya. Ada yang mengenali tapi kesaksiannya tidak signifikan. Kebanyakan lari. Ada yang lihat tapi tidak ngeh karena banyak pelakunya,” kata Ester, lagi.

Aien Hisyam

*wawancara 12 Februari 2007*

Advertisements

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | 1 Comment

Hanny

Senang Dibilang Aneh

 

 

“Namaku Hanny. Segitu saja.” Ia wanita keturunan yang ingin hidup ‘berbeda’. Dibilang antik, justru membuatnya senang.

 

Tak sesingkat namanya. Perjalanan hidup Hanny relatif berliku. Ia suka hal-hal yang tak lazim –seperti hidup warga keturunan pada umumnya.

“Memilih sekolah saja sudah beda. Termasuk keinginanku dalam hidup. Pokoknya, beda deh sama saudara-saudaraku yang lain (baca: keluarga besarnya),” kata Hanny.

Keluarga Pedagang

Hanny dididik keras Ayahnya, pemilik perangkat rumah tangga bermerek Vicenza.

“Dari kecil saya dibiasakan jadi pedagang. Nenek, Ibu, dan semua keluarga besar adalah pedagang. Nenek usia 85 tahun masih kerja di Senen,” tutur Hanny.

Ia mengaku dari keluarga sederhana. Sering dibawa ke toko usai pulang sekolah. Dari kecil, Hanny terbiasa melihat orang berdagang.

“Saya tidak lihat kehidupan lain selain berdagang. Saya tinggal juga dilingkungan pedangan, di Jembatan Lima. Apalagi kita orag perantauan dan  Sumatera pula yang notabene pedagang. Uniknya, keluarga besarku rata-rata bikin kue,” ujar Hanny.

Sejak kecil Hanny bercita-cita ingin jadi profesional, seperti dokter dan pengacara.

“Bukannya dipuji tapi malah dicela, ‘Mau apa jadi dokter?’. Untungnya saya dibiarin begitu saja,” katanya, dengan nada lega.

Di sekolah, diam-diam Hanny bermain drama. Ia juga belajar membaca prosa. Pernah, ia juara baca Prosa se-DKI. “Pulang, Mama cuek saja. Apalagi Papa. Tapi saya senang. Ada kepuasaan pribadi sendiri,” ujar Hanny, bangga.

Jaman Sekolah Dasar, lanjut Hanny, “etnik (istilah warga keturunan) jarang ikut teater. Waktu itu ada teater anak-anak betawi untuk ultah Jakarta, saya tidak dikasih ikut. Mama bilang, “Ny buat apa?” apalagi Papa, sama sekali tidak boleh. Yah sudah, sekolah lagi sekolah lagi,” kenang Hanny.

Pantang putus asa, Hanny –tanpa sepengetahuan orangtuanya- bergabung di grup paduan suara dan tari. Demi kepuasan diri.

Keluarga Aneh

Dua tahun kuliah di Atmajaya, Hanny berubah pikiran. Dia ingin sekali hidup di Luar Negeri.

“Cita-cita dari kecil tuh. Bagaimana caranya bagaimana, ya saya bayar pakai sekolah. Harus lulus dalam jangka waktu 2 tahun saja. Kalau tidak selesai ya pulang. Oke deh yang penting bisa hidup di luar negeri,” ucap wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1977.

Ia pilih sendiri kota yang akan disinggahi. Katanya, harus yang paling sepi dan tidak banyak orang Indonesianya.

“Saya pilih Perth, Australia. Kuliah di Curtin University. Disana saya tidak punya teman. Karena kalau saya ngumpul dengan teman-teman, saya tidak bisa masuk ke kehidupan yang ingin saya ketahui. Yang ada, saya hanya kumpul dengan orang Indonesia saja, makan makanan Indonesia, dan waktu istirahat seperti orang Indonesia pada umumnya. Buat saya ya ngapain jauh-jauh ke Australia kalau hidupnya masih sepeti itu,” ujar Hanny. Dia justru senang dibilang aneh.

Hanny tidak mau tinggal dengan keluarga Indonesia, juga bukan orang Asia, dan bukan bule. Ia pilih tinggal di keluarga Eurosian, yaitu campuran Eropa Asia.

Basic-nya Singapura. Saya baru tahu kalau orang Singapura tidak harus Chinese. Mungkin mereka lama dengan Inggris, Portugis dan segala macam. Mereka unik dan aneh. Perempuannya kayak bule tapi rambutnya coklat mukanya ada Asia karena dia ada campuran Taiwan, Inggris dan Portugis. Sementara suaminya ada campuran Indian dan Portugis. Punya anak yang keren-keren,” kenang Hanny sambil tertawa.

Bulan pertama, Hanny sering bertengkar dengan pemilik rumah. “Kaku, melebihi orang tua. Malam lampu harus mati, mandi di timing katanya air mahal. Padahal saya bayar seminggu 150 dolar. Lama-lama saya mulai mengerti. Mereka hemat karena tidak selamanya kita punya air. Disana negara tandus. Listrik dan air dijaga dengan sangat baik,” kenang Hanny.

Di Demo Karyawan

Di Australia Hanny juga masuk ke sekolah Sekretaris. Atas desakan Ayahnya.

“Bokap punya pikiran, anak perempuan tidak harus bikin kue. Karena di keluarganya semua anak perempuan jualan dan bikin kue. Bapak lihat perempuan itu punya segala-galanya. Perempuan tergantung dirinya masing-masing. Karena kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain. Lelaki belum tentu bisa seperti itu,” ujar istri Sapta Widya.

Masih kata Ayahnya, “kamu jadi perempuan yang selalu  minta dilindungi. Seandainya kamu bisa memainkan peran kamu pada saat bisa dilindungi dan satu saat tidak bisa dilindungi dan kamu bisa berdiri sendiri, kenapa tidak. Hari gini perempuan harus bisa berdiri sendiri.”

Lepas kuliah, Hanny bekerja di perusahaan Ayahnya menjadi sales.  Ia ‘belajar’ dicuekin orang, diomelin, sampai ditolak mentah-mentah.

“Baru beberapa bulan kerja, tiba-tiba kantor di demo. Saya lagi hamil besar. Justru saya layani mereka. Saya bawa kertas satu rim dan pensil dua kotak. Saya suruh mereka tulis surat pengunduran diri, saat itu juga. Eh, ternyata tidak ada yang mau. Kesal juga sih, ternyata mereka diprovokasi,” kenang ibu satu putri, Kai Amory Widya.

Seperti Pilih Pacar

Di Vicenza, Hanny mengepalai bagian Marketing sekaligus HRD, juga memimpin tim artistik.

“Ide semua Papa, saya cuma mengembangkan dan mengolah. Kalau Papa sudah oke, dikirim ke pabrik. Setelah sample-nya jadi, kita diskusi lagi. Kalau ada kekurangan, diolah lagi. Apakah bisa dimasukkan ke pasaran atau tidak

Pengalaman Ayahnya 30 tahun membesarkan produk Vicenza dijadikan ‘sekolah’ buat Hanny.

“Belajar dengan orang yang punya pengalaman jauh lebih berharga dibanding hanya membaca buku. Jadi, daripada saya belajar dengan orang lain,  lebih baik belajar sendiri dengan Bapak saya. Bapak punya imajinasi. Idenya tidak pernah stop. Dia akan ngomong begini begitu. Nah, saya belajar dari situ,” kata Hanny.

Ciri khas disain produk Vicenza, “kita banyak bermain di emas. Tidak pernah lepas dan harus menonjol. Karena dari dulu saya lihat dari ujung Indonesia timur sampai barat, hampir rata-rata yang menunjukkan kemewahan adalah emas. Dari kain hingga perhiasan. Semua yang ada benang emas masuk barang mewah,” jelas Hanny.

Kesal sering ditiru, Hanny mempatenkan tiap disainnya.

“Saya mendisain dengan tim art yang hebat. Saya sendiri yang cari  disainer grafisnya. Seperti nyari pacar. Dia harus ngerti pikiran saya. Apa yang saya inginkan. Dan saya harus bisa menyapaikan apa yang saya mau. Saya tidak punya kemampuan gambar tapi saya punya imajinasi. Saya hanya bisa gambar oret-oretan yang harus diketahui,” kata Hanny.

Aien Hisyam

*wawancara 15 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Yenny Zannuba Wahid

Memilih Pekerjaan Sesuka Hati

 

“Saya perempuan beruntung,” kata Yenny tentang dirinya. Sayangnya, hingga kini ia belum beruntung menggapai jodoh.

 

Staf ahli presiden RI, seolah menjadi penegasan status Yenny saat ini. Deretan status lainnya, sebagai pimpinan di Departemen Pengembangan NU, Sekretaris Jenderal PKB, Direktur The Wahid Institute, hingga asisten pribadi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, ayahnya sendiri.

Setiap menit, katanya, sangat berharga. Ia perempuan sendiri dari 7 staf ahli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ini salah satu keberuntungan,” kata wanita bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, dengan mata berbinar.

Panggung Hampir Roboh

Siang terik di Jombang, Yenny berdiri di samping Gus Dur, panggilan ayahnya. Wajahnya tegang. Di depan, ratusan ribu orang beristighosah. Panggung mulai limbung disesaki pendukung.

“Belum selesai Bapak pidato, panggung mau roboh. Tiba-tiba ratusan orang menyangga panggung agar tidak roboh sampai pidato Ayah selesai. Saya nangis. Dalam hati saya, Ya Allah, begitu besar kecintaan orang, kepercayaan orang terhadap Ayah dan keluarga saya,” kenang Yenny.

Kejadian di tahun 2001, -saat Gus Dur dipaksa meletakkan jabatan Presidennya- membekas di hati Yenny.

“Padahal, awalnya saya tidak mau terjun di dunia politik,” katanya.

Tiga tahun mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) ini bimbang.

“Saya begitu beruntung, bisa sekolah di Harvard, bisa aktualisasikan diri, bahkan pekerjaan saja saya milih sesuai kesukaan saya. Karena itu saya berpikir kembali untuk memberikan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya harus berikan kontribusi pada masyarakat,” ujar Yenny.

Desakan orang-orang partai dan kader-kader NU tidak goyahkan hati Yenny. Tahun 2002, Yenny justru pergi ke Cambridge-Amerika, kuliah di Harvard University.

“Lulus setahun kemudian, pulang, saya bikin Wahid Institute. Saya senang kerja di belakang layar,” ucap Yenny.

Kembali, tawaran menjadi anggota parlemen ditolak wanita bersuara lembut ini.

“Saya tidak mau. Jangan sampai saya dicalonkan karena saya anaknya Gus Dur. Saya tidak mau seperti itu. Terlalu gampang,” kata peraih penghargaan Australia’s Premier Journalistic Award – The Walkleys.

Terdesak Keputusan

Ketika partai PKB diguncang masalah, “ada kelpmpok yang mau mendepak Bapak dari parpol. Saya pikir itu tidak bisa ditoleransi. Saya harus turun dan ikut masuk. Dan mempertahankan partai ini. Partai ini kan yang buat Bapak. Ibaratnya ada yang mau ngusir dari rumah kita sendiri. Itu tidak bisa diterima,” suara Yenny meninggi.

Tahun 2004, sarjana desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti ini menerima jabatan formal Sekretaris Jenderal PKB. Katanya, demi keutuhan PKB.

“Kalau masuk politik ya harus kuat. Politik itu sebuah lingkungan yang kalau tidak kuat bisa terpental. Ada kejamnya. Tidak hanya siap mental saja. Dulu kalau ada yang jahat dan nyakitin sama saya, padahal saya tidak kenal orang itu, saya sampai nangis,” kenang Yenny sambi tersenyum.

Sekarang, lanjutnya, “saya sudah bisa baca, tuh orang kepentingannya mau apa. Sekarang saya sudah bisa bedakan komentar yang punya substansi dan tidak ada substansinya. Kalau komentar punya substansi, harus kita dengarkan. Apalagi kalau niatnya mau memperbaiki keadaan. Kalau perlu orang yang ngomong ajak diskusi.”

Awal pemilu tahun lalu, Yenny dan partainya protes ke KPU.

“Kita golput. Saya kesal karena Bapak tidak boleh mencalonkan (Presiden RI). Alasannya karena kesehatan. Berarti orang yang yang cacat tidak boleh maju ke kancah seperti itu. Buat saya tidak penting kalah atau menang. Gus Dur itu anti diskriminasi, tapi kok malah di disriminasi begitu. Buat saya, itu yang harus diperjuangkan. Lebih baik ikut tapi kalah daripada haknya dirampas. Realitanya begitu,” kata Yenny dengan nada kesal.

Diputaran akhir pemilu, Yenny menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono, untuk jadi Presiden. “Setelah Pak SBY menjabat setahun, baru saya diangkat sebagai staf ahli,” ujar Yenny.

Saat Di Amerika

Yenny sadar ada anggapan miring tentang ‘keberuntungan’nya. “Itu dalam konteks orang selalu bilang saya anaknya Gus Dur. Mereka bilang kalau bukan anak Gus Dur pasti tidak bisa. Yah biarin saja,” katanya.

Yenny ditelepon staf SBY saat dirinya di Bandara, sedang dalam perjalanan ke Jember, mengunjungi korban banjir dan tanah longsor.

“Saya diminta menghadap pak SBY, tapi tidak bisa. Setelah itu tidak dipanggil lagi. Saya tunggu sampai 1 mingguan. Nah, pas di telepon lagi saya mau ke Amerika. Sore saya ke Amerika, siang SK-nya di antar ke Wahid Institute. Jadi waktu diumumkan ke publik saya sudah berangkat. Saya tidak bisa kasih komentar apa-apa,” kata Yenny lagi.

Ia menjadi Staf Ahli Presiden bidang Politik dan Komunikasi. Tidak kaget, tidak juga surprais. Yenny merasa pas saja, “karena saya memang orang komunikasi juga orang politik,” ia tersenyum cerah.

Komunikasi, kata Yenny, tidak harus di depan umum. Atau harus tampil. Ia bertugas merancang strategi komunikasi Presiden. Melakukan pendekatan-pendekaan di belakang layar.

“Juga komunikasi private one on one dengan individu. Mungkin kalau di istilah populernya pelobi. Ini yang tidak terekspos ke publik dan tidak boleh terekspos,” ujar Yenny.

Yenny mencontohkan, saat di Amerika, ia aktif melobi anggota-anggota konggres, bertemu senator-senantor juga staf senator. Termasuk menjelaskan pada masyarakat policy-policy dan sikap pemerintah. Misalnya melalui pengajian-pengajian, social gathering, diskusi publik, forum-forum dialog, dan sebagainya.

Pidato Di Harvard

Yenny pintar berkomunikasi. Buktinya, ia lolos seleksi lomba pidato mahasiswa. Pesertanya ratusan. Ia menjadi perwakilan mahasiswa pidato di puncak acara wisuda Harvard University.

“Cita-cita saya dari dulu adalah ingin sekali pidato di depan Bapak saya. Ternyata saya menang kompetisi. Senangnya minta ampun. Mungkin karena isi pidato saya dinilai yang paling representatif dengan kondisi saat itu. Isinya tentang sulitnya kita membuat keputusan padahal kita harus membuat keputusan,” kenang Yenny.

Yenny sengaja tidak memberitahu orangtuanya.

“Ternyata kaget semua. Dan lucunya, disana pihak Universitas juga kaget karena Bapak saya mantan presiden. Sampai diumumkan segala. Orangtua disuruh duduk di depan tapi tidak mau. Jadi sama-sama kaget. Itu kebanggan sekali,” cerita wanita kelahiran 29 Oktober 1974 ini bahagia.

Nampaknya, kebahagian kian lengkap jika Yenny segera mengakhiri masa lajangnya.

“Moga-moga tahun ini ketemu jodoh terus married 2008. Belum ketemu orangnya saja sih. Padahal saya pingin jatuh cinta saja. Nah orangnya belum ada. Doakan saja,” katanya penuh harap.

Satu keinginan terbesar Yenny, “Saya ini pingin sekali punya anak. Nah kalau nanti umur terus bertambah, secara biologis kan pasti akan susah. Gimana dong. Jadi harus ada deadlinenih,” ucap Yenny yang ingin punya dua anak.

Aien Hisyam

*wawancara 4 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Politikus, Profil Wanita | Leave a comment

Mony Suriany

Air Mata Di Keringat Tubuh


 

But something bad happened.” Mony menerawang 3 tahun silam. Ia terhempas dalam depresi berat, di negeri orang, dan seorang diri.

 

Jatuh bangun Mony berjuang supaya  tegar. Toh ia tak kuat juga.

“Mama telepon, ‘Ny, kamu pulang saja ke Indonesia.’,” kenang Mony.

Ditemani sepupunya, Mony mencari ketenangan di Sydney-Australia selama 2 bulan. Awalnya, ia akan ke Tibet. tetapi perjalanan dibatalkan.

Benar saja. “Kita tidak pernah menduga apa yang terjadi esok hari. Hidup saya dijungkir balikkan. Sekarang, saya dapatkan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,” ungkap Mony.

Sendiri Di Negeri Orang

Lulus SMA, Mony ke Indiana-Amerika. Kuliah di Indiana University hingga meraih gelar Bachelor of Sciences, Accounting and Finance. Tiga tahun kemudian ia bergelar Master of Business Administration.

“Hidup saya memang enak. Lulus kuliah kerja di GE (General Electric),” kata Novi.

Tahun pertama kerja, Mony tingal di Barrington sebagai Marketing Analyst. Berturut-turut ia di pindah tugaskan ke Stamford, Fairfield, Danbury, New York, dan terakhir di Chicago.

“Pertama-tama excited banget. Saya merasa jadi orang yang sangat beruntung. Pendapatan juga lumayan. Tapi lama-lama kerja bikin saya stres. Apalagi, saya cewek minority, orang Asia juga. Kalau orang hanya kerja 8 jam sehari, saya harus kerja double. Yang ada jadi over work,” kata Mony.

Di negeri orang, Mony sendirian. Stres sendiri, sedih sendiri, happy sendiri, apa-apa sendiri. “Kalau mau kaya gampang saja. Tapi saya berpikir, apa itu yang saya cari selama ini?”  Dalam kesendirian Mony merenung. Ia telusuri jalan kota Philadelphia yang dingin. Ia singgah di Bikram  Yoga.

Tahun 2001 Mony mulai coba-coba yoga.

“Bikram Yoga ini beda. Benar-benar physical dengan 26 gerakan. Ruangan panas berkisar 42 derajat,” terang Mony.

Pertama kali masuk ruang yoga yang panas, “Saya langsung suka. Saya tidak mau cari yang gampang-gampang saja,” kata Mony. Ia tidak merasa ‘sendiri’ lagi.

Cobaan Di Tahun Yang Sama

Ketika Chicago diselimuti musim dingin, awal tahun 2003, Mony hendak menyeberang jalan raya sepanjang 4 lines. Belum selesai kakinya menapak pedestrian, mobil melaju kencang. Tubuhnya melayang ke udara dan terhempas di atas kap mesin. Untung saja ia ‘hanya’ jatuh setengah duduk.

Mony mengalami retak tulang bahu 1,5 sentimeter. Mony keukeuh tidak mau operasi. Ada keyakinan ia bisa sembuh lewat hot yoga.

“Mau tak mau saya harus memaksa menggerakkan lenganku sampai bisa bergerak. Lagi pula ruangan yang panas bisa menghangatkan tulangku,” kata Mony.

Di tahun yang sama Mony menikah dengan pria yang sudah 12 tahun jadi pacarnya. Ironis, pernikahan itu hanya berlangsung 6 bulan saja. Mony syok melihat suaminya berselingkuh.

“Saya berada di titik zero. Depresi berat. Bayangkan, di negeri orang, saya sendirian mengalami hal berat ini,” kata Mony.

Mony melepas kariernya, pulang ke Indonesia. Ia gambarkan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Mony yang cerdas, enerjik, dan metropolis, tiba-tiba menjadi wanita yang sangat menyedihkan.

Mulai Fall In Love

Di Sydney –saat menenangkan diri- Mony iseng masuk ke kelas Bikram Yoga.

“Padahal, saya sudah stop lama. Setelah itu justru jadi fall in love. Berkat hot yoga saya tidak depresi lagi. Tulang bahu juga makin membaik,” ujar Mony.

Hampir setiap hari Mony hot yoga. Gerakan-gerakannya yang lentur dan gemulai bahkan  menarik hati pemilik Bikram Yoga.

“Saya bilang kalau saya sebenarnya guru. Di LA saya sempat ikut training instruktur 3 bulan,” ujar Mony.

Sayangnya tawaran jadi menejer Bikram Yoga di Sydney tidak bisa dipenuhi. Visa Mony hanya berlaku 2 bulan saja. Singgah di Singapore lagi-lagi Mony mencuri perhatian pemilik Bikram Yoga Singapore. Ia bahkan mau dikontrak 1 tahun untuk mengelola Bikram Yoga Bangkok.

“Lama-lama saya mikir, kenapa saya tidak buka sendiri di Jakarta, bukan kerja dengan orang lain. Dari situ timbul semangat lagi,” ucap Mony dengan mata berbinar.

Sempat ia ditentang Ibunya.

“Saya yakinkan bahwa saya mau kerja 100%,” ujar Mony optimis Berkat pengalaman mengajar di beberapa tempat, ditambah rekomendasi dari guru-gurunya, Yoga@42 Bikram Yoga Studio buka Januari 2005. Hanya 4 bulan sejak kedatangan Mony di Indonesia.

Hari pertama buka Mony menerima 2 orang murid.

“Saya tidak pernah pakai marketing. Akhirnya berkembang pelan-pelan. Bulan kedua masuk televisi terus masuk majalah dan begitu seterusnya. Sekarang setelah 2 tahun, muridnya sudah ratusan,” ujar Mony bangga.

Investasi Organ Tubuh

Kesehatan, kata Mony, adalah investasi jangka panjang.

“Saya 2 tahun kerja, tapi tidak pernah sakit. Padahal dari pagi sampai malam. Padahal kelemahan saya, saya suka makan junk food dan gorengan. Tidak ada pantangan. Bukankah kita mau menikmati hidup,”  kata wanita berkulit putih dan tubuh langsing ini sambil tersenyum.

Kalau organ-organ tubuh bekerja dengan baik, “yang mana nutrisi dia tahan, yang racun-racun diproses dan dikeluarin, tubuh akan selalu sehat.”

“Kita punya investasi di bank. Tapi kita tidak pernah inves di body kita. Bukannya ikut hot yoga hanya karena ingin kurus. Itu memang iya, tapi hanya untuk jangka pendek. Pikirkan yang jangka panjangnya. Dengan hot yoga, semua organ tubuh bisa bekerja dengan baik sampai usia kita 70 tahun,” ucap Mony tegas.

“Tapi kalau kita tidak olah raga,” sesaat Mony terdiam, “10 tahun kemudian tidak apa-apa, atau 20 tahun kemudian baru terasa sedikit-sedikit. Setelah 30 tahun sudah mulai deh organ-organnya tidak bekerja baik. Efeknya memang tidak selalu kelihatan.”

Hot yoga ini hanya terdiri dari 26 gerakan.

“Gerakan dilakukan dua kali dalam kurun waktu satu setangah jam. Ruangan berkisar 38-42 derajat celcius untuk merangsang keringat dan membantu proses detosifikasi,” terang Mony.

Ruang yoga yang panas menjadi bagian efek terapi. Otot-otot jadi lentur, memperkuat jantung serta membantu pembakaran lemak dalam tubuh. Bisa memperbaiki tulang belakang, memperlancar sirkulasi darah, oksigen dan pernafasan. Yang juga bermanfaat adalah menghilangkan stres, rasa cemas dan meningkatkandaya kekebalan tubuh.

Aien Hisyam

*wawancara 18 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Profil Olahragawati, Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Novita Tandry

Anak 6 Bulan-pun Bisa ‘Sekolah’

 

Urusan anak jangan dianggap sepele. Kalau tidak siap, jangan punya anak dulu.

 

Novita Tandry mengatakan itu dengan tegas. Ia memperkenalkan diri lewat dua kartu nama. Sebagai psychologist, juga Owner Tumble Tots Indonesia.

“Ibu yang baik adalah Ibu yang punya waktu buat anak. Kesannya sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” kata Novi.

Punya waktu yang dimaksudnya, “adalah punya waktu tanda kutip. Bukannya ada disitu tapi yang ngerjain tetap suster atau pembantunya.”

“Ada waktu dalam arti kualitas dan kuantiti. Saya tidak percaya hanya dengan kualitas. Secara percaya ada kualitas dan kuantiti. Yaitu dia ada disana untuk anak dengan pengetahuan yang benar, dan untuk anak ada pengorbanan waktu. Jadi, dimanfaatkanlah waktu sedemikian rupa itu,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Dari Usia 6 Bulan

Pengalaman membuat Novi membeli franchise education.

“Tahun 1993, saya tinggal di Singapura,” kata Novi yang baru menikah dan punya satu anak, Joel Joshua Jovianus. Ia sedih melihat perkembangan anaknya.

“Anak saya pemalu sekali. Tiap ketemu orang ngumpet di belakang saya. Wah gawat banget nih,” kenang Novi.

Joshua ia masukkan ke center education Tumble Tots Singapura.

“Saya lihat perubahan sangat signifikan sekali. Dari yang pemalu, dia jadi berani banget. Sama orang, dia justru berani nyamperin, bilang ‘Hai uncle, hai aunti’. Dia selalu tanya, “what’s your name”. Ini surprise,” ucap Novi.

Wanita yang menikah diusia 21 tahun ini kian bergairah. Pulang ke Indonesia tahun 1994, Novi mencari tempat sejenis. Ternyata tidak ada.

“Yang bikin tempat anak 6 bulan sekolah belum ada. Bahkan sampai sekarang kalau kita tanya orang tua yang baru menikah tentang anak 6 bulan sekolah, pasti mereka bilang, “yang bener 6 bulan sekolah?” seru Novi sambil tersenyum.

“Padahal saya lihat program ini bisa dibawa dan diterapkan ke Indonesia. Knowledge tentang dunia pendidikan anak di Indonesia saat itu zero masih. Kalau sekarang media dan televisi sudah banyak berperan sehinga orang tua mulai tahu betapa pentingnya pedidikan tersebut,” ujarnya.

Padahal, kata Novi, hasil yang kelihatan anak menjadi percaya diri dan merasa di hargai.

“Ini bonding, relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya orang tua mengerti bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun disebut masa keemasan, dimana di usia itu masa penyerapan terjadi,” kata Novi.

70 Persen Mencontoh

Novi geregetan.

“Kadang-kadang orang tua habis melahirkan setelah 40 hari sudah kerja. Anak dikasihkan ke orang lain. Padahal kepribadian anak dibentuknya di usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 70 persen. 30 persen diserap dari lingkungannya. Kadang kita tidak percaya atau bahkan tidak mau tahu,” ujarnya.

Ia ibaratkan air minum. Kalau 70 persen yang dicontoh dan jadi panutan adalah hal-hal negatif dan salah, “anak tidak ada filter, dia akan minum semua air yang kotor itu,” kata lulusan London Montessori International, London.

Sulit sekali Novi meyakinkan orang tua betapa berharganya masa-masa 0 hingga 5 tahun. Ia coba melalui seminar-seminar, talk show hingga menulis sendiri di media cetak.

13 tahun tahun lulusan Psychology, University of New South Wales, Sidney-Australia  ‘berjuang’. Sekarang Tumble Tots Indonesia sudah punya 38 cabang seluruh Indonesia.

Dikejar Hingga 3 Negara

Total hidup Novi untuk anak dan dunia pendidikan. Ia teringat 13 tahun silam berjuang mendapat franchise education.

“Awal-awal tidak dikasih franchise. Mereka bilang saya masih terlalu muda. Masih bocah banget. Mereka juga lihat CV (Curriculum Vitae)-ku, ini anak masih bau kencur. Waktu itu saya masih 21 tahun,” kenang Novi

Buat meyakinkan, Novi berjuang untuk bisa bertemu pimpinan Tumble Tots Asia.

“Saya kejar ke Singapura, dia tidak mau ketemu. Ke Malaysia, dia juga tidak mau ketemu. Dia ke UK (Inggris) dia juga tidak mau ketemu, padahal saya bawa-bawa anak segala. Sampai akhirnya di Singapura lagi, dia mau ketemu. Mungkin juga sudah capek dikejar-kejar,” sesaat Novi tertawa lepas.

Punya center aducation sendiri, “say harus konsekuen mau mengajar sendiri dan terjun kedalam. Untungnya saya memang hobi di dunia anak. Jadi ini anugerah buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Novi juga curahkan semua waktunya untuk kedua anaknya, Joshua dan Joelle Joscelyne Joviana.

“Jarak mereka berdua sangat jauh. Itu karena saya konsentrasi dulu sama yang pertama sampai character building-nya beres dan saya rasa pendampingannya cukup. Bagaimanapun kalau ada anak lagi perhatian akan terbagi. Dan kebetulan waktu itu umurku masih muda,” ujar wanita kelahiran Kendari tanggal 09 Maret 1971.

Ibarat Spon Kering

Dengan bangga, Novi bercerita, Joscelyne atau disapa Jojo, di usianya yang baru ….. sudah bisa bicara bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia. dengan baik dan benar.

“Belajar bahasa itu harus konsisten dan jangan dicampur biar anak tidak bingung. Saya hanya bahasa Inggris sama dia. Bapaknya hanya bahasa Mandarin dan dengan mbaknya dengan bahasa Indonesia. Dia seperti robot. Kalau misalnya kita berjalan bertiga. Dia tanya pakai bahasa Mandarin, saya tidak akan jawab. Karena dari lahir kita sudah bikin komitmen seperti itu,” ujar Novi.

Novi mengibaratkan anak seperti spon kering.

“Kalau spon kering dimasukkan ke dalam air, ia akan menyerap air masuk kedalam lobang dengan berlomba-lomba. Ibarat komputer, anak sudah pentium lima. Kencang sekali. Nah kalau kita ini spon yang tiga perempatnya basah. Kita sudah terlalu penuh.

Begitupun dengan dunia anak yang ia sebut dunia bermain.

“Kalau kita perhatikan anak usia di bawah 5 tahun, atau anak dibawah 3 tahun, yang bekerja otot-otot besarnya, motorik kasarnya. Menendang, melempar, menangkap. Yang kelihatan itu yang dia siap. Tidak bisa diam. Duduk tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena memang dia tidak siap karena dunianya adalah dunia bergerak,” kata Novi.

Sementara buat orang tua, lanjut Novi, bermain adalah dunia rekreasi.

“Tetapi buat anak bermain adalah dunia belajar. Belajar untuk membentuk kepribadian mereka melalui permainan. Itulah konsep yang kami pakai,” ujarnya.

Novi berkeinginan, setiap anak bisa menjadi diri sendiri,

“Bukan karena orang tua kepingin anak jadi apa. Ada pengarahan tiap anak itu satu individu yang berbeda dengan anak yang lain. Individu yang unik dan harus diperlakukan berbeda dengan orang lain. Ini yang biasanya orang tua lupa. Orang tua harus bisa memberikan kebebasan yang terikat. Tetap bisa disiplin, tetap dengan adanya tanggung jawab dan ada aturan main di dalam keluarga. Itu yang sulit,” ujar Novi.

Aien Hisyam

*wawancara 22 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Ratu Atut Chosiyah

Satu Tahun Yang Menyesakkan

Kartu nama putih dihiasi lis warna keemasan -senada dengan warna gambar burung Garuda dan tulisan ‘Gubernur Banten’- di letakkan Atut di atas meja.

“Pelantikan baru dilaksanakan 11 Januari besok,” kata Atut sambil tersenyum.

Tetapi,  sejak awal Desember lalu, Atut sudah menjadi orang nomor satu di Banten. Ia menang mutlak atas dua pesaing lainnya. Dan Atut berhak mencantumkan nama beserta ‘status’ barunya di kartu nama itu.

“Doakan saja ya, semoga bisa amanah,” kata wanita bergelas Sarjana Ekonomi ini lagi.

 

SMA Jadi Pengusaha

20 tahun Atut menjadi pengusaha. Sejak tahun 1981 hingga 2001, setahun sebelum ia dillantik jadi Wakil Gubernur Banten.

“Jadi sudah 20 tahun saya bergelut di dunia enteprenuer. Dan saya berkeinginan bisa berbuat yang terbaik untuk tanah kelahiran saya, Banten. Oleh karena itu pemilihan 2001 saya manfaatkan sekali,” kata Atut penuh semangat.

Atut mengaku berjuang sendiri. Paling tidak, ia juga melihat latar belakang orang tuanya yang juga pengusaha.

“Saya TK sampat SD di Banten, baru SMP saya di Bandung. Di Bandung saya mandiri. Saya usaha sendiri. Saya hanya minta masukan pada orang tua, tetapi saya lakukan sendiri semuanya,” ujar Atut.

Atut yang saat itu masih kelas 3 di SMA 12 Bandung mengurus sendiri semua surat dan berkas-berkas perusahaan.

“Usaha kecil-kecilan, seperti pengadaan ATK (alat tulis kantor), suplai beras, dan sebagainya, yang sifatnya pengadaan. Dan Lama-lama kontruksi dan lain-lain,” kata Atut.

Sukses jadi pengusaha, Atut ingin berbagi kesuksesan di pemerintahan.

“Jadi, ini (keputusannya terjun ke politik dan birokrasi) murni keinginan saya. Saya berpikir, wilayah mana yang bisa saya masuki untuk memberikan terbaik untuk Banten setelah jadi Propinsi. Yang sifatnya subjek bukan objek. Dari situ saya sampaikan ke suami dan keluarga. Awalnya mereka sepintas menanggapi dingin-dingin saja, karena saat itu mereka tahu, saya ini sedang betul-betul menikmati kesuksesan saya di dunia usaha,” kenang istri Drs H. Hikmat Tomet.

Pro dan Kontra

Pencalonan Atut langsung menuai pro kontra. Beberapa ulama menolak perempuan di provinsi yang saat itu baru saja dimekarkan. Alasan penolakan, didasarkan kapasitas perempuan yang tidak boleh menjadi imam, sehingga tidak boleh menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Atut mengaku sedih. Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi  Banten ini sampai menitikkan air mata di tengah-tengah perenungan atas kodradnya. Apakah itu menjadi alasan dia tidak boleh memimpin? Sesaat, penolakan ini  membuat nyalinya ciut.

“Tetapi, tidak semua ulama atau pemimpin pesantren berpandangan demikian. Ada pemimpin pesantren yang sangat tradisional, bahkan mesjidnya diharamkan menggunakan pengeras suara, justru tidak menyetujui pandangan yang menolak kepemimpinan perempuan. Pemimpin pesantren ini juga mengutip salah satu ayat Al-Quran, yang menyatakan bahwa Islam tidak menolak kepemimpinan perempuan,” tutur angggota Angkatan Muda Siliwangi Propinsi Banten ini tegar.

Semangat Atut muncul lagi. Ternyata, waktu berpihak padanya. Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Provinsi Banten ini berhasil menjadi Wakil Gubernur Provinsi Banten pertama di bawah kepemimpinan Gubernur H. Djoko Munandar.

“Derajat seseorang, tidak ditentukan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi amal ibadahnya,” katanya.

Under Estimate Orang

Atut menyadari masih ada orang-orang yang memandang rendah pada kemampuannya.

“Tapi saya tidak pernah memikirkan sampai situ walaupun saya tahu ada orang yang under estimate pada kemampuan saya. Pada akhirnya mereka akan menilai kinerja yang telah saya lakukan. Itu prinsip saya. Saya tidak mau pusing dengan apa kata orang. Tetapi bukan berarti saya tidak peduli. Kalaupun ada kritik saya anggap sebagai masukan dan introspeksi buat saya. Tetapi terhadap yang mencibir saya anggap sebagai cambuk saja, bukan sebagai pikiran,” kata lulusan Akuntansi Perbankan ini.

Terbukti, banyak gebrakantelah dilakukan Atut selama 5 tahun menjadi Kepala Daerah. Salah satunya Perda yang ia buat untuk pemberdayaan Perempuan Banten.

“Isinya, tentang alokasi anggaran 20 persen dari setiap program satuan kerja perangkat daerah, dinas biro, badan, harus dialokasikan untuk yang terkait dengan sentuhan pada hal-hal yang dibutuhkan perempuan. Tidak hanya di lingkup perempitah Provinsi, tapi juga dilakukan pemerintah Kabupaten Kota,” kata Peraih Anugerah Citra Kartini tahun 2003 ini

Atut turun langsung mensosialisaikan perda tersebut. Dan sudah di realisasikan, salah satunya lewat PKK.

“Mereka betul-betul melakukan pembinaan sampai ke tingkat terendah di desa-desa. Pembinaan dilakukan oleh ibu-ibu istri pejabat. Termasuk bergabung dengan BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Sekaragn ada 50 organisasi perempuan di Banten yang masuk BKOW. Tujuang membina kaum perempuan. Itu program saya waktu jadi Wakil Gubernur. Dan akan terus di kembangkan setelah saya jadi Gubernur,” tegas Atut.

Bukti lainnya, meski usia Provinsi Banten masih 5 Tahun, lewat Pendapatan Asli Daerah sudah menduduki peringkat 6 dari 33 provinsi di Indonesia.

“Ini sukses bersama,” ujar Atut merendah.

Sudah Jadi Takdir

Ternyata satu tahun silam, Atut hampir-hampir tidak bisa ‘bernafas’.

“Sejak Oktober 2005, saya diangkat jadi Pelaksana Tugas Gubernur karena Pak Gubernur sedang berhalangan. Disitulah saya betul-betul harus menjadi seorang pemimpin yang selain melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Wakil, tetapi saya pun harus bisa menggantikan tugas dan fungsi Pak Gubernur,” kata Atut.

“Awalnya”, katanya lagi. “Saya kaget. Saya sempat merenung, karena saya memang tidak berharap. Saya berharap bisa menyelesaikan sampai 5 tahun bersama Pak Gubernur,” ujar Atut sungguh-sungguh.

“Itu sudah jadi takdir saya. Saya menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai Kepala Daerah. Yah double. Setelah saya renung sesaat, saya harus tegar. Dan disitulah saya mempersiapkan diri untuk selalu sehat. Harus bekerja keras. Saya harus mempelajari semua program yang sudah ada. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Akhir tahun ini sudah selesai semua tugas dan kewajiban kita,” lanjut Atut.

Permintaan Ananda

Atut berjanji, lima tahun mendatang, ia ingin berbagi waktu lebih ‘adil’ pada keluarganya.

“Kelihatannya mereka memang tidak protes. Tapi terkadang mereka ingin ketemu, makan bareng dan lebih sering jalan sama-sama. Sebenarnya selama ini selalu saya sempatkan. Tapi InsyaAllah tahun depan akan saya sempatkan dan saya beri waktu lebih lama,” kata wanita kelahiran Ciomas Serang, 16 Mei 1962.

Berbicara tentang ketiga anaknya, Andika Hazrumi, Andriana Aprilia,  dan Ananda Trianh Salichan, suara Atut melembut.

“Putra saya yang paling kecil, Alhamdulillah dewasa sekali. Dia SD kelas 4. Mungkin di hatinya itu (protes pada Ibunya) ada. Tetapi dia memahami apa yang jadi tugas saya. Kadang saya ajak dia kerja supaya dia bisa melihat. Dia selalu bilang, “Bunda, hari ini ada kerjaan nggak?” Kalau sudah begitu, pasti dia ingin sesuatu atau ingin diantar. Dia suka tanya dulu, tidak meminta dulu,” kata Atut dengan tatapan menerawang ke depan.

Saat itu, ia memang tida bisa langsung menjawab.

“Tapi kalau saya sampaikan, ‘Bunda ada kerjaan dulu yang tidak bisa ditinggalkan,” yah sudah, dia tidak akan minta lagi. Kalau sifatnya penting sekali, saya akan tanyakan lagi. ‘Ananda mau apa?’ Kalau dia bilang mau diantar kesana, yah saya akan sempatkan,” ujar Atut.

Sesibuk apapun, Atut berusaha menjadi Ibu rumah tangga saat di rumah.

“Tahun depan saya akan fokuskan perhatian ke keluarga. Bagaimanapun saya ingin mereka tumbuh sebagai anak dengan kemampuan pendidikan yang baik. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang bagaimanapun juga tidak lepas dari pantauan Ibu,” Atut berjanji.

Dengan adanya Wakil Gubernur, Atut berharap tugas-tugas kepemimpinannya mendatang bisa dibagi. “Semoga saya bisa bernafas lagi,” ujar Atut sambil tersenyum, lega.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Politikus, Profil Wanita | 1 Comment

Yani Motik

Matahari Tak Harus Satu

 

Tak mudah memimpin sekumpulan wanita pengusaha. Doktor cantik ini 5 tahun menjalaninya, dan masih tak puas juga dengan hasilnya.

 

Tahun 2007 adalah akhir masa jabatan kedua Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) ini. Dan Yani tidak mengingkari kalau ia telah bekerja dan berusaha  cukup keras memajukan organisasi beranggotakn wanita-wanita cantik yang rata-rata juga pekerja keras.

“Tapi saya nggak terlalu puas. Saya bersyukur saja. Banyak yang didapat, tapi  Inginnya saya bisa lebih dari itu,” kata pemilik nama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik. MGA ini.

Merawat Banyak Bunga

Banyak PR masih harus ia selesaikan dalam waktu yang tinggal sedikit.

“Sistemnya perlu diubah, juga pola pikir anggota IWAPI,” kata Yani.

Maksudnya,  “Dulu orientasinya central life, kalau tidak ada Ketua tidak jalan. Inii yang harus dihilangkan,” lanjutnya.

“Dulu,” katanya lagi. “Orang berpikir matahari itu mesti satu. Saya bilang tidak. Kita pengusaha, kita pengurus, dan organisasi kita nirlaba, maka di situ bunganya harus banyak. Kita harus bisa menyebarkan  harumnya masing-masing. Setiap orang harus berfungsi, setiap pengurus harus aktif, tidak harus ada saya,” kata Yani penuh semangat.

Dibilang Macam-macam

Di kepengurusan periode pertama, Yani membiarkan organisasi berjalan seperti air mengalir.

“Tapi kalau terus seperti itu, organisasi tidak bisa berkembang. Maka pada periode kedua saya rombak habis. Ada 70 orang baru dan 30 orang lama yang sejalan dengan saya. Waktu itu benturannya luar biasa. Saya dibilang sombong. Ada yang menuduh saya seperti  kacang lupa kulitnya, segala macam. Saya tidak peduli,” cerita Doktor Bidang Administrasi lulusan UI ini.

Terbiasa berpikir jauh ke depan, Yani tak berbakat  membuat keputusan yang asal-asalan. Ia sadar benar harus membesarkan organisasi yang telah berusia 32 tahun.

“Saya bilang, kalau saya mau nikmat, saya pakai pola lama saja. Cukup hanya dengan beberapa beberapa orang saja yang sudah mengerti,  organisasi juga sudah jalan. Tapi saya tidak bisa seperti itu  selamanya di IWAPI. Saya punya tanggung jawab agar begitu masa jabatan saya selesai, IWAPI bisa jalan terus dengan bagus,” kata istri Faizal Iskandar Motik ini.

Kian Egaliter

Masuknya orang-orang baru yang sepemikiran, mengembangkan  organisasi jadi lebih egaliter.

“Matahari tidak harus satu – artinya, tidak ada dominasi. Semua orang harus muncul, semua orang bisa jadi pembicara – kalau perlu, didorong untuk itu. Ada tidak ada Ketua, organisasi harus jalan,”  cerita Yani.

Tak heran kalau selama ia menjadi Ketua IWAPI, Yani tetap mampu  menyelesaikan Phd nya.

“Juga bisa saya tinggal tiga bulan ke Amerika untuk studi banding. Juga  saya tinggal ke Australia dua bulan,” ceritanya senang.

Lulusan Maryland University, USA, yang  bergelar Master of General Administration ini selalu bangga melihat orang lain sukses.

“Kebanggan saya luar biasa kalau lihat orang lain sukses. Yang tadinya tidak bisa ngomong jadi berani ngomong. Yang belum pernah ke luar negeri, pulangnya bisa berhasil. Yang nggak pede jadi pede. Itu semua tidak bisa dibeli dari keuntungan yang sekian puluh miliar,” ujar Yani.

Yani tidak pernah patah semangat. Kalaupun harus turun langsung, ia siap 24 jam. Mulai dari menyiapkan materi presentasi sampai jadi tempat konsultasi.

Kalau Jadi Pemimpin

“Pemimpin itu harus dikasih kesempatan. Ini yang orang sering salah. Tidak bisa orang tiba-tiba jadi pemimpin. Yang belum, harus diberi kesempatan memimpin. Nanti kita evaluasi kekurangan dan kelebihannya,”  Yani berbagi tips suksesnya ‘merombak’ IWAPI.

Termasuk menghadapi orang banyak.

“Kecuali kalau urgent banget atau ada kerjasama baru dengan pihak luar. Saya selalu ajak teman-teman yang lain bertukar pikiran,” ceritanya.

Memantau Iklim Lain

Banyak sukses diraih Yani yang juga lulusan George Washington University, USA, ini.

“Saya mulai membangun kerjasama dengan pihak luar, nasional dan internasional. Alhamdulillah, sekarang setiap tahun IWAPI mengirim 9 orang ke Kanada untuk studi banding, mempelajari iklim  pengusaha dan organisasi sejenis IWAPI disana,” cerita wanita kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini.

IWAPI juga bekerjasama dengan Australia, Jepang, Filipina dan Malaysia.

“Website kita ngelink dengan website IWAPInya Malaysia. Dengan Filipina untuk training di Women Center yang dibiayai Jepang. Dengan Cina,  terakhir kita bikin kerjasama untuk China Asian Bussiness Woman. Dari Europe Union (EU) kita datangkan ahli-ahli desain dan teknologinya untuk anggota yang perajin perak, kerramik, kayu dari Jawa dan Bali. Perhiasan, kita kerjasama dengan Jepang di butiknya Reny Feby,” kata ibu 2 anak ini bangga.

Dua Penghambat

Saat masuk IWAPI, usia Yani baru 30 tahun. Setahun kemudian ia menjadi Sekjen (Sekertaris Jenderal) IWAPI.

“Mbak Dewi (Dewi Motik, mantan Ketua IWAPI Pusat,) bilang, kalau konsep-konsep kamu bisa diterapkan di IWAPI, kenapa tidak? Coba saja. Akhirnya ya saya jalani saja. Jujur, saya ini sebenarnya tidak terbiasa dengan Ibu-ibu dan perempuan. Kalau sama Bapak-bapak dan laki-laki, kita bisa lepas omongnya. Kalau sama Ibu-ibu kan main perasaan. Lebih banyak otak kanannya yang bekerja, daripada otak kiri.,” kata Yani.

Apalagi, lanjut Yani, ketika itu anggota IWAPI mayoritas ibu-ibu yang lebih senior. “Jadi, kita tidak boleh kelihatan kritis dan lebih pintar,” komentarnya.

Ia melihat 2 hal yang menghambat wanita Indonesia sulit berkembang.

“Yang pertama, gender, yaitu ketidakpercayaan terhadap wanita sebagai pengusaha. Kalau masih muda dikira hanya jual kecantikan. Kalau anak orang kaya dibilang modal orangtuanya,” cerita Yani.

“Kedua, kalau dia pintar, dibilang, ‘Terang aja, pintar’. Jadi nggak pernah bisa dilihat secara utuh,” lanjutnya gemas.

Tak Perlu Atas Nama Suami

Di Indonesia, lanjut Yani, maju tidaknya wanita sangat tergantung dukungan keluarganya.

“Penelitian saya dengan ILO tentang problem wanita dalam mengembangkan bisnisnya, di tahun 2002. Satu hal yang menarik, dimana perempuan apabila punya kesempatan maju dan berkembang, misalnya dari sekala kecil ke menengah atau dari informal ke formal, kalau suaminya belum siap mental, kesempatan itu tidak akan diambil, karena takut rumah tangganya berantakan,” papar Yani.

“Ini perlu disosialisasi. Kalau opportunity di istrinya lebih tinggi, mereka harus bisa terima. Dalam konsep Islam, lelaki pakaian istri, istri pakaian suami, kan bisa disharing saja,” lanjut Yani.

Yani mengingatkan anggota IWAPI agar mendaftar atas nama diri sendiri, bukan nama suami. Ia senang sekali melihat perkembangan anggotanya.

“Sekarang wanita sudah masuk ke semua sektor bisnis. Ada anggota IWAPI di Jawa Tengah yang produksi senapan. Ibu Lina Fahmi, impor senjata untuk olah raga. Pembangunan jalan banyak dikerjakan anggota IWAPI. Yang bisnis perhotelan juga banyak,” ujar Yani bangga.

 

Aien Hisyam

*wawancara 11 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Woro Indyas ADT

Dicurhati Ibu ‘Bermasalah’

 

Woro bukanlah yang pertama. Namun, ia menjadi pendeta wanita termuda yang menikah dan punya anak.

Di ruang kerjanya yang dingin, di GKI Kebayoran Baru, Woro mengatakan, menjadi pendeta wanita itu tidak mudah.

“Ia harus bisa membagi waktu. Separuh untuk hidupnya, separuh lagi untuk Jemaatnya,” kata Woro Indyas Adriyanta Dewi Tobing.

Kalaupun Woro memilih jadi Pendeta, “Itulah pilihan hidup.”

Pergumulan Hidup

Usia Woro masih 27 tahun ketika ia ditasbih menjadi pendeta termuda di GKI Kebayoran Baru kala itu.

“Memang waktu saya masuk, sudah ada satu pendeta wanita. Dia memaksakan diri untuk tidak menikah. Dan kondisi saya waktu masuk kesini, juga ada harapan tidak menikah,” ungkap Woro.

Ditambah lagi, Ibunya berpesan, sebaiknya pendeta wanita  tidak menikah agar semua perhatiannya untuk Jemaat.

”Ini memang berkaitan dengan tugas-tugasnya,” lanjutnya.

Seperti judul skripsi S1-nya “Ketidakseimbangan Gender Dalam Hidup Bergereja’, Woro akhirnya menikah.

“Menjadi pendeta wanita saja tidak mudah, apalagi harus memilih untuk menikah. Terus terang, inilah pergumulan di dalam hidup saya. Saya berdoa, saya berharap, Tuhan, siapapun wanita pasti berkehendak untuk menikah. Tetapi jika Engkau menunjukkan bahwa itu tidak sesuai kehendak-Mu, beri kekuatan saya bisa menerima itu. Tetapi kalau saya boleh ngomong dan meminta kepada Tuhan, justru saya ingin membuktikan. Bahwa menjadi pendeta wanita yang menikah tetap bisa membagi waktu. Tinggal memenej waktunya saja dan melengkapi dirinya dengan kemampuan yang bisa mengatur semuanya dengan seimbang,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 22 Januari 1973.

Sejak menikah tahun 2002, Woro dihadapkan pada peran ganda.

“Kita melayani jemaat ini sebagai keluarga saya, dan saya punya keluarga inti yang harus saya layani. Dari situ saya membuktikan, kenapa wanita selalu diragukan, kanapa laki-laki tidak. Karena pola pikir kita masih terbentuk bahwa tugas-tugas rumah tangga hanya wanita. Enggak laki-laki. Ini menurut saya membuat laki-laki merasa tugasnya hanya di luar rumah, dirumah dia dilayani. Pola pikir ini dalam kemitraan kita, dalam kesetaraan kita, bahwa di dalam rumah tangga kita bisa bekerja sama-sama,” tegas Woro. Komitmennya, jadi pendeta adalah menjawab panggilan Tuhan.

Galau Dua Hati

Dari 6 pendeta di Indonesia, hanya ada 1 pendeta wanita. Woro-pun menjawab ‘panggilan’ itu.

“Ibu saya janda, bapak meninggal karena sakit jantung. Saya umur 2 tahun kakak perempuan saya 7 tahun. Ibu berketetapan membesarkan hanya seorang diri. Ibu merasa telah mengantarkan kami menjadi seorang anak yang dewasa, bisa seperti ini karena pemberian Tuhan. Dalam perenungan Ibu, kalau Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada dirinya, saya dan kakak saya, maka apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan,” kenang Woro.

Woro akhirnya memilih masuk ke Sekolah Tinggi Theologi Jakarta. Lulus kuliah tahun 1995, Woro menjadi guru agama di BPK Penabur selama 2 tahun.

“Saat itu ada panggilan pendeta di seluruh DKI. Saya dipanggil oleh Jemaat ini,” ujar Woro.

Sempat hatinya bimbang. “Tapi saya ingat dalam buku bacaan Dietrich Hovver, menurut dia, seseorang bergumul dalam panggilan-Nya, pergumulan itu tidak terlepas dari yang disebut Gereja. Kiranya saya harus menjawab panggilan ini.”

Tak hanya Woro. Ibunya, Kis Setyowarsi, juga memiliki kegalauan yang lain.

“Ibu takut kalau nanti saya akan diomongin orang. Setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan. Kalau orang omongin kekurangan apakah saya akan siap? Saya minta Ibu saya bantu berdoa. Dan saya menjawab panggilan itupun juga belum pasti. Saya harus menjalani masa pemanggilan, masa orientasi yang semuanya harus dilalui selama 2 tahun,” ujar Woro.

Pertengahan tahun 1997 Woro resmi dididik menjadi pendeta.

5000 Jemaat

Banyak tugas yang harus dikerjakan Woro. Utamanya, ia harus memberikan kotbah setiap minggu dalam kebaktian minggu. Setiap hari, ia terlibat dalam pelayanan pada Jemaatnya.

“Perlawatan ke orang sakit, perlawatan ke orang-orang yang sedang bergumul, juga memimpin kebaktian kalau ada yang meninggal atau yang menikah, juga melayani jam konseling, itu yang paling banyak. Persoalannya sangat membuat kita bergumul bersama mereka. Suka duka mereka serta masalah-masalah yang sangat complicated,” kata Woro.

Awalnya, Woro yang baru berusia 27 tahun mengaku tidak siap. Ia harus bisa meyakinkan para Jemaatnya yang berusia jauh di atasnya. Di komunitas dalam Gerejanya, ia juga harus bisa membawa diri, berbaur dengan 7 pendeta lainnya yang telah berusia diatas 40 tahunan.

“Saya disadarkan, bahwa memang kita tidak pernah siap, tetapi disiapkan oleh Tuhan,” tukasnya.

Dan memang secara psikologis, lanjut Woro, tidak mudah menjadi pendeta ‘belia’.

“Kalau dulu mereka adalah pendeta saya, bahkan ada 2 pendeta yang juga dosen saya di STT Jakarta, dan sejak itu disini kita menjadi kolega, justru saya merasakan karena kita sudah kenal, jsutru kita diperlengkapi oleh mereka. Kita justru banyak belajar,” kata Woro.

Woro mendapat tugas menjadi Pendeta Wilayah, melayani dua gereja di wilayah 4 meliputi Kemang dan sekitarnya, juga di wilayah 10 meliputi Pasar Minggu, Depok dan sekitarnya. Setiap gereja terdapat sekitar 11 ribu hingga 12 ribu Jemaat yang terdaftar, atau sekitar 5000 jemaat yang masih aktif. Ia harus siap 24 jam bila mendapat panggilan dari Jemaatnya.

Uniknya, setelah menikah, Woro punya Jemaat ‘khusus’.

“Di GKI Kebayoran Baru, baru saya yang menikah. Memang antara harapan dan menyelaraskan keingin mereka, selalu diukur. Disitu saya juga melewati pergumulan, suka dan duka. Memang orang punya kelebihan dan kekurangan. Ternyata setelah menikah, jemaat yang konseling lebih banyak wanita yang menikah. Itu juga menjawab pasangan-pasangan muda. Kita bisa sharing dan curhat. Bahkan kita punya gereja Katolik dan tetangga, mereka datang konseling ke saya karena dia tahu disini ada pendeta wanita yang menikah,” lanjut istri Raguel Pringgada Tobing dengan nada bersemangat.

“Saya merasa ini (pendete wanita yang menikah) adalah kendala budaya. Kita sudah terbentuk pada budaya-budaya partiakat. Keluarga mereka sudah terbentuk pada budaya seperti ini. Kalau pernikahan, masih ada yang tidak mau dipimpin pendeta wanita. Begitupun kebaktian. Karena menurut saya, tentang kemampuan, pastilah Tuhan sudah perlengkapi kita masing-masing dengan apa yang ada. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,” ujar Woro bijaksana.

 

Aien Hisyam

*wawancara * Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Susan Bachtiar

Indahnya Dikritik Anak-anak

 

Suatu hari, wanita cantik itu dikritik. “Miss Susan, hari ini seksi sekali,” ujar bocah 5 tahun itu, lugu.

 

Wajah Susan Bachtiar memerah. “Kok bisa?” Susan bertanya, penuh rasa ingin tahu.

“Iya. Pakaian Miss Susan kinclong sekali,” jawab anak itu ceplas-ceplos.

Susan-pun tersenyum. Ia pandangi bajunya. Memang, hari itu Susan sengaja memakai baju warna merah muda yang sangat cerah.

“Ternyata, menurut si anak, seksi itu kalau pakai baju kinclong dan mentereng,” cerita Susan.

Tak hanya itu. Di lain hari, ketika ia memakai baju terusan berkancing dan berpita, lagi-lagi ia diprotes. “Miss-miss, jangan pakai baju ini lagi, kayak piyama.”

“Lucunya lagi, saya ini kan pakai cincin di kaki. Mereka kritik, ‘Miss Susan, cincin itu dipakai di tangan. Bukannya kaki.’ Alhasil saya pindahkan cincin saya ke jari kelingking,” ujar Susan sambil tertawa lepas.

Begitupun ketika ia dikomentari tentang cat kukunya yang warna putih. Si anak bilang, “Miss, di rumah saya ada nail polish warna pink, red. Besok saya bawain. Tapi Miss jangan pakai tip-ex (cairan putih penghapus tinta).”

“Kedengarnya lucu saja. Itu karena ketidak tahuan mereka. Setiap diprotes atau dikritik, saya selalu punya obligasi untuk menerangkan,” kata Susan dengan nada senang.

Mengajar Itu Enak

10 tahun Susan menjadi guru Bahasa Inggris. Dua tahun terakhir, artis dan juga presenter cantik ini ternyata harus berhadapan dengan anak-anak usia 4 hingga 5 tahunan. Yang polos, apa adanya, juga kritis.

“Siapapun gurunya, berhadapan dengan anak-anak usia 5 tahunan, harus punya kesabaran yang tinggi. Bete tidak. Hanya saja awalnya mengatur mereka agak melelahkan. Anak kecil itu kan tidak bisa diam. Apalagi anak sekarang lebih aktif berbicara dan lebih kritis. Jadi kita pakai sistem belajar dengan metode communicated approach. Kita mengajar Bahasa Inggris dengan media suara, gerak untuk bercerita, dan media benda-benda yang ada di ruangan,” kata Susan Bachtiar.

Suka cita Susan menjalani profesinya sebagai guru.

Bermula ketika Susan memilih kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Atmajaya. Sebelum lulus, wanita kelahiran 2 Mei 1973 ini diwajibkan mengikuti PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Susan memilih almamaternya, SMP Santa Maria Ursulin untuk 5 kali praktek mengajar. Sisanya, 5 kali mengajar, ia memilih SMA Kristen 3 di Gunung Sahari.

“Ternyata setelah PPL, saya baru merasakan mengajar itu enak,” ungkap Susan bersemangat.

Bahkan, ketika datang tawaran dari dosen seniornya untuk mengajar di Sekolah Abdi Siswa, Jakarta Barat, langsung ia terima.

Kerja Non Stop

“Setelah lulus kuliah, tahun 1996 saya langsung ngajar di Abdi Bangsa. Saya jadi guru bahasa Inggris honorer. Satu kelas ada 2 guru. Dipisah sendiri-sendiri. Awalnya kita shiftnya seminggu dua kali untuk 2 kelas. Pertama kali saya ngajar kelas 3 dan 6. Dengan pertimbangan saya pernah mengajar di SMP dan SMA waktu PPL. Selanjutnya saya ambil shift 4 kali atau empat kali dalam satu minggu,” terang wanita bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar.

Susan semakin terampil mengajar. Ia juga dipercaya menjadi guru bahasa inggris di SD Pangudi Luhur dan SD Tarakanita. Otomatis Susan mengajar nonstop dari hari Senin sampai Sabtu

“Saya juga diangkat menjadi koordinator untuk guru-guru, yang menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan guru untuk mengajar dan memberikan masukan kapan harus ujian. Guru berhubungan dengan Koordinator, dan Koordinator-lah yang berhubungan dengan sekolah,” ujar wanita yang terjun di dunia entertaint sejak tahun 1988 ini bangga.

Tidak puas mengajar anak-anak sekolahan, Susan tertantang menjadi dosen.

“Kebetulan Atmajaya sedang cari dosen untuk Speaking Class. Saya coba melamar ternyata diterima. Jadi selain di Abdi Siswa, saya juga di Atmajaya. Disini saya hanya mengajar 2 tahun saja karena terputus saya menikah,” kata bungsu dari pasangan warga keturunan Tionghoa Sarief Bachtiar dan Desi Murni Firmansjah.

Tahun 2003, Susan berhenti dari Abdi Bangsa. Ia memilih ganti haluan, menjadi guru Taman Kanak-kanak di Santa Theresia.

“Ada pertimbangan, semakin kecil si anak, semakin besar tantangannya. Anak kecil kan susah sekali diaturnya. Tetapi dari banyak level pendidikan yang saya alami, pengalaman yang menyenangkan adalah mengajar anak-anak. Mereka lebih fun, lebih polos, apa adanya, interaksi belajar mengajarnya lebih aktif. Anak-anak kan egonya belum keluar. Awalnya saya pikir susah, setelah jalani ternyata enggak.,” lanjut Susan.

Guru Yang Galak

Mengapa Susan yang cantik ini begitu antusias menjadi guru?

“Seorang guru itu memiliki kepuasan yang tak terhingga bila melihat muridnya yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Istilahnya, meskipun gaji saya kecil, bayaran yang saya terima adalah kemampuan mereka untuk bisa,” ujar Susan.

Kalaupun ada muridnya yang ‘berulah’, Susan berusaha tegas.

“Kadang akan saya marahi. Kalau keterlaluan sekali saya jewer. Saya kasih warning sampai 3 kali. Kalau sampai 3 kali sudah diperingati, itu sudah kelewatan sekali dan harus disetrap di depan kelas dan harus mengikuti pelajaran di kelas. Saya dididik di sekolah katolik yang punya disiplin tinggi. Itu yang saya terapkan dan jadi pola pengajaran saya,” kata Susan yang dijuluki anak didiknya sebagai guru yang galak.

“Saya memang marah habis-habisan ke si anak. Tetapi setelah itu saya pasti akan panggil dan omong empat mata dengan si anak. Akan saya tanya, “Kenapa kamu saya setrap.” Saya ingin tahu apakah dia sadar apa yang telah dia lakukan. Dia harus tahu salahnya dimana. Jangan bilang saya tidak akan melakukan itu. Coba untuk tidak akan melakukan lagi,” lanjut istri Sumardi Supangat.

Aturan disiplin yang diterapkan Susan, “masuk kelas baju harus rapi, kelas harus bersih, tidak boleh ada tampang ngantuk, kalau ngantuk saya suruh ke WC cuci muka. Tidak boleh ngomong di kelas. Boleh ngomong pada saat diskusi, istirahat atau main game. Saat guru menerangkan, harus didengarkan. Itu pola yang masih ke bawa.”

“Mereka memang bilang Miss Susan galak sekali. Saya tidak ingin murid saya hanya pintar bahasa Inggris saja. Tetapi harus juga punya disiplin tinggi. Karena bagi saya disiplin harus diterapkan sejak kecil. Belajar bahasa bisa dari besar, tetapi diplin tidak bisa diajarkan setelah anak besar karena polanya sudah terbentuk,” tegas Susan.

Apakah kecintaan Susan pada anak-anak karena kondisi dirinya yang sudah 6 tahun menikah tetapi belum juga diberi momongan? Wanita berwajah putih bersih ini tersenyum.

“Saya bukan orang religius walaupun saya membawakan acara di Indosiar “Penyejuk Imani Katolik”. Dari acara itu saya belajar banyak, bahwa jadi orang itu tidak boleh ngoyo. Tidak boleh ngeyelan. Harus bisa nerima dan bisa melihat. Mungkin pintu ke arah itu belum dibuka Tuhan, tetapi pintu yang lain sudah. Saya menginginkan anak, sudah 6 tahun ini. Dulu awal-awal menikah saya ngeyel sekali sama Tuhan. Sempat marah. Tetapi setelah membawakan acara itu, saya melihat ada orang yang punya problem jauh lebih besar dari saya. Saya jadi bisa lebih terima. Mungkin saya lebih dibutuhkan anak-anak yang butuh ilmu saya. Saya mencoba menempatkan posisi saya di orang lain, tidak mau berharap lebih,” ujar Susan.

 

Aien Hisyam

*wawancara 13 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Artis, Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment