Aien Hisyam

- hidup adalah tempat belajar -

Jacqueline Losung

Senang Membuat Isi Materi


Banyak ‘dunia’ yang ia ‘singgahi’, dan akhirnya, Jacquline memilih menjadi pemimpin di situs entertainment terkenal KapanLagi.com. Apakah ini menjadi akhir ‘persinggahan’ wanita cantik ini? Jacqueline pun tersenyum.

‘Maklum kantor baru,’ ujar Jacqueline, tersenyum. ‘Jadi belum ada papan namanya.’ Rupanya, perusahaan situs entertainment ini baru beberapa bulan menempati ruang barunya. Begitupun dengan Jacqueline yang juga baru beberapa bulan memegang kendali perusahaan tersebut.

Bukan hal baru bagi wanita muda ini terjun di dunia internet. Jauh sebelumnya, Jacqueline sudah malang melintang di bidang ini. Ia bahkan pernah di percaya perusahaan besar Yahoo, untuk menjadi Authorized Re-seller di Indonesia.

“Sejak saya bergabung dengan Yahoo, dunia online dan internet menjadi daya tarik yang luar biasa bagi saya,” kata Jacquliene, antusias.

Maka, tak salah ketika tawaran memegang KapanLagi.Com datang, Jacqueline langsung menerima dengan senang hati. Ia menganggap bahwa kesempatan tak akan datang untuk kedua kali.

Jual Beli Film

Jacqueline mengawali karir media di dunia televisi. Ia bekerja hampir selama 14 tahun di Divisi Programming RCTI, dan sesekali menjadi TV Announcer atau pembawa acara quiz untuk event special.

“Ketika saya di televisi saya berkesempatan untuk membangun networking yang lebih luas dengan berbagai producer dan distributor film di seluruh dunia,” cerita Jacqueline.

Setelah meninggalkan RCTI, Jacqueline dan beberapa temannya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang TV and Film Licensing.

“Pada saat itu, salah satu property terbesar yang kami miliki adalah Liga Italia Serie A untuk 3 tahun berturut-turut. Kita satu-satunya distributor yang bisa menjual program bola ke dua stasiun televisi sekaligus,” ujar Jacqueline, bangga.

Selanjutnya, Jacqueline menjalin kerjasama dengan mitra dari Malaysia, untuk memasok program-program hiburan dari Indonesia.  Bersamaan dengan itu Jacqueline diajak teman-temannya asal Malaysia dan Singapura untuk membentuk sebuah perusahaan yang bidang usahanya adalah Media Online.

“Dari sinilah saya mulai bergelut dengan bidang yang sangat baru ini buat saya dan kami menjadi Authorized Reseller Yahoo di Indonesia. Tugas saya adalah membantu memperkenalkan Yahoo di Indonesia dan ‘memonetize’ web network mereka,” ujar Jacqueline.

Banyak hal baru yang dipelajari Jacqueline dengan cepat. Sambil tersenyum cerah, ia mengaku senang memikirkan, mengkonsep dan membuat content.

“Kalau di bidang online, saya memang masih sangat baru, tetapi intinya apapun yang saya lakukan harus bermanfaat bagi banyak orang. Kalau di televisi bagaimana kita menghadirkan program yang disukai dan menghibur banyak orang. Waktu di mobile saya membuat inovasi dengan Global Starter Pack. Mudah-mudahan di online juga demikian, saya bisa membuat content cerdas dan menarik.

Menarik dan Berbobot

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia media, Jacqueline percaya dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat terhadap akses informasi yang lebih luas, media online akan menjadi media yang sangat penting.

“Oleh karena itu saya sangat tertarik bergabung dengan Kapanlagi.com karena ini adalah “the biggest entertainment website in Indonesia”  dan disini saya tidak saja bertugas bagaimana me-monetize sebuah entertainment portal, tetapi yang lebih menarik lagi saya diberikan kesempatan untuk mengembangkan isi dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang lebih luas agar sajian Kapanlagi.com dapat lebih menarik dan berbobot .”

Ketika, Jacqueline diberi kesempatan mengembangkan isi materi di situs KapanLagi.com, hal itu membuatnya kian bersemangat. ”Karena ini adalah bagian dari keinginan saya selama ini sejak terjun di bidang online. Sejak dulu, saya ingin menjadi ahli di bidangnya. Dimana pun saya ditempatkan saya ingin menjadi ahli dan yang terbaik di bidang tersebut,’ tegas Jacqueline.

Khusus di KapanLagi.com, Jacqueline dan timnya tengah mmepersiapkan empat kanal baru.

”Itulah kenapa mereka menempatkan perempuan disini,” sesaat Jacqueline tertawa renyah, ”karena itu akan berhubungan dengan dunia perempuan. Ada women only, ada life style, olah raga bola dan otomotif. Yang empat ini akan lebih kita seriusi lagi. Selama ini KapanLagi.com dikenal sebagai situs entertainment.”

Dengan adanya empat kanal tersebut, diharapkan KapanLagi.com akan semakin lengkap. Toh begitu, Jacqueline tidak merasa bersaing dengan media-media online lainnya.

”Di dunia media ini kita saling bergandengan tangan. Sebagai contoh, Yahoo itu juga mengambil berita dari situs lain, salah satunya dari KapanLagi.com. begitupun dengan media-media online lainnya, yang saling mendukung dan saling support. Sumber bisa dari kita, tapi distribusi bisa dari siapa saja,” jelas Jacqueline.

Melalui Doa

Oleh karenanya, Jacqueline tidak begitu tertekan saat harus memimpin perusahaan media online. Menjadi pemimpin yang baik, lanjutnya, ”klasik saja, visioner dan yang pasti harus mempunyai tujuan yang jelas, dapat menjadi contoh tauladan bagi orang lain, mau mendengarkan orang di sekitar kita, mempunyai wawasan luas.”

”Kalaupun ada kendala, ya kita hadapi saja. Di dunia kerja apapun, kendala dan tantangan selalu ada dan bervariasi, ada yang mudah dilalui tetapi ada juga yang menguras energi, tetapi dengan penyertaan Tuhan itu semua dapat saya lalui. Karena saya percaya ini adalah proses kehidupan yang harus saya jalani agar saya lebih baik lagi, lebih maju lagi. Ke Tuhan, melalui doa, terutama doa bersama dengan keluarga terdekat, saya akan menjadi lebih kuat dan tegar. Saya mempunyai keluarga yang mempunyai persekutuan yang sangat erat di antara kita,” kata wanita cantik ini dengan suara teduh.

Jacqueline merasa hidupnya biasa-biasa saja. ”Kebetulan saya dibesarkan dari keluarga yang baik . Jadi saya bersyukur dibekali prinsip-prinsip kehidupan yang baik oleh mereka. Jadi ketika tantangan datang ya saya jalani saja sesuai dengan yang orang tua saya ajarkan, demikian juga ketika ada sesuatu yang menggembirakan terjadi juga kita tidak terlalu terjebak dalam euforia yang berlebihan.  Jadi kalau ditanya hal apa yang paling berkesan ya banyak, apalagi waktu masih kecil ketika orang tua saya lengkap, rasanya hidup nggak pernah susah,” ujarnya, tersenyum.

Karenanya, Jacqueline berusaha hidup seimbang dalam segala hal. Keseimbangan fisik dan mental.

”Saya suka bekerja keras, tetapi saya juga harus punya my ”me time” untuk melakukan hal-hal yang saya senangi. Saya suka makan enak, tetapi saya juga ada ukuran atau takarannya dan yang pasti harus olah raga juga,” kata Jacqueline.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Yeane Keet

Jarum Jatuh pun Harus Tahu

Yeane dididik keras oleh Ayahnya, demi kesuksesan. Kalaupun di usia 8 tahun ia harus ‘berpisah’ dengan orangtuanya, itulah bagian dari pelajaran ‘hidup’ yang harus dijalani. Dan ia sangat mensyukuri.

Di usia yang masih muda, Yeane Keet telah memimpin sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan besar milik Ayahnya, PT. Denpoo Mandiri Indonesia Group. Ia dipersiapkan untuk memegang kendali perusahaan yang bergerak di bidang elektronik ini.

Dengan rendah hati, wanita keturunan ini justru lebih suka disebut Sales & Marketing Director, seperti yang tertulis di kartu namanya.

“Itu karena passion saya disitu. Lebih ke dealing penjualan. Jadi mulai dari barang diproduksi sampai barang jadi. Dari hulu ke hilir. Dengan begitu, kita  direspek senior yang sudah lebih dulu di Denpoo, juga dengan karyawan-karyawan lain,’ ujar Yeane, penuh semangat.

Dari tangan dingin Yeane, perusahaan Denpoo memenangi tender pengadaan kompor gas untuk rakyat miskin yang diadakan Kementerian Koperasi dan UKM. Mesin cuci Denpoo juga menjadi pemimpin pasar, versi Gabungan Elektronik Indonesia.

Pisah dengan Keluarga

Keberhasilan Yeane tak lepas dari didikan Ayahnya, Lim Tjen Hong, pemilik Dempoo Group, di masa lalu. Di usianya yang baru 8 tahun, Yeane telah dilepas orangtuanya untuk tinggal dan bersekolah seorang diri di Singapura. Yeane dibesarkan dan tinggal dengan gurunya.

“Di Singapura, guru yang membesarkan saya. Baru liburan saya pulang atau orangtua saya datang. Begitupun waktu ke Amerika, juga sendirian,” kenang Yeane.

Otomatis, Yeane tumbuh menjadi sosok mandiri dan tegas. “Problem-problem harus saya selesaikan sendiri, karena memang tidak ada orangtua. Begitupun dengan figur. Itu saya dapatkan dimana saja. Bahkan, orangtua saya sampai bilang, saya ini orangnya aneh. Positive thinking-nya kebanyakan,” kata Yeane, tertawa lepas.

Anak kecil atau teenager, lanjut Yeane, tergantung dari isinya. “Kalau dia terlau sering diisi negatif-negatif, dia akan negatif. Begitupun sebaliknya. Jadi figur bisa didapat dimana saja. dari guru, dari kakak kelas. Tidak harus dari orangtua,” tutur wanita kelahiran 10 Agustus 1974.

Yeane, bahkan mengucapkan rasa syukur telah diberi pelajaran hidup,  menjadi sosok yang mandiri di usia yang masih belia. “Kalau tidak, saya akan jadi orang yang manja,” ucap Yeane, dengan senyum mengembang.

Barulah lulus kuliah tahun 1996 dari University Of Southern California, California, USA, dengan gelar Bachelor of Industrial Psychology, Yeane pulang ke Indonesia. “Total, saya tinggal di luar negeri 20 tahun. Tapi jangan tanya tentang nasionalisme saya. Jujur, saya sangat nasionalis,” tegas Yeane, tersenyum cerah.

Karir Dari Bawah

Pulang ke Indonesia, tidak serta merta Yeane memperoleh kenikmatan. Ia sempat bekerja di Sinar Mas Group untuk mencari pengalaman kerja. Barulah setelah krisis ekonomi, Yeane ‘ditarik’ untuk bergabung di Denpoo Group. Itu pun, lagi-lagi Yeane tidak langsung menduduki kursi empun. Ia mulai karirnya di bagian administrasi.

‘Memang diharuskan begitu. Intinya, di perusahaan saya, jarum jatuh pun harus tahu. Itu didikan dari Ayah saya,’ kata Yeane.

Di bagian sales marketing, Yeane pun memulai karirnya dari seorang supervisor. Dealing ke satu toko ke toko lain. Dalam sehari, ia bisa mendatangi 5 toko.

“Sampai sekarang pun saya masih terjun ke lapangan. Mereka juga masih kenal saya, karena hubungan baik ini terus terjaga sejak 8-9 tahun yang lalu. Mereka pun tahu, saya orang lapanga, jadi saya lebih enak kalau dealing bisnis,” ungkap Yeane.

Yeane mengakui, kekuatan team work sangatlah penting. “Saya pernah ditegur orang. Kenapa saya yang maju, padahal anak buah yang salah. Saya bilang, kalau anak buah saya yang salah, berarti saya juga yang salah. Saya bilang ke anak buah, kalau kamu jatuh, saya juga jatuh. Jadi, please kamu jangan jatuh, karena kalau jatuh, kita harus sama-sama bangkit,” kata Yeane.

Action Proof Everything

Datang sebagai ‘orang baru’ dengan usia muda, membuat Yeane harus pintar-pintar mengambil keputusan dan bersikap. Maklum saja, perusahaan Ayahnya sudah berusia lebih dari 20 tahun.

Rasa canggung, tentu saja ada. “Tapi saya bukan ke arah saya adalah anak yang punya, tapi lebih ke arah, ‘menurut bapak bagaimana? kalau saya begini. Mari kita kompromikan.’ Saya juga lebih ke action proof everything. Daripada saya ngomong, saya kerjain dulu. Selanjutnya saya kasih tunjuk kalau hasilnya lebih bagus. Lama-lama kerjasama jadi lebih enak. Itu semua bisa dibuktikan oleh waktu dan hasil. Dari situ lah mereka bisa respek,” ujar Yeane.

Untungnya, lanjut Yeane, para senior di perusahaannya, senang akan perubahan. “Apalagi industri tahun depan harus berubah karena ada free trade ASEAN-China. Industri itu salah satu peluang kerja. Disini kita menyerap sumbar daya manusia paling banyak. Kalau pemerintah tidak melindungi industri kita, yang dirugikan siapa? Ya, masyarakatnya sendiri,” ungkap Yeane panjang lebar.

Rasa cinta pada tanah air, ditambah kepedulian Yeane yang besar akan industri dalam negeri, membuat wanita ini bergabung di banyak forum komunikasi di perdagangan. Diantaranya di KADIN menjadi Wakil Ketua Komite Tetap Inovasi dan Produktivitas,  pengurus di GABEL (Electronic Association of Indonesia), serta di Association of Gas Cookers.

“Sayang kalau kita hanya memikirkan untuk indutri kita sendiri. Kita punya pemikiran untuk improve. Aspirasi-aspirasi ini harus disalurkan ke asosiasi. Untuk memperbaiki industri, kalau tidak ada orang yang ngurus, trus bagaimana.

Capek, ya capek juga. Rasanya tidak enak juga kalau punya pemikiran tapi tidak disalurkan. Itu memang harus ada passion dan nasionalis yang tinggi,” ungkap Yeane.

Lagi-lagi, wanita yang senang mengenakan baju batik mengatakan, “itu karena saya sangat cinta Indonesia.”

Aien Hisyam

December 22, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 1 Comment

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha | 5 Comments

Sitta Sudiro

Hidup Itu Adalah Harapan

 

Ia perempuan pertama di Indonesia yang menjalankan bisnis jasa security. Keinginannya cuma satu, yaitu melihat hidup orang lain semakin baik.

 

Satu hari, Sitta didatangi pegawainya, seorang security.

 “Dia bawa tas, isinya uang 250 juta rupiah,” cerita Sitta.

Rupanya, pria bertubuh sedang itu baru saja menjaga salah satu town house di kawasan Bangka. Dan tas itu terjatuh dari mobil.

“Dia buka untuk tahu alamatnya. Akhirnya di kembalikan ke orangnya. Si Ibunya senang dan dikasihlah orang ini uang 200 ribu,” lanjut Sitta.

Pada tiap karyawannya, Sitta selalu mengajak untuk bersyukur. “Saya bilang, bersyukur saja dulu. Kamu lihat saja nanti hadiahnya, mungkin tidak dari manusia tetapi dari Allah. Dan itu saya tekankan.”

Satu minggu kemudian, pegawainya ini datang lagi. Ia dan motornya baru saja ditabrak mobil yang mundur. Dan oleh si penabrak yang pemiliki toko handphone, ia diberi handphone bagus, uang, dan diperbaiki motornya.

“Saya bilang, itulah hadiahnya. Selain kamu dapat hadiah dari kantor kamu akan dapat hadiah dari Tuhan. Dan ternyata, esoknya, pegawai saya ini diterima di AKABRI,” ungkap Sitta, senang.

Berkah Promotor Tinju

Sitta dikenal dekat dengan pegawainya, meski ia President Directot PT Sakti Bina Interindo (SBI), perusahaan jasa keamanan yang berdiri tahun 2003.

Melalui bisnisnya, Sitta ingin memberikan rasa aman dan nyaman pada para klien. Sementara di dalam perusahaan, ia pun memberikan rasa itu.

“Alasan khusus, mungkin sambil berjalan saja. Dan lagi, waktu pertama mendirikan, kita tidak punya tujuan apa-apa,” ungkap Sita sambil tersenyum.

Sitta teringat, ketika pertama kali ia dimintai tolong pengacara Todung Mulya Lubis. “Waktu itu Mas Todung bilang tolong carikan bodyguard untuk klien-kliennya. Saya justru tanya, bagaimana kalau perusahaanku yang tekel. Mas Todung bilang terserah saja.”

Sitta beruntung. Bertahun-tahun ia pernah menjadi promotor tinju. Banyak mantan petinju yang sudah tidak bertarung lagi.

“Saya telepon mereka dan kasih kasih kerjaan. Ternyata mereka senang,” ujar Sitta, senang.

Saat itulah, tercetus keinginan Sitta mendirikan perusahaan jasa keamanan. Permintaan juga mulai berdatangan, salah satunya dari perusahaan pertambangan batubara milik Abu Rizal Bakrie di Kalimantan Selatan. 

“Kita ambil beberapa orang mantan-mantan petinju dan atlit kickboxing. Mereka sudah pada tua-tua untuk jadi atlit tinju. Nah, karena ada permintaan bodyguard, bisa lah mereka dipakai,” ujar Sitta.

Selama 4 tahun Sitta mondar-mandir ke Kalimantan. Ia tak hanya melatih orang-orangnya yang dibawa dari Jakarta, namun juga orang-orang lokal.

“Kerjaannya berat. Memang agak repot waktu disana. Ada yang sampai patah. Medannya berat sekali. Karena sering gonta ganti personil, akhirnya kita mulai didik orang-orang setempat dan kita ajari,” ujar Sitta.

Tren Bodyguard

‘Pulang’ ke Jakarta, Sitta fokus membesarkan perusahaannya.

“Saya ngobrol dengan beberapa teman pengusaha. Ada yang dari bank, finance, dan sebagainya. Dari pengusaha yang masih nol, sampai pengusaha yang sudah jadi,” kata Sitta.

Ditambah lagi, teman-temannya ini mengatakan bahwa bisnis pengamanan sedang dibutuhkan. Sitta kian mantap.

“Saya lihat, bisnis ini jadi satu kebutuhan. Apakah itu pengusaha, pengacara, atau kliennya pengacara dan sebagainya. Apakah itu perempuan atau laki-laki. Disaat-saat tertentu, dan tidak ada siapa-siapa, dan disitu ada kejadian, disitulah dia butuh,” ujar Sitta.

Sitta juga ingat ketika seorang teman berkata bahwa dulu orang masih bisa punya pistol. Sekarang, pistol sudah ‘digudangi’ semua.

“Kita tanpa pistol, memang ada Tuhan yang menjaga kita, tetapi kalau mau bicara amannya lagi, siapa yang kita mintai tolong,” tutur Sitta.

Khusus untuk klien perempuan, Sitta menyediakan pilihan bodyguard perempuan. “Pernah ada Ibu menteri yang minta saya bodyguard perempuan loh,” kata Sitta, senang.

Kalau bodyguardnya laki-laki, lanjut Sitta, “kan sungkan kalau mau ke wc, atau kalau sepatunya haknya copot. Nah, kalau bodyguardnya perempuan mau nggak mau dia lebih mudah masuk kemana. Ada banyak hal dimana kita lebih leluasa kalau perempuan.”

Ia miris melihat peristiwa Dewi Persik yang mengalami pelecehan seksual. “Mungkin, karena itu pula banyak artis yang sekarang minta jasa bodyguard sama saya,” ujar Sitta sambil tersenyum.

Pikirkan Perut

Meski sudah memiliki lebih dari 300 pegawai security, Sitta berharap tidak berhenti memberi kesempatan pada orang lain untuk bekerja di tempatnya.

“Dulu uwak saya pernah bilang, “Sit, hati-hati akan ada 20 juta orang penganggur di Indonesia. Akan ada banyak kriminalitas.” dan itu benar. Mau dikemanakan ini orang-orang?” suara Sitta terdengar tegas.

Sitta tak ingin menutup mata.

Dan ketika ia kedatangan pemuda-pemuda pengangguran, Sitta berusaha tidak menolak. “Mau dikemanain ini orang. Karena badannya kurus saya tanya, kamu security atau narkoba. “Security Bu, tapi 8 tahun tidak kerja.” Akhirnya kita yang carikan kerjakan,” ujar Sitta, terharu.

Kata Sitta, jangan bicara keuntungan.

“Kita pikirkan perut saja. Bantu orang. Rejeki akan darimana saja. Kalau mau bicara uang bermilyar-milar, jangan di perusahaan seperti ini. Yang terpenting tampung saja. Bukan dari perusahaan saya atau bukan dari si klien, tapi dari Allah,” kata Sitta dengan suara mantap.

“Pada setiap pegawai, saya selalu tanya. Apa kamu punya motor? Kalau tidak, segera beli motor. Saya selalu bilang, mereka harus punya sesuatu dari pekerjaan ini walaupun dengan penghasilan yang pas-pasan. Paling tidak motor. Kalau kerjanya bagus dan terus berkembang, siapa tahu segera punya rumah yang sederhana,” ucap Sitta.

Kata Sitta, ia selalu memberikan harapan.

“Saya bilang, ‘kamu jangan terus-terusan jadi security’. Kita ada jenjang yang lebih baik. Mungkin jadi koordinator, atau ditarik ke kantor. Atau kalau kliennya suka terus jadi ajudannya. Hidup itu adalah harapan,” tegas Sitta.

 Sitta tersenyum, ketika ditanya, sejak kapan rasa peduli itu ada.

“Saya selalu bermain naluri. Sampai ibu saya pernah bilang, “Sit, kalau kamu punya rumah dan orang lain minta, pasti kamu kasih”. Memang benar, saya tidak tahan lihat orang susah,” ujar Sitta.

“Alhamdulillah hidup saya tidak pernah susah. Kuncinya, cukup saja kita selau memberi. Jangan berharap akan kembali. Setiap orang datang ke saya minta pekerjaan, saya tampung dan saya minta dia berdoa supaya jalan saya mencarikan mereka rejeki semakin mudah,” lanjut Sitta, teduh.

Kehebatan Keluarga

Meski hatinya kerap tersentuh akan nasib orang, Sitta mengaku sosok yang tahan banting.

“Itu karena didikan,” katanya, sambil tertawa.

Dahulu, Sitta merawang ke masa lalu, “ibu saya kalau lihat saya nangis, selalu bilang, ‘baru begitu saja sudah nangis. Tahan air matamu.’ Ibu keras. Mungkin juga karena kakek saya kan matinya di tembak Belanda. kakek  ditembak karena tidak mau kasih tahu kempat peresmbunyian tentara-tentara Indonesia. Karena disana ada anak-anaknya yang jadi tentara. Salah satunya uwak-uwak saya,” kenang sulung dari bersaudara, keponakan Jenderal TNI (Purn) Herman Sudiro.

Dari didikan-didikan itulah Sitta menjadi kuat. Ditambah lagi, Sitta tumbuh dan besar di lingkunga keluarga militer.

“Saya juga dibesarkan di rumah uwak saya, Pak Herman. Saya liat bangun pagi ada tank-tank di depan rumah. Ada tentaranya yang salah di marahin dan dihukum push up. Juga terbiasa lihat panser-panser kalau pagi di panasin,” ujar Sitta.

Selain di rumah Herman, Sitta juga hidup berpindah-pindah. Kondisi yang harus diterima karena Bapaknya yang bekerja di perusahaan asing harus bolak-balik ke Sulawesi.

“Sebentar di uwak sini, besok di uwak mana lagi. Pindah-pindah. Saya ini digaulin saya sama ibu saya sejak kecil. Digaulin sama sepupu-sepupu. Jadi akhirnya kita terbiasa dengan kehidupan yang berbeda-beda di luar rumah. Banyak sekali perbedaan. Kebetulan semua kumpul di Jakarta,” kata Sitta, senang.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 2 Comments

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 2 Comments

Noni Sri Ayati

Dulu Dipanggil Om-Tante

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah  pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Karet Gelang Dalam Minyak

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.

“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.

“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Bertugas Melayani

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.

Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak

Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Beasiswa 400 Juta

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.

“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang  tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

Aien Riyadi

December 7, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 5 Comments

Mirna Rafki

“Tiga Wasilah Di Muamalat”


Bulan Ramadhan kali ini, Mirna memilih ‘beristirahat’.

“Saya harus memikirkan yang lebih penting lagi,” ujar Mirna Rafki.

Mirna baru saja pulang dari Bandara Halim Perdana Kusuma. Tidak tampak lelah, istri ustad Antonio Syafii langsung mengajak ke ruang kerjanya di lantai atas.

“Kalau ditanya keluhan saya saat ini, itulah keluhan saya. Sampai sekarang, saya belum punya anak, padahal saya puya target ingin segera punya momongan. Apalagi mengingat usia. Saya sebenarnya sudah harus memikirkan waktu untuk istirahat. Ah, kadang-kadang tuntutan kerja di kantor belum memungkinkan saya untuk istirahat. Tapi saya tidak mengeluh dan mencoba untuk menjalani saja. Tapi kadang suka kepikiran, aduh kapan yah bisa istirahat,” ungkap istri ustaz Syafii Antonio penuh semangat.

Tiga Wasilah

Dua tahun berturut-turut, saat bulan Ramadhan. Mirna menggelar event akbar. Salah satu acaranya berhasil menyerap ribuan pengunjung. Ketika empat ustaz besar, Aa Gym, Arifin Ilham, Ari Ginanjar dan Syafii Antonio tampil bersama dalam Dialog Akbar.

“Tahun ini istirahat dulu. Saya harus kejar target yang lain, ingin segera punya momongan,” kata wanita kelahiran 23 Agustus 1966.

Mirna, tidak penah diam. Lulus dari IPB Jurusan Teknologi Industri tahun 1989, ia bekerja di Bank Bukopin. Dua tahun kemudian, tahun 1992, Mirna pindah ke Bank Muamalat, Bank Syariah pertama di Indonesia.

“Saya tertarik pindah karena Bank tersebut memiliki sistem baru. Tetapi yang paling utama, saat itu saya ingin sekali menutup aurat secara sempurna. Apalagi situasi kontor-kantor di tahun itu belum sepenuhnya membolehkan karyawatinya memakai jilbab. Jadi, saya anggap ini adalah peluang yang sangat baik. Dan sejak itu saya mulai full menutup aurat,” cerita Mirna.

Mirna kembali mendapat hidayah. Di tempat kerjanya yang baru, ia bertemu Syafii Antonio. Satu tahun kemudian, tahun 1993, mereka bahkan memutuskan menikah.

“Itu wasilahnya. Saya bisa kerja di Bank Muamalat, bisa menutup aurat, dan ketemu jodoh disana. Waktu itu Pak Syafiie di bank Muamalat bagian biro Syariah. Saya di bagian pembiayaan kerena waktu di Bank Bukopin bagian perkreditan,” kenang Mirna.

Empat tahun setelah menikah, wanita asli Padang ini diangkat menjadi Kepala Cabang. “Karena Pak Syafii ambil S3 di Australia, saya harus memutuskan satu pilihan, sebagai seorang istri mendampingi suami atau meneruskan karir di Bank. Nah saya memilih keluarga mendampingi suami. Alhamdulillah waktu itu saya diperbolehkan cuti diluar tanggungan selama 2 tahun. Ternyata setelah cuti 2 tahun itu, saya masih harus tetap disana. Akhirnya saya putuskan keluar dari Muamalat,” kata Mirna yang juga lulusan S2 STIE-IPWI Jurusan Manajemen Keuangan.

Terlalu Bertanggung Jawab

Mirna menyebut dirinya tipe pekerja yang pelaksana.

“Tidak hanya sampai di konsep. Disaat bekerja, saya itu sangat detail supaya hasil bisa maksimal. Memang terkesan perfect. Tapi itulah yang dibutuhkan. Dan biasanya wanita pekerja, menurut saya justru lebih detail dan perfect dibandingkan para pria. Kalau kita kan bagaiamana proses ini yang kemudian menghasilkan bentuk yang bagus. Jadi harus dari awal. Saya ingin segala sesuatu itu berjalan dengan lancar, baik dan hasilnya bagus. Saya senang memenej sesuatu,” kata Mirna tentang dirinya.

Mirna mendukung wanita yang bekerja di luar rumah sepanjang ia tidak melupakan tugas-tugas sebagai istri dan ibu.

“Alhamdulillah Pak Syafii tidak keberatan saya kerja. Beliau tahu persis saya ini tipe orang yang senang beraktifitas. Kata Pak Syafii, kalau saya diberi tanggung jawab, justru terlalu bertanggung jawab. Malah kadang-kadang dari segi fisik, saya mengerjakan itu sangat bersemangat,” kata Mirna.

Kini Mirna berkarir diperusahaan yang didirikan Syafii Antonio. Sebagai Direktur Utama PT. Tauba Zakka Atkia bergerak di bidang travel khusus Haji dan Umroh, Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendekia pengelola STEI –Sekolah Tinggi Ekonomi Islam- Tazkia, dan di Associate Partner Batasa Tazkia Consulting.

Sosialisasi Ekonomi Syariah

Memimpin Tazkia Travel khusus Haji dan Umroh dianggap Mirna menjadi tantangan baru. Apalagi, ia harus menjalani bisnisnya berdasar konsep ekonomi syariah.

“Terus terang saya tidak punya latar belakang bank syariah, justru berlatar belakang bank konvensional. Tapi Alhamdulillah ketika masuk ke bank Muamalat, kita belajar, apa itu bank Islam? Bagaimana konsepnya? Bagaimana prinsip operasionalnya? Disitu akhirnya saya tahu dan punya background tentang bank syariah.  Dan Alhamdulillah saya dapat suami yang satu visi dan misi. Dan beliau dari awal sudah mendedikasikan hidupnya untuk mensosialisasikan ekonomi syariah. Akhirnya saya bersama-sama beliau berjuang dan saling mendukung,” ujar anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Dr. H. Rafki Ismail, MPH dan Hj Rosmalini.

Ekonomi syariah yang selalu disosialisasikan Mirna dan Syafii berbasis pada ayat-ayat Al Quran.

“Suatu konsep ekonomi yang berkeadilan. Tidak mengeksploitasi yang kuat erhadap yang lemah. Selama ini ekonomi yang ada adalah ekonomi kapitalis yang kuat yang menang. Tidak ada pemerataan,” jelas Mirna.

“Nah, antara bank dengan peminjam yang biasa disebut pengutang atau debitur, di ekonomi syariah disebut mitra. Begitupun untuk mereka yang menyimpansejumlah dana ke bank, disini disebut investor. Oleh bank dikelola. Apabila mendapatkan keuntungan, maka akan dibagi dengan investor. Termauk kalau kita kredit dengan bank, maka akan muncul keadilan dengan memposisikan debitur sebagai mitra,” lanjutnya.

Bunga bank disebut dengan sistem bagi hasil. Ada juga sistem jual beli, pembagian zakat, produksi dan distribusi, dan masih banyak lagi.

“Dengan zakat maka uang bisa diinfakkan.  Oleh karena itu, setiap orang Islam harus kaya, supaya dia bisa selalu memberi. Tentu orang kaya yang syukur. Nah, sistem ini yang sangat penting untuk disosialisasikan,” kata Mirna lagi.

Satu proyek besar yang tengah dijalani Mirna dan suaminya adalah membangun Islamic Center yang berada di Bukit Sentul. Di masa depan, gedung di atas lahan 2,3 hektar ini akan menjadi pusat bisnis syariah meliputi perbankan, asuransi hingga layanan produk investasi sperti reksadana. Juga sebagai tempat pendidikan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam.

Aien Hisyam

December 4, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 2 Comments

Ermey Dewanto

Setelah Mengirim 2000 Surat

 

Lima tahun membesarkan Dapur Cokelat, untuk pertama kalinya Ermey mendapat protes dari ‘penggemar’nya.

 

Mama sih nggak gaul,” Ermey menirukan protes anak pertamanya, Aditya Pratama, 16.

“Tapi, gimana dong nanti reaksi pelanggan Mama yang lain,” ujar Ermey membalas protes anaknya.

“Ini ‘kan untuk anak-anak ABG, Ma. Dicoba aja deh, nanti kita lihat hasilnya,” ujar Aditya penuh antusias.

Akhirnya, bulan Februari lalu, untuk pertama kalinya Ermey membuat tema baru untuk coklat-coklatnya yang unik dan menggemaskan. Coklat warna warni itu diberi nama Retro. Sesuai permintaan Adit.

“Adit sejak dulu jadi penggemar berat cokelat-cokelat buatan Mamanya. Selama ini dia hanya mencoba, menggemari, sekaligus menggilai. Tetapi, baru kali itu dia bisa protes dan kasih masukan. Ternyata luar biasa, cokelat-cokelat tema Retro khas ABG, justru paling diminati. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang fungky,” ujar Eyi, panggilan akrab Ermey, dengan mata berbinar.

Eyi kini mulai melibatkan Adit dalam bisnis Dapur Cokelat. Ada satu camiln cokelat yang dibuat sesuai keinginan anaknya, Choco Monkey. Terbuat dari pisang yang diolah bersama cokelat, menjadi camilan unik untuk anak-anak remaja.

Menejemen Keluarga

Ermey tidak sendirian membesarkan Dapur Cokelat. Dibelakang kesuksesannya, ada dukungan kedua orangtuanga HM Noor Matulia dan Hj. Darniati, juga suaminya, Okky Dewanto. Mereka berempat menjadi komisaris Dapur Cokelat.

“Jadi memang benar kalau ini bisnis keluarga. Walaupun begitu, Dapur Cokelat tetap kita kelola dengan profesional. Pembagian profit tetap ada. Menejemen tetap berjalan sesuai dengan relnya. Karena kalau tidak begitu, bisnis ini tidak akan berkembang dengan baik,” kata Eyi yang telah membuka tiga outlet Dapur Cokelat di Jakarta.

Eyi bisa berbangga hati. Dapur Cokelat saat ini mulai jadi icon jajanan cokelat paling digemari. Di dalam toko berkonsep dapur ini tersedia berbagai macam pastries cokelat.

“Saya berpegang pada satu kiat dalam membesarkan Dapur Cokelat, yaitu fokus di konsep. Ini adalah toko kue dari cokelat. Jadi sejak berdiri tahun 2001, usaha kita yang itu-itu saja, tidak melenceng kemana-mana,” ujar Eyi yang mencontohkan beberapa usaha lain yang terpaksa tutup karena tidak fokus di konsep.

Cokelat bukanlah barang baru bagi Eyi. Sejak kecil, ia sudah tergila-gila dengan camilan dari cokelat. Begitu sukanya, Eyi jadi hafal nama-nama cokelat yang ia gemari. Baik buatan lokal maupun luar.

“Lulus SMA, saya kuliah di NHI (National Hotel Institute) Bandung. Ketika masuk semester dua, saya mempelajari tentang cokelat. Jadi saya tahu banyak tentang cokelat, juga tahu bagaimana membuatnya. Ternyata gampang sekali,” kisah Eyi.

Uji coba pertama Eyi adalah membuat cake cokelat. Diluar dugaan, cake penuh hiasa cokelat itu digemari teman-teman satu kosnya. Esok harinya, Eyi kembali coba-coba membuat rosce, malako, dan praline atau permen cokelat. Ternyata peminatnya semakin banyak.

Sejak itulah Eyi punya kesibukan baru, kuliah sambil berdagang cokelat hasil kreasinya sendiri. Hanya bermodal satu kompor yang ditaruh di dapur kos, Eyi akhirnya bisa menarik untung berlipat-lipat.

“Mereka suka karena murah. Masak satu ons hanya 5000 rupiah,” kata wanita ini.

Cokelat Untuk Calon Suami

Rasa ingin tahu dan kecintaan yang besar akan cokelat membuat Eyi melanjutkan kuliah di Agrobisnis IPB Bogor yang banyak mempelajari tanam-tanaman dan sayur-sayuran. Di tempat ini Eyi justru menemukan cintanya yang lain. Pria itu bernama Okky Dewanto, alumnus IPB dan pendiri perusahaan kue Apple Pie. Kencan pertama, Eyi membuat Tiramisu dari cokelat untuk sang kekasih.

“Ya ampun, Mas Okky bukannya memuji. Dia malah ajak dagang, sama-sama membuat kue-kue dari cokelat,” kenang Eyi sambil tertawa kecil.

Eyi menganggap sebagai mukjizat, hanya dengan bermodalkan uang Rp.75.000,- untuk biaya operasional selama 1 minggu, mereka bisa membuat pastries cokelat dalam jumlah banyak

“Awalnya kita hanya menstok cokelat 12 kilogram saja, Hasilnya lumayan bagus. Baru pertama kali buka, produk kita bisa laku 2 kilo sehari,” cerita Eyi.

Eyi akhirnya membuka toko dan diberi nama Dapur Cokelat di Jalan hamad Dahlan, Jakarta Selatan, bersama Okky yang akhirnya menjadi suaminya.

“Dibantu teman-teman untuk operasional, kami harus mengenalkan Dapur Cokelat tanpa memiliki biaya promosi. Kami benar-benar bergerak dengan hanya dilandasi keyakinan, bahwa produk DC layak jual, dan akan disukai. Bahwa konsumen, akan bisa dan tidak akan kecewa menerima produk Dapur Cokelat,” ujar Eyi penuh keyakinan.

Kirim 2000 Surat

Strategi awal, Eyi dan Okky adalah mencari mailing list dari teman-teman marketing. Mereka juga mengundang calon konsumen untuk terus melakukan check and retesting.

“Target utama adalah orang harus mengenal dulu, sementara, apakah mereka akan membeli atau tidak, masih prioritas kesekian. Kalau tak salah, masa itu kami mengirimkan surat undangan dan pemberitahuan ke 1000 sampai dengan 2000 alamat yang tidak kami kenal sebelumnya,” ujar ibu dua putra, Adit dan Akheela Candra, 20 bulan.

Dan dari pengiriman surat ke ribuan alamat tersebut, hasilnya cukup menggembirakan.

“Sebagian dari mereka ada yang menelepon, menanyakan ini itu, sebagian ada yang langsung datang menguji rasa. Kemudian, yang paling menggembirakan adalah: yang sudah pernah datang, kemudian datang lagi dengan membawa teman-teman mereka. Mereka menguji rasa dan membeli. Lalu, karena disebelah Dapur Cokelat kebetulan ada supermarket, pembeli yang sudah berbelanja ke supermarket tersebut kami undang pula masuk ke Dapur Cokelat, untuk ikut menguji rasa dan mengenali kue-kue Dapur Cokelat,” kenang Eyi.

Dapur Cokelat memang unik, seunik namanya. “Awalnya saya ingin membuat toko dengan desain seperti galeri. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya desain galeri itu berat sekali, dan bisa berimbas ke produk yang akan saya jual, jadinya tidak akan terekspos. Entah gimana tiba-tiba saya dan kakak muncul ide pakai nama Dapur. Lebih kena,” ujar Eyi sambil tersenyum.

Dapur Cokelat milik Eyi memang dibuat sangat menarik. Ia tidak menghilangkan pakem dan ciri khas dapur. Yaitu mendesain ruangan dengan meletakkan kitchen set sebagai hiasan utama sehingga terlihat lebih unik dan menarik.

“Pernah loh  ada orang masuk ke toko saya tanya, “Mbak, jualan kicthen set ya?” kisah Eyi sambil tertawa lepas.

Kesan dapur memang sangat menonjol. Hampir diseluruh ruangan didominasi warna cokelat dan kuning, hingga terkesan hangat dan akrab. Apa beragam potongan cake, praline serta gundukan permen cokelat menghiasi setiap sisi ruangan.     

Aien Hisyam

 

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 3 Comments

Evita Handayani

‘Ini ‘kan Ilmu Emak-emak’

Tak tahan melihat orang lain susah, Evi  memilih berbuat lebih jauh. Ia mendirikan koperasi yang dikhususnya untuk para wanita.


Tinggal di kota Malang, Evi punya ikatan batin yang kuat. Ia ingin berbuat, demi membuat hidup orang lain jadi bahagia.

‘Tapi, waktu itu belum terpikirkan membuat koperasi,’ kata Evita.

Sampai suatu hari, Evita mendengar curhat teman-teman dekatnya. ‘Sebagian besar, mereka mengalami masalah keuangan. Satu masalah yang sangat umum dan hampir semua keluarga pernah mengalamai masalah ini,” ujar Evita.

Munculah ide membuat koperasi, lembaga yang dalam bayangan Evi, bisa menjadi solusi masalah teman-temannya. Saat itu, Evi ingin mendirikan koperasi dalam bentuk berbeda. Tak hanya sebagai tempat pinjam uang saja, tapi sekaligus mensejahterahkan anggota dalam bentuk yang terukur.

Tawaran untuk Berubah

Berawal dari arisan Ikatan Persewaan Mobil Malang, Evi mengenal dunia perkoperasian. Di tahun 1998, perkumpulan ini berubah bentuk menjadi koperasi simpan pinjam. Dan di tahun 1999, keluar Badan Hukumnya.

“Baik koperasi maupun arisan, akhirnya tidak berjalan lancar,” cerita Evi. Ia mengeluh karena Bapak-bapak, peserta arisan, makin susah diajak berkumpul. Tapi, ia bersyukur, saat berubah bentuk menjadi koperasi, anggota bertambah. Dari 38 anggota, menjadi 58 anggota.

Di tahun 2006, Evi bertemu dengan Almarhum Bu Harto, Ketua Kartika Candra, Andakan, Pasuruan. “Kebetulan beliau ketua Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur). Beliau mengusulkan koperasi dipindah menjadi wanita semua. Dia mau mengajarkan,” kata Evi.

Evi langsung menyambut baik tawaran Bu Harto. Ia belajar di sejumlah koperasi yang telah lama berdiri. Barulah tanggal 30 Maret 2006, Koperasi Wanita ‘Bhakti Asta Makmur’ (BAM) menjadi salah satu koperasi primer di bawah Puskowanjati.

“Kita jalankan sistem, dan sampailah seperti sekarang ini,” ujar Evi. Ia bangga, karena di awal berdirinya, BAM sudah mampu menggaet 121 anggota.

Evi cukup jeli melihat peluang. Ia kembangkan koperasi ala multilevel marketing.

“Kita akhirnya membuat sistem sponsorship. Satu anggota wajib membawa 1 anggota baru. Anggotanya wanita semua. Dan dalam 3 bulan mereka sudah bawa satu-satu semua. Jadi  total menjadi 240an. Di awal 2007 kemarin, malah sudah lebih dari 350an anggota. Dan sekarang, sudah 1300 anggota,” kata Evi, bangga.

Kini, BAM sudah tidak terlalu aktif mencari anggota. Kata Evi, paling tidak satu tahun mereka membawa 1 teman baru. “Kalau tahun depan masing-masing bawa satu teman jadi 2600 anggota,” tambahnya, mantap.

Harus Punya Kegiatan

Saat BAM berdiri, di Malang, sudah berdiri 4 koperasi khusus wanita. Sekarang sudah menjadi 6 koperasi khusus wanita. Namun, dibandingkan koperasi kebanyakan, BAM terlihat berbeda.

“BAM memang khusus wanita. Kalau saya pribadi terus terang, saya kasihan dengan wanita. Nggak semua wanita bisa berjaya. Kadang mereka hanya mengandalkan dari suami. Padahal, ketika ditanya, mereka semua ingin berkumpul di dalam koperasi. Sayangnya orang masih menganggap koperasi sebagai tempat untuk meminjam uang. Itu yang membuat saya tidak sreg. Mau saya, semua wanita punya kegiatan yang menghasilkan. Bukannya dapat pinjaman, trus duit suami buat bayar,” tegas Evita.

Evita menganjurkan, setiap anggota BAM harus memiliki kegiatan. Kalau tidak punya kegiatan, lanjut Evi, “kita buatkan kegiatan. Kita ada diklat, dari yang dasar, pengembangan, dan mandiri. Kalau dasar, itu dia tidak punya kegiatan sama sekali, atau murni ibu rumah tangga. Kita kumpulkan untuk pelatihan. Dia ahlinya dimana, kalau masak, kita kupulkan di kelompok masak, ketrampilan di ketrampilan, konfeksi di konfeksi. Ada ibu-ibu yang tidak sabar dan tidak telaten, kita cari pemecahannya. Kita ada pembinaan. Ada ibu-ibu yang suka menulis, ya dia bisa menulis di website kita,’ jelas Evita, semangat.

Agar hasil yang dicapai maksimal, Evita sengaja tidak mentargetkan anggota BAM terlalu banyak.

‘Karena ada koperasi yang anggotanya banyak sekali, tapi yang jadi pertanyaannya, apakah dengan begitu dapat terukur kesejahteraannya,” tanya Evita.

Di BAM, ibu dua anak ini lantas mengkombinasi sistem. Ia gabungkan sitem tersebut dengan pengalaman-pengalaman yang kerap terjadi masyarakat.

‘Ada yang masalah duitnya di pakai ketuanya, ada yang lari meninggalkan hutang. Nah, itu jadi pemikiran kita. Ternyata faktor ekonomi. Saya tidak mau anggota jadi obyek, saya mau ini di gabungkan dengan usaha saya dan usaha suami saya, dengan MLM yang ada, harus ada diklat, retreat merubah wawasan.

Akhirnya, disimpulkan bahwa ekonomi hanya sebagai media, bukan iming-iming. Saya mau koperasi itu untuk mensejahterakan anggota, tapi yang bisa diukur. Anggota punya kegiatan yang menghasilkan dan benar-benar mensejahterakan. Bunga bukan untuk operasional, tapi laba dari produk itu yang untuk mensejahterakan anggota,” jelas Evita.

Kini, dana yang dimiliki KWSU BAM sudah mencapai Rp. 8 miliar.

‘Saya gambar koperasi itu bejana. Ekonomi adalah apinya. Jangan sampai ekonomi di dalam bejana, nanti panas dong. Ini kan ilmu mak-mak. Kalau masak di kuali, anggota iniyang punya bumbu, punya rasa, duit hanya untuk api.

Jadinya, dampak kemacetan tanpa jaminan, 0 persen. Makanya, kalau ada anggota yang mau pinjam, dia tidak boleh datang, daftar, pinjam. Harus 2 bulan dilatih dan difahamkan sistem kita yang tanggung renteng, gotong royong, musyawarah, dan terbuka. Setelah itu 2 bulan baru boleh pinjam,” tegas Evita.


Koperasi Gaul

Evita sadar, waktunya banyak tercurah pada KWSU BAM. Ia punya mimpi, kelak koperasi yang ia bangun dari cinta ini, bisa berkembang dengan baik.

“Mimpi saya BAM punya home industri, atau pabrik yang menjual, punya kualitas. Tapi karyawannya adalah anggota, untung untuk anggota, dan semuanya dikelola oleh anggota,” jelas Evi.

Hasil KWSU BAM saat ini adalah jus buah, seperti; anggur, jambu, dan apel. Hanya saja, karena tanpa pengawet, masa berlaku jus-jsu ini hanya sampai satu minggu.

Keunikan yang dilakukan Evita, juga terlihat dari sistem operasional BAM. Mereka menggunakan istilah-istilah perbankan.

“Tujuannya agar koperasi tidak dipandang sebelah mata. Mereka, anak-anak lulusan Brawijaya itu tidak malu melamar ke kita, karena KWSU BAM lebih menyerupai Bank dibanding KUD.

Evi juga harus mau menerima telpon setiap saat. Setiap hari, ia pasti mendengar keluhan sampai curhat anggota-anggotanya. “Mereka memanggil saya, Mama. Curhatnya aneh-aneh. Ada yang bertengkar dengan suami, ada yang masakan, sampai yang pemasaran yang mentok,” ujar Evi.

Kalaupun Evi mulai merasa terbebani, ia akan mencari hiburan dengan berkaraoke, atau membuka situs-situs pertemanan. Evi bahkan menganjurkan anggota-anggotanya untuk bisa bermain internet, dan paham teknologi.

‘Makanya, koperasi kita ini sering disebut koperas gaul. Karena di tempat kami semua online. Meeting bisa online,” ujar Evi senang.

Tampaknya, Evi tidak pernah merasa puas. Ia masih bermimpi, kelak KWSU BAM bisa mengangkat derajat hidup wanita kota Malang, seutuhnya. “Semoga berhasil,” katanya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 1 Comment

Eileen Rachman

Hidup Pun Kian Terasa Penuh

 

Eileen memiliki passion besar terhadap manajemen dan pengembangan sumberdaya manusia.


Dari sebuah biro konsultasi kecil, EXPERD kini makin memantapkan posisinya sebagai reputable business partner bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berhasrat melakukan perbaikan dan berkomitmen untuk mengambangkan SDM-nya.

Nama Eileen, memang tak lepas dari EXPERD yang ia rintis sejak tahun 1985. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1988 ini memulai karir konsutasinya, pada usia 33 tahun.

Di usianya sekarang, semangat Eillen tak pernah kempis. Ia masih giat belajar dan mencoba hal-hal baru. Aktif berwisata kuliner, manari salsa, olahraga wall climbing, hingga membuat face book di internet.

Frutasi Saat Terapi

“Aku tadinya belajar arsitektur,” kata Eileen.

Eileen mengaku menyukai dunia arsitektur dan interior. Keasikannnya itu, ia tuangkan pada perusahaannya yang lain, Decorous.

“Setelah itu, aku kecemplung di fakultas psikologi UI. Ini tidak berjalan bersama. Setelah menikah, baru ambil psikologi. Dan, ternyata tidak mudah,” jelas Eileen.

Meski mengaku kepayahan mendalami ilmu psikologi, Eileen akhirnya  termotivasi untuk komit pada disiplin ilmu ini. “Dalam artian, bagaimana ilmu ini diterapkan di masyarakat, melalui tulisan. Sebagaimana kita lihat, ilmu ini tidak terlalu disosialisasikan oleh penulis. Tidak sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat ilmu ini tidak umum,” lanjut Eileen.

Barulah, kata Eileen, 10 tahun terakhir, orang bangga menjadi seorang psikolog. “Dulu seolah tidak menarik dan tidak ilmiah.”

Lulus kuliah tahun 1983, di usia 33 tahun, Eileen menjadi dosen di Fakultas Psikologi. Barulah di tahun 1985, Eileen benar-benar bekerja di dunia komersial.

‘Karena aku berpikir kalau aku jadi dosen, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku lebih tertarik pada penerapan. Sebenarnya, aku sempat praktek, sekitar tahun 1983 hingga 1986. Nah, orang kan datang ke praktekku, selalu mencari solusi. Sometimes itu membuatku sangat frustasi,” ungkap Eileen.

Ia frustasi karena selama menuntut ilmu psikologi, Eileen tidak pernah terapi dengan tuntas. Kalau mau mahir memberikan terapi, “aku harus sekolah lagi. Dengan kondisi aku yang sudah punya anak 2, aku tidak punya waktu. Akhirnya yang aku lakukan, terapi-terapi yang bisa aku lakukan sendiri. Misalnya family therapy.”

Diajari Staf

Merasa tidak puas, Eileen memilih kerja di dunia komersial. Menjadi HRD manager.

Terus terang, aku langsung menduduki jabatan manager, dan aku diajari para stafku. Mulai dari cara ngitung orang, cara ngitung gaji, cara bikin surat oleh sekertarisku. Saya sih nekat saja. Ternyata saya perlu belajar. Sampai  3 tahun. Barulah kemudian saya mendirikan Experd,” cerita Eileen.

Eileen sempat bekerja menjadi HRD Manager di Bank Umum Asia. Bank ini kemudian merger dengan Bank Lippo. “Andai aku terus berkarir disini, aku akan di Lippo. Karena aku memang diminta bergabung di Lippo.”

Eileen merasa perlu mendirikan perusahaan jasa. “Saat itu belum banyak perusahaan jasa yang seperti saya dirikan ini. Masih malu-malu. Makanya pemasarannya tersendat-sendat. Aku juga mungkin belum terkenal. Dan kita belum tahu bagaimana memasarkan dengan baik. Biro-biro konsultasi psikologi itu memang juga tidak memasarkan. Ada juga teman-teman yang sudah ekspan. Saya memang pendatang baru,” jelas Eileen.

Eileen bergairah, manakala 10 tahun terakhir, ia menemukan warna baru dalam bisnis jasanya. Ketika Ketika banyak anak-anak muda yang sangat kreatif, yang bergabung di perusahaannya. Yang tidak membawa hawa yang dulu-dulu. “Justru yang baru-baru ini, mereka kuat di komunikasi, kuat marketing, kuat di IT, kuat baca, internet. Karena itulah kemudian aku sendiri juga berubah,”

“Saya konsentrasi di training dan assignment. Kita sadar pada saat itu kita sebagai konsultan, hanya tukang training dan tukang assignment. Kita bukan membimbing company menjadi lebih baik,” kenang Eilleen.

Namun sejalan dengan waktu, Eileen kian mantap memposisikan dirinya sebagai tenaga konsultan yang handal.

“Akhir-akhir ini saya berani meng-claim bahwa aku bisa menjadi partner para owner untuk membuat barisan man power-nya,” ujar Eileen, mantap.

Tidak Tahu Penyakitnya

“Kadang-kadang ada perusahaan yang tahu masalahnya, ada yang tidak. Seperti ke dokter saja. Ada yang bilang, ‘dok ini saya sakit’. Tapi ada yang bilang, ‘dok, seluruh badan saya sakit.’ Klien macam-macam. Ada yang mengerti apa yang diperlukan, ada yang tidak,” ujar Eileen tentang kondisi kliennya.

Beruntung, Eileen jago di bidangnya. Ia punya tenaga riset yang siap meriset kondisi perusahaan klien-kliennya. Untuk mengetahui ‘penyakit’ perusahaan kliennya.

“Bisa saja seorang direktur tidak melakukan suksesi. Kita tidak bilang, kamu tidak pantas disitu. Kita cuma bilang, ayo bikin program suksesi secepat mungkin. Jadi kita lebih detail dan profesional, tidak hanya penempatan orang saja,” ujar Eileen.

Eileen selalu bertanya, apa yang dibutuhkan kliennya. Apakah sekedar sukses, ataukan membutuhkan lebih banyak ekspertis, atau membutuhkan orang-orang yang sekolah formal, membutuhkan orang-orang yang bisa bekerja, dan lain sebagainya.

Menjadi SDM Ideal

Eileen sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang baik itu harus kompeten, komit, kontribusi. Kompeten itu mampu, komit itu mau, kalau iya-iya kalau nggak ya enggak. Sementara kontribusi berarti menyumbang. Kalau dia di perusahaan hanya sebagai pengembira saja tidak ada sumbangannya, ya percuma saja,” tegas Eileen.

Tentu saja, lanjut Eileen, harus sejalan dengan apa yang diinginkan perusahaan, apa yang diharapkan perusahaan, dan apa yang jadi filosofi perusahaan.

“Kita profesional, jadi kita punya alat dan teknik untuk menilai para SDM ini. Pada dasarnya saya sudah tidak lakukan itu sejak lama. Sekarang, sudah ada anak buah yang lakukan,” ujar Eileen.

Hidup Seimbang

Dua perusahaan Eileen, Decorous dan EXPERD, berdiri dalam jangka waktu hampir bersamaan. Perusahaan ini, kata Eileen, dibesarkan dengan rasa.

“Aku suka banget sama penerapan ilmu psikologi, tapi aku juga suka banget sama interior. Jadi ya buat aku tidak susah. Kalau beli interior terus dipakai sendiri, kan nggak bisa selamanya begitu. Akhirnya kita beli dan kemudian dijual. Tapi di perusahaan anakku ini beda, apa yang dilakukan teman-teman disini tidak hanya jual saja. Mereka juga menciptakan barang, bahkan mereka juga melakukan service yang baik, dari segi waktu, kesulitan dan problem,” ujar Eileen bangga.

Eileen senang. Karena, kata ibu dua putra ini, segala hal uang di lakukan di perusahaannya, adalah hal yang akan dikembangan. “Selama mereka mau berkembang, dan mereka tidak bosan. Terus belajar dan belajar. Saya bersyukur dengan apa yang dikasih Allah pada aku, yaitu kemampuan belajar dan mengajar,” kata ibunda DJ Riri ini dengan rona wajah bahagia.

Karenanya, Eileen merasa hidupnya selalu seimbang.

“Adalah kalau kita achieved segala hal. Relijius dengan hal emosi dan kehidupan kerja yang memuaskan. Ya dapat duitnya, untungnya. Fisikal, ya kita sehat. Semua itu, kalau kita rasanya puas dan berkembang, ya kita puas. Kesibukanku di luar kerja, ya bergaul atau mengakses internet, misalnya face book-an. Juga panjat tebing, main sama anak, cucu, dan tim wisata kuliner. Aku merasa hidupku penuh.

“Aku tidak pernah malas sama sekali,” tegas Eileen.

Ia senang berteman dan membaca buku. Dalam satu waktu, ia bisa membaca 3 buku sekaligus. “Aku senang sekali berkembang. Karena sangat mengasikkan dan menguntungkan. Aku cuma takut sakit.” Eileen pun tersenyum lepas.

Begitupun dengan hubungan antar karyawan. Eileen sangat kompeten. Ia mempunyai aturan yang ketat, mesiskipun diluar itu, Eileen mengaku selalu membuka diri pada tiap karyawannya.

“Aku mengharuskan semua karyawanku punya Yahoo Messenger. Tidak boleh invisible di hadapanku. Kalau dia pasang invisible, aku akan marah. Karena buat aku. Mereka harus bisa aku kontak. Handphone pun juga. Tapi aku tentunya tidak bisa melarang mereka. Tapi aku selalu bilang, tidak ada gunanya kalian matikan handphone dan tidak bisa dihubungi. Aku saja yang sudah tua begini masih bisa dihubungi. Nanti kalian tidak bisa berkembang. Aku kalau ngajarin orang sangat keras. Kalau kalian sedang belajar, aku teriak-teriak, itu bukan berarti aku marah. Tapi kalian harus tahu mana yang benar,” tegasnya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.