Aien Hisyam

- hidup adalah tempat belajar -

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 2 Comments

Noni Sri Ayati

Dulu Dipanggil Om-Tante

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah  pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Karet Gelang Dalam Minyak

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.

“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.

“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Bertugas Melayani

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.

Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak

Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Beasiswa 400 Juta

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.

“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang  tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

Aien Riyadi

December 7, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 1 Comment

Mirna Rafki

“Tiga Wasilah Di Muamalat”


Bulan Ramadhan kali ini, Mirna memilih ‘beristirahat’.

“Saya harus memikirkan yang lebih penting lagi,” ujar Mirna Rafki.

Mirna baru saja pulang dari Bandara Halim Perdana Kusuma. Tidak tampak lelah, istri ustad Antonio Syafii langsung mengajak ke ruang kerjanya di lantai atas.

“Kalau ditanya keluhan saya saat ini, itulah keluhan saya. Sampai sekarang, saya belum punya anak, padahal saya puya target ingin segera punya momongan. Apalagi mengingat usia. Saya sebenarnya sudah harus memikirkan waktu untuk istirahat. Ah, kadang-kadang tuntutan kerja di kantor belum memungkinkan saya untuk istirahat. Tapi saya tidak mengeluh dan mencoba untuk menjalani saja. Tapi kadang suka kepikiran, aduh kapan yah bisa istirahat,” ungkap istri ustaz Syafii Antonio penuh semangat.

Tiga Wasilah

Dua tahun berturut-turut, saat bulan Ramadhan. Mirna menggelar event akbar. Salah satu acaranya berhasil menyerap ribuan pengunjung. Ketika empat ustaz besar, Aa Gym, Arifin Ilham, Ari Ginanjar dan Syafii Antonio tampil bersama dalam Dialog Akbar.

“Tahun ini istirahat dulu. Saya harus kejar target yang lain, ingin segera punya momongan,” kata wanita kelahiran 23 Agustus 1966.

Mirna, tidak penah diam. Lulus dari IPB Jurusan Teknologi Industri tahun 1989, ia bekerja di Bank Bukopin. Dua tahun kemudian, tahun 1992, Mirna pindah ke Bank Muamalat, Bank Syariah pertama di Indonesia.

“Saya tertarik pindah karena Bank tersebut memiliki sistem baru. Tetapi yang paling utama, saat itu saya ingin sekali menutup aurat secara sempurna. Apalagi situasi kontor-kantor di tahun itu belum sepenuhnya membolehkan karyawatinya memakai jilbab. Jadi, saya anggap ini adalah peluang yang sangat baik. Dan sejak itu saya mulai full menutup aurat,” cerita Mirna.

Mirna kembali mendapat hidayah. Di tempat kerjanya yang baru, ia bertemu Syafii Antonio. Satu tahun kemudian, tahun 1993, mereka bahkan memutuskan menikah.

“Itu wasilahnya. Saya bisa kerja di Bank Muamalat, bisa menutup aurat, dan ketemu jodoh disana. Waktu itu Pak Syafiie di bank Muamalat bagian biro Syariah. Saya di bagian pembiayaan kerena waktu di Bank Bukopin bagian perkreditan,” kenang Mirna.

Empat tahun setelah menikah, wanita asli Padang ini diangkat menjadi Kepala Cabang. “Karena Pak Syafii ambil S3 di Australia, saya harus memutuskan satu pilihan, sebagai seorang istri mendampingi suami atau meneruskan karir di Bank. Nah saya memilih keluarga mendampingi suami. Alhamdulillah waktu itu saya diperbolehkan cuti diluar tanggungan selama 2 tahun. Ternyata setelah cuti 2 tahun itu, saya masih harus tetap disana. Akhirnya saya putuskan keluar dari Muamalat,” kata Mirna yang juga lulusan S2 STIE-IPWI Jurusan Manajemen Keuangan.

Terlalu Bertanggung Jawab

Mirna menyebut dirinya tipe pekerja yang pelaksana.

“Tidak hanya sampai di konsep. Disaat bekerja, saya itu sangat detail supaya hasil bisa maksimal. Memang terkesan perfect. Tapi itulah yang dibutuhkan. Dan biasanya wanita pekerja, menurut saya justru lebih detail dan perfect dibandingkan para pria. Kalau kita kan bagaiamana proses ini yang kemudian menghasilkan bentuk yang bagus. Jadi harus dari awal. Saya ingin segala sesuatu itu berjalan dengan lancar, baik dan hasilnya bagus. Saya senang memenej sesuatu,” kata Mirna tentang dirinya.

Mirna mendukung wanita yang bekerja di luar rumah sepanjang ia tidak melupakan tugas-tugas sebagai istri dan ibu.

“Alhamdulillah Pak Syafii tidak keberatan saya kerja. Beliau tahu persis saya ini tipe orang yang senang beraktifitas. Kata Pak Syafii, kalau saya diberi tanggung jawab, justru terlalu bertanggung jawab. Malah kadang-kadang dari segi fisik, saya mengerjakan itu sangat bersemangat,” kata Mirna.

Kini Mirna berkarir diperusahaan yang didirikan Syafii Antonio. Sebagai Direktur Utama PT. Tauba Zakka Atkia bergerak di bidang travel khusus Haji dan Umroh, Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendekia pengelola STEI –Sekolah Tinggi Ekonomi Islam- Tazkia, dan di Associate Partner Batasa Tazkia Consulting.

Sosialisasi Ekonomi Syariah

Memimpin Tazkia Travel khusus Haji dan Umroh dianggap Mirna menjadi tantangan baru. Apalagi, ia harus menjalani bisnisnya berdasar konsep ekonomi syariah.

“Terus terang saya tidak punya latar belakang bank syariah, justru berlatar belakang bank konvensional. Tapi Alhamdulillah ketika masuk ke bank Muamalat, kita belajar, apa itu bank Islam? Bagaimana konsepnya? Bagaimana prinsip operasionalnya? Disitu akhirnya saya tahu dan punya background tentang bank syariah.  Dan Alhamdulillah saya dapat suami yang satu visi dan misi. Dan beliau dari awal sudah mendedikasikan hidupnya untuk mensosialisasikan ekonomi syariah. Akhirnya saya bersama-sama beliau berjuang dan saling mendukung,” ujar anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Dr. H. Rafki Ismail, MPH dan Hj Rosmalini.

Ekonomi syariah yang selalu disosialisasikan Mirna dan Syafii berbasis pada ayat-ayat Al Quran.

“Suatu konsep ekonomi yang berkeadilan. Tidak mengeksploitasi yang kuat erhadap yang lemah. Selama ini ekonomi yang ada adalah ekonomi kapitalis yang kuat yang menang. Tidak ada pemerataan,” jelas Mirna.

“Nah, antara bank dengan peminjam yang biasa disebut pengutang atau debitur, di ekonomi syariah disebut mitra. Begitupun untuk mereka yang menyimpansejumlah dana ke bank, disini disebut investor. Oleh bank dikelola. Apabila mendapatkan keuntungan, maka akan dibagi dengan investor. Termauk kalau kita kredit dengan bank, maka akan muncul keadilan dengan memposisikan debitur sebagai mitra,” lanjutnya.

Bunga bank disebut dengan sistem bagi hasil. Ada juga sistem jual beli, pembagian zakat, produksi dan distribusi, dan masih banyak lagi.

“Dengan zakat maka uang bisa diinfakkan.  Oleh karena itu, setiap orang Islam harus kaya, supaya dia bisa selalu memberi. Tentu orang kaya yang syukur. Nah, sistem ini yang sangat penting untuk disosialisasikan,” kata Mirna lagi.

Satu proyek besar yang tengah dijalani Mirna dan suaminya adalah membangun Islamic Center yang berada di Bukit Sentul. Di masa depan, gedung di atas lahan 2,3 hektar ini akan menjadi pusat bisnis syariah meliputi perbankan, asuransi hingga layanan produk investasi sperti reksadana. Juga sebagai tempat pendidikan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam.

Aien Hisyam

December 4, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 2 Comments

Ermey Dewanto

Setelah Mengirim 2000 Surat

 

Lima tahun membesarkan Dapur Cokelat, untuk pertama kalinya Ermey mendapat protes dari ‘penggemar’nya.

 

Mama sih nggak gaul,” Ermey menirukan protes anak pertamanya, Aditya Pratama, 16.

“Tapi, gimana dong nanti reaksi pelanggan Mama yang lain,” ujar Ermey membalas protes anaknya.

“Ini ‘kan untuk anak-anak ABG, Ma. Dicoba aja deh, nanti kita lihat hasilnya,” ujar Aditya penuh antusias.

Akhirnya, bulan Februari lalu, untuk pertama kalinya Ermey membuat tema baru untuk coklat-coklatnya yang unik dan menggemaskan. Coklat warna warni itu diberi nama Retro. Sesuai permintaan Adit.

“Adit sejak dulu jadi penggemar berat cokelat-cokelat buatan Mamanya. Selama ini dia hanya mencoba, menggemari, sekaligus menggilai. Tetapi, baru kali itu dia bisa protes dan kasih masukan. Ternyata luar biasa, cokelat-cokelat tema Retro khas ABG, justru paling diminati. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang fungky,” ujar Eyi, panggilan akrab Ermey, dengan mata berbinar.

Eyi kini mulai melibatkan Adit dalam bisnis Dapur Cokelat. Ada satu camiln cokelat yang dibuat sesuai keinginan anaknya, Choco Monkey. Terbuat dari pisang yang diolah bersama cokelat, menjadi camilan unik untuk anak-anak remaja.

Menejemen Keluarga

Ermey tidak sendirian membesarkan Dapur Cokelat. Dibelakang kesuksesannya, ada dukungan kedua orangtuanga HM Noor Matulia dan Hj. Darniati, juga suaminya, Okky Dewanto. Mereka berempat menjadi komisaris Dapur Cokelat.

“Jadi memang benar kalau ini bisnis keluarga. Walaupun begitu, Dapur Cokelat tetap kita kelola dengan profesional. Pembagian profit tetap ada. Menejemen tetap berjalan sesuai dengan relnya. Karena kalau tidak begitu, bisnis ini tidak akan berkembang dengan baik,” kata Eyi yang telah membuka tiga outlet Dapur Cokelat di Jakarta.

Eyi bisa berbangga hati. Dapur Cokelat saat ini mulai jadi icon jajanan cokelat paling digemari. Di dalam toko berkonsep dapur ini tersedia berbagai macam pastries cokelat.

“Saya berpegang pada satu kiat dalam membesarkan Dapur Cokelat, yaitu fokus di konsep. Ini adalah toko kue dari cokelat. Jadi sejak berdiri tahun 2001, usaha kita yang itu-itu saja, tidak melenceng kemana-mana,” ujar Eyi yang mencontohkan beberapa usaha lain yang terpaksa tutup karena tidak fokus di konsep.

Cokelat bukanlah barang baru bagi Eyi. Sejak kecil, ia sudah tergila-gila dengan camilan dari cokelat. Begitu sukanya, Eyi jadi hafal nama-nama cokelat yang ia gemari. Baik buatan lokal maupun luar.

“Lulus SMA, saya kuliah di NHI (National Hotel Institute) Bandung. Ketika masuk semester dua, saya mempelajari tentang cokelat. Jadi saya tahu banyak tentang cokelat, juga tahu bagaimana membuatnya. Ternyata gampang sekali,” kisah Eyi.

Uji coba pertama Eyi adalah membuat cake cokelat. Diluar dugaan, cake penuh hiasa cokelat itu digemari teman-teman satu kosnya. Esok harinya, Eyi kembali coba-coba membuat rosce, malako, dan praline atau permen cokelat. Ternyata peminatnya semakin banyak.

Sejak itulah Eyi punya kesibukan baru, kuliah sambil berdagang cokelat hasil kreasinya sendiri. Hanya bermodal satu kompor yang ditaruh di dapur kos, Eyi akhirnya bisa menarik untung berlipat-lipat.

“Mereka suka karena murah. Masak satu ons hanya 5000 rupiah,” kata wanita ini.

Cokelat Untuk Calon Suami

Rasa ingin tahu dan kecintaan yang besar akan cokelat membuat Eyi melanjutkan kuliah di Agrobisnis IPB Bogor yang banyak mempelajari tanam-tanaman dan sayur-sayuran. Di tempat ini Eyi justru menemukan cintanya yang lain. Pria itu bernama Okky Dewanto, alumnus IPB dan pendiri perusahaan kue Apple Pie. Kencan pertama, Eyi membuat Tiramisu dari cokelat untuk sang kekasih.

“Ya ampun, Mas Okky bukannya memuji. Dia malah ajak dagang, sama-sama membuat kue-kue dari cokelat,” kenang Eyi sambil tertawa kecil.

Eyi menganggap sebagai mukjizat, hanya dengan bermodalkan uang Rp.75.000,- untuk biaya operasional selama 1 minggu, mereka bisa membuat pastries cokelat dalam jumlah banyak

“Awalnya kita hanya menstok cokelat 12 kilogram saja, Hasilnya lumayan bagus. Baru pertama kali buka, produk kita bisa laku 2 kilo sehari,” cerita Eyi.

Eyi akhirnya membuka toko dan diberi nama Dapur Cokelat di Jalan hamad Dahlan, Jakarta Selatan, bersama Okky yang akhirnya menjadi suaminya.

“Dibantu teman-teman untuk operasional, kami harus mengenalkan Dapur Cokelat tanpa memiliki biaya promosi. Kami benar-benar bergerak dengan hanya dilandasi keyakinan, bahwa produk DC layak jual, dan akan disukai. Bahwa konsumen, akan bisa dan tidak akan kecewa menerima produk Dapur Cokelat,” ujar Eyi penuh keyakinan.

Kirim 2000 Surat

Strategi awal, Eyi dan Okky adalah mencari mailing list dari teman-teman marketing. Mereka juga mengundang calon konsumen untuk terus melakukan check and retesting.

“Target utama adalah orang harus mengenal dulu, sementara, apakah mereka akan membeli atau tidak, masih prioritas kesekian. Kalau tak salah, masa itu kami mengirimkan surat undangan dan pemberitahuan ke 1000 sampai dengan 2000 alamat yang tidak kami kenal sebelumnya,” ujar ibu dua putra, Adit dan Akheela Candra, 20 bulan.

Dan dari pengiriman surat ke ribuan alamat tersebut, hasilnya cukup menggembirakan.

“Sebagian dari mereka ada yang menelepon, menanyakan ini itu, sebagian ada yang langsung datang menguji rasa. Kemudian, yang paling menggembirakan adalah: yang sudah pernah datang, kemudian datang lagi dengan membawa teman-teman mereka. Mereka menguji rasa dan membeli. Lalu, karena disebelah Dapur Cokelat kebetulan ada supermarket, pembeli yang sudah berbelanja ke supermarket tersebut kami undang pula masuk ke Dapur Cokelat, untuk ikut menguji rasa dan mengenali kue-kue Dapur Cokelat,” kenang Eyi.

Dapur Cokelat memang unik, seunik namanya. “Awalnya saya ingin membuat toko dengan desain seperti galeri. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya desain galeri itu berat sekali, dan bisa berimbas ke produk yang akan saya jual, jadinya tidak akan terekspos. Entah gimana tiba-tiba saya dan kakak muncul ide pakai nama Dapur. Lebih kena,” ujar Eyi sambil tersenyum.

Dapur Cokelat milik Eyi memang dibuat sangat menarik. Ia tidak menghilangkan pakem dan ciri khas dapur. Yaitu mendesain ruangan dengan meletakkan kitchen set sebagai hiasan utama sehingga terlihat lebih unik dan menarik.

“Pernah loh  ada orang masuk ke toko saya tanya, “Mbak, jualan kicthen set ya?” kisah Eyi sambil tertawa lepas.

Kesan dapur memang sangat menonjol. Hampir diseluruh ruangan didominasi warna cokelat dan kuning, hingga terkesan hangat dan akrab. Apa beragam potongan cake, praline serta gundukan permen cokelat menghiasi setiap sisi ruangan.     

Aien Hisyam

 

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 3 Comments

Evita Handayani

‘Ini ‘kan Ilmu Emak-emak’

Tak tahan melihat orang lain susah, Evi  memilih berbuat lebih jauh. Ia mendirikan koperasi yang dikhususnya untuk para wanita.


Tinggal di kota Malang, Evi punya ikatan batin yang kuat. Ia ingin berbuat, demi membuat hidup orang lain jadi bahagia.

‘Tapi, waktu itu belum terpikirkan membuat koperasi,’ kata Evita.

Sampai suatu hari, Evita mendengar curhat teman-teman dekatnya. ‘Sebagian besar, mereka mengalami masalah keuangan. Satu masalah yang sangat umum dan hampir semua keluarga pernah mengalamai masalah ini,” ujar Evita.

Munculah ide membuat koperasi, lembaga yang dalam bayangan Evi, bisa menjadi solusi masalah teman-temannya. Saat itu, Evi ingin mendirikan koperasi dalam bentuk berbeda. Tak hanya sebagai tempat pinjam uang saja, tapi sekaligus mensejahterahkan anggota dalam bentuk yang terukur.

Tawaran untuk Berubah

Berawal dari arisan Ikatan Persewaan Mobil Malang, Evi mengenal dunia perkoperasian. Di tahun 1998, perkumpulan ini berubah bentuk menjadi koperasi simpan pinjam. Dan di tahun 1999, keluar Badan Hukumnya.

“Baik koperasi maupun arisan, akhirnya tidak berjalan lancar,” cerita Evi. Ia mengeluh karena Bapak-bapak, peserta arisan, makin susah diajak berkumpul. Tapi, ia bersyukur, saat berubah bentuk menjadi koperasi, anggota bertambah. Dari 38 anggota, menjadi 58 anggota.

Di tahun 2006, Evi bertemu dengan Almarhum Bu Harto, Ketua Kartika Candra, Andakan, Pasuruan. “Kebetulan beliau ketua Puskowanjati (Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur). Beliau mengusulkan koperasi dipindah menjadi wanita semua. Dia mau mengajarkan,” kata Evi.

Evi langsung menyambut baik tawaran Bu Harto. Ia belajar di sejumlah koperasi yang telah lama berdiri. Barulah tanggal 30 Maret 2006, Koperasi Wanita ‘Bhakti Asta Makmur’ (BAM) menjadi salah satu koperasi primer di bawah Puskowanjati.

“Kita jalankan sistem, dan sampailah seperti sekarang ini,” ujar Evi. Ia bangga, karena di awal berdirinya, BAM sudah mampu menggaet 121 anggota.

Evi cukup jeli melihat peluang. Ia kembangkan koperasi ala multilevel marketing.

“Kita akhirnya membuat sistem sponsorship. Satu anggota wajib membawa 1 anggota baru. Anggotanya wanita semua. Dan dalam 3 bulan mereka sudah bawa satu-satu semua. Jadi  total menjadi 240an. Di awal 2007 kemarin, malah sudah lebih dari 350an anggota. Dan sekarang, sudah 1300 anggota,” kata Evi, bangga.

Kini, BAM sudah tidak terlalu aktif mencari anggota. Kata Evi, paling tidak satu tahun mereka membawa 1 teman baru. “Kalau tahun depan masing-masing bawa satu teman jadi 2600 anggota,” tambahnya, mantap.

Harus Punya Kegiatan

Saat BAM berdiri, di Malang, sudah berdiri 4 koperasi khusus wanita. Sekarang sudah menjadi 6 koperasi khusus wanita. Namun, dibandingkan koperasi kebanyakan, BAM terlihat berbeda.

“BAM memang khusus wanita. Kalau saya pribadi terus terang, saya kasihan dengan wanita. Nggak semua wanita bisa berjaya. Kadang mereka hanya mengandalkan dari suami. Padahal, ketika ditanya, mereka semua ingin berkumpul di dalam koperasi. Sayangnya orang masih menganggap koperasi sebagai tempat untuk meminjam uang. Itu yang membuat saya tidak sreg. Mau saya, semua wanita punya kegiatan yang menghasilkan. Bukannya dapat pinjaman, trus duit suami buat bayar,” tegas Evita.

Evita menganjurkan, setiap anggota BAM harus memiliki kegiatan. Kalau tidak punya kegiatan, lanjut Evi, “kita buatkan kegiatan. Kita ada diklat, dari yang dasar, pengembangan, dan mandiri. Kalau dasar, itu dia tidak punya kegiatan sama sekali, atau murni ibu rumah tangga. Kita kumpulkan untuk pelatihan. Dia ahlinya dimana, kalau masak, kita kupulkan di kelompok masak, ketrampilan di ketrampilan, konfeksi di konfeksi. Ada ibu-ibu yang tidak sabar dan tidak telaten, kita cari pemecahannya. Kita ada pembinaan. Ada ibu-ibu yang suka menulis, ya dia bisa menulis di website kita,’ jelas Evita, semangat.

Agar hasil yang dicapai maksimal, Evita sengaja tidak mentargetkan anggota BAM terlalu banyak.

‘Karena ada koperasi yang anggotanya banyak sekali, tapi yang jadi pertanyaannya, apakah dengan begitu dapat terukur kesejahteraannya,” tanya Evita.

Di BAM, ibu dua anak ini lantas mengkombinasi sistem. Ia gabungkan sitem tersebut dengan pengalaman-pengalaman yang kerap terjadi masyarakat.

‘Ada yang masalah duitnya di pakai ketuanya, ada yang lari meninggalkan hutang. Nah, itu jadi pemikiran kita. Ternyata faktor ekonomi. Saya tidak mau anggota jadi obyek, saya mau ini di gabungkan dengan usaha saya dan usaha suami saya, dengan MLM yang ada, harus ada diklat, retreat merubah wawasan.

Akhirnya, disimpulkan bahwa ekonomi hanya sebagai media, bukan iming-iming. Saya mau koperasi itu untuk mensejahterakan anggota, tapi yang bisa diukur. Anggota punya kegiatan yang menghasilkan dan benar-benar mensejahterakan. Bunga bukan untuk operasional, tapi laba dari produk itu yang untuk mensejahterakan anggota,” jelas Evita.

Kini, dana yang dimiliki KWSU BAM sudah mencapai Rp. 8 miliar.

‘Saya gambar koperasi itu bejana. Ekonomi adalah apinya. Jangan sampai ekonomi di dalam bejana, nanti panas dong. Ini kan ilmu mak-mak. Kalau masak di kuali, anggota iniyang punya bumbu, punya rasa, duit hanya untuk api.

Jadinya, dampak kemacetan tanpa jaminan, 0 persen. Makanya, kalau ada anggota yang mau pinjam, dia tidak boleh datang, daftar, pinjam. Harus 2 bulan dilatih dan difahamkan sistem kita yang tanggung renteng, gotong royong, musyawarah, dan terbuka. Setelah itu 2 bulan baru boleh pinjam,” tegas Evita.


Koperasi Gaul

Evita sadar, waktunya banyak tercurah pada KWSU BAM. Ia punya mimpi, kelak koperasi yang ia bangun dari cinta ini, bisa berkembang dengan baik.

“Mimpi saya BAM punya home industri, atau pabrik yang menjual, punya kualitas. Tapi karyawannya adalah anggota, untung untuk anggota, dan semuanya dikelola oleh anggota,” jelas Evi.

Hasil KWSU BAM saat ini adalah jus buah, seperti; anggur, jambu, dan apel. Hanya saja, karena tanpa pengawet, masa berlaku jus-jsu ini hanya sampai satu minggu.

Keunikan yang dilakukan Evita, juga terlihat dari sistem operasional BAM. Mereka menggunakan istilah-istilah perbankan.

“Tujuannya agar koperasi tidak dipandang sebelah mata. Mereka, anak-anak lulusan Brawijaya itu tidak malu melamar ke kita, karena KWSU BAM lebih menyerupai Bank dibanding KUD.

Evi juga harus mau menerima telpon setiap saat. Setiap hari, ia pasti mendengar keluhan sampai curhat anggota-anggotanya. “Mereka memanggil saya, Mama. Curhatnya aneh-aneh. Ada yang bertengkar dengan suami, ada yang masakan, sampai yang pemasaran yang mentok,” ujar Evi.

Kalaupun Evi mulai merasa terbebani, ia akan mencari hiburan dengan berkaraoke, atau membuka situs-situs pertemanan. Evi bahkan menganjurkan anggota-anggotanya untuk bisa bermain internet, dan paham teknologi.

‘Makanya, koperasi kita ini sering disebut koperas gaul. Karena di tempat kami semua online. Meeting bisa online,” ujar Evi senang.

Tampaknya, Evi tidak pernah merasa puas. Ia masih bermimpi, kelak KWSU BAM bisa mengangkat derajat hidup wanita kota Malang, seutuhnya. “Semoga berhasil,” katanya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 1 Comment

Eileen Rachman

Hidup Pun Kian Terasa Penuh

 

Eileen memiliki passion besar terhadap manajemen dan pengembangan sumberdaya manusia.


Dari sebuah biro konsultasi kecil, EXPERD kini makin memantapkan posisinya sebagai reputable business partner bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berhasrat melakukan perbaikan dan berkomitmen untuk mengambangkan SDM-nya.

Nama Eileen, memang tak lepas dari EXPERD yang ia rintis sejak tahun 1985. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1988 ini memulai karir konsutasinya, pada usia 33 tahun.

Di usianya sekarang, semangat Eillen tak pernah kempis. Ia masih giat belajar dan mencoba hal-hal baru. Aktif berwisata kuliner, manari salsa, olahraga wall climbing, hingga membuat face book di internet.

Frutasi Saat Terapi

“Aku tadinya belajar arsitektur,” kata Eileen.

Eileen mengaku menyukai dunia arsitektur dan interior. Keasikannnya itu, ia tuangkan pada perusahaannya yang lain, Decorous.

“Setelah itu, aku kecemplung di fakultas psikologi UI. Ini tidak berjalan bersama. Setelah menikah, baru ambil psikologi. Dan, ternyata tidak mudah,” jelas Eileen.

Meski mengaku kepayahan mendalami ilmu psikologi, Eileen akhirnya  termotivasi untuk komit pada disiplin ilmu ini. “Dalam artian, bagaimana ilmu ini diterapkan di masyarakat, melalui tulisan. Sebagaimana kita lihat, ilmu ini tidak terlalu disosialisasikan oleh penulis. Tidak sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat ilmu ini tidak umum,” lanjut Eileen.

Barulah, kata Eileen, 10 tahun terakhir, orang bangga menjadi seorang psikolog. “Dulu seolah tidak menarik dan tidak ilmiah.”

Lulus kuliah tahun 1983, di usia 33 tahun, Eileen menjadi dosen di Fakultas Psikologi. Barulah di tahun 1985, Eileen benar-benar bekerja di dunia komersial.

‘Karena aku berpikir kalau aku jadi dosen, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku lebih tertarik pada penerapan. Sebenarnya, aku sempat praktek, sekitar tahun 1983 hingga 1986. Nah, orang kan datang ke praktekku, selalu mencari solusi. Sometimes itu membuatku sangat frustasi,” ungkap Eileen.

Ia frustasi karena selama menuntut ilmu psikologi, Eileen tidak pernah terapi dengan tuntas. Kalau mau mahir memberikan terapi, “aku harus sekolah lagi. Dengan kondisi aku yang sudah punya anak 2, aku tidak punya waktu. Akhirnya yang aku lakukan, terapi-terapi yang bisa aku lakukan sendiri. Misalnya family therapy.”

Diajari Staf

Merasa tidak puas, Eileen memilih kerja di dunia komersial. Menjadi HRD manager.

Terus terang, aku langsung menduduki jabatan manager, dan aku diajari para stafku. Mulai dari cara ngitung orang, cara ngitung gaji, cara bikin surat oleh sekertarisku. Saya sih nekat saja. Ternyata saya perlu belajar. Sampai  3 tahun. Barulah kemudian saya mendirikan Experd,” cerita Eileen.

Eileen sempat bekerja menjadi HRD Manager di Bank Umum Asia. Bank ini kemudian merger dengan Bank Lippo. “Andai aku terus berkarir disini, aku akan di Lippo. Karena aku memang diminta bergabung di Lippo.”

Eileen merasa perlu mendirikan perusahaan jasa. “Saat itu belum banyak perusahaan jasa yang seperti saya dirikan ini. Masih malu-malu. Makanya pemasarannya tersendat-sendat. Aku juga mungkin belum terkenal. Dan kita belum tahu bagaimana memasarkan dengan baik. Biro-biro konsultasi psikologi itu memang juga tidak memasarkan. Ada juga teman-teman yang sudah ekspan. Saya memang pendatang baru,” jelas Eileen.

Eileen bergairah, manakala 10 tahun terakhir, ia menemukan warna baru dalam bisnis jasanya. Ketika Ketika banyak anak-anak muda yang sangat kreatif, yang bergabung di perusahaannya. Yang tidak membawa hawa yang dulu-dulu. “Justru yang baru-baru ini, mereka kuat di komunikasi, kuat marketing, kuat di IT, kuat baca, internet. Karena itulah kemudian aku sendiri juga berubah,”

“Saya konsentrasi di training dan assignment. Kita sadar pada saat itu kita sebagai konsultan, hanya tukang training dan tukang assignment. Kita bukan membimbing company menjadi lebih baik,” kenang Eilleen.

Namun sejalan dengan waktu, Eileen kian mantap memposisikan dirinya sebagai tenaga konsultan yang handal.

“Akhir-akhir ini saya berani meng-claim bahwa aku bisa menjadi partner para owner untuk membuat barisan man power-nya,” ujar Eileen, mantap.

Tidak Tahu Penyakitnya

“Kadang-kadang ada perusahaan yang tahu masalahnya, ada yang tidak. Seperti ke dokter saja. Ada yang bilang, ‘dok ini saya sakit’. Tapi ada yang bilang, ‘dok, seluruh badan saya sakit.’ Klien macam-macam. Ada yang mengerti apa yang diperlukan, ada yang tidak,” ujar Eileen tentang kondisi kliennya.

Beruntung, Eileen jago di bidangnya. Ia punya tenaga riset yang siap meriset kondisi perusahaan klien-kliennya. Untuk mengetahui ‘penyakit’ perusahaan kliennya.

“Bisa saja seorang direktur tidak melakukan suksesi. Kita tidak bilang, kamu tidak pantas disitu. Kita cuma bilang, ayo bikin program suksesi secepat mungkin. Jadi kita lebih detail dan profesional, tidak hanya penempatan orang saja,” ujar Eileen.

Eileen selalu bertanya, apa yang dibutuhkan kliennya. Apakah sekedar sukses, ataukan membutuhkan lebih banyak ekspertis, atau membutuhkan orang-orang yang sekolah formal, membutuhkan orang-orang yang bisa bekerja, dan lain sebagainya.

Menjadi SDM Ideal

Eileen sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang baik itu harus kompeten, komit, kontribusi. Kompeten itu mampu, komit itu mau, kalau iya-iya kalau nggak ya enggak. Sementara kontribusi berarti menyumbang. Kalau dia di perusahaan hanya sebagai pengembira saja tidak ada sumbangannya, ya percuma saja,” tegas Eileen.

Tentu saja, lanjut Eileen, harus sejalan dengan apa yang diinginkan perusahaan, apa yang diharapkan perusahaan, dan apa yang jadi filosofi perusahaan.

“Kita profesional, jadi kita punya alat dan teknik untuk menilai para SDM ini. Pada dasarnya saya sudah tidak lakukan itu sejak lama. Sekarang, sudah ada anak buah yang lakukan,” ujar Eileen.

Hidup Seimbang

Dua perusahaan Eileen, Decorous dan EXPERD, berdiri dalam jangka waktu hampir bersamaan. Perusahaan ini, kata Eileen, dibesarkan dengan rasa.

“Aku suka banget sama penerapan ilmu psikologi, tapi aku juga suka banget sama interior. Jadi ya buat aku tidak susah. Kalau beli interior terus dipakai sendiri, kan nggak bisa selamanya begitu. Akhirnya kita beli dan kemudian dijual. Tapi di perusahaan anakku ini beda, apa yang dilakukan teman-teman disini tidak hanya jual saja. Mereka juga menciptakan barang, bahkan mereka juga melakukan service yang baik, dari segi waktu, kesulitan dan problem,” ujar Eileen bangga.

Eileen senang. Karena, kata ibu dua putra ini, segala hal uang di lakukan di perusahaannya, adalah hal yang akan dikembangan. “Selama mereka mau berkembang, dan mereka tidak bosan. Terus belajar dan belajar. Saya bersyukur dengan apa yang dikasih Allah pada aku, yaitu kemampuan belajar dan mengajar,” kata ibunda DJ Riri ini dengan rona wajah bahagia.

Karenanya, Eileen merasa hidupnya selalu seimbang.

“Adalah kalau kita achieved segala hal. Relijius dengan hal emosi dan kehidupan kerja yang memuaskan. Ya dapat duitnya, untungnya. Fisikal, ya kita sehat. Semua itu, kalau kita rasanya puas dan berkembang, ya kita puas. Kesibukanku di luar kerja, ya bergaul atau mengakses internet, misalnya face book-an. Juga panjat tebing, main sama anak, cucu, dan tim wisata kuliner. Aku merasa hidupku penuh.

“Aku tidak pernah malas sama sekali,” tegas Eileen.

Ia senang berteman dan membaca buku. Dalam satu waktu, ia bisa membaca 3 buku sekaligus. “Aku senang sekali berkembang. Karena sangat mengasikkan dan menguntungkan. Aku cuma takut sakit.” Eileen pun tersenyum lepas.

Begitupun dengan hubungan antar karyawan. Eileen sangat kompeten. Ia mempunyai aturan yang ketat, mesiskipun diluar itu, Eileen mengaku selalu membuka diri pada tiap karyawannya.

“Aku mengharuskan semua karyawanku punya Yahoo Messenger. Tidak boleh invisible di hadapanku. Kalau dia pasang invisible, aku akan marah. Karena buat aku. Mereka harus bisa aku kontak. Handphone pun juga. Tapi aku tentunya tidak bisa melarang mereka. Tapi aku selalu bilang, tidak ada gunanya kalian matikan handphone dan tidak bisa dihubungi. Aku saja yang sudah tua begini masih bisa dihubungi. Nanti kalian tidak bisa berkembang. Aku kalau ngajarin orang sangat keras. Kalau kalian sedang belajar, aku teriak-teriak, itu bukan berarti aku marah. Tapi kalian harus tahu mana yang benar,” tegasnya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a Comment

Lenny Dwinijanti

Untuk Tujuan Mulia, Pasti Ada Jalan

Dibalik sukses Tabloid Pulsa merajai bisnis media, ada satu nama yang tak pernah terdengar. Dialah Lenny, wanita yang diam-diam bermain di bidang yang justru bukan keahliannya, dan menuai sukses.

 

Hingga saat ini, Tabloid Pulsa masih berada di peringkat pertama sebagai tabloid dengan jumlah oplah terbesar, hingga 1 juta eksemplar dalam 1 bulan. Tabloid yang menyajikan informasi ponsel terbaru dan ponsel-ponsel pilihan. Siapa sangka, bisnis yang diawali dengan coba-coba ini menuai sukses.

“Untuk memikirkan (pulsa), kita butuh waktu 2 tahun. Saat itu, kita memprediksi, dengan kemampuan dan kualitas anak-anak yang kita punya, Pulsa balik modal dalam 2 tahun. Ternyata, baru 5 bulan sudah BEP. Itu rejekinya dari anak-anak,“ ungkap Lenny.

Dari tempat yang sempit, kini Pulsa sudah miliki 2 gedung untuk menjalankan bisnis media. Satu gedung untuk kantor menejemen, dan satu kantor lagi yang terpisah jauh, untuk redaksi.

“Idealnya, menejemen dan redaksi harus dipisah. Karena, redaksi tidak boleh diintervensi. Kita harus memberikan kepercayaan 100 persen pada redaksi dalam menyajikan artikel-artikelnya,” ujar Lenny.

Lantas, siapakan Lenny yang kini memiliki 12 media di bawah bendera Indo Media Group?

Syiar Lewat Media

Berawal dari keinginan Lenny dan suaminya mendidik ahli-ahli hafalan Al-Quran. 9 tahun silam, Lenny mendirikan Yayasan Khalifah.

“Yang kita pilih anak laki-laki, lulusan SMA dan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Mulai dari Aceh sampai Papua,” jelas Lenny.

Anak-anak ini, lanjut Lenny, diajarkan tahfidz (hafalan) Al-Quran selama 2 tahun. Mereka belajar dan tinggal di satu pondokan, tanpa diperbolehkan pulang. Lenny bersyukur, yayasannya berjalan lancar, meskipun ia harus mengeluarkan uang yang relatif besar.

“Tapi, lama-lama kita butuh dana. Kami mulai berpikir, kenapa hidup dari sumbangan. Itu mengajarkan orang untuk meminta-minta sementara diajaran agama Islam, lebih baik kita memberi,” ungkap Lenny.

Dari situlah tercetus membuat bisnis untuk menghidupi yayasan ini. Tapi Lenny sadar, ia bukan pebisnis. “Saya akhirnya justru berpikir, bagaimana cara kita bisa syiar. Dan muncullah ide bersyiar lewat media.”

Lenny yang tidak pernah bersentuhan dengan bisnis media, nekat merekrut anak-anak lulusan pondok pesantrennya. Pikiran Lenny sangat sederhana. Membuka lapangan pekerjaan, dan belajar bersama-sama membuat media.

“Dari awal, kita nekat saja. Karena keterbatasan uang untuk membiayai anak-anak ini, tidak ada jalan lagi, kita harus berbisnis. Masak sih tujuannya mulia dipersulit,” ujar Lenny mantap.

Ponsel Mahal Tetap Dibeli

Tahun 2003, Tabloid Pulsa dibuat. Ia menjadi satu-satunya tabloid yang mengulas tentang ponsel, dari kecanggihannya hingga harga-harga ponsel di Indonesia. Khusus untuk mengulas satu ponsel terbaru, tim redaksi khusus membeli ponsel tersebut. Ulasan sangat independen. “Jadi kalau jelek ya ditulis jelek. Kalau bagus, akan dibilang bagus,” kata Lenny.

Bukti independen, kata Lenny, dia tidak mengintervensi redaksi saat mengulas ponsel buatan perusahaannya sendiri, IMO, ataupun ponsel Philips.

“Waktu diulas apa adanya, tim marketing komplain ke saya. Mereka bilang, kok teman-teman di redaksi tidak membuat artikel yang lebih baik untuk membantu penjualan IMO. Saya bilang ke mereka, kalau produk kita dinilai segitu, berarti kita harus bikin produk yang lebih baik lagi. Saya tidak bisa menyalahkan redaksi. Mereka memang fair dalam menilai, walaupun produk itu milik saya,” ujar Lenny, tersenyum.

Redaksi juga tidak mau menerima ponsel pemberian. “Semua ponsel yang diulas, mereka beli sendiri, walaupun harganya sangat mahal. Mereka akan menguji sendiri kecanggihannya,” kata Lenny.

Banyaknya SDM yang dihasilkan dari Yayasan Khalifah, membuat Lenny memutar otak.

”Setelah anak-anak yayasan mulai siap, beberapa bulan kemudian kita syiar lagi dengan membuat beberapa tabloid. Itu juga yang usul anak-anak. Ya kita iyain saja. Coba-coba dan coba. Alhamdulillah, berhasil,” ujar Lenny, bangga.

Selain Tabloid Pulsa, ada majalah Khalifah, majalah Intelijen, Mobile Guide, Mania, Smart Pulsa, Koin, Comunique, Main, dan beberapa lagi.

Harus Jadi Besar

Lenny mengajarkan setiap karyawan untuk berpikir maju, sekalipun itu pesuruh atau office boy.

”Kalau boleh jujur, kita ini benar-benar menampung orang yang belum pernah kerja. Makanya saya bilang ke anak-anak, dengan kemampuan sekian kalian harus bisa jadi besar,” ujar Lenny.

Office boy pun, kata Lenny, bisa berkarir.

“Saya bilang ke semua karyawan, setiap hari mereka harus bikin laporan. Saya tidak mau laporan tulis tangan. Harus pakai komputer. Kalau tidak bisa, ya harus belajar. Itu baru pertama. Semakin canggih, saya bilang ke mereka harus kirim laporan lewat email ke saya. Termasuk pada para office boy. Setiap hari mereka harus email ke saya. Nah, dari situ ada penilaian dan perpindahan bagian. Akhirnya, mereka terpacu,” jelas Lenny, bangga.

Lenny membuka diri pada tiap karyawannya. Tanpa memandang tingkatan dan status, siapapun bisa berkomunikasi langsung dengan Lenny. Prinsipnya, dilandasi rasa kekeluargaan.

“Mereka bisa keluarkan apa kata hati mereka. Kalau diam saja, akan terseleksi dengan sendirinya. Yang penting berani bicara. Dan, sekarang mereka sudah berani berpendapat. Saya juga ingin meeting itu jadi ajang diskusi. Apa yang dibutuhkan, apa yang dikoordinasikan antar bagian, apa yang dikeluhkan, kita dengarkan sama-sama dan kita cari solusi yang terbaik,” ujar Lenny.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pengusaha | Leave a Comment

Lely Purnama Simatupang

Investasi Untuk Anak

Lely merasa pencapaian hidupnya belum utuh. Masih ada celah yang harus diisi. Inilah alasan mengapa ia akhirnya mendirikan Chezlely.


Usia Chezlely masih sangat belia, baru 3 tahun. Tapi, jangan tanya prestasinya.

“Justru, sekarang Chezlely jadi rujukan di kalangan para chef,” kata Lely, bersemangat.

Lely boleh berbangga hati. Kerja kerasnya memang telah berbuah manis. Chezlely Culinary School menjadi satu-satunya tempat kursus memasak yang diakui di banyak tempat dan negara.

Dua Karakter

Kata Lely, secara umum menurut hasil survey yang dilakukannya, didapati bahwa kursus khusus memasak, terbagi dalam dua karakter. Pertama, kursus untuk penggemar masak. Istilahnya amatir. Kelas amatir ini banyak diminati oleh para ibu rumah tangga, dan para pemula yang ingin membuka usaha restoran, atau mulai menjual aneka kue. Sedangkan untuk kelas profesional, termasuk dalam kategori kedua.

“Itu biasanya ada dalam institusi-institusi pendidikan formal seperti NHI-Bandung, sekolah-sekolah perhotelan di Jakarta, dan lain-lain. Mereka banyak mempelajari ilmu-ilmu perhotelan, tidak terlalu detail membahas mengenai kuliner. Chezlely Culinary School sebenarnya dibuka untuk memenuhi kebutuhan dua kategori kursus tersebut. Semua orang dengan aneka latar belakang pendidikan, bisa ikut belajar di sini,” terang Lely.

Tempat ini, lanjut Lely, menyiapkan konsep yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta kursus. Untuk kategori kelasnya, terbagi dalam dua kelompok besar. Le Cuistot, untuk kelas dewasa.

Kelas ini terdiri dari dua kategori. Amatir dan profesional. Untuk kelas amatir, biasanya diminati para pemula dan penggemar dunia kuliner. Sedangkan untuk kelas profesional, banyak dikuti oleh orang-orang yang ingin lebih serius terlibat di dunia kuliner, sebagai pengusaha, pengelola restoran, dan chef profesional.

Sedangkan kelompok Le Petit Chef, adalah kelas khusus untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 13 tahun. Kelas ini terbagi juga dalam dua kategori, kelas amatir dan kelas intensif. Yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang benar-benar berminat dan serius menekuni bidang kuliner. Baik kelas amatir yang hanya belajar dalam sehari (short course method), maupun kelas intensif yang ditempuh selama 10 kali pertemuan setiap minggunya, dua kelas ini sama-sama banyak peminatnya.

Konsep Edukasi

Mengenai konsep edukatif di sana, Lely menjelaskan panjang lebar, “Untuk kelas amatir pun, kursusnya didesain untuk bisa melihat sesi demo. Sambil melihatnya, peserta didik bisa bertanya sebanyak-banyaknya melalui sesi demo ini. Setelah itu mereka mempraktekkannya sendiri-sendiri.”

Tentu saja, lanjut Lely, tetap dalam bimbingan pengajar yang juga mengawasi dan menemani mereka. Desain untuk kategori dewasa dan kelompok anak-anak, dikonsep hampir sama bentuk. Hanya bobot materi-materinya saja yang dibedakan.

“Misalnya untuk anak-anak, kami berangkat dari konsep “I like to eat”. Karena suka makan, maka mereka juga ingin menyediakannya. Anak-anak bisa lebih paham dan lebih dekat dengan makanan-makanan kesenangannya. Pizza, Apple Pie, Brownies, Little Fairy Cake, dan lain-lain. Mereka bisa belajar dan bermain sambil berkreasi,” kata Lely.

Didukung oleh para pengajar profesional, kelengkapan peralatan dan fasilitas yang dibuat dengan standar internasional, serta suasana kursus yang nyaman, tak sedikit orang memilih tempat ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Walaupun kegiatan ini dilakukan pada saat-saat liburan maupun pada waktu-waktu luang.

Untuk bisa lebih mengenal dunia kuliner, tak hanya perempuan yang punya tempat khusus di dalamnya. Tempat ini terbuka luas untuk siapa saja yang ingin “berkenalan” dengan dunia kuliner. Biaya kursusnya pun relatif murah.

Para peserta didik, akan mengenakan seragam khas chef di tempat ini. Topi chef yang berdiri tinggi, diberikan untuk para peserta yang mengikuti kelas amatir (short course method), sedangkan untuk kelas intensif dan profesional, mengenakan topi yang bentuknya lebih membulat dengan ukuran yang lebih rendah.

Pakaian Khusus

Suasana yang dibangun, menjadi cukup menarik. Bagi anak-anak dan orang-orang dewasa yang belum terbiasa dengan seragam ini, akan membuat mereka semakin merasakan benar-benar sebagai chef professional, dan sesi belajarnya pun menjadi lebih terasa. Benar-benar berada di dapur dengan seluruh peralatan standar internasional dan aman untuk digunakan oleh anak-anak maupun dewasa.

Pelajaran kursus biasanya diawali dengan kelas demo. Berkas-berkas resep dibagikan kepada setiap peserta kursus. Pada sesi ini, peserta akan mendapat banyak paparan dan panduan sekaligus melihat cara memasak berikut dengan tips-tips praktisnya. Selain mencicipi makanan hasil demo dari pengajarnya, peserta pun punya kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Setelah itu, peserta diperkenankan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke kelas praktek. Celemek, lap, dan topi chef, adalah perangkat “belajar” di kelas ini. Sedangkan segala macam peralatan yang dipakai untuk mengolah makanan dari mulai tahap persiapan bahan, mengolah hingga matang, dan disajikan dalam plate menarik, semuanya menjadi tanggung jawab pihak Chezlely Culinary School. Tempat ini juga menyediakan bahan-bahan makanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daftar menu yang akan dibuat.

Jika hidangan telah matang, ada sesi ‘menghias’. Maka, jadilah memasak sebagai kerja kreatif yang sempurna. Menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Untuk sendirian, ataupun dinikmati bersama-sama, tak jadi soal. Tapi liburan kali ini, telah terisi dengan hal baru yang menambah wawasan pengetahuan.

Kepuasan Profesional

Banyak tempat telah disinggahi Lely, sebelum ia sampai di ‘pelabuhan’ terakhirnya.

Lely pernah menjabat sebagai Director Purchasing & Quality Assurance, serta Operation Manager McDonald’s Indonesia. Saat ini, Lely adalah Managing Director pada Chezlely Culinary School.

Pengalaman sebelumnya, ia pernah menjadi New Channel Development Manager, Wall’s Ice Cream pada Unilever Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan beliau antara lain di Strategic Executive Program (Monash Mt Eliza, Melbourne), Basic and Intermediate Cuisine (Le Cordon Bleu, Paris) dan Management Program–Wijawiyata Management, Institut Pendidikan & Pengembangan Manajemen (IPPM). Lely bahkan telah mengikuti Restaurant Operations courses, Supply Chain and Quality Assurance Courses dan Marketing and Development courses di berbagai negara.

Alasan Lely mendirikan Chezlely Culinary School, “saya memang dari awal tujuannya melatih profesionel chef. Awalnya masih yang tua-tua, tapi makin kesini relatif makin banyak yang muda-muda. Mereka seumur itu sudah melihat profesi chef itu merupakan satu alternatif,“ ujar Lely.

Namun, Lely mengakui, ia sangat menyukai dunia memasak.

“Awalnya, ketika saya masuk usia 40 tahun. Saya mereview, saya mau ngapain kedepannya,” kata Lely, menerawang. “Kalau saya mau melakukan sesuatu, saya mereview apa yang saya lakukan dan apa yang akan saya kerjakan ke depan.”

Kalau yang sifatnya ambisi dan bekerja, lanjut Lely, “saya sudah puas. Saya pernah bekerja, naik pangkat, promosi, sudah mencoba dan sudah cukup baik. Lantas apa selanjutnya.”

Akhirnya, Lely memutuskan belajar memasak di Paris, Perancis, tahun 2002. Lely memang bertekad tidak akan bekerja lagi disaat usia 45 tahun yang clock in-clock out.

“Saya ingin berbuat yang tanda petik, tapi ada kepuasan secara profesional,” tegas Lely.

Di Paris, Lely dibukakan mata hatinya. Dia melihat, banyak anak-anak usia 16 dan 17 tahun, sudah dikursuskan orangtuanya belajar memasak.

“Program 30 minggu, 3 kali seminggu, biayanya 7000 euro (sekitar Rp. 112.000.000). Tentu saja ini tidak mungkin uang sendiri, pasti dari orang tuanya. Pasti orang tuanya percaya dan paham kalau itu bukan investasi yang tidak sia-sia. Mereka berani berinvestasi sebesar itu demi anak-anaknya, » kata Lely.

Lantas, Lely menambahkan, “di Indonesia kenapa jalurnya masih setelah tamat SMA, kuliah dan baru kerja. Relatif profesi masih dianggap satu profesi yang tidak butuh keahlian. Padahal, disini semua elemen ada. Masak ada, interaksi sama orang, dan ngajarin orang. Ini bagian-bagian yang saya sukai,” ujar Lely, bersemangat.

Tak mau menunggu terlalu lama, Lely menangkap peluang ini. Dia berharap, bisa membukakan mata hati masyarakat Indonesia. Untuk berpikir, di luar ‘kotak’ yang sudah tersedia.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 1 Comment

Shinta Dewi DST

“Saya Cuma Pengamat & Pecinta”

Sukses, tak bisa ditebak, tapi bisa dirasakan. Shinta pun yakin, kebesaran House of Jasmine, bagian dari perasaan yang peka, atau istilah Shinta; insting.


Usia House of Jasmine, baru 1 tahun.

“Masih sangat muda, kan?” Shinta mengatakan dengan senyum mengembang.

Namun, Shinta bangga. Ia akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Memiliki usaha sendiri, yang dikelola berdua dengan sahabatnya, Tina. Tugas pun dibagi dua. Shinta lebih memilih menjadi marketing, Tina fokus di bagian produksi.

“Tapi, disain tetap saya yang memikirkan. Supaya visi misi saya tersampaikan dengan baik,” ucap wanita bernama lengkap Shinta Dewi Dhiah Sekar Tanjung.

Jasmine, kini menjadi satu brand busana pengantin muslimah, yang paling dicari sejumlah kalangan.

Saat Wedding Expo

Shinta mengawali karirnya, dari sebuah bisnis fotografi yang dikelola bersama suaminya, Budi Santoso. Diberi nama: Studio 55.

Studio khusus pemotretan ini dibuka di tahun 2004. Konsep Studio 55, kata Shinta, fokus pada foto-foto wedding atau pernikahan.

“Dengan berkembanganya waktu, 2007 saya berfikir adanya studio ini sangat baik kalau ditunjang baju-baju pengantin. Keduanya sangat berhubungan. Apalagi, saya berkerudung. Saya pikir kalau saya punya kontribusi di baju pengantin, akan sangat bermanfaat. Dan lagi, di tahun 2006 dan 2007, saya lihat belum ada perancang yang fokus disitu,” kata wanita kelahiran Tanjung Pinang, 1 Juni 1976.

Shinta bersyukur, dia dipertemukan Tina Wahyudi, disainer baju-baju muslim, oleh guru ngajinya. Dari obrolan panjang, dan masing-masing kasih masukan, Shinta mantap membuat brand baru, Naura, di bawah House of Jasmine. Naura, menjadi brand khusus baju-baju penganti muslimah.

“Mbak Tina selama ini membuat baju-baju harian. Kita sepakat satukan brand, namanya Naura, khusus baju-baju pengantin. Sementara Jasmine lebih ke casual dan baju-baju pesta,” kata Shinta.

Tepat di Perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2007, House of Jasmine, resmi berdiri. Shinta menganggap jadi satu momen yang sangat spesial.

“Pas ada pameran wedding expo dan studio 55 ikut. Saya minta sedikit space untuk perkenalkan Naura. Saat itu, juga ada fashion show, dan kita ikut,” Shinta mengisahkan gebrakan awalnya dengan antusias.

Satu kesempatan, kata Shinta, yang kelak akan jadi momen bersejarah yang tidak pernah ia lupakan.

Hanya 4 Bulan

Shinta mengaku tak punya target berlebihan. Ia hanya melihat, Naura, menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi, Shinta sadar. Ia tidak punya latar belakang seorang disainer mode. Shinta lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, Trisakti.

“Jadi, saya ini memang cuma pengamat dan pecinta,” ujar Shinta.

Sesaat Shinta tertawa lepas. Ia teringat kejadian satu silam. Kali pertama ia turun langsung mempersiapkan pameran wedding expo untuk Naura.

”Jadi, waktu saya ketemu Mbak Tina awal tahun, kita langsung mengerjakan itu semua, dengan cepat. Karena momentumnya bagus banget. Kita bikin 12 baju pengantin. Kita kerjakan dalam waktu hanya 4 bulan. Bahkan ada 3 baju, saya terinspirasi sebulan sebelumnya, itu dikerjakan 2 minggu sebelum tanggal 17. Subhanallah respon sangat bagus dari para pengunjung. Kita surprais juga,” ungkap Shinta, bangga.

House of Jasmine, kata Shinta, menjadi kerja mereka berdua. Shinta pun merasa diuntungkan karena Tina sudah punya SDM-SDM yang mendukung. Khusus model-model busana pengantin, Shinta turun langsung. Tina bertugas mengarahkan.

Inspirasi Berbeda

Naura diambil dari bahasa Arab, artinya burung cantik dari padang pasir bernama burung Naura. Bentuknya seperti burung unta. Sementara Jasmine, adalah bunga yang harum.

Shinta ingin, Naura berbeda dengan busana pengantin muslimah lainnya. Kata ibu tiga anak ini, justru ia ingin ciptakan sesuatu yang berbeda. Jadi inspirasi baru, di dunia fashion baju-baju pengantin.

”Pada dasarnya, orang biasa pakai kebaya adat untuk busana pengantin. Memang bagus untuk melestarikannya. Tapi, sekarang saya tawarkan inspirasi baru dengan abaya-abaya. Dengan disain menarik. Lebih ke timur tengah tapi lebih cantik karena dimodifikasi dengan motif dan bahan lokal, seperti batik,” terang Shinta.

Walaupun abaya, kata Shinta, disainnya tidak meninggalkan budaya Indonesia. Shinta prihatin karena banyak pengantin muslimah, tampil berlebihan.

“Padahal, dengan touch elegan, namun tetap manis, pengantin akan tampil memikat. Tidak perlu berlebihan. Saya memodifikasi saja. Kita juga memperhatikan detail, mulai dari brokat, list, payet dan bordir, sesuai pesanan,” ujar Shinta.

Shinta juga memperhatikan kualitas produk Naura dan Jasmine. Tanggal 20 Agustus lalu, ia membuka outlet yang diberi label House of Jasmine.

“Alhamdulillah, menjelang Ramadhan lalu, untuk baju-baju lebaran, kita iklan di beberapa media, dan dapat respon yang sangat bagus. Kalau untuk pengantin kita iklan di majalah wedding, lengkap dengan paket-paket pernikahan, kerjasama dengan studio 55,” ujar Shinta, bangga.

One Stop Wedding

Konstribusi…

Saya berpikir, dari studio 55 harus ada kontribusi saya sebagai seorang muslimah. Karena sebelum ini saya lihat-lihat di majalah muslimah, terlalu memaksakan. Tidak ada yang fokus urusin busana pengantin muslimah. Misalnya itu baju kebaya secara umum, terus dipaksain untuk berjilbab. Belum satu kesatuan konsep dari atas sampai bawah. Karena, busana muslimah itu tidak hanya bajunya saja yang dipikirkan, tepi keindahan kerudungnya juga dipikirkan. Sampai asesorisnya. Kita dituntut untuk berinovasi.

Target…

Ke depan saya ingin lebih banyak di kenal. Ahamdulillah ada beberapa daerah yang sudah mau kerjasama dengan kita. Respon dari bulan Agustus, sudah banyak telepon dari luar, seperti Banjarmasin, Pekanbaru dan Papua. Kita lagi olah dan coba pelajari, sistem seperti apa yang bisa kita gunakan.

Kerja Berdua…

Saya berpikiran, kalau bisnis dibagi 2 pemikir, itu bagus. Produksi dan Marketing. Saya lebih ke marketing. Walaupun ide awal untuk bikin busana muslimah pengantin tetap saya. Termasuk tetap memberikan kontribusi untuk urusan disain. Mbak Tina yang lebih banyak memikirkan masalah produksi.

Sinergi Bisnis…

Konsep awal studio ini, kita mau bikin sesuatu yang berbeda dengan studio-studio lain.  Yatu pre wedding in door. Boleh dibilang, inilah yang pertama kali, yaitu Studio 55 membuat foto dengan konsep out door tapi pemotretan di studio. Pakai teknik grafis komputer. Sekarang kita ingin menyatukan dua bisnis ini jadi satu. Pemotretan, dengan menggunakan busana produk Naura. Catering dan dekorasi InsyaAllah, akan kita realisasikan tahun depan. Studio 55 akan menjadi one stop wedding. Sebenarnya vendoir-vendor sudah dapat. Cuma kita ingin bikin konsep di studio ini lebih matang lagi.

Aien Hisyam

November 20, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 2 Comments

Indri Rezeki IG

Berimprovisasi Dengan Zaman

Allure bukanlah yang pertama. Namun, Allure hadir untuk mengangkat citra batik menjadi produk berkelas, bergengsi serta mampu memberi sentuhan motif, warna dan kreasi baru pada busana batik di Indonesia.


Usia Allure belum genap empat tahun. Penuh percaya diri, Allure telah membuka salah satu butiknya di Singapura. Apa keistimewaan batik ini ?

Indri Rezeki, salah satu pemilik butik Allure, tersenyum senang. Ia bersemangat ketika bercerita tentang seni batik dan keistimewaan bisnisnya ini. Kalau selama ini batik identik dengan hal-hal klasik dan tua, namun kata Indri, batik Allure benar-benar beda.

“Allure punya visi menjadikan batik sebagai warisan luhur budaya bangsa Indonesia yang diminati sepanjang masa,” jelas Indri, semangat.

Sejak kehadirannya di tahun 2005, Allure menciptakan rancangan busana dari bahan batik yang memiliki tampilan masa kini, modis dan up to date. Sejalan dengan tren fashion di dunia internasional. Bisa dipakai dari usia anak-anak hingga orang dewasa.

“Allure memang unik. Ia kaya warna dan punya corak variatif. Bahkan dalam satu busana beberapa pola bisa bertabrakan. Belum lagi tambahan detil sulaman, manik-manik dan batu-batuan. Jenis kainnya pun beragam, mulai dari bahan dasar cotton texture, cotton emboss, viskos, sutra yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin, sutra sifone sampai organdi,” ujar Indri bangga.

Indri menjaga kualitas Allure. Dia ingin, Allure tetap tampil ekslusif, meski dibuat untuk anak dan remaja. “Produk ini hanya dibuat maksimal empat potong untuk satu model pakaian dan satu macam kain untuk sebuah model. Supaya tidak bisa ditiru. Tapi kita tetap berimprovisasi dengan zaman,” ujar Indri.

Bahkan, untuk menjaga kualitas, Allure punya tiga tempat berbeda untuk proses produksinya. Pembatikan kain di Cirebon, sementara perancangan sampai finishing di workshop kerja ada di Jakarta dan Depok.

Jiwa Semakin Solid

Hidup Indri tak lepas dari batik. Sejak kecil, ia sudah diajarkan ibunya untuk mencintai budaya Indonesia, salah satunya mencintai batik.

“Batik itu kan seni, dan saya suka seni. Kebetulan dari background keluarga, mama dari yogya dan papa sumatera, saya justru lebih dekat ke Jawa. Dekat juga dengan sudara2 dari Jawa,” kata anak bungsu pasangan H. Zulfirman Siregar dan (Alm) Rr. Endang Setiowaty.

Ibunya, ujar Indri, sangat mencintai batik. Ia Almarhumah Endang bahkan mengoleksi puluhan batik kuno. Dan sejak kecil, Indri dibuat terkagum-kagum manakala sang Bunda mengenakan kain batik, lengkap dengan kabayanya.

Akhirnya, lewat seni batik, Indri berinovasi dengan fashion.

Dunia fashion, diakui istri Rachmat Ibrahim ini, bukanlah hal baru. Ia mengawali dunia fashion sejak tahun 1995. Pernah menang di ajang pemilihan wajah cover majalah Kawanku. Hingga awal tahun 2000, wajahnya menghiasi banyak sampul majalah remaja, dan tahun 2001, Indri menjadi finalis Wajah Femina.

“Ternyata tanpa saya sedari setelah besar, itu semua jadi modal. Walaupun tidak nyemplung langsung, toh saya sudah tahu. Pada saat saya ketemu Alurre, jiwa saya semakian solid. Ini sesuatu yang menyenangkan. Kerjaan menjadi hobi. Dan banyak teman-teman lama yang sekarang ketemu lagi, padahal dulu masih usia belasan,“ ujar wanita usia 28 tahun ini, senang.

Wawasan Luas

Lahir di Medan, dan besar di Jakarta, Indri merasa beruntung menjadi anak kolong. Bapak seorang militer Angkatan Darat yang kemudian dikaryakan di pemerintahan, dan Ibu yang ibu rumah tangga.

Meski memiliki profesi yang menuntut kefemininan, Indri justru mengakui dirinya tomboi.

“Saya banyak bergaul dengan lingkungan tentara, dan punya Papa yang sangat disiplin. Nah, sisi feminin muncu dari figur Mama. Apa yang dilakukan, itulah yang dicontoh. Sekarang saya merasa ini menjadi kombinasi yang bagus,“ ucap Indri.

Meski tinggal di daerah Kabupaten, Indri tidak pernah merasa ‘terpencil. Ia mengambil hikmahnya karena dapat membuka wawasan dan lingkungan pergaulan yang lebih luas.

“Kalau saya lihat ke belakang, saya bersyukur karena saya pernah tinggal di daerah. Saya bergaul dengan banyak lapisan, ya anak-anak tukang becak, dan sebagainya. Anak-anak daerah saya kumpulin, main. Jadi, saya tidak steril. Ibu saya bilang harus bergaul dengan banyak orang, wacana berpikir kita terbuka.


Allure Dan Makna Kata

Allure memiliki makna pintar, memikat, menarik hati, indah, dan mempesona Kalaupun memakai bahasa Perancis, justru Allure terkesan sangat fleksibel.

“Sebenarnya, tidak ada arti pakemnya. Di Singapura aja kita pakai Alera, karena sudah ada yang pakai brand yang sama. Ini bukan sesuatu kata yang ada arti khusus,“ ujar Indri.

Dalam hal kepemilikan, Allure dibesarkan lima wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Indri, menjadi salah satu pemegang saham.

“Saya yang paling muda. Dan saat itu satu-satunya yang belum menikah. Saya ketemu salah satu partner saat liburan ke Korea. Kebetulan waktuitu Allure masih baru,” ujar Indri.

Langkah pertama yang dilakukan Indri adalah menembus Perusahaan Mustika Ratu. Hasilnya, Miss Universe dan Putri Indonesia, memakai batik Allure.

“Yang terpikirkan saya, simpel saja. Batik bisa dipakai untuk international event. Baik gaya modern dan desain international untuk ajang internasional,” ucap Indri, senang. Selanjutnya Allure diminati banyak investor. Salah satunya adalah investor dari Singapura yang mengajak Allure berpartner.

“Kita juga ada investor dan partner baru. Seperti di singapura. Saya punya partner orang singapura. Harus ada orang asli sana yang pegang license,” ujar Indri.

“Tapi kita juga harus hati-hati. Untuk berpartner kita harus kenal. Kita tidak hanya menyerahkan, tapi juga mengkontrol. Apalagi beda negara. Itu tidak mudah. Sesama Asia saja seleranya sudah beda. Kapasitas mereka, pekerjaan juga beda. Misalnya, di Indonesia yang beli kebanyakan ibu rumah tangga, di Singapura justru wanita bekerja. Tentu kegunaannya berbeda. Untuk memulai yang baru dengan kultur yang baru, itu butuh riset. Kita harus punya banyak informasi dulu,” ujar Indri.

Jadi intinya, lanjut wanita yang tengah hamil besar ini, produk Allure harus disesuaikan disainnya, kegunaannya, materalnya. Termasuk dicocokkan dengan cuaca negara tersebut.

“Nah, termasuk yang jadi masalah adalah selera. Di Indonesia senang warnanya yang bright. Di Singapura justru suka yang simpel. Itu tantangan sendiri,” lanjut Indri.

Batik, kata Indri, adalah seni. Motif masih ada yang pakem dan klasik tapi ada kombinasi dengan motif modern. Garis lebih ke kontemporer tidak terlalu klasik. Alurre berusaha menampilkan sesuaitu yang up to date. Lebih anak muda dan bisa dipakai seharian dan tidak terlalu berat.

“Kita mencapai banyak lapisan. Batik kan terkesan dipakai orang-orang tua. Makanya kita punya Allure Kids dan couture colllection. Kita juga membuat. Gaun malam. Membuat untuk Miss Universe dan Putri Indonesia,” ujar Indri.

Indri berusaha memahami selera pasar saat ia harus berjualan.

“Urusan disain, saya lebih menyerahkan ke tim disainer. Berbeda untuk yang saya pakai, karena saya tahu apa yang saya mau. Berbeda pula dengan private client. Pembeli membuat batik sesuai orderan. Allure akan didisain khusus dari corak, warna dan model. Misalnya untuk kembaran keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk acara open house. Disain batiknya kita buat. Tidak dijual, karena ini pesanan khusus. Juga waktu dipakai Kepala-kepala Negara saat pertemuan di Bali kemarin,” kata Indri, bangga.

Aien Hisyam

November 19, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.